Untitled Post

 .:: Resume diskusi seputar program tahfizh Al-Qur’an. 

Oleh : Aminullah Yasin. 

Beberapa hari yang lalu, saya berbincang santai dengan As-Syaikh Al-Qoori’ Abdul Baari An-Naqiib hafizhahullah ta’ala tentang konsep pembelajaran tahfizh Al Qur’an bagi santri di Indonesia usia SMP – SMA. 

Berangkat dari pengalaman beliau mengelola markaz tahfizh di kota Madinah, KSA, beliau mengatakan beberapa kritik utama dalam penyelenggaraan program tahfizh Al-Qur’an di Indonesia:

1. Kurang perhatian pada makhorijul huruf. 

Menurut beliau, penguasaan makhorijul huruf adalah modal utama penghafal Al-Qur’an. Karena ada banyak kata-kata Bahasa Arab yang jika salah pengucapannya, maka akan mengubah makna sangat jauh. 

Contoh: kata (الصلاة) jika dibaca (الصلاح) dengan sedikit desisan, maka maknanya berubah total. Sholah (dengan huruf ha هـ / ta’ marbuthoh ة) artinya ibadah shalat, sementara sholah (dengan huruf ha’ ح) artinya adalah keshalihan/ kebaikan. 

2. Terlalu menggebu pada kuantitas hafalan. 

Termasuk kesalahan dalam menghafal Al-Qur’an adalah buru-buru menyelesaikan hafalan. Hal ini, menurut beliau, dijumpai dibeberapa pesantren di Indonesia. Disayangkan kuantitas ini seringkali tidak berbarengan dengan kualitas, dalam artian, santri yg telah selesai setor hafalan 30 juz tidak benar-benar hafal 30 juz. Telah hafal namun lupa. 

Munculnya kesalahan ini, menurut beliau, berawal dari ketidaktepatan dalam planning manajemen pesantren ketika memetakan kurikulum tahfizh. Seharusnya pesantren memberikan porsi perhatian yg besar pada muroja’ah dan kelekatan hafalan (itqan) santri, agar Al-Qur’an yg telah dihafal tidak mudah untuk dilupakan. 

Menurut beliau, hafal 10 juz namun mutqin, jauh lebih baik daripada hafal 30 juz namun tidak mutqin (atau bahkan sudah lupa). 

3. Ilmu tajwid (Tuhfathul Athfal & Muqoddimah Jazariyyah). 

Beliau bercerita sering diminta oleh bebeapa penghafal Al-Qur’an di Indonesia untuk mengajarkan Tuhfathul Athfal dan Muqoddimah Jazariyyah. Namun beliau selalu jawab, “sampai hari ini ana belum akan mengajarkan dua matan tsb kepada antum.”

Saya tanya, “kenapa?”

Beliau jawab dengan lugas, karena dua kitab tsb tidak banyak membawa manfaat untuk penghafal Al-Qur’an di Indonesia, kecuali bagi yg ingin berta’ammuq dalam ilmu tajwid.

Hal terpenting bagi penghafal Al-Qur’an adalah mampu mengartikulasi huruf-huruf hijaiyah dengan baik, bukan menguasai teorinya. 

Ilmu tajwid sendiri baru dirumuskan secara mendalam pada abad ke-3 hijriyah, sebelum itu kaun muslimin membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar tanpa menghafal teori kaidah-kaidah ilmu tajwid. Jadi, jika penghafal Al-Qur’an sudah mampu mengartikulasi huruf-huruf hijaiyah dengan baik, dan mampu membedakan panjang-pendek dalam bacaan, itu sudah sangat cukup. 

Mempelajari tajwid secara mendalam bagi pemula, justru akan menjadikannya bingung dan hilang fokus. 

4. Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). 

Jika dalam ujian tahfizh dianggap satu kesalahan mengurangi ½ point atau 1 point, maka menurut beliau, KKM ideal adalah 90. Karena jika KKM nilai tahfizh 70, misalnya, atau dibawah itu, artinya santri masih memiliki banyak kesalahan dalam hafalannya. Seharusnya seorang penghafal Al-Qur’an ketika lulus, memiliki standar yg baik. 

=====

Saya merasa sangat tercerahkan dalam diskusi dengan beliau selama ± 2 jam ini. Semoga resume ini dapat memberikan pencerahan yg sama kepada anda. 

Wallahu a’lam.

About Global Muslim

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement