Untitled Post

 Ada sebagian oknom “salafy” yang enggan untuk membantu orang yang sedang punya hajat walimah ursy ( pernikahan ) atau mendatangi undangannya, dengan alasan ada maksiatnya, seperti musik, ikhtilat (campur laki-laki dan perempuan yang bukan mahram), wanita yang tidak berhijab atau yang lainnya.

Sehingga mereka menutup diri dalam banyak perkara yang kasusnya mirip dengan hal ini. Mereka hanya mau untuk mendatangi suatu acara yang benar-benar 100% bersih dari maksiat atau keburukan. Terkadang ada yang mengakali dengan mendatagi acara seperti itu ketika acara belum mulai atau sudah selesai.  Karena mereka menyakini acara itu adalah acara yang haram untuk didatangi.

Niat mereka sebenarnya baik, yaitu ingin menjaga diri dari kemaksiatan. Namun niat yang baik tidak musti didapat oleh orang yang melakukannya. Niat baik tidaklah cukup tanpa diiringi oleh ilmu yang cukup. Sungguh benar apa yang dinyatakan oleh Abdullah bin Mas’ud –rodhiallohu ‘anhu- beliau berkata :

وَكَمْ مِنْ مُرِيدٍ لِلْخَيْرِ لَنْ يُصِيبَهُ

“Berapa banyak orang yang menginginkan kebaikan (akan tetapi) tidak pernah mendapatkannya”. [HR. Ad-Darimi : 210 dan sanadnya shohih].

Lantas, bagimana sebenarnya hukum mendatangi acara yang seperti ini dan yang sejenisnya ? sebelum kita jawab, perlu kiranya kita akan bahas dulu hukum asal acaranya. Baik walimahtul ursy, atau yang semisalnya.

Walimahtul ursy (pesta pernikahan), merupakan suatu acara yang masyru’ (disyari’atkan), bahkan disunnahkan. Banyak dalil yang menunjukkan akan hal ini, diantaranya :

أَوْلِمْ وَلَوْ بِشَاةٍ

“Selenggarakan walimah (pesta nikah) walaupun dengan seekor kambing.” [HR. Al-Bukhari : 2048 dan Muslim : 1427 dari Anas bin Malik].

Dalil di atas menunjukkan akan anjuran untuk mengadakan acara walimah ( pesta ) pernikahan. Karena hal ini diperintah oleh nabi –shollallahu ‘alaihi wa sallam-. Dan para ulama’ sepakat akan hal ini.

Al-Imam Ibnu Qudamah –rohimahullah- berkata :

لا خلاف بين أهل العلم في أن الوليمة سنة في العرس مشروعة

“Tidak ada perselisihan diantara para ulama’, sesungguhnya walimah ( pesta ) merupakan perkara yang disunnahkan di pernikahan dan disyari’atkan.” [ Al-Mughni : 8/106 ].

Setelah kita ketahui, bahwa walimah ursy merupakan perkara yang disyari’atkan/disunnahkan, maka jika kita diundang kepadanya, atau kita membantu ( baik diminta atau tidak ), berarti kita mendatangi dan membantu suatu undangan/acara yang disyari’atkan. Bukan acara maksiat, atau bid’ah, atau kesyirikan.

Adapun kemaksiatan yang ada di dalam acara tersebut, seperti adanya musik, atau para wanita yang tidak berhijab, atau campur baur laki-laki dan perempuan, atau yang lainnya, maka pada dasarnya hal itu tidak dapat mengubah hukum asal acara yang syari’i menjadi haram.

Sebagaimana kita diperintah untuk tetap sholat di belakang pemimpin yang jelek atau dzolim. Anjuran ini tetap berlaku kepada kita, walaupun dia memiliki berbagai perangai buruk dan kedzoliman. Sebagaimana kita juga dibolehkan untuk sholat dibelakang orang fasiq atau pelaku bid’ah, selama belum keluar dari Islam.

Sebagaimana nabi – shollallahu ‘alaihi wa sallam- telah bersabda :

يُصَلُّونَ لَكُمْ، فَإِنْ أَصَابُوا فَلَكُمْ، وَإِنْ أَخْطَئُوا فَلَكُمْ وَعَلَيْهِمْ

“( Biarkan ) mereka tetap sholat mengimami kalian. Jika mereka benar, pahala bagi kalian. Dan jika mereka salah, kalian tetap mendapatkan pahala dan kesalahannya akan mereka tanggung.” [ HR. Al-Bukhari : 694 ].

Hadits di atas menunjukkan, bahwa hal-hal buruk yang ada pada diri mereka, tidaklah mengubah hukum asal bolehnya untuk bermakmum kepada mereka. Karena hal-hal buruk itu tidak punya hubungan secara langsung dengan ibadah sholat. Semua itu sesuatu yang ada di luar sholat.

Urusan berbagai kemaksiatan yang ada di walimah ursy, merupakan tanggung jawab tuan rumah.  Adapun kedatangan kita ke sana dalam rangka untuk memenuhi undangannya atau membantu meringankan pekerjaannya, merupakan amaliah yang baik dan disyari’atkan dalam agama kita. Sembari kita berusaha menjaga diri dari kemaksiatan yang ada.

وَعَنْ عُبَيْدِ اللهِ بْنِ عَدِيِّ بْنِ الْخِيَارِ قَالَ: دَخَلْتُ عَلَى عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ – رضي الله عنه – وَهُوَ مَحْصُورٌ , فَقُلْتُ: إِنَّكَ إِمَامُ عَامَّةٍ , وَنَزَلَ بِكَ مَا نَرَى , وَيُصَلِّي لَنَا إِمَامُ فِتْنَةٍ وَنَتَحَرَّجُ  فَقَالَ: الصَّلَاةُ أَحْسَنُ مَا يَعْمَلُ النَّاسُ , فَإِذَا أَحْسَنَ النَّاسُ فَأَحْسِنْ مَعَهُمْ , وَإِذَا أَسَاءُوا فَاجْتَنِبْ إِسَاءَتَهُمْ “

Telah diriwayatkan dari ‘Ubadullah bin ‘Adi bin Al-Khiyaar dia berkata : “Aku masuk kepada ‘Utsaman bin ‘Affan –rodhiallohu ‘anhu- dan kondisi terkepung. Aku berkata : “Engkau adalah pemimpin Kaum Muslimin namun tuan tengah mengalami kejadian seperti yang kita saksikan. Sedangkan shalat akan dipimpin oleh imam yang terkena fitnah dan kami jadi khawatir terkena dosa.” Maka ‘Utsman bin ‘Affan pun berkata, “Shalat adalah amal terbaik yang dilakukan manusia. Oleh karena itu apabila orang-orang melakukan kebaikan (dengan mendirikan shalat), maka berbuat baiklah (shalat) bersama mereka. Dan jika mereka berbuat keburukan (kesalahan), maka jauhilah keburukan mereka.” [ HR. Al-Bukhari : 663 ].

Terlebih, kedatangan kita ke acara walimah saudara sesama muslim, terdapat berbagai mashlahat yang sangat besar, lebih besar dari sekedar adanya kemaksiatan yang ada di situ ( lihat keterangan sebelumnya ). Diantara kemashlahatanya :

1). Memenuhi undangan sesama muslim dan itu hak dia yang harus kita tunaikan. Apalagi yang mengundang adalah tetangga atau kerabat kita. Bahkan sebagian ulama’, seperti para ulama’ dari Asy-Syafi’iyyah, Hanabilah, dan sebagian riwayat dari Malikiyyah, berpendapat bahwa hal itu wajib. Sebagiannya menyatakan wajib kifayah.

2). Membahagiakan mereka dan tidak membuat mereka kecewa atau sedih tatkala kita tidak datang. Membahagiakan sesama muslim dengan perkara yang mubah/syar’i, merupakan perkara yang dianjurkan dalam syai’at kita. Sebaliknya membuat mereka sedih, termasuk perkara yang dilarang di dalamnya.

3). Ta’liful qulub ( melunakkan hati ) orang-orang yang hidup di lingkungan kita. Agar mereka dekat dengan kita sehingga diharapkan mereka akan mendekat dengan dakwah yang kita bawa serta menerimanya. Nabi –shollallahu ‘alaihi wa sallam- pernah menunda untuk inkarul munkar ( mengingkari kemungkaran ) untuk mengembalikan bangunan Ka’bah sebagaimana aslinya yang dibangun oleh nabi Ibrohim –alaihis salam-.

Beliau tunda dalam rangka untuk ta’liful qulub ( melunakkan hati ) orang-orang yang yang baru saja masuk Islam kala itu. Memenuhi dan membantu acara walimah yang seperti itu kondisinya, jauh lebih besar kemashlahatannya dibandingkan dengan keburukan yang ada di dalamnya. Karena persatuan kaum muslimin lebih besar dari hal itu semuanya.

4). Mengurangi mudhorot dalam hidup di masyarakat. Jika kita tidak mau berinteraksi dan mu’amalah secara total di masyarakat, maka sangat mungkin kita akan mendapatkan mudhorot dari mereka. Mungkin dikucilkan, atau intimidasi, atau dibubarkan kajian kita, atau didemo masjid kita, atau bahkan diusir dari tempat mereka.

Jika dalam hal yang boleh saja kita tidak mau hadiir, lantas kita mau hadir, berinteraksi dan berhubungan dengan masyarakat kapan ? Sudah banyak perkara yang kita tidak mau, apa akan kita tambah lagi dengan perkara yang lain ( yang hukumnya mubah ) ?

Ada suatu kaidah yang sangat masyhur di kalangan para ulama’. Kaidah itu berbunyi :

ارتكاب أخف الضررين

“Melakukan mudhorot yang paling ringan dari dua mudhorot yang ada.”

Mendatangi walimah yang terdapat beberapa keburukan di dalamnya, termasuk suatu mudhorot. Akan tetapi mudhorot ini lebih ringan daripada  kta tidak mendatanginya. Atau dengan kata lain, ada mashlahat besar dibelakangnya sebagaimana telah kami sebutkan di atas.

Sebagaimana pasar. Telah dinyatakan oleh Rosulullah-shollallahu ‘alaihi wa sallam-, bahwa pasar merupakan tempat yang paling dibenci oleh Alloh dalam sabdanya :

أَحَبُّ الْبِلَادِ إِلَى اللهِ مَسَاجِدُهَا، وَأَبْغَضُ الْبِلَادِ إِلَى اللهِ أَسْوَاقُهَا

“Tempat yang paling Alloh cintai adalah masjid-masjidnya. Sedangkan yang paling Alloh benci adalah pasar-pasarnya.” [ HR. Muslim : 671 dari Abu Huroiroh –rodhiallohu ‘anhu-].

Kenapa pasar merupakan tempat yang paling Alloh benci ? karena banyaknya kemaksiatan yang ada di dalamnya. Mulai dari sumpah palsu, bohong, berkata kotor, musik, wanita yang tidak berpakaian syar’i, campur baur laki-laki dan perempuan yang bukan mahramnya, kedzoliman, ghibah ( mengunjing ), fitnah dan seabrek kemaksiatan yang lain.

Namun, dengan kondisi pasar yang seperti ini, Nabi –shollallahu ‘alaihi wa sallam- pernah mendirikan pasar di kota Madinah. Beliau juga masuk pasar, demikian pula para sahabatnya. Riwayat yang menunjukkan bahwa nabi –shollallahu ‘alaihi wa sallam- masuk pasar sangat banyak sekali, diantaranya kisah Zahir bin Haram. Dimana salah satu penggalan dalam kisah itu disebutkan :

فَأَتَاهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا وَهُوَ يَبِيعُ مَتَاعَهُ

“…maka nabi-shollallahu ‘alaihi wa sallam- mendatanginya ( Zahir bin Haram ) di suatu hari dalam kondisi dia sedang menjual barang dagangannya ( di pasar )…” [ HR. Ahmad : 20/60 dan sanadnya shohih ].

Kenapa demikian ? karena pergi ke pasar, untuk memenuhi kebutuhan hidup ( belanja ) hukum asalnya mubah. Berbagai keburukan yang ada di dalamnya, tidak dapat mengubah hukum asal pasar sebagai sesuatu yang mubah ( boleh ). Karena jika haram, nabi –shollallahu ‘alaihi wa sallam- tidak akan buat pasar atau masuk pasar. Berbeda ketika seorang ke pasar, memang dalam rangka menikmati kemaksiatan yang ada di pasar. Dalam kondisi seperti ini, hukumnya menjadi haram.

Maka diqiyaskan kepada masalah pasar ini, berbagai perkara yang sama atau mirip dengannya. Seperti apa yang sedang kita bahas saat ini ( mendatangi walimah yang terdapat berbagai keburukan di dalamnya ), naik kendaraan umum, belanja ke mall, masuk ke fasilitas-fasilitas umum, membaca koran, memanfaatkan berbagai kemajuan tehnologi seperti internet dengan berbagai bentuknya, rekreasi ( piknik ) dan lain sebagainya.

Seorang yang tidak mau berbaur dengan masyarakat dengan mendatangi undangan walimah atau membantu mereka di dalamnya dengan alasan ada kemaksiatannya, dan hanya mau datang ke acara yang bebas dari kemaksiatan 100%, – jika dia konsisten – dia juga tidak boleh pergi ke mall/pasar, tidak boleh naik kendaraan umum seperti bus, kereta api, pesawat, kapal laut, ojek, tidak boleh untuk memanfaatkan internet, dan berbagai perkara yang mirip dengan hal ini. kenapa ? itu semua ada kemaksiatan dan keburukan di dalamnya.

Tapi ternyata, mereka tidak konsisten dengan kaidah yang mereka buat sendiri. Hampir semua yang kami sebutkan di atas mereka jalani semua, bahkan mungkin jadi hoby. Padahal mashlahat lebih kecil dibandingkan dengan mashlahat menghadiri undangan atau membantu acara walimah tetangganya.

Yang jadi pertanyaan, kenapa kalau diundang tetangganya atau diminta membantu dalam acara walimah tidak mau dengan alasan ada kemaksiatan di dalamnya ? tapi kalau ke pasar, mall, naik kendaraan umum, rekreasi ( piknik ), pakai internet, dll mau-mau saja tanpa sedikitpun beralasan ada kemaksiatan di dalamnya ? yang itu tidak mau, tapi yang ini mau, padahal keduanya sama.

Inilah contoh amaliah yang dibangun di atas kebodohan, tanpa dilandasi oleh ilmu yang benar, hanya akan melahirkan berbagai kegoncangan dalam berfikir, beramal dan beragama. Sehingga melahirkan berbagai sikap-sikap ghuluw ( berlebihan/ekstrem ) “atas nama agama”, bahkan mengatasnamakan sebagai “manhaj salaf”. Padahal manhaj salaf telah berlepas diri darinya.

Ini baru acara walimah, masih banyak kegiatan ataupun acara di masyarakat yang diperlakukan dan dihukumi dengan dzolim tanpa timbangan keadilan dan ilmu yang benar. Jika sudah seperti ini, jangan salahkan masyarakat muslim jika menilai “salafy” itu ekstrem, atau ekslusif, atau keras, atau sanggar, atau tidak mau berbaur, atau mengisolasi diri, dan segudang lebel-lebel yang lain. Yang pada akhirnya masyarakat menjauh dari dakwah ini, bukan karena manhaj salaf-nya yang jelek, namum perilaku oknumnya yang salah dan melampaui batas.

Semoga tulisan ini bermanfaat untuk kita semua. Barokallohu fiikum.

Abdullah bin Abdurrahman Al-jirani

About Global Muslim

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement