Profil dan Biografi KH. Hasani, Pejuang NKRI asal Sidogiri

Lahir sekitar tahun 1924/1925, Kiai Hasani sudah yatim semenjak masih dalam usia dini. Abah beliau, K.H. Nawawie wafat ketika Kiai Hasani masih berusia sekitar 2 tahun. 

Kiai Hasani adalah putera bungsu KH. Nawawie bin Noerhasan. Beliau adalah satu dari 8 bersaudara putera Kiai Nawawie. Masing-masing adalah KH. Noerhasan bin Nawawie (dari Nyai Ruyanah); Nyai Hanifah, K.H. Kholil Nawawie, Nyai Aisyah (dari Nyai Nadhifah); K.H. Sirajul Millah, K.A. Sa’doellah Nawawie dan K.H. Hasani Nawawie (dari Nyai Asyfi‘ah).

Tanda-tandanya sebagai ulama yang dekat dengan Allah sudah tampak semenjak muda. Tidak seperti umumnya anak-anak muda, Kiai Hasani menghabiskan masa belianya penuh dengan cahaya keagamaan. Beliau adalah sosok pemuda yang agamis, wara’, khusyu’, rajin, dan berbudi pekerti luhur.

Menghabiskan waktu dengan aktivitas tak berguna merupakan hal yang sangat tidak disukainya. Raut wajahnya sejuk dipandang. Bila berjalan, selalu menundukkan kepala dan tampak sangat tenang.

Tak seperti kebanyakan putra ulama besar, Kiai Hasani tidak menghabiskan masa mudanya untuk menimba ilmu di berbagai lembaga pendidikan. Beliau tidak pernah bersekolah dan mondok di pesantren manapun kecuali di pesantren abahnya di Sidogiri. Dalam hal ini Kiai Hasani mengaku dirinya mondok ke Sidogiri dari rumah ibunya (Ibu Nyai Asyfi’ah) di Gondang Winongan ke Sidogiri. Selain itu, beliau tidak pernah mondok ke mana-mana.

Kiai Hasani lebih banyak mendapatkan ilmunya secara otodidak. Semasa hidup, putra bungsu K.H. Nawawie bin Noerhasan ini, hanya mempunyai tiga orang guru. Pertama kali beliau belajar kepada K.H. Syamsuddin (?) di Tampung Winongan Pasuruan. Kepada ulama yang biasa dipanggil Gus Ud ini, Kiai Hasani ngaji kitab al-Ajurumiyah, ‘Imrithi dan Mutammimah. Selain kepada Gus Ud, di Tampung, beliau juga ngaji kepada K.H. Birrul Alim.

Selanjutnya, Kiai Hasani belajar kitab Alfiyah Ibn Malik kepada kakak iparnya sendiri, K.H. Abdul Djalil Abd. Syakur, di Sidogiri. Kitab monumental tentang ilmu nahwu (gramatika Arab) ini beliau pelajari sampai tuntas. Usai mengkhatamkan Alfiyah, atas saran kakak iparnya itu, Kiai Hasani bermaksud belajar ilmu fiqh (hukum Islam). Kiai Djalil juga berjanji akan membacakan kitab al-Asybah wa al-Nazha’ir kepadanya. Tapi, sebelum kitab kaidah fiqh itu sempat diajarkan kepada Kiai Hasani, K.H. Abdul Djalil Abd. Syakur terlebih dahulu wafat.

Kiai Hasani merupakan satu-satunya orang yang belajar secara langsung kepada K.H. Abdul Djalil. K.H. Abdul Djalil adalah pengasuh Pondok Pesantren Sidogiri pada era 1930-an serta menantu K.H. Nawawie bin Noerhasan, abah Kiai Hasani. 

Konon, salah satu penyebab Kiai Hasani alim tanpa perlu belajar di lembaga pendidikan mana pun adalah berkat doa K.H. Ma’ruf (Kedungloh Kediri). Kiai Ma’ruf adalah teman akrab K.H. Nawawie bin Noerhasan, Abah Kiai Hasani. Ia masyhur sebagai wali Allah. Bisa bertemu langsung dengan Nabi Khidir dan bila ada kesulitan, langsung berdialog dengan Rasulullah SAW.

Suatu saat, Kiai Hasani sowan kepada ulama sepuh itu. Setelah menceritakan asal usulnya, beliau ditanya oleh K.H. Ma’ruf: “Apakah sudah hafal nadham Alfiyah?”. Dengan jujur, Kiai Hasani menjawab tidak. Lalu Kiai Ma’ruf menawari untuk belajar di pesantrennya selama 40 hari, tapi Kiai Hasani menolak. Kiai Hasani mengatakan beliau sulit untuk kerasan.

Kiai Ma’ruf lalu menawari Kiai Hasani untuk mengamalkan puasa selama 3 hari. Selama puasa hanya diperkenankan sahur dan berbuka hanya dengan satu biji kurma. Dengan tirakat ini, K.H. Ma’ruf menjamin Kiai Hasani bisa alim tanpa belajar. Tapi, lagi-lagi Kiai Hasani menolaknya karena merasa tidak mampu melaksanakan amalan itu.

Mendengar jawaban Kiai Hasani itu, K.H. Ma’ruf menyuruh beliau pulang dan berjanji akan mendoakannya dalam setiap sholat.

Kiai Hasani memang tidak pernah mengenyam pendidikan di lembaga tertentu. Dalam pertualangannya mencari ilmu, Kiai Hasani lebih banyak mempelajari ilmu pengetahuan secara otodidak. Di dalemnya, beliau tekun me-muthalaah kitab-kitab. Tafsir dan akhlaq merupakan disiplin pengetahuan kesukaannya. Kitab-kitab yang beliau miliki penuh dengan catatan dan kertas-kertas kecil sebagai tanda bahwa terdapat sebuah pernyataan penting pada halaman kitab tersebut. Beberapa hari setelah wafatnya, kitab-kitab itu diwakafkan ke Perpustakaan Sidogiri. 

Kiai Hasani tidak menghabiskan masa mudanya dari pesantren ke pesantren. Beliau hidup pada masa di mana penjajahan Belanda sedang pada puncaknya. Kiai Hasani muda lebih memilih berjuang melawan para penjajah itu dibanding menghabiskan waktunya di sebuah menara gading. Namun modus perjuangan yang beliau tempuh adalah modus yang unik. Tidak seperti Kiai A. Sa’doellah Nawawie, kakaknya, yang memilih berjuang mengangkat senjata, Kiai Hasani lebih suka berjuang melalui jalan diplomasi. Beliau kerap mendatangi kamp-kamp Belanda dan berpidato di situ.

Dengan mendekati Belanda Kiai Hasani berupaya menetralisir incaran Belanda terhadap Sidogiri. Sidogiri, saat itu, memang sedang menjadi salah satu incaran utama pasukan Kompeni. Sidogiri merupakan markas perjuangan Kiai A. Sa’doellah dalam mengusir Belanda. Kakak Kiai Hasani itu sering memimpin pasukan untuk mengadakan penyerbuan terhadap Belanda dari Sidogiri.

Apa yang dilakukan Kiai Hasani dengan mendekati Belanda ternyata cukup efektif untuk mengamankan Sidogiri dari serangan mereka. Jika pasukan Belanda mau menyerang Sidogiri, Kiai Hasani sudah menyetop mereka sebelum masuk ke Sidogiri. Beliau menyuruh mereka untuk kembali. Dan, mereka pun menuruti apa yang dikatakan Kiai Hasani.

Kiai Hasani Nawawi: Pola Hidup Sufi

21 Kali Bermimpi Soekarno

Terletak di tepi selatan asrama Pesantren Sidogiri bersebelahan dengan Mesjid, dalem itu tampak sepi. Seperti tak ada kegiatan kerumahtanggaan di situ. Bangunannya tampak tua sekali, dengan jendela dan pintu bercat cokelat. Bagian depan berlantai semen seluas 1×3 meter. Tak ada aksesori apapun, hanya tampak beberapa pohon pisang di depan dalem. Pagar bambu yang menutupinya sudah tampak agak rusak. Di sebelah barat, dalem itu ditutupi beberapa satir dari anyaman bambu.

Di sinilah, Kiai Hasani tinggal. Jika anda ke sana, anda tak mengira bahwa itu adalah dalem seorang ulama besar yang amat disegani, terutama di Jawa Timur. Rumah itu memang terlalu sederhana. Tapi, dari sinilah figur panutan itu meniupkan angin sufisme dari pikiran ke pikiran: sufisme yang tidak hanya dalam bentuk konsepsi, tapi sebuah realitas kehidupan.

Kiai Hasani memang menyukai hidup sederhana. Apa yang dijalani dalam hidupnya merupakan bentuk nyata dari nilai-nilai sufistik yang tak mengacuhkan materi. Sufisme memang telah menjadi pandangan hidup beliau sejak muda. Beliau konsisten dengan nilai-nilai itu, qawlan wa fi‘lan. Sehingga ada kesan unik pada pola hidup yang beliau jalani. Memang pola hidup sufistik pada jaman ini, secara realitas tidaklah populer, meski hal itu sering muncul sebagai komoditas wacana. Ia telah menjadi tumpukan cerita di masa lalu.

Nilai utama sufisme yang selalu dipegang teguh oleh beliau sampai akhir hayatnya adalah al-bu‘d ‘an al-dun‘ya. Dalam catatan sejarah, nilai ini dipopulerkan oleh Sayyidina Ali yang menyatakan talak tiga untuk dunia. Begitu pula dalam pandangan Kiai Hasani, hubb al-dun‘ya (suka dunia) adalah penyakit yang telah amat kronis menimpa umat ini. Suatu ketika, dalam sebuah manuskripnya, beliau mengungkapkan bahwa akar dari kerusakan umat ini adalah kesenangan ulama-ulamanya kepada dunia.

Memang, dari 8 orang putra Kiai Nawawie, semuanya hidup miskin. Tapi, yang membuat Kiai Hasani berbeda dari saudara-saudaranya adalah kesempatan untuk kaya selalu beliau tolak. Beliau tidak pernah menghiraukan urusan uang dan harta. “Jangan sampai engkau tahu, berapa jumlah uang yang ada di sakumu,” dawuh beliau.

Begitulah Kiai Hasani dalam memandang dunia. Zuhud (asketisme) menjadi cermin utama dalam pola hidup yang beliau jalani. Seperti tak ada kesukaan sedikit pun terhadap dunia. Kalau pada umumnya, para tokoh (termasuk ulama) menyukai fasilitas-fasilitas mewah, tapi lain halnya dengan Kiai Hasani. Beliau malah hidup sangat sederhana. Tidak suka mobil. Sering tampak berjalan kaki atau naik becak untuk sebuah keperluan. “Keinginan punya mobil saja, aku tidak ingin,” dawuhnya suatu ketika kepada K.H. Nawawi bin Abdul Jalil, keponakannya.

Jika anda masuk ke dalem Kiai, maka mesti tersirat sebuah kesimpulan betapa sederhananya beliau. Di dalem, tidak terdapat peralatan apa-apa. Tak ada hiasan dan hanya berlantai semen. Menariknya di dinding sebelah dalam, Kiai menggantungkan celurit, pacul dan tangga. Entah isyarat apa yang beliau maksudkan dengan peralatan tani ini. Yang jelas, barang-barang itu bukan hiasan yang dimaksudkan untuk menambah keindahan pemandangan.

Dalam dahar-nya (makan) sehari-hari, K.H. Hasani biasanya hanya cukup dengan nasi putih dengan lauk krupuk dan kecap. Makanan kesukaan beliau adalah kentang rebus diletakkan di piring kecil dan tempe mendol.

Pada hari Senin, sehari sebelum wafat, Kondisi beliau semakin melemah. Dokter yang memeriksanya menganjurkan agar makan lebih banyak, tapi beliau beralasan bahwa sejak dulu beliau tidak pernah makan banyak. Akhirnya Dokter hanya menyarankan agar yang penting perut tetap ada isinya.

Uniknya, Kiai malah memberi makan kucing piaraannya dengan ikan tongkol dan ikan-ikan yang biasanya menjadi lauk kebanyakan orang. Kiai memang suka memelihara hewan yang konon juga merupakan hewan piaraan kegemaran Abu Hurairah, Sahabat Nabi dan perawi hadits paling masyhur itu. Kucing-kucing yang terlantar dan sakit-sakitan beliau rawat dan dipeliharanya dengan baik sampai sehat dan gemuk. Kalau ada kucing yang mati maka beliau akan menguburkannya layaknya manusia. Suatu saat salah satu kucing piaraan beliau terlindas kendaraan salah satu keluarga. Lalu dikuburkan di suatu tempat. Ketika tahu kejadian tersebut, beliau langsung membongkar lagi kuburan kucing tersebut dan dipindahkan ke tempat penguburan kucing yang terletak di belakang dalem beliau. Dalam dawuhnya, Kiai Hasani menyatakan bahwa kucing merupakan nunutan beliau untuk masuk surga. “Kamu tidak punya dosa, Pus!” dawuh beliau suatu hari seperti berdialog dengan kucing kesayangannya.

Memang, beliau sangat akrab dengan kesederhanaan itu. Hidup layaknya orang biasa sudah menjadi manhaj al-hayah bagi beliau. Berpakaian seperti lazimnya orang biasa. Sering terlihat memakai baju takwa hitam. Tidak suka memakai sorban seperti kebiasaan para ulama. Bahkan, beliau juga lebih suka memakai kopyah hitam dibanding kopyah putih. Itu semua merupakan manifestasi dari pandangan kesederhanaan dan kesukaan untuk hidup layaknya orang biasa.

Kiai Hasani memang amat tidak suka memakai atribut jasmaniah para ulama. Beliau juga tidak senang diperlakukan istimewa. Pernah suatu ketika, beliau diundang menghadiri walimatul arusy salah seorang tokoh di Pasuruan. Di tempat yang disediakan untuk undangan para kiai, tertulis kalimat “Khusus Masyayikh”. Tahu ada tulisan semacam itu, Kiai Hasani yang kebetulan diundang dan hadir dalam acara tersebut tidak berkenan masuk. Apa kata beliau? “Aku bukan masyayikh”. Akhirnya tuan rumah melepas tulisan itu dan Kiai Hasani pun berkenan masuk. Konon, Kiai juga senang diundang ke Probolinggo karena di tempat itu beliau tidak di’istimewa’kan dari yang lain.

Jika Kiai Hasani mau, bukannya beliau tidak bisa untuk hidup seperti lazim tokoh-tokoh lain. Dalam pembagian tirkah warisan setelah beliau wafat, uangnya banyak tercecer di mana-mana. Kadang di bawah kasur, di dalam kitab dan di tempat-tempat lain. . Ini merupakan sebuah cermin bahwa Kiai tidak pernah memasukkan urusan harta ke dalam pikirannya. Beliau tidak pernah menghitung berapa uang yang dimilikinya. “Jangan sampai kau ketahui uang yang masuk ke sakumu, agar kamu tidak bersandar pada uang,” ungkap beliau menyiratkan sebuah pandangan zuhdiyah-nya.

Dulu, Kiai Hasani pernah titip modal kepada H. Makki, salah satu jutawan terkenal di Pamekasan Madura. Hal ini dimaksudkan beliau sebagai pemenuhan atas kewajiban berkasab bagi seorang muslim. Tapi, sampai akhir hayatnya Kiai Hasani tidak pernah menghiraukan uang itu lagi. Menjelang pembagian warisan, uang itu diserahkan oleh H. Makki kepada keluarga beliau di Sidogiri.

“Al-Dun’ya dawa’,” dawuh Hadratussyekh. “Dunia adalah obat”. Kalimat singkat itu diperoleh beliau melalui mimpi. Syahdan, Kiai Hasani pernah bermimpi bertemu Soekarno (Presiden ke-1 Republik Indonesia). Dalam mimpi itu, Soekarno hanya menyampaikan kalimat “al-dun’ya dawa” kepada Kiai. Konon, mimpi yang sempat beliau tulis dalam manuskripnya itu, terjadi selama 21 kali.

Awalnya K.H. Hasani tidak paham apa maksud dari kalimat tersebut. Lalu beliau menceritakan mimpi itu kepada kakak beliau Almaghfurlah K.H. Cholil Nawawie. Setelah berpikir cukup lama, K.H. Cholil bisa menjawab apa maksud dari kalimat “dunia adalah obat”. “Obat itu hanya digunakan jika keadaan sakit (betul-betul membutuhkan, begitu pula dunia,” jelas Kiai Cholil kepada Kiai Hasani. Mengenai hal itu, Kiai Hasani juga berdawuh: “Yang baik, obat itu apa kata dokternya. Tidak boleh overdosis.”

Pandangan dan sikap hidup asketis itu memang telah beliau tampakkan semenjak muda. Tak ada tempat di hati untuk kesenangan duniawi. “Saya ingin tahu, seperti apa rasanya senang dunia itu?” dawuh beliau suatu ketika.

Begitulah Kiai Hasani, selalu memelihara kelarasan antara dawuh dan perilaku. Kekentalannya dengan sufisme tidak hanya terejawantahkan dalam kata-kata, tapi juga pola hidupnya sehari-hari. Oleh kerena itu, beliau sering mewanti-wanti bahwa sekarang ini yang terpenting bagi kita adalah mengamalkan ilmu. “Kalau dulu memang dibutuhkan orang-orang alim, sekarang sudah tidak perlu lagi. Semuanya sudah alim-alim. Kita hanya perlu menyelamatkan diri,” tegas Hadratussyekh.

Ulama memang telah begitu banyak. Lalu, sebanyak itukah orang yang bermoral ulama? Sufisme telah menjadi kajian luas: di majelis ta‘lim, seminar, halaqah, dan mimbar-mimbar kuliah. Buku-buku tentang tasawuf membanjiri toko-toko. Lantas, seluas itukah nilai-nilai sufisme itu telah diterapkan? Kiai Hasani seperti mengkritik itu semua: “al-Ilm al-yawm mazhlum,” dawuh beliau penuh kecewa. Saat ini, ilmu pengetahuan (terutama pengetahuan agama) memang telah menjadi korban.

Pandangan kritis itu tidak hanya ditunjukkan Kiai Hasani untuk para ulama dan cendekiawan. Dalam pandangan beliau, orang-orang yang melaksanakan ibadah pun sekarang banyak yang maghrur, terjerumus dalam lembah kedunguan. Setelah naik haji pada tahun 1958, beliau enggan untuk naik haji lagi. Hadratussyekh begitu prihatin melihat Baitullah itu sekarang. Begitu banyak munkarat di situ. Padahal kita mesti ekstra hati-hati di Tanah Suci itu. Tanah Haram tidak bisa dibuat sembarangan.

Mengenai ibadah, Kiai Hasani memberi penekanan utama pada sisi makna. Ibadah bukan cuma urusan ritual badaniah belaka, tapi berintisari pada pemaknaan hati. Oleh karena itu, beliau lebih suka melakukan ibadah yang dirasanya sebagai hal berat. Di situ ada upaya menundukkan hati kepada Ilahi. Mengatur gerak hati memang lebih berat dibanding aktivitas jasmaniah. Ini terutama menyangkut keikhlasan dan gerak kalbu yang lain. “Lebih berat maksiatnya hati dari pada maksiatnya badan,” dawuh beliau.

Menjadikan gerak kalbu sebagai esensi segala aktivitas merupakan pandangan yang diperkenalkan kalangan sufi. Kendati demikian, Kiai Hasani sangat kukuh dan tegas memegang norma-norma ritual sebuah ibadah. Beliau amat tegas dengan kebenaran tatalaksana shalat menurut aturan fiqh, begitu pula dalam ibadah-ibadah lain. Bahkan, sampai masalah adzan pun beliau mempunyai perhatian amat serius. Sampai sekarang, adzan di Mesjid Sidogiri tidak pernah berlagu. Kiai Hasani marah jika adzan dilakukan berlagu. Memang, pada aspek tatakrama, adzan berlagu hanya mementingkan dominasi seni serta telah kehilangan makna panggilannya menghadap Allah.

Persis seperti umumnya para sufi, K.H. Hasani sejak lama merindukan mati, sebuah keinginan yang tidak wajar dalam pikiran orang yang belum merasakan betapa sesak dunia ini dan betapa indah bertemu dengan Sang Rabb. Kerinduan itu sering beliau ungkapkan, terutama menjelang hari wafatnya. Apa yang menguntungkan dari mati? ”Kalau orang baik pendek umur, ia cepat ketemu kebaikannya. Kalau orang yang jelek pendek umur, ia cepat putus dari kejelekannya agar tidak banyak dosanya,” dawuh Hadratussyekh membangun logika dari pandangannya.

Jika ada tamu, Kiai Hasani selalu mengantarkan sendiri suguhannya. Beliau juga sangat sedih jika banyak tamu, khawatir tidak bisa menghormati mereka dengan layak.

Etiket sufisme lain yang juga sudah begitu melekat pada Kiai Hasani adalah melestarikan ajaran khumul. Dalam kamus sufi, khumul berarti tidak mau dikenal orang (tentang keistimewaan dirinya). Dalam tuntunan tasawuf Ibnu Atha’ al-Sakandari ajaran ‘tidak suka tampil’ itu dimaksudkan sebagai langkah penyelamatan bagi seorang yang menjalani kehidupan sufi agar tidak terjerumus oleh popularitas dan ketenaran. “Sing enak saiki iki mastur,” dawuh Kiai kepada K.H. A. Nawawi bin Abdul DJalil, keponakannya.

Memang, khumul seperti telah menjadi filosofi baku, tidak hanya bagi Kiai Hasani tapi juga Sidogiri. Pondok pesantren yang sudah berusia 256 tahun itu seperti besar dalam ketersembunyian: tidak pernah menyebar brosur atau jenis promosi lain, bahkan memasang plakat pun bagi Sidogiri terkesan tabu.

Kiai Hasani Nawawi: Perjuangan Mendidik Generasi

Mendidik Masyarakat dengan Uswah

Tak ada Kiai Hasani, Sidogiri seperti kehilangan urat nadi. “Kiai Hasani wafat, siapa lagi yang punya perhatian penuh pada shalat,” kalimat itu kerap terdengar dari santri Sidogiri pasca wafatnya Hadratussyekh K.H. Hasani Nawawie.

Memang, selama dasawarsa terakhir, Sidogiri memiliki komitmen pendidikan shalat yang luar biasa. Upaya pendidikan shalat bagi santri digalakkan sedemikian rupa. Bahkan, semenjak dua tahun yang terakhir, Sidogiri menetapkan lulus ujian shalat sebagai syarat kenaikan kelas di madrasah.

Komitmen yang luar biasa hebat ini merupakan buah perhatian ekstra Kiai Hasani terhadap shalat santri. Dalam dawuhnya, beliau menyatakan bahwa shalat merupakan standar keberhasilan pendidikan di Pondok Pesantren Sidogiri. Shalat santri baik, berarti pendidikan berhasil; shalat santri jelek, berarti pendidikan gagal.

K.H. Hasani memang lebih sering memerankan sebagai sosok yang mengerem langkah Pesantren Sidogiri agar tidak bergeser dari visi semula: ingin mencetak ‘ibad Allah al-shalihin. Beliau adalah supervisor, penyelia segenap komponen pesantren yang sedang berproses.

Tugas ini beliau akui sebagai beban yang mahaberat, soalnya menyangkut tanggung jawab di hadapan Allah. Tugas mahaberat ini sejalan dengan pandangan beliau bahwa pesantren merupakan lembaga yang ussisa ‘ala al-taqwa, dibangun dan berdiri atas dasar takwa kepada Allah. Jadi, bagaimanapun dan kemanapun pesantren ini melangkah, takwa tetap harus menjadi oreintasi dasar.

Hal tersebut betul-betul membuat Kiai Hasani tidak bisa tenang, terutama ketika menyaksikan ibadah santri. Di dalem, Kiai kadang berdiri sampai berjam-jam menghadap ke mesjid. Beliau memperhatikan dengan seksama santri yang sedang melakukan shalat. Kiai memang mempunyai keprihatinan yang mendalam melihat shalat santri belakangan ini.

Kiai menjalankan kontrol penuh terhadap mesjid. Sampai sekarang pun, dalemnya yang terletak bersebelahan dengan mesjid itu seperti menjadi pengawas bisu bagi santri yang masuk ke mesjid. Mereka terlihat amat hati-hati berada di mesjid ini, terutama ketika Hadratussyekh masih hidup.

Menyaksikan mesjid Sidogiri akan terlihat aktivitas ibadah yang berlangsung tertib. Mesjid selalu ramai dengan lalulalang santri yang hendak, usai, atau sedang melaksanakan ibadah. Bangunan tua itu memang padat dengan aktivitas dalam 24 jam. Tapi, semuanya berjalan tenang dan tertib. Ini semua buah kontrol ketat Kiai Hasani terhadap tempat ibadah itu. Kontrol penuh K.H. Hasani atas mesjid itu memang terbukti efektif bagi pembangunan semangat ibadah bagi santri Sidogiri.

Kiai Hasani sangat tidak suka jika tempat ibadah itu dicampuri dengan hal-hal yang bisa merusak makna ketertundukan terhadap sang Maha Pencipta. Setiap kali ada hal-hal yang mengurangi kesopanan terhadap tempat suci ini, Hadratussyekh mesti memberi respon kontrolnya, minimal dalam bentuk teguran kepada orang yang dipasrahi untuk menjaga ketertiban ibadah di mesjid.

Beliau sering memberi teguran jika terjadi keramaian yang sebetulnya tidak perlu terjadi. Peringatan yang sering beliau sampaikan kepada santri menjadi kontrol efektif bagi mereka untuk tidak berlaku urakan dan keterlaluan dalam bergurau dan mengekspresikan sesuatu. Kontrol itu sangat melekat pada jiwa masing-masing santri. Saking lekatnya kontrol dari Hadratussyekh ini, setiap terjadi keramaian, satu kata “dalem” betul-betul ampuh untuk membuat mereka diam dan tenang kembali. Pada aspek apapun,

Dalam segala hal, K.H. Hasani menekankan pentingnya keseriusan. Pada aspek apapun Kiai berpegang pada prinsip falyadhaku qalila walyabku katsira, perbanyak menangis dibanding tertawa. Prinsip tersebut merupakan prinsip dasar yang diajarkan al-Qur’an sebagai pandangan hidup bagi setiap muslim.

Sebagai pemangku utama Pondok Pesantren Sidogiri, peran K.H. Hasani dalam menjaga keseimbangan arus pesantren agar tidak bergeser dari prinsip al-Salaf al-Shalihin betul-betul vital. Beliau menitikkan perhatiannya pada pembentukan haliyah, perilaku dan moral santri. Ini adalah bagian dari pandangan dan komitmen beliau yang luar biasa: bahwa santri merupakan tanggung jawab mahaberat dun’ya wa ukhra.

Kiai Hasani: Pandangan dan Visi

Dukungan Penuh atas Pancasila

Jika teliti, anda akan menangkap sebuah pemandangan aneh di pintu gerbang Pondok Pesantren Sidogiri. Di pintu masuk timur tepat di sebelah barat jalan, anda akan disambut ukiran Burung Garuda. Lambang Republik Indonesia tersebut diukir di tembok sebelah kiri gerbang. Di bawahnya, tertera butir-butir Pancasila. Tak ada gambar dan tulisan lain selain itu, termasuk petunjuk bahwa gerbang itu adalah pintu masuk ke Pondok Pesantren Sidogiri.

Ada apa gerangan dengan gerbang Sidogiri? Konon, ukiran Burung Garuda dan butir-butir Pancasila itu dibuat atas instruksi dari Hadratussyekh K.H. Hasani. Tidak diketahui pasti semenjak kapan. Namun dari wajah gambar, tampak bahwa ukiran tersebut sudah berusia puluhan tahun.

Tak heran, Hadratussyekh menginstruksikan membuat gambar itu di pintu gerbang. Jika anda membaca manuskrip Kiai yang disebar Keluarga beberapa puluh hari setelah wafatnya, anda pasti bisa meraba-raba apa maksud beliau dengan gambar itu.

Kiai Hasani, seperti yang banyak beliau tulis dalam manuskripnya, merupakan tokoh yang memiliki kekaguman luar biasa dengan butir demi butir Pancasila. Butir-butir itu searah dengan pemikiran beliau, tapi dalam penafsiran yang berbeda dengan yang dimiliki orang pada lazimnya. Perbedaan penafsiran itu terletak pada sila Ketuhanan yang Maha Esa.

Dengan tegas Kiai Hasani menyatakan bahwa sila pertama ini hanya sesuai dengan akidah Islam, tidak dengan agama-agama lain. Logikanya, dengan sila ini semua agama tidak berhak untuk hidup di Indonesia karena tidak sesuai dengan dasar negara.

Apa yang beliau ungkapkan tentang tafsir sila ini tidak hanya sekedar apologia. Kiai Hasani membangun sebuah argumentasi teologis yang mapan. Beliau mengurut arti kata “esa” dari langgam teologi: bahwa pada titik makna dasarnya keesaan itu hanya sesuai dengan akidah Islam.

Argumentasi yang beliau bangun tentang kemanunggalan sila pertama dengan akidah Islam berujung pada kesimpulan bahwa sila tersebut mengandung dua unsur pokok. Pertama, kepercayaan akan eksistensi Tuhan (i‘tiraf al-uluhiyah); kedua, kepercayaan akan keesaan Tuhan (i‘tiraf al-wahdaniyah). Dengan unsur pertama, dasar negara tersebut menolak komunisme-ateisme; sedang unsur kedua menolak akidah agama selain Islam.

Konsekwensi dari sila tersebut adalah bahwa Republik Indonesia harus menyesuaikan segala haluan, kebijakan dan undang-undangnya dengan ajaran Islam, karena ideologi negaranya hanya sesuai dengan akidah Islam, tidak agama lain.

Sebagai dasar negara tentu hal tersebut harus betul-betul ditegakkan di Indonesia. Kiai Hasanimenyerukan agar kaum muslimin betul-betul memperjuangkan Pancasila, dalam arti bahwa “al-hukm bima anzal-Allah” harus berlaku di Bumi Pertiwi ini.

Dalam pandangan K.H. Hasani Nawawie, kemanunggalan ajaran Islam dengan Pancasila juga terbentuk melalui sila kedua (Keadilan Sosial). Jika sila pertama mempresentasikan ajaran Islam terkait hubungan vertikal dengan Allah, maka sila kedua mempresentasikan ajaran Islam terkait hubungan horizontal antara hamba dan hamba.

Visi umum ajaran Islam hanya ada dua: al-qiyam bi haqq al-Haqq dan al-qiyam bi haqq al-khalq. Pertama, melaksanakan kewajiban terkait dengan Sang Pencipta; kedua, melaksanakan tanggungjawab terkait dengan makhluk Sang Pencipta. Kedua visi itu dipresentasikan seluruhnya oleh sila Ketuhanan yang Maha Esa dan Keadilan Sosial.

10 hari sebelum wafat,

KH Hasani Nawawy Bermimpi Didatangi Imam al-Ghazali

Ribuan orang berjubel di komplek pesarean (makam) Keluarga Pondok Pesantren Sidogiri. Komplek pemakaman yang terletak di belakang mesjid, sebelah barat mihrab itu, tampak penuh dengan orang-orang yang ingin memberikan penghormatan terakhir untuk KH. Hasani Nawawie. Sebagian besar datang dari jauh, bukan masyarakat setempat. Wajah-wajah mereka terlihat muram. Berduka. Tak ada tawa. Di sebelah barat komplek pemakaman dengan luas sekitar 50 meter persegi ini, terlihat wanita-wanita berdesakan meraih satir untuk melihat prosesi pemakaman dari atas tirai terpal itu.

Di sekitar pagar, tampak petugas dari satuan Banser sibuk mencegah orang-orang yang merengsek ke pagar. Mereka ingin masuk ke dalam kompleks agar dapat mengekspresikan penghormatan terakhirnya secara langsung. Di dalam pagar, tampak Keluarga, tokoh-tokoh dan orang-orang yang sibuk mempersiapkan pemakaman.

Sementara itu di luar komplek pemakaman, terdengar gaduh. Masyarakat berebut ikut memikul keranda jenazah Kiai Hasani Nawawie. Minimal, mereka dapat menyentuh keranda tokoh panutan itu. Melalui pengeras suara, terdengar seruan agar masyarakat tidak berebutan. “Hormati mayyit, hormati jenazah, jangan berebutan!” Teriakan itu terdengar sibuk dan sangat keras.

Ketika jenazah sampai di pesarean, masyarakat yang sejak semula gaduh mulai tenang. Hanya sesekali terdengar bisikan, gumam “Allah” dan isak tangis wanita dari barat pesarean.

Prosesi pemakaman itu berlangsung sekitar pukul 16.00 Selasa sore, 13 Rabiul Awal 1422 / 5 Mei Juni 2001. Sebelumnya, shalat jenazah dilaksanakan sebanyak 11 kali di mesjid Jami Sidogiri. Shalat jenazah dilaksanakan berulang-ulang karena masyarakat yang datang berta’ziah terus mengalir dari berbagai daerah. Setiap kali shalat jenazah dilaksanakan mesjid selalu penuh, sampai meluber ke surau dan jalan-jalan. Shalat jenazah pertama dilaksanakan sekitar pukul 9.00 pagi, sedang shalat jenazah terakhir sekitar 16.00 sore.

Kiai Hasani memenuhi panggilan Allah sehari setelah peringatan Maulid Nabi Muhammad; tepatnya pada malam Selasa, 13 Rabiuts Tsani 1422, pukul 03.50 dini hari. Beliau wafat pada usia 77 tahun karena serangan darah tinggi yang sudah sejak lama dideritanya.

Sehari sebelum wafat (malam Senin), Hadratussyekh masih sempat menghadiri acara peringatan maulid Nabi di Mesjid Sidogiri. Kiai mengikuti pembacaan diba’ mulai awal sampai selesai. Beliau juga masih sempat berta‘ziyah ke rumah H. Ismail, seorang warga desa Sidogiri yang wafat sehari sebelum maulid. Saat itu, Kiai sudah terlihat sakit parah. Sambil dipapah, beliau berjalan ke rumah H. Ismail yang berjarak kira-kira 150 meter dari dalemnya.

Menurut penuturan dari salah satu putra tirinya, Mas Abdul Bari, 10 hari sebelum wafat, Kiai Hasani bercerita telah didatangi Imam al-Ghazali dalam tidurnya. Beliau mushafahah (berjabat tangan) dengan tokoh sufi terkemuka Abad Pertengahan itu. Kiai Hasani merasakan perjumpaan dengan Imam al-Ghazali seperti dalam alam nyata, tidak dalam mimpi. Beliau tidak menceritakan lebih lanjut tentang pertemuan dengan Imam al-Ghazali tersebut. Cuma, pada hari itu pula beliau dawuh kepada K.H. Nawawi Abdul Djalil: “Sing enak saiki mastur (Yang enak sekarang ini tidak dikenal orang).

Sebelumnya, beliau akan untuk naik haji pada tahun ini menemani Nyai Shalihah, istri beliau. Niat itu telah diutarakan kepada beberapa Keluarga Sidogiri. Yang membuat Keluarga Sidogiri tersentak sedih dengan niat Kiai ini, beliau mengatakan bahwa usai naik haji, dirinya tidak akan kembali lagi. 

Sumber :

* Pondok Pesantren Sidogiri, Mas Abdul Bari HS, Ahad (05/08/2018)

Walahualam…… 

Alfatihah…..

About Admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement