Tiga Macam Makna Kalimat “LAA ILAAHA ILLALLAH”

Pembahasan pertama didalam kitab al-ma’man mindh-dhalalah ialah berkenaan kalimat tauhid, la ilaha illal-lah. Didalam kitab itu, Syaikhina wa Murabbi Ruhina Kh. A. Nawawi bin Abd. Djalil memaparkan ragam makna kalimat tauhid.

Makna Pertama

makna pertama La ilaha illa-lah ialah: tidak ada ‘Yang disembah’ secara hak, tak hanya Allah. Di dalam al-ma’man minadh-dhalalah (7) disebutkan:

لَا مَعْبُوْدَ بِحَقٍّ فِيْ الْوُجُوْدِ اَيْ سِوَىْ الذَّاتِ العَلِيَّةِ اِلَّا اللهُ

“Tidak ada yang disembah secara hak (Yakni tak hanya zat yang Mahaluhur) jikalau Allah.”

Beliau beri tambahan klarifikasi, bahwa yang dinafikan di dalam makna pertama kalimat tauhid ialah zat ‘Yang disembah’ secara hak tak hanya Allah, sekaligus menetapkan bahwa ‘Yang disembah’ secara hak cuman Allah.

Beliau juga meningkatkan klarifikasi, bahwa kalimat tauhid sama-sekali tidak menafikan sesuatu yang disembah secara tidak hak. Berikut teks redaksinya:

هَذَا يَدُلُّ عَلَى اَنَّ الْمَعْبُوْدَ بِغَيْرِ الحَقِّ لَا يَنْفِى عَنْ غَيْرِ اللهِ لِاَنَّ مَا سِوَى اللهِ مِنَ الْمَخْلُوْقِ مَا يَعْبُدُ وَلَيْسَ مَعْبُوْدَا بِحَقٍّ كَالْاَصْنَامِ وَالشَّمْسِ وَغَيْرِهِمَا مِمَّا يَعْبُدُ مِنْ دُوْنِ اللهِ تَعَالَى

“Hal ini (Klarifikasi makna pertama kalimat tauhid) membuktikan bahwa yang disembah secara tidak hak tidak dinafikan berasal dari tak sekedar Allah. Sebab tak sekedar Allah, berasal dari kalangan makhluk, ada yang disembah, namun tidak secara hak. Semisal, berhala, matahari dan sesamanya yang tergolong sesembahan tidak cuman Allah.”

Makna Kedua

makna kedua La ilaha illa-lah ialah: tidak ada ‘Yang berhak disembah’, tak hanya Allah. Didalam al-ma’man minadh-dhalalah (7) disebutkan:

لَا مُسْتَحِقَّ لِلْعِبَادَةِ اَيْ سِوَى الذَّاتِ العَلِيَّةِ اِلَّا اللهُ

“Tidak ada yang berhak disembah (Yakni tak hanya zat yang Mahaluhur) jikalau Allah.”

Beliau mengimbuhkan klarifikasi, bahwa yang dinafikan di dalam makna kedua kalimat tauhid ialah zat ‘Yang berhak disembah’ tak sekedar Allah, sekaligus menetapkan bahwa ‘Yang berhak disembah’ cuman Allah.

Disparitas kedua makna ini (Antara makna pertama dengan makna yang kedua) ialah: jika makna yang pertama masih meninjau ada yang menyembah.

Sedangkan makna kalimat tauhid yang kedua tidak meninjau keberadaan yang menyembah. Di dalam al-ma’man minadh-dhalalah (8), Syaikhina wa Murabbi Ruhina Kh. A. Nawawi bin Abd. Djalil menjelaskan:

وَالْفَرْقُ بَيْنَ هَذَيْنِ المَعْنَيَيْنِ أَنَّ المَعْنَى الاَوَّلَ بِاعْتِبَارِ وُجُوْدِ العَابِدِ وَلِذَا عُبِدَ اللهُ حِيْنَ وُجُوْدِ العَابِدِ وَاِلَّا فَلَا وَأَنَّ مَعْنَى الثَّانِي بِلَا اعْتِبَارِ ذَلِكَ اَيْ سَوَاءٌ وُجِدَ الْعَابِدُ اَمْ لَا فَهُوَ مُسْتَحِقٌ لِلْعِبَادَةِ لِأَنَّهُ تَعَالَى اسْتَحَقَّ الْعِبَادَةَ دَائِمًا اَبَدًا قَبْلَ وُجُوْدِ الْمَخْلُوْقِ وَحِيْنَ وُجُوْدِهِ وَحِيْنَ فَنَائِهِ وَفِي كُلِّ حِيْنٍ

“Disparitas kedua makna ini ialah, makna pertama masih meninjau keberadaan yang menyembah. Oleh maka dari itu, Allah disembah, ketika ada ada yang menyembah. Jika tidak ada, maka Allah tidak disembah.

Makna yang kedua, tidak meninjau keberadaan yang menyembah, yakni baik ada yang menyembah atau pun tidak.

Allah tetap berhak disembah. Gara-gara Allah berhak disembah selamanya, baik sebelum keberadaan makhluk, ketika keberadaan makhluk, usai kebinasaan makhluk, dan tiap tiap pas.”

Makna Ketiga

makna ketiga La ilaha illa-lah ialah: ‘Tidak’ ada yang ‘Tidak’ butuh kepada tidak cuman-nya, dan tak sekedar-nya membutuhkan kepada-nya, jika Allah. Di dalam al-ma’man minadh-dhalalah (9) disebutkan:

لَا مُسْتَغْنِيَ عَنْ كُلِّ مَا سِوَاهُ وَمُفْتَقِرَ اِلَيْهِ كُلُّ مَا عَدَاهُ غَيْرُ الذَّاتِ العَلِيَّةِ اِلَّا اللهُ

“Tidak ada yang tidak butuh kepada tak sekedar-nya dan tidak cuman-nya membutuhkan kepada-nya (Tak hanya zat yang Maha luhur) jikalau Allah”

Beliau memberi tambahan klarifikasi, bahwa yang dinafikan di dalam makna ketiga ialah zat yang tidak butuh kepada tidak cuman-nya, dan tidak cuman-nya membutuhkan kepada-nya. Dengan makna yang ketiga pula, menetapkan zat yang tidak butuh kepada tidak cuman-nya, dan tak hanya-nya membutuhkan kepada-nya hanyalah kepada Allah.

Semoga artikel ini berfaedah, dan juga penulis dan pembaca sanggup berkumpul dengan Syaikhina wa Murabbi Ruhina Kh. A. Nawawi bin Abd. Djalil, kelak di akhirat. Amin!

Please rate this

About Galih semar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *