Selain Musafir Kapan Orang Yang Mukim Boleh Menjamak Shalat?

Fikroh.com – Bagi seorang musafir menjamak shalat adalah sebuah rukhsah yang telah ditetapkan oleh syariat. Namun bagaimana bagi non musafir atau orang yang menetap di kampungnya apakah boleh menjamak shalat? Menjamak shalat tidak hanya khusus pada saat safar, bahkan boleh menjamak shalat pada saat bermukim karena sebab-sebab berikut ini:

A. Menjamak Shalat Karena Turun Hujan

Boleh menjamak shalat Zhuhur dan Ashar, Maghrib dan Isya, pada saat bermukim karena turun hujan. Hanya saja Imam Malik mengkhususkan bolehnya pada saat malam hari, bukan saat siang. Berdasarkan dalil-dalil berikut ini:

Hadits riwayat Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, ia berkata,

جَمَعَ رَسُولُ اللَّهِ -صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- بَيْنَ الظُّهْرِ وَالعَصْرِ، وَبَيْنَ المَغْرِبِ وَالعِشَاءِ بِالمَدِينَةِ مِنْ غَيْرِ خَوْفٍ وَلَا مَطَرٍ

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menjamak shalat zuhur dengan Ashar, dan Maghrib dengan Isya’ di Madinah tanpa ada rasa takut (saat aman) dan tanpa ada hujan.”[Hadits Riwayat: Muslim (705). Irwa’ al-Ghalil (579)]

Hal ini mengesankan bahwa menjamak shalat karena hujan sudah dikenal pada masa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Seandainya tidak demikian, niscaya tidak ada faedahnya menafikan hujan sebagai sebab yang membolehkan untuk menjamak shalat. [Irwa’ al-Ghalil (3/40)]

Diriwayatkan dari Nafi’ radhiallahu ‘anhu :

أَنَّ ابْنَ عُمَرَ كَانَ إِذَا جَمَعَ الأُمَرَاءَ بَيْنَ الْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ فِى المَطَرِ جَمَعَ مَعَهُمْ

“Sesungguhnya apabila para pemimpin menjamak antara Maghrib dan Isya karena hujan, maka Ibnu Umar turut menjamak bersama mereka.” [Hadits Riwayat: Malik (333), dan darinya Al-Baihaqi (3/168). Sanadnya Shahih]

Diriwayatkan dari Hisyam bin ‘Urwah radhiallahu ‘anhuma :

أَنَّ أَبَاهُ عُرْوَةَ وَسَعِيدَ بْنَ الْمُسَيِّبِ وَأَبَا بَكْرِ بْنَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ الْحَارِثِ بْنِ هِشَامِ بْنِ الْمُغِيرَةِ الْمَخْزُومِيَّ كَانُوا يَجْمَعُونَ بَيْنَ الْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ فِي اللَّيْلَةِ الْمَطِيرَةِ إِذَا جَمَعُوا بَيْنَ الصَّلَاتَيْنِ وَلَا يُنْكِرُونَ ذَلِكَ

“Bahwa ayahnya, ‘Urwah, bersama Sa’id bin al-Musayyib dan Abu Bakar bin Abdurrahman bin al-Harits bin Hisyam bin al-Mughirah al-Makhzumi, menjamak antara Maghrib dan Isya ketika hujan turun pada malam hari. Ketika mereka menjamak shalat, tidak ada seorang pun yang mengingkari hal itu.”[Hadits Riwayat: Al-Baihaqi (3/168), Lih: Irwa’ al-Ghalil (3/40). Sanadnya Shahih]

Diriwayatkan dari Musa bin ‘Uqbah radhiallahu ‘anhuma :

أَنَّ عُمَرَ بْنَ عَبْدِ الْعَزِيزِ كَانَ يَجْمَعُ بَيْنَ الْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ الآخِرَةِ إِذَا كَانَ الْمَطَرُ

“Bahwa Umar bin Abdul Aziz menjamak antara shalat Maghrib dan Isya’ ketika hujan.” [Hadits Riwayat: Al-Baihaqi (3/168), Lih: Irwa’ al-Ghalil (3/40). Sanadnya Shahih]

B. Menjamak Karena Adanya Keperluan

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, ia berkata:

جَمَعَ رَسُولُ اللَّهِ -صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- الظُّهْرِ وَالعَصْرِ جمَيْعًا بِالمَدِينَةِ مِنْ غَيْرِ خَوْفٍ وَلَا مَطَرٍ, قَالَ [أَبُوكُرَيْبِ أَوْ سَعِيْدُ]: قُلْتُ لابْنِ عَبَّاسْ: ِلمَ فَعَلَ ذَلِكَ؟ قَالَ: كَىْ لاَ يُحْرِجَ أُمَّتَهُ

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menjamak shalat zuhur dan Ashar di Madinah, bukan karena ketakutan atau karena hujan.” Perawi (Abu Kuraib atau Sa’id) berkata, “Aku bertanya kepada Ibnu Abbas, Mengapa beliau melakukan demikian?” Ia menjawab, “Agar tidak memberatkan umatnya” [Hadits Riwayat: Muslim (705), dan Ahmad (1/223)]

Dalam hal ini ada keringanan bagi orang yang memiliki udzur untuk menghilangkan kesulitan mereka, bukan untuk orang yang tidak punya udzur. Ini adalah madzhab Ibnu Sirin, dan Asyhab dari kalangan sahabat Malik. al-Khatthabi meriwayatkan pendapat tersebut dari Qaffal Syasyi al-Kabir dari kalangan sahabat Syafi’i, dari Ishaq al-Maruzi, dan dari segolongan ahli hadits. Pendapat ini dipilih oleh Ibnul-Mundzir dan Ibnu Taimiyah. [Majmu’ al-Fatawa (24/25), Syarh Muslim karangan Nawawi (2/3509), Al-Qawanin (75), dan Ma’alimus-Sunan (2/55)]

Syaikhul-Islam berkata, “Para buruh dan petani, jika pada waktu tertentu memberatkan mereka. Misalnya, air jauh dari tempat shalat. Jika mereka pergi ke sana untuk bersuci, terbengkalailah pekerjaan yang dibutuhkan. Maka, mereka boleh mengerjakan shalat pada satu waktu dengan menjamak di antara dua shalat.” [Majmu’ al-Fatawa (21/458)]

C. Menjamak Shalat Bagi Orang Yang Sakit

Orang yang sakit boleh menjamak, yaitu orang yang merasa kesulitan mengerjakan setiap shalat tepat pada waktunya. Dasarnya adalah hadits Ibnu Abbas di atas, dan diqiyaskan dengan wanita yang istihadhah. Diriwayatkan bahwa Nabi memerintahkan Hamnah binti Jahsi, ketika mengalami istihadhah yang sangat parah, dengan sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam:

فَإِنْ قَوِيْتِ عَلَى أَنْ تُؤَخِّرِي الظُّهْرَ ، وَتُعَجِّلِي الْعَصْرَ ، ثُمَّ تَغْتَسِلِينَ حِينَ تَطْهُرِينَ وَ تُصَلِّيْنَ الظُّهْرَ وَالْعَصْرَ جَمِيْعًا ، ثمتُؤَخِّرِينَ الْمَغْرِبَ ، وَتُعَجِّلِينَ الْعِشَاءَ ، ثُمَّ تَغْتَسِلِينَ وَتَجْمَعِينَ بَيْنَ الصَّلاتَيْنِ فَافْعَلِي…

“Jika engkau mampu untuk mengakhirkan shalat zuhur dan menyegerakan shalat Ashar, kemudian engkau mandi ketika bersuci, dan engkau menggabungkan shalat zuhur dan Ashar, kemudian engkau mengakhirkan shalat Maghrib dan menyegerakan shalat Isya, kemudian engkau mandi dan menggabungkan di antara dua shalat, maka lakukanlah.” [Hadits Riwayat: Abu Daud (287), At-Tirmidzi (128), Ibnu Majah (627). Dinyatakan Hasan oleh al-Albani]

Imam Malik dan Imam Ahmad membolehkan orang yang sakit menjamak shalat, dan ini adalah pendapat yang dipilih oleh Syaikhul-Islam, tetapi Imam Syafi’i melarangnya. [Al-Qawanin (75), Al-Mughni (2/122), dan Al-Majmu’ (4/370)] Namun, pendapat yang membolehkan lebih kuat. Wallahu a’lam.

Apakah Disyaratkan Harus Bersambung Antara Dua Shalat yang Digabungkan?

Jika ia mengerjakan kedua shalat tersebut pada waktu yang kedua (jamak ta’khir), maka tidak disyaratkan harus menyambung di antara dua shalat yang dijamak tersebut. Ia boleh memisahkan di antara keduanya. Misalnya ia shalat Zhuhur pada awal waktu Ashar, kemudian ia mengakhirkan shalat Ashar sejenak dan mengerjakannya sebelum keluar waktunya. Ini adalah madzhab Jumhur, berbeda dengan beberapa ulama Hanabilah. [Al-Kharsyi (2/70), Al-Majmu’ (3/375), Al-Inshaf (2/342), Al-Mughni (2/123), dan Majmu’ al-Fatawa (24/54-56)]

Jika ia mengerjakan kedua shalat tersebut pada waktu yang pertama (jamak taqdim), maka jumhur ulama berpendapat bahwa ia harus mengerjakannya secara bersambung tanpa dipisahkan. Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyah menyelisihi pendapat mereka, dengan mengatakan bahwa hal itu tidak disyaratkan juga. Ini juga satu riwayat dari Ahmad, dan satu pendapat dari kalangan Syafi’iyah. Pendapat inilah yang paling mendekati kebenaran.

Syaikhul-Islam berkata, “Sama sekali tidak disyaratkan menyambung (secara berturut-turut) di antara dua shalat yang dijamak, baik dikerjakan pada waktu yang pertama (jamak taqdim) maupun pada waktu yang kedua (jamak ta’khir). Karena tidak ada batasan untuk hal itu dalam syariat. Jika itu harus dilakukan, maka akan menggugurkan tujuan dari keringanan tersebut. Sunnah datang dengan membawa keringanan yang lebih luas daripada ini. Bahkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menjamak di awal waktu, sebagaimana beliau menjamak di Arafah. Kadang beliau menjamak pada waktu yang kedua, seperti beliau menjamak di Muzdalifah dan di sebagian perjalanan beliau. Terkadang beliau menjamak di antara dua shalat di tengah-tengah kedua waktu. Kadang keduanya dikerjakan pada akhir waktu pertama, dan kadang pada awal waktu yang kedua. Terkadang beliau melakukan seperti ini, dan terkadang seperti itu. Semua itu boleh. Karena asal dari masalah ini adalah; bahwa waktu shalat pada saat adanya kebutuhan bergabung menjadi satu. Sedangkan mendahulukan, atau melakukannya saat pertengahan, adalah karena kemaslahatan.

Menjamak Dengan Satu Adzan Dan Dua Iqamah

Sunnah dalam menjamak dua shalat adalah mencukupkan dengan satu adzan. Sedangkan iqamah untuk masing-masing shalat. Dalam hadits riwayat Jabir radhiallahu ‘anhu disebutkan:

أنَّ النَّبِيَّ -صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- صَلَّى صَلاَتَيْنِ بِعَرَفَةَ بِأَذَانٍ وَاحِدٍ وَ إِقَامَتَيْنِ, وَ أَتَى المُزْدَلِفَةَ فَصَلَّى بِهَا المَغْرِبَ وَ العِشَاءَ بِأَذَانٍ وَاحِدٍ وَ إِقَامَتَيْنِ, وَ لَمْ يُسَبِّحْ بَيْنَهُمَا , ثُمَّ اضْطَجَعَ حَتَّى طَلَعَ الفَجْرَ…

“Bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menggabungkan shalat di Arafah dengan satu adzan dan dua iqamah, kemudian beliau datang ke Muzdalifah untuk shalat Maghrib dan Isya di sana dengan satu adzan dan dua iqamah. Beliau tidak mengerjakan shalat sunnah di antara keduanya, kemudian beliau tidur hingga terbit fajar.” [Hadits Shahih]

Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhuma

فَأَتَيْنَا الْمُزْدَلِفَةَ حِينَ الأَذَانِ بِالْعَتَمَةِ أَوْ قَرِيبًا مِنْ ذَلِكَ, فَأَمَرَ رَجُلاً فَأَذَّنَ وَأَقَامَ ثُمَّ صَلَّى الْمَغْرِبَ … وَصَلَّى بَعْدَهَا رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ دَعَا بِعَشَائِهِ فَتَعَشَّى ثُمَّ أَمَرَ أُرَى فَأَذَّنَ وَأَقَامَ ثُمَّ صَلَّى الْعِشَاءَ رَكْعَتَيْنِ…

“Lalu kami datang ke Muzdalifah pada waktu adzan Isya’ atau sekitar waktu tersebut. Kemudian beliau memerintahkan seseorang untuk mengumandangkan adzan lalu iqamah, kemudian shalat Maghrib. Setelah itu, beliau shalat dua rakaat, beliau meminta makan malam, lalu beliau makan. Kemudian beliau memerintahkan seseorang untuk adzan lalu iqamah, kemudian beliau shalat Isya’ dua rakaat.” [Hadits Riwayat: Al-Bukhari (1675), dan Muslim (1289) dengan hadits yang serupa]

Inilah pendapat Imam Syafi’i dalam pendapat lamanya (qaul qadim), dan ini salah satu riwayat dari Ahmad dan Ibnu Hazm.

Sementara Imam Syafi’i dalam pendapat barunya (qaul jadid), Tsauri, dan Ahmad dalam riwayat lainnya, berpendapat bahwa dua shalat dijamak dengan dua Iqamah saja. Mereka berpegang dengan hadits riwayat Usamah radhiallahu ‘anhu

أَن النَّبِي -صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- لَمَّا جَاءَ الْمُزْدَلِفَةَ نَزَلَ فَتَوَضَّأَ فَأَسْبَغَ الوُضُوْءَ ثمَّ أُقِيمَتِ الصَّلَاةُ فَصَلَّى الْمَغْرِبَ ثُمَّ أَنَاخَ كُلُّ إِنْسَانٍ بَعِيْرَهُ فِي مَنْزِلِهِ ثمَّ أُقِيْمَتِ الْعِشَاءُ فَصَلاَّهَا وَلَمْ يُصَلِّ بَيْنَِهُمَا شَيْئاً

“Bahwa ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mendatangi Muzdalifah, beliau turun –dari kendaraan–, lalu berwudhu’ dengan sempurna, kemudian iqamah dikumandangkan lalu beliau shalat Maghrib. Kemudian setiap orang menambatkan untanya di persinggahannya. Kemudian iqamah Isya’ dikumandangkan lalu beliau mengerjakan shalat Isya’, dan beliau tidak mengerjakan suatu pun (shalat sunnah) di antara keduanya.” [Hadits Riwayat: Al-Bukhari (1672), Muslim (1280), dan Ahmad (5/263)]

Dan yang benar adalah pendapat pertama, karena hadits Jabir radhiallahu ‘anhu mencakup tambahan adzan. Ini adalah tambahan yang tidak menafikan, maka harus diterima. [Nailul-Authar (3/263) cet. Al-Hadits] Wallahu a’lam.

Urutan Antara Dua Shalat Yang Di Jamak

Disyaratkan dilakukan secara tertib (berurutan) di antara dua shalat yang dijamak, karena syariat menyebutkan waktu-waktu shalat secara tertib. Oleh karena itu, setiap shalat wajib dilaksanakan pada waktu yang telah ditentukan oleh syariat secara berurutan. Sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

صَلُّوْا كَمَا رَأيْتُمُونِى أُصَلِّى

“Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat”

Akan tetapi jika seseorang lupa, tidak tahu, atau ia datang pada kaum yang sedang mengerjakan shalat Isya’ –sedangkan ia telah meniatkan jamak takhir– lalu ia mengerjakan shalat Isya’ bersama mereka, kemudian mengerjakan shalat Maghrib setelahnya; apakah shalatnya sah? Para ahli fiqih mengatakan, tidak sah. Shalat Isya’nya tidak sah, dan dia harus mengerjakan shalat Isya’ lagi setelah mengerjakan shalat Maghrib. [As-Syarh Al-Mumthi’ (4/572) serupa dengannya]

Demikian penjelasan singkat mengenai hukum bolehnya menjamak shalat bagi orang yang mukim atau non musafir.

About admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *