Siapa Soko Guru Rezim Fir’aun?

Siapa Soko Guru Rezim Fir'aun?

L’histoire se repete – sejarah itu berulang – kata orang Prancis, sedangkan orang Inggris mengatakan: “nothing new under the Sun”. Saya tidak tahu idiom dalam bahasa lain, namun saya yakin setiap bangsa di Dunia ini juga meyakini hal yang sama, sebab itu adalah Sunnatullōh (ketetapan Allōh ﷻ), Robb Semesta Alam.

Kata Allōh ﷻ di dalam firman-Nya:

قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلِكُمْ سُنَنٌ فَسِيرُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ فَٱنظُرُوا۟ كَيْفَ كَانَ عَٰقِبَةُ ٱلْمُكَذِّبِينَ

(arti) _“Sungguh-sungguh telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah Allōh, karena itu berjalanlah kamu di muka Bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (Allōh dan risalah yang dibawa oleh Rosūl-Nya -pent).”_ [QS Āli ‘Imrōn (3) ayat 137].

Kata Allōh ﷻ di dalam firman-Nya:

وَكُلًّا نَقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنْبَاءِ الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهِ فُؤَادَكَ ۚ وَجَاءَكَ فِي هَٰذِهِ الْحَقُّ وَمَوْعِظَةٌ وَذِكْرَىٰ لِلْمُؤْمِنِينَ

(arti) _“Dan semua kisah para Rosūl yang Kami ceritakan kepadamu adalah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hati kamu, dan dalam surah ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang berīmān.”_ [QS Hūd (11) ayat 120].

Kata Allōh ﷻ di dalam firman-Nya:

لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِأُولِي الْأَلْبَابِ

(arti) _“Sungguh-sungguh pada kisah-kisah mereka (para Nabī dan ummat mereka) itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal sehat.”_ [QS Yūsuf (12) ayat 111].

Kesemua ayat suci di atas menunjukkan betapa pentingnya bagi kita, ummat Islām, untuk mempelajari dan memahami pelajaran sejarah yang diajarkan oleh Allōh ﷻ di dalam al-Qur-ān sebagai bekal kita di dalam mengarungi kehidupan yang pasti penuh dengan cobaan ini.

Adapun salah satu dari cobaan hidup yang paling sering dihadapi oleh manusia adalah interaksi dengan penguasa yang zhōlim. Tentang ini Allōh ﷻ mengajarkan kepada kita melalui begitu banyak ayat tentang perjalanan da‘wah Nabiyullōh Mūsā عليه الصلاة و السلام dan Hārūn عليه السلام ketika menda‘wahi Fir‘aun dan kaumnya. Dalam ayat-ayat yang tersebut, Allōh ﷻ memaparkan dengan sangat deskriptif bagaimana interaksi antara Nabī Mūsā dan Nabī Hārūn yang berjalan di atas kebenaran ketika berhadapan dengan rezim Fir‘aun yang zhōlim dan para pendukungnya yang berjalan di atas kebāthilan. Betapa Fir‘aun dan antek-anteknya itu selalu memakai cara-cara kasar lagi keji dengan tuduh, fitnah, tangkap, siksa, dan membunuh orang seenaknya di luar batas perikemanusiaan walau hanya berdasarkan atas mimpi dan waham saja. 

Dari kisah Nabī Mūsā tersebut, kita dapatkan bahwa ada 4 kelompok manusia yang selalu menjadi pendukung utama (sokoguru) dari rezim yang zhōlim, yaitu:

Hāmān, yang merupakan representasi dari menteri (teknokrat) atau panglima pasukan, yaitu orang pintar / kuat yang jadi pendamping (backing) rezim dengan kecerdasan, ‘ilmu, dan kekuatan otot.

Tukang sihir. yang merupakan representasi preman bayaran rezim yang melancarkan tipu daya untuk menterror manusia. 

Qōrūn. yang merupakan representasi para pemilik modal yang menjadi penyandang dana rezim. 

Bal‘am ibn Bā‘urō’ – yang merupakan representasi dari ‘ulamā’ sū’ (‘ulamā’ yang jahat yang mengkhianati agama).

Keempat jenis manusia itu akan terus ada di sisi penguasa yang zhōlim menjadi pendukung (sokoguru /backing) dari “Rezim Fir‘aun”, oleh karenanya adalah penting bagi kita untuk mengelai shifat-shifatnya, bukan namanya, karena shifat itu tetap, sedangkan nama, tempat, dan waktu berbeda-beda.

Ada sebuah perkataan yang dinisbatkan kepada Kholīfah ‘Aliy ibn Abī Thōlib رضي الله تعالى عنه sebagaimana yang dinukil oleh Imām Abū Hāmid al-Ghozaliy رحمه الله تعالى di dalam kitabnya, Ihyā’ ‘Ulūmuddīn:

لَا تَعْرِف الْحَقَّ بِالرِّجَالِ ، اعْرِفْ الْحَقَّ ، تَعْرِفْ أَهْلَهُ

(arti) _“Janganlah mengenali kebenaran berdasarkan nama individu-individu, akan tetapi kenalilah kebenaran itu sendiri, otomatis anda akan mengenali siapa yang ada di pihak yang benar.”_

Semoga dengan mengenali shifat-shifat para pendukung kebāthilan ini kita diberi hidayah oleh Allōh ﷻ untuk menjauhi dan memerangi kebāthilan tersebut sehingga kita termasuk dari orang yang beruntung.

📌 Kata Allōh ﷻ di dalam firman-Nya:

وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَٰئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ ۚ وَحَسُنَ أُولَٰئِكَ رَفِيقًا

(arti) _“Dan siapa saja yang menta’ati Allōh dan Rosūl-Nya, maka mereka itu akan (dikumpulkan) bersama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allōh, yaitu: para Nabī, para Shiddīqīn, para Syuhadā’, dan orang-orang shōlih, dan mereka itulah sebaik-baiknya teman.” [QS an-Nisā’ (4) ayat 69].

Mari kita telaah satu per satu sokoguru dari “Rezim Fir‘aun” tersebut.

🔵 Sokoguru Pertama | Hāmān

Nama Hāmān ini disebutkan sebanyak 6x di dalam al-Qur-ān, maka tentunya Hāmān ini adalah penting dipelajari apa perannya.

❔ Siapakah Hāmān?

Hāmān adalah seorang arsitek dari Fir‘aun, ia sekaligus juga jendral dari pasukannya élite Fir‘aun, serta juga merangkap sebagai pendeta tinggi dalam agamanya Fir‘aun. Singkatnya, Hāmān adalah “tangan kanan” dari Fir‘aun, bahkan ia adalah “Menteri Segala Urusan”. Kalau di zaman now, Hāmān ini adalah para teknokrat (orang pintar) dan orang kuat di sisi Sang Diktator yang jadi menteri atau team staff ahli / penasihat, atau para petinggi dari pasukan centengnya. Intinya, mereka adalah “yes can do man” dari para diktator yang bengis.

Hāmān itu bukan nama sesungguhnya, akan tetapi ia adalah ‘Arabisasi dari gelar: “ham nata tapiy amana” (arti: pendeta tinggi dari Amun). 

❔ Kenapa disebut “yes can do man”?

Perhatikan…

Ketika Fir‘aun dida‘wahkan agama Islām dan Allōh ﷻ sebagai satu-satunya Tuhan Semesat Alam, ia kāfir terhadapya dan malah menyombongkan diri bahwa ia adalah tuhan bagi rakyat negerinya. Fir‘aun penasaran dengan siapa Robb-nya Mūsā dan Hārūn yang dida‘wahkan oleh Nabī Mūsā sebagai “Maha Tinggi yang ada di Langit”, maka Fir‘aun bukannya datang kepada Mūsā untuk mempelajari keterangan tersebut, ia malah menyombongkan dirinya bahwa ia adalah tuhan, lalu memerintahkan Hāmān agar membangunkan baginya sebuah menara yang tinggi agar ia bisa melihat sendiri Robb-nya Mūsā tersebut, dan tak cukup sampai di situ, Fir‘aun menuduh Mūsā sebagai pendusta.

📌 Kata Allōh ﷻ di dalam firman-Nya mengisahkan:

وَقَالَ فِرْعَوْنُ يَا أَيُّهَا الْمَلَأُ مَا عَلِمْتُ لَكُم مِّنْ إِلَٰهٍ غَيْرِي فَأَوْقِدْ لِي يَا هَامَانُ عَلَى الطِّينِ فَاجْعَل لِّي صَرْحًا لَّعَلِّي أَطَّلِعُ إِلَىٰ إِلَٰهِ مُوسَىٰ وَإِنِّي لَأَظُنُّهُ مِنَ الْكَاذِبِينَ

(arti) _“Dan Fir‘aun berkata:  “Wahai pembesar kaumku, aku tak mengetahui adanya tuhan bagi kalian selain dari diriku. Maka dari itu wahai Hāmān, bakarlah untukku tanah liat, kemudian bangunkanlah untukku menara yang tinggi agar aku dapat naik ke atasnya untuk melihat langusng tuhannya Mūsā! Dan sungguh aku benar-benar yakin bahwa ia (Mūsā -pent) adalah termasuk dari para pendusta!””_ [QS al-Qoshosh (28) ayat 38].

📌 Kata Allōh ﷻ mengisahkan:

وَقَالَ فِرْعَوْنُ يَا هَامَانُ ابْنِ لِي صَرْحًا لَّعَلِّي أَبْلُغُ الْأَسْبَابَ ۝ أَسْبَابَ السَّمَاوَاتِ فَأَطَّلِعَ إِلَىٰ إِلَٰهِ مُوسَىٰ وَإِنِّي لَأَظُنُّهُ كَاذِبًا ۚ وَكَذَٰلِكَ زُيِّنَ لِفِرْعَوْنَ سُوءُ عَمَلِهِ وَصُدَّ عَنِ السَّبِيلِ ۚ وَمَا كَيْدُ فِرْعَوْنَ إِلَّا فِي تَبَابٍ

(arti) _“Dan Fir‘aun berkata: “Wahai Hāmān! Buatkan untukku sebuah menara yang tinggi sehingga aku bisa sampai ke pintu-pintu, (yaitu) pintu-pintu Langit, hingga aku dapat melihat tuhan yang disembah oleh Mūsā, dan sungguh aku memandangnya sebagai seorang pendusta!”. Demikianlah dijadikan Fir‘aun memandang baik perbuatannya yang buruk itu, dan ia dihalangi dari jalan (yang benar), sedangkan tipu-daya Fir‘aun itu tidak lain hanyalah membawa kerugian!” [QS Ghofir / al-Mu’min (40) ayat 36-37].

Fir‘aun itu karena kebodohannya berpikir bahwa ia akan mampu melihat Robbul ‘Ālamīn yang Maha Tinggi di Langit apabila ia melakukannya dari puncak menara yang tinggi. Maka ia memerintahkan Hāmān untuk membangunkan megaproyek menara yang tinggi baginya. Namun ternyata kepiawaian Haman dalam ‘ilmu engineering atau ‘ilmu-‘ilmu duniawi lainnya tidak digunakan pada tempat yang benar, Hāmān malahan memperturutkan hawa nafsu Fir‘aun dengan membangunkan mega proyek menara tinggi yang sebenarnya adalah suatu kesia-siaan yang nyata (pemborosan harta) yang sangat merugikan keuangan negara…!

ℹ️ Dari ayat suci di atas kita ketahui bahwa ternyata bangunan-bangunan di Mesir kuno di zaman Fir‘aun-nya Nabī Mūsā itu bukanlah terbuat dari batu-batu yang dipotong dari gunung seperti yang dipersangkakan oleh orang-orang Barat, tidak. Akan tetapi ia adalah dari tanah liat yang dibakar (sejenis bata).

Adapun pada Zaman Now, kita melihat para diktator zhōlim megalomaniac-juga sangat mirip dengan Fir‘aun di zamannya Nabiyullōh Mūsā عليه الصلاة و السلام, yang mana kesamaannya adalah:

⒜. Sama-sama ingkar terhadap Kitābullōh (al-haq),

⒝. Sama-sama zhōlim (suka menuduh dan memfitnah, lalu menyiksa dan membunuhi manusia atas dasar itu), dan menyombongkan diri serta merasa berada di atas segalanya.

⒞. Sama-sama memiliki para pembantu yang terdiri dari orang-orang pintar dan menguasai ‘ilmu, tetapi sayangnya malah memperturutkan saja keinginan bodoh dari junjungannya tersebut.

Di zaman now, para teknokrat itu cuma iya-iya saja terhadap apapun pernyataan / keinginan dari penguasa diktator yang zhōlim, sekalipun pernyataan / keinginan junjungannya itu adalah sangat absurd dan tak masuk akal, akan tetapi tetap saja mereka iya-iya saja membenarkannya.

⇛ Itulah penjelasan kenapa sering terlihat ada orang-orang yang seharusnya “pintar” karena mereka punya gelar “PhD” / “duktuur”, bahkan “professor” sekalipun, ternyata malahan menjadi ikut-ikutan jadi bodoh saat telah berada di sisi rezim diktator yang zhōlim.

❔ Lalu bagaimanakah akhiran kisah dari Hāmān?

📌 Kata Allōh ﷻ di dalam firman-Nya mengisahkan:

وَقَارُونَ وَفِرْعَوْنَ وَهَامَانَ ۖ وَلَقَدْ جَاءَهُم مُّوسَىٰ بِالْبَيِّنَاتِ فَاسْتَكْبَرُوا فِي الْأَرْضِ وَمَا كَانُوا سَابِقِينَ

(arti) _“Dan juga Qōrūn, Fir‘aun, dan Hāmān. Dan sungguh-sungguh telah datang kepada mereka Mūsā dengan (membawa) keterangan-keterangan yang nyata (mu‘jizat -pent). Akan tetapi mereka berlaku sombong di (muka) Bumi, dan tidaklah mereka orang-orang yang terluput (dari kehancuran itu)!”_ [QS al-‘Ankabūt (29) ayat 39].

Hāmān dibinasakan oleh Allōh ﷻ dengan ditenggelamkan bersama dengan Fir‘aun, dijepit oleh puluhan meter dinding air laut yang sangat keras…!

Demikian, semoga dapat dipahami.

❤ Kita berdo’a:

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

{robbanā lā tuzigh qulūbanā ba‘da idz hadaitanā wa hab lanā mil-ladunka rohmatan innaka antal-wahhāb}

(arti) “Wahai Robb kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu, karena sungguh hanya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia).”

Insyā’Allōh bersambung ke Bagian ke-2 – link:

About admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement