Untitled Post

 

PEMBEBASAN MADAIN

Pasukan Persia dari Kadisiah ke puing-puing Babilon

Sesudah Pertempuran Kadisiah itu pasukan Persia melarikan diri,

tanpa melihat lagi ke belakang. Sebagian besar mereka sudah

sampai ke bekas reruntuhan Babilon,1 dan yang lain terpencar di sana

sini di Persia. Pasukan Muslimin tinggal di Kadisiah selama dua bulan

sambil beristirahat dan sementara itu Sa’d pun sudah sembuh dari

sakitnya. Umar menulis kepada Sa’d agar tidak meninggalkan tempattempat

itu sampai nanti ada perintah lebih lanjut.

Setelah kemudian berita-berita tentang pasukan dan bala bantuan

yang dikirimkan cukup memuaskan, ia memerintahkan Sa’d berangkat

ke Mada’in. Perempuan dan anak-anak supaya ditinggalkan di Atiq dengan

sekelompok pasukan yang akan menjaga mereka. Pasukan ini juga harus

mendapat bagian rampasan perang seperti pasukan yang lain sebagai

balas jasa bagi mereka yang mengawal keluarga pasukan Muslimin.

1 Sebutan nama ini sering membingungkan. Dalam bahasa Arab, Babil dapat disalin

dengan Babilon atau Babilonia. Dalam Da’iratul Ma’arif al-lslamiyah bahwa “orang

Arab menyebut nama Babil untuk nama kota dan negeri.” Sedang Encyclopaedia

Britannica menyebutnya “salah satu kota kuno yang terkenal, terletak di tepi anak

Sungai Furat utara kota modern Hirah di Irak selatan,” sementara Babilonia nama dua

kerajaan di Mesopotamia (Irak sekarang), yang secara kasar disamakan dengan dataran

terbuka terletak di antara Irak dengan teluk Persia, sedang Asiria di bagian utara sekitar

Mosul sekarang. Nama-nama ini diambil dari nama ibu kota masing-masing, Babilon

dan Asiria (Asyur). Jadi Babilonia rnerupakan gabungan dua kerajaan. Pada waktu Amr

bin As memasuki Mesir terdapat juga benteng dengan nama ini (Lihat catatan bawah h.

507. Dalam terjemahan ini dipakai nama Babilon mengingat yang dimaksud kota di

dekal Hirah. Sa’d menugaskan Zuhrah bin al-Hawiah berangkat lebih dulu ke

Hirah. Sesudah Abdullah bin al-Mu’tam dan Syurahbil bin as-Samt

sampai ke tempat itu, ia memulai lagi perjalanannya ke Mada’in. Dalam

perjalanan ini ia bertemu dengan sekelompok pasukan Persia di

Burs.1 Mereka dapat dipukul mundur dan lari bergabung dengan

mereka yang sudah lebih dulu ke Babilon. Berita mengenai sisa-sisa

pasukan Kadisiah yang berkumpul di Babilon sudah diketahui oleh

Zuhrah. Mengenai hal ini, ketika di Hirah bersama Hasyim bin Utbah

ia sudah melaporkan kepada Sa’d. Dalam perjalanan menuju Babilon

Sa’d bertemu dengan pasukan Fairuzan, yang dalam sekejap kemudian

dapat dipukul mundur. Fairuzan lari ke Nahawand, Hormuzan ke Ahwaz

dan Mehran ke Mada’in. Pasukan Muslimin terus maju. Di Kusi mereka

dihadang oleh Syahriar yang kemudian berhasil dibunuh dan pasukannya

dipukul mundur. Sa’d memberi tambahan dengan barang rampasan

Syahriar kepada yang membunuhnya. Zuhrah maju terus sampai ke

Sabat. Di tempat ini ia mengadakan perdamaian dengan penduduk atas

dasar jizyah, yaitu ketika mereka mengetahui bahwa ia sudah menaklukkan

pasukan yang menghadangnya di sekitar Sura dengan Dair

dan komandan-komandannya tewas. Tatkala pasukan Muslimin pergi ke

Sawad di seluruh kawasan itu mereka tidak menemui perlawanan yang

berarti. Penduduk sipilnya dari segenap penjuru cepat-cepat menemui

pemimpin-pemimpin pasukan ini dan menyatakan kesetiaannya. Mereka

sebagian masuk Islam, dan yang sebagian lagi dengan senang hati mau

membayar jizyah. Semua mereka sekarang setuju dengan undangundang

orang yang datang ke tempat mereka itu dan keadilan pun dapat

ditegakkan. Setelah itu mereka diusir ketika Khalid bin Walid bertolak

ke Syam. Mereka itulah yang kini kembali lagi dengan kekuatan yang

akan membuat segala harapan pihak yang hendak mengusir mereka

sekali lagi menjadi porak poranda. Siapa lagi yang hendak mengusir

mereka sekarang setelah Rustum mati, sedang semangat dan moral

pasukan Persia semua sudah begitu lemah! Mereka tunduk kepada

takdir. Inilah ketentuan Allah yang sudah tak dapat dielakkan, dan tak

seorang pun mampu mengatasinya.

Burs (Borsippa atau Birs Nimrud) adalah sebuah belukar di dekat Babilon. Sebagian

sejarawan menamakannya Bi’ir Namrud. Bersumber dari Ahmad bin Hammad al-Kufi.

Balazuri mengatakan: “Belukar Burs terletak di depan bangunan tinggi Namrud di

Babilon. Di belukar itu ada sebuah jurang curam, konon itu sebuah sumur. Batu merah

bangunan itu digali dari tanahnya. Dikatakan juga mata air sumur itu terletak di tempat

tersebut.”  Sekarang Sa’d tinggal di Babilon, dan ia menugaskan Zuhrah bin

Hawiah berangkat lebih dulu memimpin angkatan bersenjata ke Mada’in.

Coba kita lihat, apakah puing-puing peninggalan Babilon itu dalam hati

Sa’d dan mereka yang datang ke sana membangkitkan kenangan pada

kota lama yang telah menjadi saksi berdirinya kebudayaan umat manusia

pertama, yang silih berganti dengan Thebes, Memphis dan dunia

Firaun dahulu kala?! Apakah mereka lalu teringat pada zaman Asiria

dengan peradabannya yang tinggi dan agung seperti Babilon, dengan

segala temboknya yang kukuh, rumah-rumah ibadah yang besar-besar,

dengan benteng-benteng perkasa dan taman-taman bergantung yang terkenal,

istana-istana besar, yang telah menjadi pelopor segala kemegahan

dan keindahan?! Sudah tentu mereka teringat pada Menara Babilon.

Mereka teringat pada bangsa-bangsa yang datang silih berganti ke sana,

sehingga jadi sangat terkenal karena banyaknya bahasa yang dipakai

orang yang datang ke sana, sebagai tawanan atau sebagai penakluk.

Tetapi apa yang mereka ingat tentang menara dan tentang kota itu

sendiri barangkali tidak lebih dari sekadar obrolan saat duduk-duduk di

waktu malam. Mereka masih terlalu sibuk dengan yang akan mereka

hadapi untuk membebaskan Mada’in. Mada’in kota yang makmur,

sedang Babilon hanya tinggal puing-puing. Mada’in ibu kota Persia,

sedang Babilon bukan lagi ibu kota, juga bukan lagi kota. Mada’in

adalah lambang kehidupan, sedang Babilon hanya bekas masa silam

yang sudah terhapus. Orang lebih tertarik pada masa kini, jarang orang

mau mengambil pelajaran dari masa lampau. Kebanyakan mereka mau

mengambil pelajaran dari wajah kehidupan yang dapat tersenyum. Tetapi

wajah itu juga muram. Lalu mereka teringat pada masa-masa silam,

kalau-kalau masih akan ada yang dapat mengobati luka-luka masa

sekarang. Hanya saja, selama itu wajah sejarah tetap tersenyum kepada

Muslimin. Apa hubungannya dengan Babilon dan Asiria yang kini hanya

tinggal bahan cerita, padahal di sekitar mereka kehidupan melimpah

dengan harta terpendam yang sangat berharga, bahkan ada bangsa, yang

begitu mendengar namanya saja sudah bergegas datang menyatakan

kesetiaannya, sambil memohonkan maaf dan pengampunan.

Bahkan dengan melihat Babilon itu, di antara mereka ada yang lalu

teringat pada peranan pasukan Muslimin di sana tatkala Musanna bin

Harisah bermarkas di ketinggian puing-puingnya, dan tinggal di antara

jaringan anak-anak Sungai Tigris, menunggu kedatangan Ormizd Jadhuweh

yang akan menyerangnya. Mereka teringat pada situasi yang sangat

kritis itu, yang datang tiba-tiba menyerang mereka setelah keberang

katan Khalid ke Syam dan Syahriran putra Ardasyir naik takhta Kisra

serta tekadnya hendak mengusir pasukan Arab dari negerinya. Teringat

mereka bagaimana Musanna membunuh gajah Ormizd serta bagaimana

pasukan Persia dipukul mundur dan pengejaran terhadap mereka sampai

ke dekat Mada’in. Mereka bercerita kepada rekan-rekan yang

datang bersama Sa’d dari Medinah dan yang bergabung kepadanya dari

berbagai pelosok Semenanjung —tentang yang mereka saksikan dari

semua itu. Diceritakan juga kepada mereka bahwa Sawad yang sedang

mereka lalui di sekitar danau-danau yang airnya melimpah, ladangladang

yang luas dan kebun-kebun dengan buah-buahan yang sudah

masak, sudah tunduk semua kepada kekuasaan mereka. Mereka makan

dari hasil bumi itu, dan buah-buahan yang masih dapat mereka kirim,

mereka kirimkan ke Medinah.

Babilon dan tempat-tempat lain yang dilalui pasukan Muslimin

adalah sebagian yang sudah mereka bebaskan dan di bawah perintah

mereka. Kadisiah di tangan mereka dan Hirah menjadi pusat pemerintahan

mereka. Burs, Kusi, kota-kota dan desa-desa lainnya^ sudah

tunduk kepada mereka. Yang menjadi sasaran mereka selanjutnya

adalah Mada’in. Sekarang mereka melalui tempat-tempat, yang bagi

kebanyakan mereka merupakan kenangan yang sangat menyenangkan

dan mengesankan. Tetapi perbedaan antara dulu dengan sekarang; dulu

mereka menetap dan sebagai yang berkuasa, dan sekarang merupakan

medan pembebasan baru. Mereka berpindah-pindah dari yang satu kepada

yang lain, ke kiri di sebelah timur Kadisiah ke arah Hirah, ke

Burs dan ke Babilon, dengan tuju’an Sabat dan Mada’in. Yang mereka

hadapi sekarang lebih ringan daripada yang sebelumnya, sesudah kekuatan

mereka berangsur menjadi lemah. Mereka yakin bahwa sudah

tak ada lagi tempat pelarian kecuali ke sana juga.

Zuhrah bin al-Hawiah dan Hasyim bin Utbah berangkat menuju

Mada’in. Setelah berada di dekat Bahrasir, di Sabat mereka dihadang

oleh kompi Boran putri Kisra. Setiap hari stafnya bersumpah, bahwa

selama mereka masih hidup Persia tidak akan hilang. Seekor singa yang

sudah dijinakkan oleh Kisra ikut bersama kompi itu. Tetapi bertahannya

kompi ini menghadapi pasukan Muslimin tidak lebih hanya seperti

bertahannya pasukan Persia di Burs dan Babilon. Bagaimana akan bertahan,

mereka sekarang melihat nasib singa itu sama seperti nasib pasukan

gajah dulu di Kadisiah! Hasyim bin Utbah melangkah maju dan

menghantamnya dengan pedangnya demikian rupa sehingga singa itu

tersungkur mati. Kompi itu langsung lari dan berlindung di Bahrasir.

Sa’d menyusul anak buahnya dan sudah mengetahui peranan mereka.

la mencium kepala Hasyim — kemenakannya — sebagai tanda

kagum atas usahanya membunuh singa itu, dan Hasyim pun mencium

kaki pamannya sebagai penghargaan atas simpatinya. Kemudian Sa’d

mengangkat kepalanya ke atas sebagai tanda syukur kepada Allah dan

setelah itu ia mengarahkan pandangnya ke arah Mada’in seraya membaca

firman Allah: “Bukankah sebelumnya kamu sudah bersumpah bahwa kamu tidak

akan tergelincir binasa?” (Qur’an, 14: 44).

Malam itu Sa’d sedang memikirkan posisinya dalam menghadapi

Mada’in. Akan diserangnyakah bersama pasukannya yang sekarang

masih riang gembira dimabuk kemenangan, dan mereka memang ingin

sekali menyerbunya? Atau akan membiarkan mereka beristirahat selama

beberapa hari kemudian berangkat bersama ke sana? Kota itu sudah

dekat. Kalau dia berhenti hanya sampai di situ, tindakannya ini akan

menggoda pihak Mada’in untuk mempertahankannya. Jadi lebih baik

diserbu dengan mendadak. Oleh karena itu ia memerintahkan pasukannya

— bila malam sudah sunyi — supaya berangkat dan bermarkas di

Bahrasir. Bahrasir adalah daerah pinggiran kota Mada’in, di tepi Sungai

Tigris ke sebelah kanan, sedang Mada’in berhadapan di tepi sebelah

kirinya. Jadi termasuk bagiannya, hanya dipisahkan oleh sungai. Letak

Mada’in sekitar dua puluh mil di selatan Bagdad, yang ketika itu

merupakan sebuah desa yang tidak berbeda dengan desa-desa lain di

bagian Sungai Tigris. Sejak lama di masa silam Mada’in sudah merupakan ibu kota Iran

menggantikan Babilon, bahkan kemudian melebihinya dari segi keindahan,

kemegahan dan keagungannya. Kendati sudah berulang kali menjadi

sasaran serbuan Rumawi dan sudah sering pula jatuh ke tangannya —

di samping istananya yang selalu kacau dan terjadi beberapa kali pergolakan

— namun kemegahan dan keindahannya tidak berubah. Oleh

karena itu mata dunia banyak tertuju ke sana. Namanya pun sudah begitu

merangsang imajinasi semua orang, membangkitkan segala rasa kagum dan

pesona, yang tidak demikian dengan nama Roma atau Konstantinopel.

Di sinilah bertemunya segala arti kemegahan dan kemewahan Timur

dalam bentuknya yang paling indah dan paling banyak diilhami oleh

dewa-dewa kesenian dan kepenyairan. Kalau begitu, tidak heran pasukan

Muslimin yang bertolak ke sana semua membawa kerinduan ingin

menyaksikannya, menyaksikan hal-hal yang tak pernah terlihat oleh

mata, tak pernah terdengar oleh telinga. Memang tidak heran kalau

gambaran ini menambah semangat dan keberanian mereka untuk menjadikan

apa yang tadinya dikira khayal itu kini menjelma di depannya

sebagai suatu kenyataan.

Kota Bahrasir dikepung

Sa’d membawa pasukannya menuju Bahrasir dengan semangat

yang masih membara pada pasukan itu. Setiap kuda mereka melangkah

maju mereka berhenti kemudian bertakbir berulang kali. Tetapi melihat

pihak kota yang bertahan demikian ketat dengan memperkuat diri dan

tembok-tembok kota ditutup rapat, maka tak mungkin mereka dapat

menyerang. Maka satu-satunya jalan hanyalah dengan mengepungnya.

Sa’d segera mengepung kota itu tanpa ada rasa takut ada yang

akan menyergapnya dari belakang. la menyebarkan pasukan berkudanya

dan menyerang beberapa bagian di Furat dan Tigris. Mereka dapat

menyekap seribu petani dan membawa mereka sebagai tawanan. Mereka

menggali parit di sekitar mereka. Tetapi petani-petani itu bukan tentara

yang biasa berperang, jadi tak ada faedahnya menawan mereka, juga

tidak berbahaya kalau dibebaskan. Atas saran Syirzad — seorang penguasa

Persia atau dihkan Sabat — kepada Sa’d mereka dikembalikan

ke desa untuk kembali mengolah tanah dan memperbanyak hasil buminya.

Sa’d melaporkan segala tindakannya itu kepada Umar, dan Khalifah

pun menyetujui saran Syirzad. Dengan demikian penduduk Sawad

di sekitar tepi Sungai Tigris sampai ke daratan Arab merasa aman. Di

sana mereka mengolah tanah. Para penguasa Persia itu membayar pajak

(kharaj) dan jizyah sementara para petani itu sudah merasa makin

aman. Sa’d meneruskan pengepungan atas kota Bahrasir tanpa merasa

khawatir akan disergap dari belakang, juga bahan makanan pasukannya

sudah tak perlu dikhawatirkan.

Pasukan Muslimin kemudian menghujani bagian dalam tembok

kota Bahrasir dengan manjanik (manjaniq)1 Tetapi pihak Persia tidak

akan menjadi lemah karena gencarnya serangan itu. Mereka yakin,

walaupun musuh tidak diusir dari kota mereka, namun sudah tampak

betapa kuatnya ibu kota itu. Mempertahankan Bahrasir memang tidak

sulit. Tembok-tembok yang kuat dengan benteng-benteng yang begitu

kukuh dan jembatan Tigris yang menghubungkan Mada’in, bala bantuan

dan bahan makanan yang tak terbilang banyaknya, dapat didatangkan

dari segenap penjuru Persia yang terbentang luas. Oleh karena itu

mereka bertahan terhadap pengepungan itu selama berbulan-bulan.

Dalam hal ini para sejarawan berbeda pendapat, antara sembilan atau

delapan belas bulan. Selama pengepungan itu berlangsung angkatan

bersenjata mereka adakalanya sampai keluar dari batas tembok, menyerang

pasukan Muslimin dengan harapan kalau-kalau mereka mengalami

kekalahan dan dapat dipukul mundur. Tetapi yang terjadi kebalikannya,

dalam menghadapi angkatan bersenjata itu pasukan Muslimin di pihak

yang menang dan mereka dapat dipukul mundur kembali ke kota dan

berlindung lagi di balik tembok-tembok, dengan membawa malu yang

sudah tercoreng di dahi.

Sesudah pengepungan berlangsung cukup lama dan segala yang

menimpa pihak pasukan mereka terasa makin berat, satu pasukan dari

angkatan bersenjatanya yang paling dapat dipercaya dikirim ke luar.

Tetapi pasukan ini pun dipukul mundur dan kembali ke kota. Kekalahan

ini mematahkan semangat pasukan Persia dan timbul rasa takut

dalam hati mereka bahwa pasukan Muslimin memang tak dapat dikalahkan.

Berita-berita pengepungan dan pertempuran itu setiap hari — bahkan

setiap saat — sampai juga kepada Yazdigird. Ia diliputi rasa kesal,

bahkan hampir putus asa. Di samping pengepungan yang sudah terlalu

lama, mereka juga melihat pihak Muslimin selama berbulan-bulan bukan

makin lemah, malah yang terlihat kekayaan Irak berupa timbunan

makanan yang setinggi gunung sudah ada di belakang mereka. Kemudian

di pihak pasukan Persia sendiri sudah tampak makin rapuh dan

semangat mereka makin menurun. Diyakininya bahwa tak mustahil

Bahrasir akan jatuh ke tangan musuh. Ketika itulah ia mengutus orang

kepada Sa’d menawarkan langkah perdamaian bahwa Tigris akan

dijadikan batas pemisah dengan pihak pasukan Muslimin, “Dari batas

Tigris ke arah kami milik kami dan dari batas Tigris ke arah kalian

milik kalian.” Tetapi Sa’d menolak ajakan perdamaian Yazdigird itu

dan utusannya disuruh kembali pulang. Bagaimana akan mengadakan

perdamaian sedang perintah Umar sudah jelas sekali untuk membebas228

UMAR BIN KHATTAB

kan Mada’in. Bagaimana akan mengajaknya damai sesudah pasukannya

dapat mengalahkan Bahrasir dan menawan sebagian pasukannya, dan

sekarang mereka sudah siap menyerbu tembok-tembok itu!

Belum lagi utusan itu tiba untuk melapor kepada Yazdigird tentang

penolakan itu, Sa’d bin Abi Waqqas sudah memerintahkan pasukannya

mengadakan pengepungan yang lebih ketat dan pelemparan dengan

manjanik dilipatgandakan. Semua lemparan itu tidak mendapat perlawanan

dari pihak Bahrasir. Sa’d yakin bahwa garnisun sudah dikosongkan.

Sa’d memanggil dan memerintahkan pasukannya menyerbu. Anak

buahnya segera memanjati tembok-tembok dan membukai pintu-pintu

gerbang, tetapi tak ada perlawanan, juga tak ada orang yang tampak

keluar kecuali seorang laki-laki menyerukan keamanan dan dari orang

ini kemudian diketahui bahwa garnisun Bahrasir memang sudah dipindahkan

ke Mada’in atas perintah Yazdigird, dan bahwa jembatannya

sudah dibakar dan mengumpulkan semua kapal yang berlayar di Sungai

Tigris, dengan tujuan agar arus sungai yang bergolak itu tetap menjadi

garis pertahanan untuk mengusir para penyerang dari ibu kota yang

makmur itu.

Perjalanan ke Mada’in

Tengah malam pasukan Muslimin sudah memasuki kota Bahrasir.

Tak ada yang merintangi mereka untuk cepat-cepat pergi ke arah Tigris

untuk menyeberang dan menyerbu Mada’in serta daerah-daerah sekitarnya.

Tetapi jembatan untuk penyeberangan sudah tak ada lagi, juga tak

ada kapal yang dapat membawa mereka. Mereka berhenti di tepi

sungai. Pemandangan yang mereka lihat di depannya sungguh memukau.

Mereka hanya berdiri tercengang, melihat semua itu dengan

mata terbelalak, dengan hati bergolak, hampir tidak percaya apa yang

sedang mereka saksikan di depan mereka itu: Sebuah bangunan besar

yang sungguh indah, megah dan mewah, berdiri di depan mereka di

seberang pantai dengan ketinggian yang tak biasa buat mata mereka,

tampak ciri warna putih, kendati dalam malam gelap pekat. Malam

terasa lembut, langit bersih dan angin bertiup semilir sedap menambah

kelembutan malam dan pemandangan yang begitu indah dan agung.

Pasukan itu menahan napas, mata terbelalak, mulut ternganga, karena

perasaan yang sudah dikuasai

About admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement