Untitled Post

 Melanjtukan Tulisan tentang Hukum Berdoa Setelah Sholat Bag. Pertama, Kali ini kita lanjutkan pada kajian hadits tentang doa setelah shalat

FIKIH HADITS

Berdoa setelah selesai sholat, disyariatkan oleh sebagian ulama. Imam Mubarokfuriy dalam kitabnya “Tuhfatul Ahwadzi syaroh Tirmidzi” berkata :

“Tidak diragukan lagi tetapnya berdoa setelah selesai pada sholat wajib dari Rasulullah baik dari sabda maupun dari perbuatan Beliau . Al Hafidz Ibnul Qoyyim telah menyebutkannya juga dalam Zaadul Ma’aad, yang mana beliau berkata dibawah pasal pembahasan : ‘Apa yang diucapkan Rasulullah selesai dari sholat-sholatnya, berikut ucapannya :

“Imam Abu Hatim dalam shahihnya meriwayatkan bahwa Nabi berdoa selesai dari sholat dengan doa berikut ini :

 

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لِي دِينِي الَّذِي جَعَلْتَهُ عِصْمَةَ أَمْرِي وَأَصْلِحْ لِي دُنْيَايَ الَّتِي جَعَلْتَ فِيهَا مَعَاشِي اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ وَأَعُوذُ بِعَفْوِكَ مِنْ نِقْمَتِكَ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْكَ لَا مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ وَلَا مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ وَلَا يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ

“Ya Allah perbaikilah agamaku yang akan menjadi pelindung perkaraku, perbaikilah duniaku yang menjadi sandaran mata pencaharianku. Ya Allah aku berlindung dengan ridho-Mu dari kemurkaan-Mu, aku berlindung dengan ampunan-Mu dari kesesangsaraan-Mu dan aku berlindung dengan-Mu dari-Mu yang tidak ada yang mampu menghalangi apa yang Engkau berikan dan tidak ada yang mampu memberi apa yang Engkau halangi. Tidak ada yang mampu memberi manfaat selain pemilik Kedermawanan”.

Imam Al Hakim meriwayatkan dalam “Mustadroknya” dari Abu Ayyub bahwa ia berkata : ‘tidaklah aku sholat dibelakang Nabi kalian kecuali aku mendengarnya ketika selesai dari sholatnya berkata :

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي خَطَايَايَ وَذُنُوبِي كُلَّهَا اللَّهُمَّ ابْعَثْنِي وَأَحْيِنِي وَارْزُقْنِي وَاهْدِنِي لِصَالِحِ الْأَعْمَالِ وَالْأَخْلَاقِ إِنَّهُ لَا يَهْدِي لِصَالِحِهَا وَلَا يَصْرِفُ سَيِّئَهَا إِلَّا أنت

“Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku semuanya, Ya Allah bangkitkan aku, hidupkan aku, beri rizki aku dan beri petunjuk aku kepada kebajikan amal dan akhlaq, sesungguhnya tidak ada yang mampu memberikan petunjuk kepada kebajikan dan memalingkan dari kejelekan selain Engkau”.

Imam Ibnu Hibban dalam “Shahihnya” dari sahabat Al Harits bin Muslim At Taimiy berkata, Nabi berkata kepadaku :

ذَا صَلَّيْتَ الصُّبْحَ فَقُلْ قَبْلَ أَنْ تَتَكَلَّمَ اللَّهُمَّ أَجِرْنِي مِنَ النَّارِ سَبْعَ مَرَّاتٍ فَإِنَّكَ إِنْ مُتَّ مِنْ يَوْمِكَ كَتَبَ اللَّهُ لَكَ جِوَارًا مِنَ النَّارِ وَإِذَا صَلَّيْتَ المغرب قَبْلَ أَنْ تَتَكَلَّمَ اللَّهُمَّ أَجِرْنِي مِنَ النَّارِ سَبْعَ مَرَّاتٍ فَإِنَّكَ إِنْ مُتَّ مِنْ لَيْلَتِكَ كَتَبَ اللَّهُ لَكَ جِوَارًا مِنَ النَّارِ

 

“Jika kamu sholat subuh, ucapkan sebelum kamu berbicara kepada manusia : “Ya Allah, selamatkan aku dari Neraka sebanyak 7 kali. Sesungguhnya jika kamu meninggal pada malam tersebut, Allah akan menuliskan untukmu kebebasan dari Neraka”.

Selesai penjelasan Syaikhul Islam Ibnul Qoyyim –selesai-.

Dari penjelasan Imam Mubarokfuriy dan juga dikuatkan oleh Syaikhul Islam Ibnul Qoyyim, sangat gamblang sekali bahwa Nabi menganjurkan berdoa selesai sholat, baik penjelasan tadi diambil dari sabda Beliau , maupun dari perbuatan Nabi langsung. Oleh karenanya, Imam Bukhori membuat judul bab dalam kitab shahihnya, dengan judul bab “بَابُ الدُّعَاءِ بَعْدَ الصَّلاَةِ” (Doa setelah Sholat), kemudian beliau menurunkan 2 buah hadits pada judul bab tersebut yakni :

1. Haditsnya Abu Huroiroh Rodhiyallahu ‘anhu, kata beliau :

يَا رَسُولَ اللَّهِ ذَهَبَ أَهْلُ الدُّثُورِ بِالدَّرَجَاتِ وَالنَّعِيمِ المُقِيمِ. قَالَ: «كَيْفَ ذَاكَ؟» قَالُوا: صَلَّوْا كَمَا صَلَّيْنَا، وَجَاهَدُوا كَمَا جَاهَدْنَا، وَأَنْفَقُوا مِنْ فُضُولِ أَمْوَالِهِمْ، وَلَيْسَتْ لَنَا أَمْوَالٌ. قَالَ: «أَفَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِأَمْرٍ تُدْرِكُونَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ، وَتَسْبِقُونَ مَنْ جَاءَ بَعْدَكُمْ، وَلاَ يَأْتِي أَحَدٌ بِمِثْلِ مَا جِئْتُمْ بِهِ إِلَّا مَنْ جَاءَ بِمِثْلِهِ؟ تُسَبِّحُونَ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلاَةٍ عَشْرًا، وَتَحْمَدُونَ عَشْرًا، وَتُكَبِّرُونَ عَشْرًا»

“Para sahabat berkata : ‘orang-orang kaya telah pergi dengan derajat dan kenikmatan yang banyak. Nabi menanggapi : ‘bagaimana maksudnya?’. Mereka berkata : ‘mereka sholat sebagaimana kami sholat, mereka berjihad sebagaimana kami berjihad dan mereka dapat berinfak dari kelebihan harta mereka, sedangkan kami tidak punya harta. Nabi bersabda : ‘maukah aku beritahukan kepada kalian perkara yang telah dicapai orang yang terdahulu dan akan mendahului orang setelah kalian, tidak ada yang bisa menyamai apa yang kalian lakukan, kecuali orang yang beramal seperti kalian. Yakni setiap akhir sholat bertasbih 10 kali, bertahmid 10 kali dan bertakbir 10 kali”.

2. Surat Mughiroh Rodhiyallahu ‘anhu kepada Muawiyyah bin Abi Sufyan Rodhiyallahu ‘anhu, yang isinya :

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلاَةٍ إِذَا سَلَّمَ: «لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، لَهُ المُلْكُ، وَلَهُ الحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، اللَّهُمَّ لاَ مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ، وَلاَ مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ، وَلاَ يَنْفَعُ ذَا الجَدِّ مِنْكَ الجَدُّ»

“Bahwa Rasulullah berdoa pada akhir sholat setelah salam : ‘Laa ilaaha illallah, tidak ada sekutu bagi-Mu, segala puji hanya untuk-Mu dan Dia Maha Berkuasa atas segala sesuatu. Ya Allah tidak ada yang menghalangi apa yang telah Engkau berikan dan tidak ada yang mampu memberi apa yang Engkau tahan, tidak ada yang mampu memberi manfaat selain Engkau yang Maha Dermawan”.

Ada sebagian ulama yang tidak menganjurkan untuk berdoa setelah sholat, mereka takwil bahwa makna dubur dalam hadits-hadits yang telah disebutkan adalah pada saat tasyahud akhir sebelum salam, bukan setelah salam. Dan juga alasan lainnya lagi bahwa Nabi tidak pernah duduk untuk berdoa setelah selesai sholat.

Al Hafidz dalam “Fathul Bari” (11/133) ketika menjelaskan bab shahih Bukhori diatas, beliau berkata : “Dalam judul bab ini ada bantahan terhadap orang yang menyatakan bahwa doa setelah sholat tidak disyariatkan, berpegang dengan hadits yang dikeluarkan oleh Imam Muslim dari riwayat Abdullah ibnul Harits dari Aisyah , bahwa Nabi jika salam tidak tetap (dalam tempatnya), kecuali sekedar mengucapkan :

اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ وَمِنْكَ السَّلَامُ تَبَارَكت يَاذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ

“Ya Allah engkau adalah Yang Maha Selamat, dariMu keselamatan, Maha Suci Wahai Pemilik Keagungan dan Kemulian”.

Jawaban dari hal ini yaitu bahwa penafian yang dimaksud (dalam hadits Muslim diatas-pent) adalah penafian senantiasa duduk seperti pada kondisi (Tahiyat akhir) sebelum salam, karena Beliau tidak duduk seperti itu, melainkan sekedar membaca dzikir diatas. Telah shahih juga bahwa Nabi selesai sholat menghadap ke para sahabatnya, maka dimungkinkan Beliau berdoa setelah sholat, yakni setelah menghadap ke para sahabatnya.

Syaikhul Islam Ibnul Qoyyim dalam “Al Hadyu An Nabawi” berkata :

‘adapun doa setelah salam dalam sholat dengan menghadap ke kiblat, baik sang Imam, orang yang sholat sendirian, maupun si makmum, maka ini bukan dari petunjuk Nabi pada asalnya, tidak diriwayatkan dari Beliau dengan sanad shahih, maupun hasan. Sebagian ulama mengkhususkan hal tersebut untuk 2 sholat saja, yaitu sholat Subuh dan Ashar. Nabi tidak melakukannya, tidak juga para kholifah, mereka tidak pernah menganjurkannya. Hal ini hanyalah berasal dari ‘Istihsaan’ (menganggap baik sesuatu), kemudian dianggap orang setelahnya sebagai sebuah sunnah. Kebanyakan doa yang berkaitan dengan sholat, hanyalah diperintahkan dilakukan didalam sholat dan hal ini sesuai dengan kondisi orang yang sholat, karena ia sedang menghadap Rabbnya bermunajat kepada-Nya. Jika telah salam, terputus munajatnya dan terhenti sikap kedekatan kepada Rabbnya. Maka bagaimana ia meninggalkan meminta kepada Allah pada saat bermunajat dan berdekatan dengan-Nya, lalu malah ia memohon kepada-Nya setelah selesai berpaling? Namun dzikir-dzikir yang ada setelah sholat wajib, dianjurkan bagi orang yang bershalawat kepada Nabi , setelah selesai bersholawat, kemudian ia berdoa sekehendaknya, sehingga doanya setelah hal tersebut adalah ibadah kedua (yang terpisah) yaitu dzikir bukan karena ia adalah setelah sholat” –Selesai-.

Aku (Al Hafidz) berkata : ‘adapun pernyataan beliau menafikan doa (setelah sholat) secara mutlak, maka hal ini tertolak”. (lalu Al Alhafidz menyebutkan hadits-hadits yang menunjukkan bahwa disyariatkan doa setelah salam, sebagaimana yang penulis sebutkan pada point syawahid (penguat hadits-pent.).

Kemudian Al Hafidz melanjutkan :

“Jika dikatakan, yang dimaksud dengan dubur sholat adalah menjelang akhir sholat yakni tasyahud (akhir), maka kami katakan telah datang perintah untuk berdzikir setiap dubur sholat dan yang dimaksud adalah setelah salam secara sepakat. Demikianlah, sampai tetap dalil sesuatu yang menyelisihinya. Imam Tirmidzi telah meriwayatkan hadits Abu Umaamah :

“ Ada yang bertanya : ‘Wahai Rasulullah, kapankah doa didengar?’. Nabi menjawab : “Pertengahan akhir malam dan setiap Dubur (akhir) sholat-sholat wajib”. Imam Tirmidzi berkata : ‘hadits Hasan’.

Imam Thobariy meriwayatkan dari Ja’far bin Muhammad Ash-Shodiq ia berkata : ‘Doa setelah sholat wajib lebih utama daripada doa setelah sholat sunnah, seperti keutamaan sholat wajib atas sholat sunnah”.

Dipahami oleh kebanyakan kalangan ulama Hanabilah yang kami temui, bahwa yang dimaksud Syaikhul Islam Ibnul Qoyyim, penafian doa setelah sholat secara mutlak, bukan seperti itu yang dipahami, karena kesimpulan dari pernyataan beliau, bahwa penafian tersebut dikaitkan dengan senantiasanya orang yang sholat menghadap kiblat dan mengerjakannya setelah salam, adapun jika ia telah memalingkan wajahnya atau mendahuluinya dengan dzikir-dzikir yang disyariatkan, maka tidak terlarang baginya berdoa pada kondisi demikian” 

About Global Muslim

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement