Penciptaan Nabi Adam dan kisah sujudnya malaikat Malaikat

 

Hari apa Adam diciptakan? Hari Jumat, hari ke enam. Hari bumi? Yang satu hari 24 jam kala bumi? Ini kejadiannya bukan di bumi yah. Saat yang berlaku di bumi tidak linier dengan kala di langit. Ga usah kami logikakan. Para astronot saja mengakui hal ini ketika mereka di luar angkasa. Mereka mengalami bumi berganti siang dan malam didalam saat yang lebih singkat. Sehari didalam hitungan mereka, bisa menyaksikan siang malam lebih dari satu kali.

Sulit dipaksa masuk akal kami memang. Allah lebih mengerti lamanya sehari di langit, agar Dia mengatakan, “Sesungguhnya sehari disisi Tuhanmu adalah layaknya seribu th menurut perhitunganmu” (Al Hajj ayat 47). Sedangkan hitungan th orang tersebut macem2. Ada year Islam, ada tahunan masehi, ada th cahaya, barangkali ada hitungan tahunan versi sunda.

Inni jaailun fil ardhi khalifah… Ini merupakan bentuk “Khabar” berasal dari Allah, an announcement… achtung.. Dia hadir bukan di dalam bentuk “Amr” atau perintah. Makanya tidak dan juga merta para malaikat ini “Sami’Na wa ata’na”, kita dengan kita taat… Lebih-lebih mereka nekat menyanggah… Simak ucapan mereka dibawah.

Ataj’Alu fihaa man yufsidu fiiha…. “Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (Khalifah) di bumi tersebut makhluk yang akan memicu rusaknya padanya dan menumpahkan darah, padahal kita senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?”

Lancang sekali para malaikat ini menanyakan alasan berasal dari titah Tuhan Semesta Alam!

Memang, titah Allah disini formatnya pengumuman. Tidak cukup lebih ada 3 macam titah Allah. Yang pertama adalah bentuk “Khabar”, lalu ada lagi bentuk “Aradh (Tawaran)”, lalu bentuk “Amr” atau perintah.

Bentuk khabar adalah layaknya contoh di ayat 30 ini, Allah mengabarkan akan dimunculkannya Adam sebagai penghuni bumi.

Ada lagi bentuk amr atau perintah, yang mustahil ditolak oleh para malaikat. Dikarenakan perintah Allah akan dilaksanakan para malaikat dengan penuh ketaatan. Mereka ini seperti robot. Diciptakan untuk taat perintah!

Sedangkan bentuk aradh atau tawaran, adalah tawaran Allah yang bisa mereka ambil dan bisa juga mereka tolak. Emang ada? Ada. Contohnya: “Sesungguhnya Kita sudah “Menawarkan” amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat tersebut dan mereka risi akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat tersebut oleh manusia. Sesungguhnya manusia tersebut benar-benar zalim dan terlampau bodoh” (Al-Ahzab:72)

Tau ga apa “Amanat” yang ditawarkan kepada langit, bumi, gunung, lebih-lebih malaikat? Kenapa pula mereka menampik? Lalu kapan kami bilang “Setuju” untuk memikul amanat itu?

Amanat tersebut adalah beban syariat untuk “Mengerjakan yang ma’ruf dan meninggalkan yang dilarang” di dalam segala kondisi, baik suka maupun susah, keliatan orang maupun sembunyi-sembunyi. Kalo lulus sanggup pahala, ga lulus nyebur neraka (Memirsa Tafsir As- Sa’Di). Intinya… dikasih nafsu.

Baik langit dan bumi, lebih-lebih gunung, nyadar diri. Mereka merasa kayaknya sudah bener menjadi diri masing-masing, ga usah lah kita di kasih “Nafsu”. Ga kebayang mereka kalo perlu nyebur neraka gara-gara satu dosa.

Nanti kala hari kiamat, orang-orang pendosa pun setuju dengan pemikiran ini. Mereka mengatakan, “Wa yaquulul kafiru ya laitanii kuntu turaba”.. Berkatalah hari tersebut orang-orang kafir, seandainya aku pernah cuma menjadi tanah (Ayat paling akhir berasal dari surat apa ya???)

Tawaran Allah ini ditolak makhluk-makhluk hebat tersebut. Dan mereka tidak dihukum dikarenakan “Menampik” tawaran Allah. Kami ini hebat, tawarannya kami ambil… Selamat ya!!!

Tawaran Allah ini bisa ditolak, kalo ga bisa. Tetapi “Menyanggah” adalah satu bentuk kelancangan.
Mencermati ucapan malaikat tadi, “Mengapa Engkau hendak menjadikan (Khalifah) di bumi itu….” Ini ucapan sanggahan, amat berani.

Maksud sanggahan mereka adalah, bukankah sebelumnya telah ada bangsa jin, dan mereka tidak taat.

Jika Engkau ingin di bumi tersebut ada mereka-mereka yang selalu taat kepadamu didalam ibadah, maka kenapa tidak utus kita saja? Hambamu yang selalu taat, tidak dulu melenceng sesenti pun. Bukankah kita senantiasa bertasbih (Nusabbihu) kepadamu dengan memujimu dan mensucikan (Nuqaddisu) Engkau?
Apa bedanya tasbih dan taqdis? Barangkali kami bahas lain selagi insya Allah.

Malaikat disini isti’jal (Terburu2). Sebab bukankah Allah berbuat sekehendaknya? Terkecuali Allah mau, ga wajib Dia kabarkan apapun pada siapapun!

Allah membalas isti’jal malaikat. Perbuatan terburu2 tersebut, selalu merupakan perbuatan tercela. Namun ini telah watak orang, apalagi malaikat yang mulia juga ga selamat. Mencermati, Musa dulu ditegur gara-gara “Tergesa-Gesa”, Allah mengatakan “Kenapa Engkau tergesa-gesa wahai Musa?” (Ayat dan surat apa? Sila cari). Nabi Yunus dulu tergesa-gesa meninggalkan kaumnya, jadilah dia santap malam Ikan Paus.

Kedua Nabi ini dihukum gara-gara tergesa-gesa.

“Wa khuliqal insanu min ajal”… Manusia udah dijadikan (Bertabiat) tergesa-gesa (Al Anbiya: 37).
Apa sanksi Allah kepada “Kelancangan” malaikat? Mereka kudu membayar kafarat. “Kalian lihat apa yang diperbuat bangsa jin pernah beserta keturunannya, namun kalian tidak mengerti apa yang berjalan nanti pada Adam dan keturunannya..” Inni a’lamu ma laa ta’lamun.

Kafarat untuk mereka adalah, bangun kabah di langit ke tujuh! Semua malaikat semenjak sementara tersebut bergantian tawaf disana, yang sehari diputari 70 ribu malaikat dan mereka tidak dulu lagi lagi ke sana. Ini tetap terjadi hingga nanti hari kiamat.

Please rate this

About Galih semar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *