Tata Cara Niat Wudhu, Tayamum Shalat, Puasa, Zakat dan Haji

 Ibadah memerlukan niat untuk melaksanakannya yang dapat membedakannya dari amalan yang lain, baik amalan lain itu berupa ibadah yang satu bentuk dengannya atau satu jenis atau bukan ibadah (adat kebiasaan). Hal ini karena maksud dari niat dalam ibadah adalah untuk membedakannya dari adat kebiasaan, atau untuk membedakan antara satu tingkatan ibadah dengan yang lainnya.

Contohnya adalah, amalan wudhu akan menjadi ibadah jika memang orang yang melakukan bermaksud menjadikannya sebagai penyambung bagi pelaksanaan ibadah seperti shalat, thawaf, dan lain-lain yang memang pelaksanaannya harus dengan wudhu. Amalan wudhu tanpa niat ibadah akan menjadi amalan adat kebiasasan seperti membersihkan anggota badan, mencari kesejukan, dan lain-lain. Apabila dalam melakukan wudhu seseorang berniat supaya dengan wudhunya itu dia boleh melakukan shalat, atau berniat fardhu mandi, maka sahlah wudhu orang tersebut.

Amalan shalat -meskipun ia tidak menyerupai jenis amalan adat kebiasaan, melainkan ia adalah ibadah yang murni (mahdhah)- namun shalat ada banyak jenisnya. Shalat dapat dikelompokkan ke dalam dua jenis; shalat fardhu dan shalat sunnah. Shalat fardhu dapat dikelompokkan ke dalam dua bentuk; fardhu ‘ain dan fardhu kifayah. Contoh shalat fardhu ‘ain adalah shalat wajib lima waktu, sedangkan contoh shalat fardhu kifayah adalah salah jenazah.

Sementara itu, shalat sunnah dapat dikelompokkan kepada dua macam; shalat Sunnah yang mengikuti shalat fardhu -seperti shalat Witir, shalat Ied, shalat gerhana matahari, shalat gerhana rembulan, shalat Istisqa’, shalat tarawih- dan shalat sunnah mutlak.

Shalat fardhu wajib dilakukan dengan niat, yaitu niat melakukannya dengan menyebut nama shalat tersebut secara tepat supaya dia dapat dibedakan dari shalat-shalat fardhu yang lain. Dalam niat shalat fardhu juga harus disebut kefardhuannya, supaya dia dapat dibedakan dari shalat-shalat sunnah. Sebagian fuqaha mengatakan bahwa penyebutan kefardhuan dalam niat shalat fardhu tidak disyaratkan, cukup dengan menyebutkan nama shalat tersebut secara tepat. Karena, memang nama shalat yang disebut itu adalah shalat fardhu.

Melakukan shalat sunnah rawatib dan shalat sunnah mu’akkadah (bukan shalat Sunnah mutlak) juga harus dengan niat yaitu niat melakukannya dan menentukan secara pasti jenisnya seperti shalat sunnah yang mengikuti shalat fardhu Zhuhur, atau shalat Idul Fitri, atau shalat Kusuf, dan lain-lain. Shalat sunnah mutlak cukup hanya dengan niat melakukannya, supaya dia berbeda dengan shalat-shalat yang lain. Karena, memang shalat sunnah mutlak ini tidak ada ketentuan waktu dan sebabnya.

Memberi harta kepada orang lain tanpa harga atau kembalian adalah bentuk amalan yang masih umum. Ia dapat dikatakan zakat, sedekah sunnah, hadiah, atau hibah. Oleh sebab itu, selain harus menyatakan niat memberi, juga harus ditambahi dengan penentuan (ta’yin) menggunakan sifat syar’i seperti zakat -misalnya- supaya ia dapat dibedakan dari perbuatan-perbuatan memberi harta selain zakat. Dalam niat zakat tidak perlu menegaskan kefardhuannya, karena lafal zakat dalam istilah syara’ digunakan untuk amalan wajib.

Menahan diri tidak makan, minum, dan semacamnya, adakalanya dilakukan karena puasa, dan adakalanya untuk menjaga diri dan pengobatan. Oleh sebab itu, niat menahan diri (al-imsak) dalam puasa harus disertai dengan penyebutan kata shiyam/shaum supaya dia dapat dibedakan dari perbuatan-perbuatan lain yang hampir serupa.

Selain itu, puasa juga ada yang fardhu dan ada juga yang sunnah sama seperti shalat. Oleh

sebab itu, selain menyatakan niat puasa, orang yang melakukan puasa juga harus menyatakan secara jelas jenis puasanya seperti puasa Ramadhan, puasa qadha, puasa kafarat sumpah, kafarat zihar; kafarat pembunuhan, kafarat jimak di tengah hari Ramadhan, atau puasa fidyah karena memakai wewangian ketika haji, dan lain-lain. Ketika niat puasa-puasa yang disebutkan tersebut, seseorang tidak perlu menyatakan kefardhuannya. Karena, puasa-puasa yang disebut memang puasa fardhu dan tidak akan serupa dengan puasa-puasa lain yang sunnah.

Pergi menuju Tanah Haram adakalanya untuk berihram, dan adakalanya juga untuk melakukan kegiatan dagang atau kebiasaan-kebiasaan lain. Oleh sebab itu, ketika niat ihram seseorang harus menyatakan dengan jelas bahwa dia memang hendak berihram untuk haji -kalau memang dalam bulan-bulan haji- atau untuk umrah, dan boleh juga orang itu niat ihram secara mutlak kemudian boleh memilih di antara haji atau umrah –kalau memang berada dalam musim haji. Kalau di luar musim haji, maka niat ihramnya itu akan menjadi ihram umrah. Menyatakan kefardhuan juga tidak disyaratkan kalau memang sebelum ini orang tersebut belum pernah haji atau umrah (Ahmad Al-Husiani, Nihayatut Ahkam fi Bayani Ma fi An-Niyah minat Ahkam, halaman 10 dan setelahnya).

Dalil bagi disyaratkannya menyatakan dengan jelas jenis ibadah yang akan dilakukan (ta’yin) adalah hadits “innamal a’maalu binniyaat”sebagaimana yang sudah diterangkan.

Pada uraian berikut ini, akan ditampilkan beberapa contoh cara niat dalam ibadah oleh Syeikh Wahbah Zuhaili:

A. NIAT WUDHU

Cara niat wudhu adalah dengan berniat menghilangkan hadats, atau berniat untuk melakukan shalat, atau niat wudhu, atau niat melaksanakan perintah Allah, atau niat supaya boleh melakukan perkara-perkara yang melakukannya memang harus dengan wudhu seperti shalat, thawal dan memegang mushaf, atau niat menghilangkan janabah, atau niat fardhu mandi, atau niat mandi wajib. Semuanya itu dilakukan sewaktu membasuh bagian pertama dari badan seperti bagian kepala atau yang lain.

Apabila wudhunya dibantu oleh orang lain, maka niat yang diakui adalah niat yang dilakukan oleh orang yang berwudhu, bukan orang yang membantunya berwudhu. Karena, orang yang wudhulah yang dituntut oleh perintah syara’. Adapun orang yang hadatsnya berterusan seperti wanita yang mengalami istihadhah, atau orang yang selalu keluar kencing dan semacamnya, maka niatnya adalah niat supaya boleh melakukan shalat, bukan niat untuk menghilangkan hadats. Karena, hadatsnya tidak mungkin hilang (Al-Bada’i, jilid 1, halaman 77; Ad-Durrul Mukhtan jilid 1, halaman 98 dan setelahnya dan 140 dan setelahnya; Al-Majmu’, jilid 1, halaman 361 dan setelahnya; Mughnil Muhtaj, jilid 7, halaman 47 dan 72; Bidayatul Mujtahid, jilid 1, halaman 7 dan setelahnya dan 42 dan setelahnya; Asy-Syarhush Shaghir jilid 1, halaman 114 dan setelahnya, 166 dan setelahnya; Kasysyaful Qina’ jilid 1, halaman 94 dan setelahnya, l73 dan setelahnya; Al-Mughni, jilid 1, halaman 142, 218 dan setelahnya).

B. NIAT TAYAMUM

Menurut madzhab Hanafi, orang yang bertayamum boleh berniat dengan salah satu dari tiga niat berikut ini; [1] niat bersuci dari hadats; [2] niat supaya boleh melakukan shalat; [3] niat melaksanakan ibadah tertentu yang tidak sah jika tanpa bersuci seperti shalat, sujud tilawah, atau shalat janazah. Madzhab Hanafi juga tidak mensyaratkan menyatakan kefardhuan ketika niat tayamum. Karena, menurut mereka tayamum adalah ibadah pengantar (wasilah).

Niat tayamum menurut madzhab Maliki adalah niat supaya boleh melakukan shalat; atau niat supaya boleh melakukan ibadah yang tidak boleh dilakukan apabila ada hadats; atau niat fardhu tayamum. Semuanya itu dilakukan ketika mengusap wajah. Kalau seandainya seseorang niat menghilangkan hadats saja, maka tayamumnya tidak sah. Karena, tayamum tidak dapat menghilangkan hadats, Ini menurut pendapat yang masyhur di kalangan madzhab Maliki. Kalau dia niat fardhu tayamum, maka hal itu sudah mencukupi.

Madzhab Syafi’i mengatakan bahwa niat tayamum harus dengan cara niat supaya boleh melakukan shalat atau ibadah yang semacamnya. Menurut pendapat yang ashah, niat tayamum dengan menyatakan niat fardhu tayamum; atau fardhu thaharah; atau bersuci dari hadats atau jinabah adalah tidak mencukupi, karena tayamum tidak dapat menghilangkan hadats.

Niat tayamum menurut madzhab Hambali adalah dengan cara niat supaya boleh melakukan

ibadah yang hanya boleh dilakukan jika ada tayamum seperti shalat, tawaf, memegang mushaf, sama seperti pendapat madzhab Syafi’i (Fathul Qadir jilid 1, halaman 86,89; Al-Bada’i jilid 1, halaman 25-52; Tabyinul Haqa’iq, jilid 1, halaman 38; Asy-Syarhul Kabir; jilid 1, halaman 154; Al-Qawanin Al-Fiqhiyyah, halaman 37; Al-Muhadzdzab, jilid 1, halaman 32; Mughnil Muhtaj, jilid 1, halaman 94,; Al-Mughni, jilid 1, halaman 251; Kasysyaful Qina’ jilid 1, halaman 199).

C. NIAT MANDI

Niat bagi orang yang mandi wajib adalah ketika membasuh pertama kali bagian tubuh dengan menyatakan (dalam hati) niat fardhu mandi; atau niat menghilangkan jinabah atau hadats besar; atau niat supaya boleh melakukan ibadah yang yang tidak boleh dilakukan kecuali setelah mandi, seperti niat supaya boleh melakukan shalat, thawaf, atau ibadah lain yang tidak boleh dilakukan kecuali setelah mandi terlebih dulu. Kalau orang tersebut niat supaya boleh melakukan ibadah yang sebenarnya boleh dilakukan tanpa mandi terlebih dahulu seperti niat mandi untuk shalat Ied, maka mandinya tidak sah. Niat mandi wajib juga harus dilakukan berbarengan dengan perbuatan fardhu yang pertama, yaitu ketika membasuh anggota badan pertama kali, baik yang dibasuh bagian atas badan maupun bagian bawah. Karena, dalam mandi tidak diwajibkan tartib (Fathul Qadir jilid 1, halaman 38 dan setelahnya; Al-Lubab Syarh Al-Kitab, jilid 1, halaman 20; Asy-Syarhush Shaghir jilid 1, halaman 166 dan setelahnya; Bidayatul Mujtahid, jilid, 1, halaman 42 dan setelahnya; Mughnil Muhtaj, jilid 1, halaman 72 dan setelahnya; Al-Mughni, jilid 1, halaman 218 dan setelahnya; Kasysyaful Qina’, jilid,1, halaman 173 dan setelahnya.). Madzhab Hanafi juga tidak mensyaratkan harus menyatakan kefardhuan dalam niat mandi atau wudhu, karena niat dalam mandi dan wudhu menurut mereka bukanlah syarat, melainkan sunnah untuk mendapatkan pahala.

D. NIAT SHALAT

E. NIAT PUASA

Madzhab Hanafi (Maraqi Al-Falah, halaman 106 dan setelahnya; Ibnu Nujaim, Al-Asybah wan Nadzair halaman 33) berpendapat bahwa untuk puasa Ramadhan dan yang semacamnya seperti puasa nadzar yang waktunya telah ditentukan, seseorang boleh berniat puasa secara mutlak, atau berniat puasa sunnah, atau berniat wajib yang lain. Mereka juga tidak mewajibkan meletakan niat puasa pada malam hari (tabyit), sebagaimana yang telah diterangkan, dan bersahur menurut mereka juga sudah dianggap sebagai niat.

Adapun menurut madzhab Maliki (Al-Qawanin Al-Fiqhiyyah halaman 117; Bidayatul Mujtahid jilid 1 halaman 283), niat puasa harus dijelaskan secara terperinci jenisnya (ta’yin) dan juga harus dilakukan di malam hari (tabyit).

Sedangkan kesempurnaan niat puasa Ramadhan, menurut madzhab Syafi’i (Mughni Muhtaj jilid 1 halaman 425) adalah dengan menyatakan, (نويت صوم غد عن أداء فرض رمضان هذه السنة لله تعالى) “Saya niat melakukan puasa pada hari esok untuk melaksanakan kewajiban Ramadhan pada tahun ini karena Allah Ta’ala.” Menurut pendapat yang mu’tamad dalam madzhab Syafi’i, menetapkan kefardhuan dalam niat puasa Ramadhan bukan merupakan kewajiban.

Madzhab Hambali (Kasysyaful Qina’ jilid 2 halaman 267) mengatakan bahwa barangsiapa yang dalam hatinya terbesit keinginan bahwa besok dia akan berpuasa, maka itu sudah dianggap niat. Menentukan jenis puasa secara jelas (ta’yin) dalam niat adalah wajib, yaitu dengan berkeyakinan bahwa dia besok akan melakukan puasa Ramadhan, puasa qadha, puasa nadzar,atau puasa kafarat. Madzhab Hambali juga menetapkan bahwa menyatakan kefardhuan tidak wajib.

Kesimpulannya adalah, jumhur ulama selain madzhab Hanafi sepakat bahwa niat wajib dilakukan di malam hari (tabyit). Jumhur ulama selain madzhab Syafi’i juga sepakat bahwa makan dan minum dengan niat berpuasa, atau melakukan sahur sudah dianggap niat, kecuali jika ketika makan dan minum orang tersebut memang berniat untuk tidak puasa. Menurut madzhab Syafi’i, makan sahur tidak dianggap sebagai niat dalam puasa apa pun, kecuali jika ketika bersahur dalam

hati orang tersebut terbetik keinginan untuk puasa dan dia berniat untuk puasa. Umpamanya adalah, dia memang berniat puasa ketika makan sahur atau ketika fajar mulai muncul, dia tidak mau makan supaya tidak batal puasa.

F, NIAT I’TIKAF

Yang dimaksud dengan i’tikaf adalah berdiam diri di masjid yang dilakukan oleh orang-orang tertentu dengan niat, sebagaimana yang didefinisikan oleh ulama madzhab Syafi’i. Ulama sepakat bahwa untuk beri’tikaf disyaratkan niat. I’tikaf tanpa niat tidak sah, berdasarkan hadits yang telah lalu “innamal a’maalu bin-niyaat” dan juga karena i’tikaf adalah ibadah murni (ibadah mahdhah). Sehingga, ia tidak sah jika tanpa niat seperti puasa, shalat, dan ibadah-ibadah yang lain.

Madzhab Syafi’i menambahkan, jika i’tikaf yang dilakukan adalah fardhu, maka orang yang melakukan harus menyatakan kefardhuannya ketika niat, supaya ia dapat dibedakan dari i’tikaf-i’tikaf sunnah. Madzhab Hanafi dan Maliki mensyaratkan seseorang harus dalam keadaan puasa bagi sahnya i’tikaf. Karena, ada hadits yang diriwayatkan oleh Ad-Daruquthni dan Al-Baihaqi dari Aisyah, “I’tikaf tidak sah tanpa puasa.” Tetapi, hadis ini dhaif. Bagi madzhab Syafi’i dan Hambali,

puasa tidak menjadi syarat bagi sahnya i’tikaf, kecuali jika memang orang tersebut bernadzar. Niat i’tikaf adalah dengan menyatakan, (نويت الاعتكاف في هذا المسجد ما دمت فيه) “Saya niat i’tikaf dalam masjid ini selagi saya berada di dalamnya.” (Fathul Qadir, jilid 2, halaman 106 dan setelahnya; Ar-Raddul Mukhtar jilid2, halaman 177 dan setelahnya; Asy-Syarhush Shaghir wa Hasyiyah Ash-Shawi, jilid 1, halaman 725 dan setelahnya; Al-Muhazhzhab, jilid 1, halaman l90-192; Mughnil Muhtaj, jilid 1, halaman 453 dan setelahnya; Kasysyaful Qina’ jilid 2, halaman 406 dan setelahnya; Al-Mughni, jilid 2, halaman 638 dan setelahnya.)

G. NIAT ZAKAT

Para ahli fiqih bersepakat bahwa niat merupakan syarat sah bagi pelaksanaan zakat. Caranya adalah orang yang membayar zakat menyatakan “ini adalah zakat hartaku.” Ketika niat tidak disyaratkan menyatakan kefardhuan zakat, karena zakat sudah pasti fardhu. Contoh niat yang lain adalah, “ini adalah kewajiban sedekah hartaku” atau “ini adalah sedekah hartaku yang wajib” atau “ini adalah sedekah yang fardhu” atau “ini adalah fardhu sedekah.” Menurut madzhab Maliki,

niat yang dilakukan oleh imam (pemerintah) atau wakilnya adalah cukup sebagai pengganti niat orang yang berkewajiban zakat. Madzhab Hambali mengatakan bahwa niat sudah cukup hanya dengan berkeyakinan bahwa harta tersebut adalah zakatnya, atau zakat yang wajib dikeluarkan apabila yang wajib zakat adalah anak kecil atau orang gila. Tempat niat adalah di hati, karena tempat semua keyakinan adalah di hati (Fathul Qadir jilid 1 halaman 493; Al-Bada’i jilid 2 halaman 40; Al-Majmu’ jilid 2 halaman 40 dan setelahnya; Asy-Syarhush Shaghir jilid 1 halaman 666, 670; Al-Mughni jilid 2 halaman 638 dan setelahnya).

H. NIAT HAJI DAN UMRAH

Niat dalam haji dan umrah adalah sesuatu yang wajib. Niatnya adalah ihram, yaitu niat haji atau umrah atau keduanya. Misalnya adalah dengan menyatakan, “Saya niat haji (atau umrah) dan saya berihram dengan haji (atau umrah) tersebut karena Allah Ta’ala.”

Apabila dia melakukan haji atau umrah untuk orang lain, maka hendaklah ia menyatakan, “Saya niat haji (atau umrah) untuk si fulan, dan saya berihram untuk haji (atau umrah) tersebut karena Allah Ta’ala,” kemudian melantunkan talbiyah setelah selesai melaksanakan dua rakaat shalat sunnah ihram. Menurut jumhur ulama, ihram sudah dianggap cukup hanya dengan niat saja. Namun menurut madzhab Hanafi, ihram belum cukup hanya dengan niat saja, melainkan ia harus

dibarengkan dengan ucapan atau perbuatan yang khusus dilakukan dalam ihram, seperti dibarengkan dengan talbiyah atau dibarengkan dengan melepas pakaian yang tidak boleh dikenakan sewaktu ihram. Menurut madzhab Hanafi, mengucapkan niat dengan lisan adalah disunnahkan, misalnya orang yang melakukan haji ifrad mengatakan, (اللهم إني أريد الحج فيسره لي وتقبله مني) “Ya Allah, sungguh aku ingin melaksanakan haji. Maka, berilah aku kemudahan dalam menjalankannya, dan terimalah hajiku tersebut.”

Sementara itu, orang yang melakukan umrah mengucapkan, (اللهم إني أريد العمرة فيسره لي وتقبله مني) “Ya Allah, sungguh aku ingin melaksanakan umrah. Maka, berilah aku kemudahan dalam menjalankannya, dan terimalah umrahku tersebut.”

Adapun orang yang melakukan haji qiran, hendaklah membaca, (اللهم إني أريد العمرة والحج فيسرهما لي وتقبلهما مني) “Ya Allah, sungguh aku ingin melaksanakan haji dan umrah. Maka, berilah aku kemudahan dalam menjalankannya, dan terimalah haji dan umrahku tersebut.” (Al-Qawanin Al-Fiqhiyyah, halaman 131; Al-Bada’i jilid 2, halaman 161 dan setelahnya; Asy-Syarhush Shaghir jilid 2, halaman 16, 25; Mughnil Muhtaj, jilid 1, halaman 476 dan setelahnya; Al-Majmu’ jilid 7, halaman 226; Al-Mughni, jilid 3, halaman 281 dan setelahnya)

I. NIAT QURBAN

Menurut madzhab Syafi’i dan Hambali, niat tersebut harus dilakukan sewaktu memotong hewan qurban. Karena, pemotongan hewan merupakan jenis ibadah tersendiri untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala, dan niat tersebut cukup dengan hati. Dalam hal ini tidak disyaratkan melafalkan niat dengan lisan, karena niat adalah pekerjaan hati, dan ucapan lisan hanya sebagai petunjuk atas niat yang diutarakan oleh hati (Al-Bada’i jilid 5 halaman 71; Al-Qawanin Al-Fiqhiyyah halaman 187; Mughnil Muhtaj jilid 4 halaman 289; Kasysyaful Qina’ jilid 3 halaman 6).

About Global Muslim

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement