Penyimpangan Qaddafi, Thaghut Yang Ingin Disucikan Kembali

Penyimpanan Qaddafi, Thaghut Yang Ingin Disucikan Kembali

Fikroh.com – Beredar beberapa postingan dan kata-kata bahwa rakyat Libya menyesal kerana telah memberontak dan membunuh Presiden mereka, Muamar Qaddafi. Seakan rakyat Libya sudah melupakan kekejaman dan ucapan-ucapan kufur Qaddafi . Dapat dipastikan bahawa golongan yang menangisi dan menyesali dengan kematian Thoghut bernama Qaddafi pasti mempunyai keyakinan sekuler dan liberal sama seperti Qaddafi atau munkin golongan tersebut jahil didalam memahami Dienul Islam atau sejarah Qaddafi itu sendiri. Disini dibawakan beberapa bentuk penyimpangan dari sang Musailamah Modern, Thoghut Qaddafi :

Tentang Ka’bah

“Ka’bah adalah berhala terakhir yang masih tersisa di antara berhala-berhala lainnya” (Pembukaan Majlis Ittihad Al Jami’at Al Arobiyyah di kota Benghazi 18 Februari 1990)

Bicara tentang Hijab

“Hawa telanjang bulat tanpa sehelai benang. Siapa yang lebih tahu dibandingkan Allah ? Allah menciptakan kita sejak awal seperti itu. Inilah fithrah kita. Kalau bukan karena syaitan, kita tidak memakai sehelai benang pun, bahkan meskipun sehelai daun blueberry. Syaitan yang menyebabkan kita harus memakai pakaian seperti ini. Sedangkan sebelum itu, secara naluriah kita ini telanjang. Hijab sendiri adalah hasil perbuatan syaitan kerana hijab adalah bentuk lain dari daun blueberry, dan ini adalah hasil karya syaitan untuk mencegah kita dari kemerdekaan dan melangkah ke depan …. Tidak mungkin bagi wanita harus mengenakan hijab dan tinggal di rumah saja. … haram…… hijab yang dimaksudkan adalah hijab maknawi”. (Pidato di depan Parlemen Tunis 8 Desember 1988)

Menghina Khulafaur Rasyidin

“Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam berlepas diri dari para Khalifah sepeninggal beliau. Ali menjadi Khalifah, tetapi mengapa ia diperangi oleh setengah dari kaum muslimin? Anak cucunya juga diperangi. Utsman tidak layak sebagai Khalifah kerana dia seorang aristokrat dan mengangkat kerabatnya sebagai pembantu-pembantunya. Ia telah menyebarkan nepotisme ke seluruh wilayah Islam sehingga ia dibunuh…” (Multaqo II Universitas dan Ma’had Aly di Trablus 30 Maret 1991)

Menghalalkan Riba

“Sistem ekonomi adalah sistem yang sudah mendunia. Dunia Islam seluruhnya menerapkan sistem ini. Jika mereka semua menerapkannya, maka kita juga. Siapa yang mengakatakan haram? Tidak haram. Tidak benar bahwa sistem ekonomi dunia saat ini adalah haram” (Muktamar Wartawan se-dunia, 13 Juni 1973. Ini adalah jawaban dari sebuah pertanyaan seorang wartawan Reuter cabang Mesir tentang riba).

Menolak Hadis (Qadaffi seorang Quranis yang menolak Hadis)

Jika ada seseorang berkata kepada kita : “Hadits Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wa Sallam harus kita muliakan dan kita hormati serta wajib disikapi sebagaimana kita bersikap terhadap Al Qur’an, INI ADALAH SYIRIK !!!! Mungkin ucapan saya ini terdengar asing. Ini disebabkan saat ini kita sudah sangat jauh dari Islam, dan kita sedang berada di tengah jalan menuju penyembahan berhala dan menjauhkan kita dari Al Qur’an dan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka tidak ada jalan lain agar kita tidak terjerumus dalam penyembahan berhala dan penyimpangan yang sangat berbahaya kecuali dengan cara berpegang teguh kepada Al Qur’an saja dan beribadah kepada Allah semata.” (Ceramah pada acara Maulid Nabi di Masjid Maulawi Muhammad di kota Trablus 19 Februari 1978)

Dalam pidato pada perayaan maulid Nabi di masjid Maulaya Muhammad, ibukota Tripoli tanggal 19 Februari 1978, Qaddafi mengatakan, “Muhammad adalah seorang nabi. Dia tidak memiliki hadits, syair, maupun filsafat. Ia hanya memiliki risalah yang ia datang untuk menyampaikannya, yaitu Al-Qur’an. Pulanglah kalian ke rumah kalian, pelajarilah Al-Qur’an bersama anak-anak kalian, batasilah diri kalian dengan apa yang ada dalam Al-Qur’an, karena Al-Qur’an adalah kumpulan dari berbagai perintah dan larangan.”

Mengatakan Syari’ah Islam sama seperti undang-undang manusia.

“Syari’ah Islam seharusnya cukup disikapi sebagai sebuah Madzhab Fiqh yang disusun oleh seseorang. Kedudukannya sama dengan undang-undang Romawi atau undang-undang Napoleon atau undang-undang lainnya yang disusun oleh para ahli hukum Perancis, Italia atau dari kaum muslimin . Maka siapa saja yang mempelajari undang-undang Romawi pasti akan menyimpulkan bahawa para ulama Islam menyusun undang-undang yang sangat mirip dengan undang-undang Romawi, akan tetapi mereka tidak mahu mengakuinya. Mereka menyatakan bahawa ini adalah Agama (syari’ah Islam)” (Pertemuan ramah tamah dengan para huffadz Al Qur’an di kota Trablus 3 Juni 1978).

Mengaku sebagai Nabi

Dalam sebuah wawancara dengan Mirella Bianco, seorang wartawan dari Italia yang bertanya kepadanya: “Wahai Nabi Allah, apakah engkau juga menggembala kambing?”. Qaddafi menjawab: “Ya, tentu…. Tidak ada satu Nabi pun yang tidak menggembala kambing”. (“Qaddafi : Messenger of Dessert” tulisan Mirella Bianco halaman 241)

Qaddafi bahkan mengaku dirinya tidak boleh dihukum oleh siapa pun atas apa yang dia lakukan, sebagaimana Allah tidak dihukum atas apa pun yang Dia kehendaki dan Dia lakukan. Qaddafi membandingkan dirinya dengan Allah Subhanahu wa ta’ala seakan-akan Qaddafi-lah pencipta bumi Libya dan seluruh penduduknya. Dalam pidato pembukaan Konferensi Kebangsaan di ibukota Tripoli pada tanggal 27 Januari 1990 M, Qaddafi mengatakan:

“Saya tidak dimintai pertanggung jawapan di hadapan siapa pun. Orang yang melakukan revolusi (maksudnya adalah Qaddafi sendiri) bukanlah orang yang ditunjuk. Engkau tidak memberinya tugas untuk melakukan revolusi. Dia sendiri yang melakukan revolusi, berkorban sendiri, memikul tanggung jawabnya sendiri. Dia hanya bertanggung jawab kepada hati nuraninya sendiri. Ia tidak dimintai pertanggung jawaban di hadapan satu orang lain pun.

Allah adalah Sang pencipta, pencipta langit dan bumi. Siapa yang akan melakukan hisab (perhitungan amal dan pengadilan atas semua perbuatan) terhadap-Nya? Dia mendatangkan kepada kita angin ribut, taufan, dan cuaca. Dia mendatangkan hari kiamat. Dia menghancurkan seluruh dunia. Siapa yang akan menanyai-Nya (meminta pertanggung jawaban-Nya)? Sekarang, tidak ada. Tidak ada seorang pun yang menunjuk-Nya dengan mengatakan, “Engkau menjadi tuhan, lalu apa yang akan Kau lakukan?” Ini tidak benar kerana Dia SWT adalah Sang Pencipta Yang mengadakan (langit dan bumi). Dia mengatakan kepada segala sesuatu ‘Jadilah!, niscaya ia akan terwujud. Dia melakukan apa pun yang Dia kehendaki. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Pencipta langit dan bumi. Oleh kerana itu, kami yang melaksanakan revolusi hanya bertanggung jawab di hadapan hati nurani kami.”

Tentang akidah sekulernya dapat diperhatikan didalam banyak ucapan-ucapannya. Qaddafi meyakini Al-Qur’an hanya mengatur urusan ibadah ritual (solat, puasa, zakat, haji, dzikir, doa) dan akhirat saja. Menurutnya, Al-Qur’an sama sekali tidak mengatur aspek kehidupan lainnya seperti politik, ekonomi, sosial, budaya, hukum, dan ketentaraan. Dalam dialog dengan para ulama dan para pelajar penghafal Al-Qur’an pada tanggal 3 Juli 1978 di Tripoli, Qaddafi mengatakan:

“Sebagian kecil Al-Qur’an bisa kita terapkan dalam masyarakat kita sekarang. Adapun selebihnya adalah perkara-perkara yang mayoritasnya berkaitan dengan hari kiamat. Seperti iman kepada Allah, iman kepada perhitungan dan pembalasan, iman kepada malaikat, iman kepada rasul, dan seterusnya.”

Qaddafi melanjutkan, “Aku tidak mengetahui sebuah kitab selain Al-Qur’an. Kita tengah berbicara tentang Al-Qur’an, undang-undang masyarakat. Jika kita mengkaji Al-Qur’an, kita tidak menemukan Al-Qur’an membicarakan masalah-masalah yang dengannya kita mengatur masyarakat. Sebagai manusia, kitalah yang mengatur diri kita sendiri. Al-Qur’an tidak membicarakan masalah-masalah ini. Jenayah yang dihukum potong tangan, jenayah yang dihukum cambuk. Hanya sedikit bagian dari Al-Qur’an yang berbicara tentang perkara-perkara dunia yang berkaitan dengan kehidupan dunia belaka, yang tidak ada pengaruhnya sama sekali di akhirat.” 

Sebenarnya masih banyak penyimpangan-penyimpangan Muamar Qaddafi yang tidak tersebutkan disini. Cukuplah banyak fatwa dari para alim ulama yang mengkafirkan beliau. Rabithah Alam Islami mendokumentasikan hasil pertemuan berbagai jemaah Islam Internasional dan para ulama Islam dari berbagai negara, tersebut dalam sebuah buku yang diterbitkan tahun 1406 H, berjudul Ar-Raddu asy-Syaafi ‘ala Muftarayat Qaddafi (Bantahan tuntas atas kebohongan-kebohongan Qaddafi). Adalah sangat aneh dan jauh meleset jika meletakkan Qaddafi sebagai ikon pejuang Islam hanya karena kritikan-kritikan keras beliau terhadap Amerika dan Israel tanpa menilai dan melihat hakikat penentangan besar beliau terhadap agama Allah.

Oleh: Abdurrahman Al-Buthony

About Global Muslim

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement