Untitled Post

Syaikh Dr. Muhammad al-Musayyar

Beliau -rahimahullah- seorang alim azhari terhormat di masa hidupnya yang tidak pernah merasa takut dalam menyampaikan kebenaran. Di beberapa kesempatan secara terbuka beliau menyatakan bahwa para aktor dan aktris bukanlah publik figur sebenarnya. Apa yang mereka lakukan sebagai tuntutan profesi adalah haram, dan penghasilan yang mereka dapatkan pun haram. Bahkan, secara lugas beliau menyatakan, bahwa para selebritas sering mengunjungi “ad-dajjālīn” (para dukun dan peramal) untuk mendapatkan “penglaris” dan memprediksikan masa depan karir mereka.

Tak jarang pula, dalam wawancaranya di televisi, beliau mengomentari berbagai fatwa di Mesir yang menurutnya tidak dipijakkan di atas argumen yang benar, atau tidak memiliki relevansi dengan realitas kehidupan di zaman ini meskipun bersumber dari sesama ulama al-Azhar bahkan dari lembaga fatwa resmi.

Sejak beliau masih hidup, banyak dari kalangan Salafi di Mesir yang sangat menghormatinya. Kendati beliau sendiri bermazhab Asy’ari dalam akidah, namun beliau selalu mengajak kepada dialog konstruktif bermartabat di antara kalangan-kalangan yang berselisih dalam pandangan keagamaan, juga sangat keras mengecam budaya caci-maki lintas kalangan dan afiliasi apalagi saling melaknat.

Pernah ada seorang teman dulu yang sedang menyusun tesis tentang ajaran Kejawen dan sikap Islam terhadapnya dengan menjadikan sejumlah karya Ibn Taimiyah sebagai bagian dari referensi. Di awalnya saat Dr. Al-Musayyar sebagai supervisor, beliau sama sekali tidak keberatan. Namun, setelah beliau wafat dan supervisi tesisnya digantikan oleh dosen lain, maka teman saya diminta untuk menghapus seluruh pembahasan yang telah ia tulis yang bersumber dari karya-karya Ibn Taimiyah.

Beliau pernah di salah satu majalah menulis bahwa al-Azhar sepanjang masa telah melahirkan sarjana-sarjana Muslim dengan haluan beragam.

Sebagai contoh, beliau menyebut Muhammad Abduh dan al-Maraghi sebagai tokoh rasionalisme, Abdul Halim Mahmud sebagai ahli tasawuf, serta Ahmad Syakir dan Abdurrazaq Afifi dengan salafismenya.

Tokoh terakhir (Abdurrazzaq Afifi) yang asalnya dari Mesir ini dalam karir keulamaannya di kemudian hari mendapatkan posisi sangat terhormat sebagai salah seorang anggota Komisi Tetap Fatwa Arab Saudi (al-Lajnah ad-Daimah lil Buhuts wal Ifta).

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۚ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ ۚ أُولَٰئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللَّهُ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

“Orang-orang mukmin, laki-laki maupun perempuan, yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, sebagian mereka merupakan penolong bagi sebagian yang lain. Mereka memerintahkan manusia untuk beriman dan mengerjakan amal shalih serta melarang mereka dari perbuatan kafir dan maksiat-maksiat, menjalankan shalat, memberikan zakat, taat kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka menghindar dari perkataan yang mereka dilarang melakukanya. Mereka itu akan di rahmati oleh Allah, lalu dia akan menyelamatkan mereka dari siksa-Nya dan memasukan mereka ke dalam surga-Nya, sesungguhnya Allah Maha perkasa dalam kerajaann-Nya agi Maha Bijaksana dalam penetapan ajaran-ajaran syariat dan hukum-hukum-Nya.” (At-Taubah: 71).

Semoga Allah merahmati beliau dan seluruh ulama kaum muslimin dengan rahmat-Nya yang luas.

About admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *