Tragedi Hafidzul Qur’an Berpaham Takfiri

Tragedi Hafidzul Qur'an Berpaham Takfiri

Fikroh.com – Pemahaman yang benar dan i’tikad baik merupakan tonggak penting dalam mengimplementasikan ajaran Islam secara benar. Disebutkan dalam atsar yang diriwayatkan Abdullah bin Umar oleh Al Hakim bahwa generasi umat Islam dibagi dua. 

Pertama, generasi umat yang beriman terlebih dahulu, kemudian diberi Al-Qur’an. Mereka ini terdiri dari para Salafush shalih dan pembesar pembesar sahabat yang memahami apa yang diwajibkan dan apa yang dilarang serta hujahnya.

Kedua, umat yang mengambil pelajaran dari Al Qur’an lebih dahulu sebelum didapatkan keimanan. Kelompok kedua ini pandai membaca Al Qur’an dengan lancar dan mengkhatamkannya dengan cepat, tanpa tahu mana yang diperintahkan dan mana yang dilarang serta batasan batasannya. 

Dan Abdullah ibn Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu berkata, “Sungguh, dahulu kami kesulitan menghafal ayat-ayat Al-Qur’an, namun amat mudah bagi kami mengamalkannya. Dan sekarang, generasi setelah kami begitu mudahnya menghafal Al-Qur’an namun amat sulit bagi mereka mengamalkannya.”

Kedua kelompok ini, pada gilirannya, melahirkan manhaj yang berbeda. Dari kelompok yang kedualah munculnya Al Firaq Al Bathilah (aliran aliran sesat), di antaranya Al Khawarij.

Kebiadaban dan tragedi kemanusiaan yang menjadi ikon ISIS, merupakan sumbangan sangat besar bagi rusaknya citra Islam di mata internasional. Karena itu penting untuk menelusuri jejak sejarah, munculnya sikap mental jahat melalui pengenalan tokoh yang mengaku berjuang atas nama Islam, tetapi sama sekali tidak mencerminkan ajaran dan akhlak Islam, seperti Abdurrahman bin Muljam.

Paham takfir yang dihembuskan ISIS dewasa ini, mengadopsi gabungan dari doktrin tiga kelompok sesat dalam Islam. Yaitu, doktrin takfir Khawarij, doktrin imamah Syi’ah  dan doktrin rasionalitas Mu’tadzilah yang berlandaskan hawa nafsu, tidak mau terikat dengan kaidah penafsiran Al-Qur’an dan Hadits. Karena itu, kejahatan ISIS lebih dahsyat dari Khawarij dan lebih biadab dari Syi’ah Rafidhah.

Siapakah Abdurrahman bin Muljam

Pada awalnya, Abdur-Rahmân bin Muljam bukanlah orang jahat. Bahkan dia dikenal sebagai ahli ibadah, gemar berpuasa dan menjalankan shalat malam. Namun, pemahaman dan wawasannya tentang Islam bersifat parsial, tidak kaffah.

Ibnu Muljam mengajarkan Al-Qur`ân kepada orang lain, sehingga ia mendapat predikat al-Muqri’. Kemampuannya mengajarkan al-Qur’an diakui oleh Khalifah ‘Umar bin Khaththab, sehingga pernah mengirimnya ke Mesir untuk mengajarkan Al-Qur`ân. Ibnu Muljam dikirim untuk memenuhi permintaan Gubernur Mesir, Amr bin al-Ash, karena mereka sedang membutuhkan seorang qâri.

Dalam surat balasannya kepada gubernur Mesr, Umar menulis: “Aku telah mengirim kepadamu seorang yang shâlih, ‘Abdur-Rahmân bin Muljam. Aku merelakan ia bagimu. Jika telah sampai, muliakanlah ia, dan buatkan sebuah rumah untuknya sebagai tempat mengajarkan Al-Qur`ân kepada masyarakat”.

Sekian lama ia menjalankan tugasnya sebagai muqri`, sampai akhirnya benih-benih pemikiran Khawârij mulai berkembang di Mesir, dan berhasil mempengaruhi pemikirannya, hingga kemudian memperdayainya.

Secara bahasa kata khawarij berarti orang-orang yang telah keluar. Kata ini disematkan kepada sekelompok orang yang keluar dari barisan Khalifah Ali ibn Abi Thalib r.a. Mereka kecewa terhadap sikap Khalifah Ali yang menerima opsi tahkim (arbitrase) antara Khalifah yang sah dengan lawan politiknya, Mu’awiyyah bin Abi Sufyan yang dikomandoi oleh Amr ibn Ash dalam peristiwa Perang Shiffin (37H/657). 

Menurut mereka Mu’awiyah adalah bughat, pemberontak terhadap kekhalifahan yang sah, maka tak ada cara lain kecuali ia harus diperangi. Inilah, menurut mereka, hukum Allah sebagaimana tertulis dalam kitab suci al-Qur’an. Dan, laa hukma illal-Lah (tak ada hukum kecuali hukum Allah). Akibat tak ditaatinya hukum Allah itu, terjadi chaos (fitnah) berkepanjangan, dan kini terdapat dualisme pemerintahan di tengah kaum Muslim. Dan karena tak mau mengikuti hukum Allah, tak urung sang Khalifah pun dianggap kafir. Demikian pula Mu’awiyah sang pemberontak dan ‘Amr bin ‘Ash, juga kafir maka harus dibunuh. 

Namun, secara historis Khawarij adalah firqah bathil yang pertama muncul dalam sejarah Islarn sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Taimiyah dalam kitab Al Fatawa: “Bid’ah yang pertama muncul dalam Islam adalah bid’ah Khawarij.”

Tragisnya, di zaman sekarang terdapat sekelompok ormas Islam, secara gegabah dan salah kaprah menuding umat Islam lainnya sebagai khawarij. Karena dinilai tidak taat pada penguasa, bukan khalifah, di negara tempat dia tinggal, sehingga antara nama dan yang dinamakan tidak relevan.

Membunuh Khalifah

Kontradiksi antara profil dan pemahaman Abdur Rahmân bin Muljam yang sudah terjangkiti pemikiran Khawârij, melahirkan sikap ekstrem. Bersama dua orang penganut paham Khawârij lainnya, al-Burak bin Abdillah at-Tamîmi dan Amr bin Bakr at-Tamîmi bersiap-siap untuk membunuh tiga orang sahabat Nabi Saw yang telah ditakfir.

Rencananya, khalifah Ali bin Abi Thalib, keponakan sekaligius menantu Rasulullah akan dieksekusi oleh Ibnu Muljam. Sedangkan dua orang temannya, masing-masing bertugas membunuh Mu’awiyah bin Abi Sufyan dan Amr bin Ash. Menurut mereka, ketiga orang inilah yang menyebabkan kematian sahabat-sahabatnya dalam perang Nahrawân. Mereka pun berdo’a, memohon rahmat kebaikan bagi orang-orang yang telah menemui ajalnya itu. 

Perang Nahrawân, yaitu perang antara khalifah Ali bin Abi Thalib melawan kaum Khawarij, menorehkan luka mendalam pada hati mereka. Nahrawan terletak sekitar 12 mil dari kota Baghdad. Khawarij dulunya adalah pengikut Imam Ali kemudian berpisah dengan beliau pasca perang Shiffin karena penentangan terkait dengan masalah tahkim atau hakamiyah (arbitrase).

Asy-Sya’bi berkata, “Setelah Ali bin Abi Thalib ra. memerangi kaum Khawarij di Nahrawan, sejumlah kaum menentang kebijaksanaan beliau. Penentangan marak di mana-mana. Bani Najiyah menentang kebijakan beliau, penduduk gunung juga berusaha memisahkan diri. Petugas pemungut pajak di wilayah Persia juga berusaha melepaskan diri. Mereka mengusir Sahal bin Hunaif, wakil yang dikirim oleh Ali ke Persia. Kemudian Abdullah bin Abbas menyarankan kepada beliau agar menunjuk Ziyad bin Abihi sebagai wakil wilayah Persia. Ali menerima usul tersebut, ia mengirim Ziyad. Ziyad datang dengan pasukan yang besar ke negeri Persia pada tahun 39 H. Beliau berhasil menundukkan mereka hingga mereka bersedia kembali membayar pajak dan kembali kepada ketaatan kepada Amirul Mukminin.

Salah seorang dari ketiganya berkata: “Apa lagi yang akan kita perbuat setelah kepergian mereka? Mereka tidak takut terhadap apapun di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebaiknya kita mengorbankan jiwa dan mendatangi orang-orang yang sesat itu. Kita bunuh mereka, sehingga negeri ini terbebas dari mereka, dan kita pun telah melunasi balas dendam?”

Akhirnya, mereka merencanakan balas dendam dengan merancang pembunuhan terhadap tiga orang yang mereka anggap bertanggung jawab atas peristiwa tersebut. Pembunuhan ini mereka anggap sebagai tangga untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mereka sepakat melakukan pembunuhan terhadap tiga orang, yaitu Ali bin Abi Thâlib, Mu’awiyyah dan Amr bin al-Âsh Radhiyallahu ‘anhum, dan mereka berani mempertaruhkan nyawa untuk mewujudkan rencana keji itu.

Akhirnya, mereka merencanakan balas dendam dengan merancang pembunuhan terhadap tiga orang yang mereka anggap bertanggung jawab atas peristiwa tersebut. Pembunuhan ini mereka anggap sebagai tangga untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mereka sepakat melakukan pembunuhan terhadap tiga orang, yaitu Ali bin Abi Thâlib, Mu’awiyyah dan Amr bin al-Âsh Radhiyallahu ‘anhum, dan mereka berani mempertaruhkan nyawa untuk mewujudkan rencana keji itu.

Pasalnya, selain permintaan mas kawin yang berupa kekayaan duniawi, wanita ini juga memasukkan pembunuhan terhadap Ali Radhiyallahu ‘anhu sebagai syarat, jika Ibnu Muljam ingin memperistrinya. Syarat pinangan yang aneh ini yang kemudian mengingatkan Ibnu Muljam dengan niat jahat itu, dan ia bertambah semangat untuk segera mewujudkan niat buruknya.

Katanya, “Ya, ia adalah bagianku. Demi Allah, tidaklah aku datang ke tempat ini kecuali dengan niat untuk membunuh Ali”. Syarat ini terpenuhi dan pernikahan pun dilaksanakan. Semenjak itu, sang wanita ini selalu membakar semangat suaminya untuk merealisasikan niatnya. Bahkan ia memberi bantuan kepada Ibnu Muljam seorang lelaki yang bernama Wardân untuk mewujudkan rencana jahat itu.

Setelah itu, Ibnu Muljam pun mengajak seseorang bernama Syabib bin Najdah al Asyjai. Katanya,”Maukah engkau memperoleh kemuliaan dunia dan akhirat?”

Tetapi, begitu mendengar yang dimaksud ialah membunuh Ali Radhiyallahu ‘anhu, maka Syabîb menampiknya. Karena ia mengetahui, Ali Radhiyallahu ‘anhu sahabat yang telah berjasa besar bagi Islam dan kaum muslimin, dan ia memiliki kedekatan dalam hal kekerabatan dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Melihat penolakan ini, Ibnu Muljam tak kalah cerdik. Dengan agresif ia membakar emosi Syabîb dengan menyebut kematian orang-orang Khawarij di tangan Ali. Akhirnya, ia berhasil menjinakkan hati Syabîb. Padahal Khalifah ‘Ali bin Thâlib, pada masa itu ialah orang yang paling tekun beribadah kepada Allah Azza wa Jalla, paling zuhud terhadap dunia, paling berilmu dan paling bertakwa kepada Allah Azza wa Jalla.

Mereka bertiga kemudian bergerak melancarkan niatnya pada malam 17 Ramadhan 41 H. Hari yang sudah diputuskan oleh Ibnu Muljam, al-Burk dan Amr bin Bakr untuk menyudahi nyawa tiga orang sahabat Rasulullah, yaitu Ali, Mu’awiyyah, dan Amr bin al-Âsh Radhiyallahu ‘anhum.

Begitu waktu Subuh tiba, sebagaimana biasa Amirul-Mu`minin Ali bin Thâlib keluar dari rumahnya untuk melakukan shalat Subuh dan membangunkan manusia. Saat itulah pedang Khawarij yang beracun menciderai Ali Radhiyallahu ‘anhu. Ketika Ibnu Muljam menyabetkan pedangnya pada bagian pelipis Ali Radhiyallahu ‘anhu, ia berseru: 

“Tidak ada hukum kecuali hukum Allah, bukan milikmu atau orang-orangmu (wahai ‘Ali),” lantas ia membaca ayat al-Qur’an.

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَّشْرِيْ نَفْسَهُ ابْتِغَاۤءَ مَرْضَاتِ اللّٰهِ ۗوَاللّٰهُ رَءُوْفٌۢ بِالْعِبَادِ

Di antara manusia ada yang merelakan/mengorbankan dirinya untuk mencari keridhaan Allah. Dan Allah Maha Pemurah kepada para hamba-Nya. (QS Al-Baqarah (2) : 207)

Mendapat serangan ini, Amirul-Mu`minin berteriak. Dan akhirnya Ibnu Muljam berhasil ditangkap hidup-hidup. Adapun Wardân, ia langsung terbunuh. Sedangkan Syabîb berhasil meloloskan diri.

Akhir Kehidupan Ibnu Muljam

Ketika Amirul-Mu`minin Ali bin Thâlib Radhiyallahu ‘anhu dipastikan wafat akibat serangan biadab Ibnu Muljam, maka diputuskanlah hukuman mati baginya. 

Imam adz-Dzahabi rahimahullah berkata tentang Ibnu Muljam: “Sebelumnya, ia adalah seorang ahli ibadah, taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Akan tetapi, akhir kehidupannya ditutup dengan kejelekan (su`ul khâtimah). Dia membunuh Amirul-Mu’minin ‘Ali Radhiyallahu ‘anhu dengan alasan mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala melalui tetesan darahnya. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi ampunan dan keselamatan bagi kita”.

Berbeda dengan anggapan kalangan Khawârij, Abdur Rahmân bin Muljam ini dielu-elukan bagai pahlawan. Dia mendapatkan pujian dan sanjungan. Di antaranya keluar dari Imrân bin Haththân, yang juga dikenal sebagai ahli ilmu dan ahli ibadah.

Namun, perkawinannya dengan seorang wanita yang memiliki pemikiran Khawârij, menjadikannya berubah secara drastis. Dia mengikuti pemahaman istrinya. Dia merangkai bait-bait sya’ir sebagai pujian yang ditujukan kepada Abdur-Rahmân bin Muljam.

Oh, sebuah sabetan dari orang bertakwa, tiada yang ia inginkan selain untuk menggapai keridhaan di sisi Dzat Pemilik ‘Arsy. Suatu waktu akan kusebut namanya, dan aku meyakininya (sebagai) insan yang penuh timbangan (kebaikannya) di sisi Allah.

Pujian ini tentu merupakan perbuatan ghuluw (berlebih-lebihan), sehingga dapat menyeret seseorang menjadi keliru dalam memandang kebatilan hingga terlihat sebagai kebenaran. Golongan lain yang juga memberi sanjungan kepada pembunuh Ali Radhiyallahu ‘anhu, yaitu golongan Syiah Nushairiyah. Konon katanya, karena Ibnu Muljam telah melepaskan ‘ruh ilâhi’ dari tanah.

Ibrah Kisah

 Pemahaman yang benar dalam mengamalkan Islam merupakan kewajiban bagi setiap muslim. Dalam hal ini, para sahabat merupakan generasi Islam pertama, yang pastinya paling memahami Islam. Mereka mereguknya langsung dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ketika muncul pergolakan yang disulut kaum Khawaarij, tidak ada satu pun dari sahabat yang merapat ke barisan mereka. Pemahaman-pemahaman terhadap Islam yang tidak mengacu kepada para sahabat -sebagai generasi pertama umat Islam- hanya akan berakhir dengan kekelaman. Motif mereka sesat, karena beranggapan pembunuhan ini sebagai ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Alasan demikian tentu menjatuhkan citra Islam, dan menjadi ternoda karenanya. Hal ini bisa menimpa siapa pun yang berbuat tanpa dasar ilmu, tanpa pemahaman yang lurus, dan hanya mengandalkan semangat yang di landasai hawa nafsu semata.

Kebodohan itu berbahaya, lantaran menyebabkan ketidakjelasan barometer syar’i bagi seseorang, sehingga membuat kelemahan dalam tashawwur (pendeskripsian) dalam memandang suatu masalah. Juga, bahaya teman dekat (istri, suami) yang berpikiran buruk atau menyimpang. 

Wafatnya khalifah ‘Utsman bin ‘Affan dan kemudian Ali bin Abi Thalib, ternyata bukan akhir dari musibah yang menimpa umat. Rantai fitnah terus bersambung menimpa umat sebagai ujian dari Allah, sebagaimana Rasulullah kabarkan dalam sabdanya:

وَإِذَا وَقَعَ عَلَيْهِمُ السَّيْفُ لَمْ يُرْفَعْ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ

“Jika pedang telah dijatuhkan atas muslimin, pedang itu tidak akan diangkat hingga hari kiamat.”

Bukti kebenaran nubuwah Rasulullah ini terjadi pertama kali ketika Khalifah Utsman terbunuh. Sejak saat itulah peperangan terus berlangsung di tengah kaum muslimin, dan akan berlanjut hingga hari kiamat.

Wafatnya Khalifah Ustman bin Affan, membangkitkan dua firqah sesat yang saling bertolak belakang, yaitu Khawarij dan Syiah. Syiah melampaui batas dalam mengagungkan Ali dan ahlul bait hingga mengatakan bahwa Ali adalah pencipta dan sesembahan. 

Sementara Khawarij, mereka mengkafirkan sang khalifah, hingga darah beliau pun mereka halalkan. Ihwal kaum Khawarij ini, dari Anas bin Malik, Rasulullah Saw bersabda:

“Segera pada umatku akan muncul sekelompok orang yang baik tutur-bahasanya namun buruk perilakunya. Mereka menyeru masyarakat kepada Kitabullah (al-Qur’an) sementara mereka sama sekali tidak mengetahui al-Qur’an. Mereka membaca al-Qur’an namun mereka tidak mendapatkan manfaat dari bacaannya. Mereka keluar dari agama sebagaimana keluarnya anak panah dari busurnya. Mereka tidak akan kembali kepada agama, sebagaimana anak panah tidak akan kembali kepada busurnya. Mereka adalah seburuk-buruk makhluk. Alangkah beruntungnya mereka yang terbunuh oleh orang-orang ini. Atau berperang melawan mereka dan membunuhnya. Dan barang siapa yang membunuh orang-orang ini maka kedudukannya di hadapan Tuhan akan lebih baik dan layak daripada mereka. Ketika itu, seseorang berkata: Ya Rasulullah! Bagaimanakah tanda-tanda orang-orang ini? Rasulullah Saw bersabda: Tanda-tanda orang ini adalah mereka menggundul kepala mereka.”

Ibnu Katsir berkata, “Mereka ini adalah golongan manusia yang paling aneh bentuknya. Mahasuci Allah SWT. yang telah menciptakan keragaman bentuk makhluk-makhluk-Nya seperti yang Dia kehendaki dan ketentuan-Nya telah mendahului segala sesuatu. Alangkah indah perkataan sejumlah ulama salaf berkaitan dengan  Khawarij, bahwa merekalah yang dimaksud dalam firman Allah SWT.: 

“Katakanlah, ‘Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?” Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedang mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. Mereka itu orang-orang yang kufur terhadap ayat-ayat Rabb mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan Dia, maka hapuslah amalan-amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat.” (Qs. Al-Kahfi [18]:103-105).

Maksudnya, mereka adalah orang-orang jahil lagi sesat, yang celaka dalam perkataan dan perbuatan. Mereka sepakat untuk menyempal dari kaum muslimin lainnya. 

Syiah dan Khawarij, keduanya beramal dengan mengatasnamakan Islam. Akan tetapi pemahaman dan prilakunya, bertentangan dengan Islam, sehingga menimbulkan kerusakan dan fitnah di kalangan kaum muslimin.

About Global Muslim

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement