Posisi Fikih Solat Tarawih Muhammadiyah

Memasuki bulan ramadan, memori tentang khilafiyah yg ada di dalamnya sering muncul kembali. Salah satunya adalah ttg solat tarawih, jumlah rakaatnya maupun kaifiah 4 rakaat satu salam, sebagaimana dipraktikkan oleh jamaah Muhammadiyah.

Dalam tulisan sederhana ini, saya berusaha menjelaskan posisi praktik solat tarawih Muhammadiyah dari perspektif mazhab fiqh empat. Mana mazhab yg menyatakan ia sah atau tidak sah, dst. Bukan utk membuktikan bhw Muhammadiyah “ternyata” ikut mazhab tertentu dalam hal ini, karena Metodologi Tarjih Muh menegaskan bahwa mereka tidak berafiliasi kepada mazhab yg ada, ia berdiri sendiri, independen, atau dengan kata lain; berijtihad sendiri. Jika ada kesamaan, bisa jadi adalah kebetulan, kesamaan hasil dalam ijtihad. Walaupun Muh juga tidak menutup diri untuk melihat dan mengambil istidlal para ulama, lintas mazhab, dalam buku-buku mereka, utk selanjutnya ditarjih sesuai metodologi yang telah ditentukan Majelis Tarjih Muhammadiyah.

Tulisan ini lebih kepada tawaran informasi bagi non Muhammadiyah untuk “memaklumi” praktik fiqh Muh, tentunya dengan perspektif mazhab fiqh empat. Harapannya tidak ada lagi persekusi atas praktik solat tarawih jamaah Muhammadiyyah 8 rakaat + 3 witir, dgn 4 rakaat sekali salam. Apalagi konflik antar awam, karena mazhabul awam mazhabu muftihim. Apalagi dalam konteks ini, praktik tarawih Muhammadiyah masih terkaver oleh hadis “man qama ramadhana..” tentang himbauan qiyamul lail di bulan ramadan. Wa la ilzam fil zhaniyat. 

A. Jumlah Rakaat

Jumhur fuqaha (Hanafiah, Syafiiyah, Hanabilah, dan sebagian Malikiah) berpendapat bahwa solat tarawih itu 20 rakaat, ditambah witir 3 rakaat. Umar bin Khattab lah yg pertama kali mengumpulkan orang utk sholat berjamaah 23 rakaat. 

Adapun Malikiah, maka menambahnya menjadi 36 rakaat, untukk berfastabiqul khairat dgn penduduk Mekah yang melakukan tawaf setiap istirahat 4 rakaat tarawih.

Sejarah awalnya, dalam bbrp riwayat, saya Umar meminta saya Ubay untuk menjadi imam qiyamul lail berjamaah di masjid 8 rakaat dgn bacaan yg panjang hampir semalam suntuk, mengikuti jumlah qiyam Rasulullah Saw. sebagaimana riwayat sy Aisyah ra. Tetapi saat banyak sahabat yg menua, tidak kuat lagi melaksanakan qiyam ramadan 8 rakaat dgn bacaan panjang, Umar meminta sy Ubay utk mengurangi bacaan, tapi menambah rakaat (20), dengan istirahat setiap 4 rakaat. Ulama mensyarah, bahwa 8 rakaat di atas juga dilakukan dgn 2 rakaat satu salam, sebagaimana hadis masyhur dari sy Ibnu Abbas (al-Muntaqa syarah Muwatha). 

 

Walhasil, bisa dipastikan solat tarawih adalah sunah sahabat, dgn bentuk khusus, yaitu: solat malam di bulan ramadan, berjumlah 20 rakaat (atau 36 rakaat sesuai mazhab Imam Malik), dikerjakan dua-dua. Dikatakan tarawih, karena setiap 4 rakaat terdapat istirahat, duduk sebentar.

Adapun 8 rakaat, maka bisa dikatakan sebagai qiyam ramadan, tp belum bisa disebut sebagai solat tarawih. Selain istirahatnya hanya satu kali (setiap 4 rakaat), para fukaha 4 mazhab jg tidak menamakan tarawih kecuali dalam bentuk minimal 20 rakaat, sejak zaman sahabat hingga sekarang (mungkin klo dlm ilmu nahwu, namanya lil ‘ahdi ya, identik). Tetapi penafian nama tarawih ini tdk menggugurkan nama qiyam ramadan pada praktik 8 rakaat, kaidahnya: nafyul akhas la yastalzimu nafyal a’am (penafian yg lebih khusus, tidak menghendaki penafian yg lbh umum). 

Dalam hadis yg disebutkan, teks anjurannya berbunyi qiyam ramadan, bukan dgn lafaz tarawih. Bahkan jika seseorang hanya melakukan 2 rakaat qiyam di malam bulan ramadan, maka ia telah mendapatkan fadhilah “man qama ramadhana..”, tinggal menyempurnakan “imanan wa ihtisaban” nya.

B. Empat rakaat, satu salam

Jumhur fuqaha menyatakan sunah utk salam pada setiap 2 rakaat tarawih, karena hadis sy Ibnu Abbas dgn sharih menegaskan: “solat malam –itu- 2 rakaat 2 rakaat”. 

Hanafiah, secara ringkas, boleh saja empat rakaat satu salam. Hanya saja Muh bin Hasan mengharuskan ada duduk tasyahud di setiap 2 rakaat, seperti solat isya, tapi Abu Hanifah dan Abu Yusuf tdk mengharuskan. Bahkan hanafiah membolehkan lebih dari 4 rakaat dgn satu salam, tapi maksimal 8 rakaat, selebihnya makruh. Malikiah juga membolehkan 4 rakaat satu salam, tapi makruh.

Adapun Syafiiyah, menyatakan tidak sah solat malam lebih dari 2 rakaat dgn satu salam, merujuk hadis sy Ibnu Abbas. Boleh saja 4 rakaat satu salam, tp tidak dengan niat tarawih atau qiyam, tapi nafal mutlak (solat sunah mutlak).

C. Kesimpulan

1- Praktik tarawih khas Muhammadiyah adalah 8 rakaat qiyam + 3 rakaat witir, dgn formasi 4-4-3. Ada juga yg formasi 2×4+3, salam di setiap 2 rakaat. Sedangkan solat tarawih dalam istilah fuqaha adalah solat malam di bulan ramadan, 20 rakaat (atau lebih), dua-dua.

2- Bisa dikatakan, qiyamul lail > tarawih. Antara keduanya adalah umum wa khusush muthlaq. Tarawih adalah qiyamul lail, tapi tidak setiap qiyam adalah tarawih. Teks hadis pun berbunyi “man qama ramadhana imanan wa ihtisaban..”.

3- Empat mazhab memandang sah praktik tarawih Muh yg 2×4+3, yaitu sebagai slh satu bentuk qiyam ramadan, bukan sebagai solat tarawih. Jadi niatnya tdk bisa pakai lafal “solat tarawih”, tapi dgn “qiyamul lail atau qiyam ramadan”. Klo penyebutan, mgkn bisa saja tajawuzan. Tp lebih baik tdk menyebutnya solat tarawih. Tentu ini dgn perspektif 4 mazhab, adapun dari perspektif tarjih, kita tdk bisa ilzam kpd mereka hehe. 

4- Adapun formasi 4-4-3, maka masih sah menurut hanafiah, walaupun sebagian hanafiah mengharuskan ada duduk tasyahud di setiap 2 rakaat. Juga sah menurut malikiah, ma’al karahah. Sedangkan syafiiyah, menyatakan ia tdk sah, kecuali dgn niat nafal mutlak (sunah mutlak). Sebagai negara mayoritas syafiiyah, jika mendapat persekusi seperti ini, tdk menjadi aneh. Tentu dgn perspektif mereka, dalilan wa istidlalan.

5- Bagi seorang muqalid mazhab syafii yg kebetulan aktif di Muhammadiyah, dia bisa menyesuaikan diri dgn beberapa ketentuan di atas, khususnya dlm aspek niat dan jumlah rakaat. Wa illa, laja’a ila talfiq.

6- Muhammadiyah berijtihad secara mandiri dlm bab solat tarawih ini. Pendapat dan istidlalnya bisa ditelusuri di HPT atau Tanya Jawab Agama. Bisa jg lgsg merujuk ke buku Prof Syamsul Anwar: Salat Tarawih, Tinjauan Usul Fiqh, Sejarah, dan Fiqh. 

7- Intermezzo. Baru-baru ini, masjid Azhar mengumumkan bahwa solat tarawih tahun ini adalah 8 rakaat, diusahakan selesai dalam ½ jam. Tentu penyebutan solat tarawih ini tajawuzan, karena darul ifta dlm buku tuntunan puasa nya, menegaskan apa yg kami sampaikan di atas; tarawih 20 rakaat, istirahat setiap 4 rakaat, dst.

Mayoritas materi di atas diringkas dari Mausuah Fiqhiyah Kuwaitiyah.

Wallahu a’lam. Mohon koreksinya.

Marhaban Ya Ramadan.

About Global Muslim

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement