Untitled Post

 Meninggalkan Shalat Dengan Sengaja Apakah Wajib Mengqadha?

byGlobal Muslim-September 30, 20180

Tulisan ini akan membahas hukum seorang yang tidak melaksanakan shalat tanpa uzur hingga lewat waktunya, apakah dia harus mengqadha shalatnya?

Dalam hal ini Ulama’ ada dua pendapat:

Pertama: Diwajibkan baginya mengqadha waktu shalat, menurut jumhur ulama’ dari empat mazhab dan lainnya. Bahkan Imam nawawi mengkatagorikan sebagai muttafaq alaih[1]. Adapun dalil mereka :

Hadist-hadist yang telah disebutkan sebelumnya, orang yang lupa diwajibkan untuk mengqadha, mazhab ini beranggapan, jika orang yang lupa saja diwajibkan qadha, maka orang yang sengaja tentu lebih diutamakan dalam hal mengqadha.

Dijawab : Pendapat yang mengatakan tidak diwajibkannya qadha bagi orang yang sengaja bukan berarti bahwa sengaja menginggalkan shalat lebih ringan daripada orang yang lupa, akan tetapi tidak diwajibkannya qadha baginya karena qadha tersebut tidak menggugurkan dosanya, tidak ada faedahnya. Menetapkan suatu hukum tanpa dalil dianggap sebagai kesia-siaan. Berbeda dengan kasusnya orang yang lupa dan orang yang tertidur, ada dalil yang memerintahkan mereka untuk mengqadha shalat. Qadha adalah kafarat bagi mereka berdua, tidak ada kafarat lain kecuali qadha[2].

Sedangkan qiyas itu adalah untuk dua masalah yang sama bukan atas dua masalah yang bertentangan. Tidak ada perbedaan dalam permasalahan ini, kesengajaan lawan kata lupa, maksiat lawan kata ta’at, maka bagaimana bisa diqiyaskan?![3]

Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pada penetapan qadha orang yang tertidur dan orang yang lupa:

لاَ كَفَّارَةَ لَهَا إِلَّا ذَلِكَ

“Tidak ada kafarat baginya kecuali mengqadha”.

Mazhab ini beranggapan: bahwa “amid” orang yang sengaja masuk dalam khitabhadis ini. Sebab orang yang tertidur dan lupa tidak ada dosa baginya. Yang dimaksud dengan orang yang lupa adalah orang yang meninggalkannya.

Dijawab: Pendapat ini menyatakan bahwa tidak wajib mengqadha bagi orang yang tertidur dan orang yang lupa, karena tidak adanya dosa yang mereka tebus dengan adanya persyaratan kafarat. Sedangkan hadist-hadist yang shahih telah menjelaskan kewajiban qadha bagi orang yang lupa dan orang yang tertidur. Jika kafarat ditimpakan dari kesalahan, maka tidak menutup kemungkinan kafarat tersebut dari kesengajaan. Dan ini sungguh sangat jelas.

Pengqiyasan atas wajibnya qadha bagi orang yang berbuka dengan sengaja pada siang bulan Ramadhan, sebagaimana orang yang melakukan jima’ di siang hari Ramadhan.

Dijawab: Ketetapan mengqadha atas orang yang melakukan jima’ pada siang hari Bulan Ramadhan adalah dhaif. Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan hadist ini tanpa adanya tambahan: [1]

وصم يوما مكان ما اصبت

“Puasalah sehari dimana kamu telah makan sesuatu”. Tambahan tersebut dhaif dan tidak kuat.”

Kadang mereka memakai hadist ini sebagai dalil (dan kadang juga tidak memakainya sebagai dalil):

فَدَيْنُ اللَّهِ أَحَقُّ أَنْ يُقْضَى

“Hutang kepada Allah lebih berhak dibayar”[2]

Dikatakan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengkatagorikan ibadah (haji dan puasa) sebagai hutang.

Dijawab: Dengan pendapat ini, maka mereka membolehkan shalat sebelum waktunya, karena hutang boleh dibayar sebelum jatuh masanya. Dalam permasalahan ini akan ada tambahan penjelasan pada dalil mazhab lain.

Kedua: Tidak diwajibkan mengqadha dan qadhanya tidak sah

Ini merupakan pendapat Umar bin Khathab, Abdullah bin Umar bin Khattab, Sa’id bin Abi Waqash dan Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhum (Ibnu Hazm berkata, “Kami tidak menemukan perbedaan diantara para sahabat”). Qosim bin Muhammad, Badil Al-Aqily, Muhammad bin Sirrin, Mutharrif bin Abdullah, Umar bin Abdul Aziz, golongan dari Mazhab Imam Syafi’i, Al-Jauzjani, Abu Muhammad Al-Barbahari serta Ibnu Bathah, Daud al-Zhahiri dan Ibnu Hazm juga berpendapat seperti ini. Pendapat ini juga merupakan pilihan syaikh islam Ibnu Taimiyah serta al-alamah Al-albany dan Ibnu ‘Utsaimin[3]. Ini pendapat yang rajih. Dengan dalil sebagai berikut:

Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَّوْقُوتًا

“Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman”.[4]

Shalat adalah ibadah yang ditentukan batas waktunya ada awal dan akhirnya. Maka tidak boleh melaksanakannya sebelum waktunya ataupun sesudahnya, kecuali ada nash yang memuat perintah baru. Sebagaimana yang berlaku pada orang yang tidur, lupa dan orang-orang yang berhalangan. Nash ini juga berlaku pada ibadah haji dan puasa Ramadhan secara sempurna.

Sudah tentu, ketika seseorang shalat sebelum waktunya dengan sengaja, makashalatnya batal. Begitu juga ketika seseorang shalat sesudah waktunya, shalatnya pun batal.

Firman Allah Subhanahu wata’ala:

فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ

“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya”.[1]

Firman Allah Subhanahu wata’ala:

فَخَلَفَ مِن بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا

“Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan”.[2]

Jika ada orang yang sengaja meninggalkan shalat dalam keadaan sadar sampai hilangnya waktu shalat, maka dia mendapatkan celaka serta kesesatan. Seperti halnya kesesatan dan kecelakaan tidak akan menimpa kepada seseorang yang dalam keadaan sadar mengakhirkan shalat sampai batas waktu shalat yang telah ditentukan.

Hadist

من نسى صلاة فليصلّها اذا .

“Siapa yang melupakan shalat, maka laksanakanlah ketika mengingatnya”.[3]

Dalil tersebut menjelaskan bahwa orang yang sengaja tidak wajib mengqadha shalat. Andaikata lafadz lupa adalah sebuah syarat jika tidak ada syarat, maka tidak ada yang disyarati. Jadilah yang dipahami, bahwa seseorang yang tidak lupa, tidak shalat.

Qadha adalah kewajiban yang ditetapkan oleh syariat, dan syariat hanya ditetapkanAllah Subhanahu wata’ala melalui lisan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Tidak ada kewajiban qadha kecuali adanya dalil khusus demikian menurut kaidah ushul yang terkuat. Dan ternyata tidak ada dalil yang memerintahkan qadha bagi orang yang sengaja meninggalkan shalat. Jika qadha itu diwajibkan atas orang yang sengaja, maka dia pasti meninggalkan shalat sampai habis waktu shalat. Allah dan rasul-NYA tidak lalai, tidak lupa dan tidak bertujuan memberatkan kita dengan tidak menerangkannya

وَمَا كَانَ رَبُّكَ نَسِيًّا

“Dan tidaklah Tuhanmu lupa “.[1]

Hadist:

مَنْ فَاتَتْهُ الْعَصْرُ ، فَكَأَنَّمَا وُتِرَ أَهْلَهُ وَمَالَهُ

“Siapa yang meninggalkan shalat ashar, ia seperti kehilangan keluarga dan hartanya”.[2]

Hadist tersebut menjelaskan bahwa sesuatu yang hilang, tidak ada jalan untuk mendapatkannya kembali. Jika ia mendapatkannya maka tidak akan disebut hilang.Jika adanya kemungkinan mengqadha shalat yang ditinggalkan secara sengaja, maka ucapan shalat yang terlewatkan adalah kebohongan dan bathil !!!

Dikatakan kepada orang yang mewajibka qadha atas orang yang sengaja meninggalkan shalat, Shalat ini (qadha) diperintahkan kepada orang yang sengajameninggalkan untuk mengerjakannya, apakah kewajiban tersebut memang diperintahkan Allah? Ataukah dari lainnya? Apabila dia berkata, “ya shalat itu (diperintahkan Allah)”, kami berkata kepada mereka, “‘orang yang sengaja meninggalkan shalat tidaklah bermaksiat, karena ia melaksanakan apa yang telah diperintahkan oleh Allah dan tidak ada dosa bagi pendapat mereka serta tidak tercela bagi orang yang meninggalkan shalat sampai habis waktunya, tentu tak seorang muslimpun yang menyatakan seperti ini.

Jika ia menjawab: “Bukan perintah Allah kepada orang yang sengaja meninggalkan shalat, kita katakan, “Kamu benar”. Pendapat ini sudah cukup jika mereka menetapkan bahwa mereka memerintahkan apa yang tidak diperintah oleh Allah[3].

Penulis berkata: ini adalah pendapat yang rajih. Dan pendapat berbeda tidak memiliki dalil yang benar. Wallahu a’laam..

Orang yang meninggalkan shalat selama bertahun-tahun

Penjelasan ini bercabang kepada pembicaraan mengenai seseorang yang meninggalkan shalat dengan sengaja tanpa adanya suatu uzur syar’i sampai habisnya waktu shalat yang telah ditentukan. Tidak wajib baginya mengqadha shalat, serta tidak sah qadha. Seseorang yang telah menyia-nyiakan shalat beberapa tahun dari umurnya, kemudian bertaubat kepada Allah dan istiqamah pada agama-Nya tidak diwajibkan baginya mengqadha shalat yang telah ditinggalkannya, baik itu pada waktu dia kafir ataupun tidak. Akan tetapi jumhur ulama’ mempunyai pendapat yang berbeda[4], Mereka mewajibkan mengqadha semua shalat yang telah ditinggalkannya.

Apa yang harus dilakukan bagi orang yang sengaja meninggalkan shalat?

Ketetapan hukum bahwa tidak adanya qadha shalat bukanlah sebuah keringanan bagi orang yang meninggalkan shalat tanpa adanya suatu udzur syar’i sampai habisnya waktu shalat.

Karena hukuman tersebut pada hakikatnya adalah kebencian Allah kepada pelakunya dan dosanya tidak gugur meskipun dia shalat seribu kali setelah itu. Kecuali dia mau bertaubat ke jalan Allah dan memohon ampunan kepada-NYA. Dia diwajibkan bertaubat dan istighfar serta memperbanyak mengerjakan hal-hal yang baik dan shalat sunnah, karena sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam :

إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلَاتُهُ فَإِنْ صَلُحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ ، فَإِنِ انْتَقَصَ مِنْ فَرِيضَتِهِ شَيْءٌ قَالَ الرَّبُّ عَزَّ وَجَلَّ : انْظُرُوا هَلْ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ فَيُكَمَّلَ بِهَا مَا انْتَقَصَ مِنَ الْفَرِيضَةِ ، ثُمَّ يَكُونُ سَائِرُ عَمَلِهِ عَلَى ذَلِكَ

“Sesungguhnya amal ibadah seseorang yang paling pertama kali di hisab adalah shalatnya. Jika shalatnya baik, maka bahagia dan tenanglah ia. Namun jika shalatnya rusak, maka rugi dan sengsaralah ia. Adapun jika diantara shalatnya ada yang kurang sempurna, maka Allah‘Azza wajalla berfirman: periksalah kembali wahai para malaikat, apakah dia melaksanakan shalat sunnah. Jika ada, sempurnakanlah shalatnya dengan shalat sunnahnya tersebut. Seperti itulah perhitungan amal ibadahnya yang lain.”[1]

About Global Muslim

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement