Muharram, Hijrah,dengan Pengorbanan Dan Perubahan

Tahunan 1442 H udah berlalu. Kami sekarang berada di th baru 1443 H. Beraneka situasi duka berlangsung sepanjang tahunan lalu. Pandemi udah terjadi dua th. Krisis ekonomi makin memicu kehidupan negeri terpuruk. Korupsi tetap merajalela. Bermacam penistaan pada ajaran Islam dan juga ketidakadilan hukum konsisten  ditimpakan kepada tokoh-tokoh umat. Sebab tersebut besar asa dan keinginan umat supaya moment hijrah mampu mengubah kondisi negeri ini menuju situasi yang lebih islami, berada di jalan yang diridhai Allah Swt.

Keyakinan dan Pengorbanan

Peristiwa hijrah Nabi saw. bersama para sahabat beliau dari Makkah ke Madinah disepakati sebagai awal penanggalan kalender Hijrah atas usul Khalifah Umar bin al-Khaththab ra. Hal ini dicatat oleh Ibnu al-Jauziy dalam kitabnya, Al-Muntazham fi Tarikh al-Muluk wa al-Umam (4/227).

Dengan menelaah Sirah Nabi saw., siapapun akan paham bahwa hijrah Nabi saw. dan para sahabat adalah peristiwa besar, bahkan menjadi tonggak tegaknya Islam di muka bumi. Melalui hijrah, Islam menjadi kekuatan besar yang menebarkan rahmat ke seluruh umat manusia. Berbeda dengan sebelumnya, selama 13 tahun di Makkah, dakwah Islam menemui kesukaran bahkan jalan buntu. Caci-maki hingga penganiayaan dialami Rasulullah saw. dan para sahabat. Hal ini yang sempat membuat Rasulullah saw. berduka hingga turun ayat yang menghibur beliau:

وَلَقَدْ كُذِّبَتْ رُسُلٌ مِنْ قَبْلِكَ فَصَبَرُوا عَلَى مَا كُذِّبُوا وَأُوذُوا حَتَّى أَتَاهُمْ نَصْرُنَا وَلَا مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِ اللَّهِ وَلَقَدْ جَاءَكَ مِنْ نَبَإِ الْمُرْسَلِينَ

Sungguh telah didustakan pula para rasul sebelum kamu. Lalu mereka sabar atas pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka sampai datang pertolongan Allah kepada mereka. Tak ada seorang pun yang dapat mengubah kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Sungguh telah datang kepadamu sebagian dari berita para rasul itu (TQS al-An’am [6]: 34).

Imam Ibnu Katsir menerangkan: “Ayat ini merupakan hiburan bagi hati Nabi Muhammad saw., ungkapan dukungan kepada beliau dalam menghadapi orang-orang yang mendustakan beliau dari kalangan kaum beliau, serta perintah kepada beliau agar bersabar sebagaimana sikap sabar ulul ‘azmi dari kalangan para rasul terdahulu. Ayat ini pun mengandung janji Allah kepada Nabi-Nya bahwa Dia akan menolong dirinya sebagaimana Dia telah menolong para rasul terdahulu, kemudian mereka memperoleh kemenangan. Pada akhirnya akibat yang baik diperoleh para rasul sesudah mereka mengalami pendustaan dan gangguan dari kaumnya masing-masing. Setelah itu datanglah kepada mereka pertolongan dan kemenangan di dunia dan di akhirat.” (Tafsir Ibnu Katsir, 3/252).

Hijrah adalah pengorbanan. Selain harus menempuh perjalanan yang berat dengan jarak lebih dari 400 km, kaum Muslim menghadapi dua ujian dalam berhijrah. Pertama: Ujian keimanan. Mereka harus meninggalkan negeri asal mereka, harta benda, tempat tinggal bahkan keluarga mereka. Mereka berpindah ke negeri yang di sana tak ada sanak kerabat. Mereka pun tidak dijanjikan akan mendapat tempat tinggal baru atau mata pencaharian baru sebagai ganti harta yang mereka tinggalkan. Hanya bermodalkan keyakinan pertolongan Allah SWT mereka berhijrah. Allah SWT pun memberikan pujian dan pahala berlimpah kepada kaum Muhajirin.

وَالَّذِينَ هَاجَرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ ثُمَّ قُتِلُوا أَوْ مَاتُوا لَيَرْزُقَنَّهُمُ اللَّهُ رِزْقًا حَسَنًا وَإِنَّ اللَّهَ لَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ

Orang-orang yang berhijrah di jalan Allah, kemudian mereka dibunuh atau mati, benar-benar Allah akan memberi mereka rezeki yang baik (surga). Sungguh Allah adalah sebaik-baik Pemberi rezeki (TQS al-Hajj [2]: 58).

Kedua: Kaum Muslim yang berhijrah juga menghadapi ujian pengorbanan dan penentangan dari kaumnya. Zainab binti Rasulullah saw., misalnya. Ia harus rela berpisah dengan suaminya, Abu al-Ash bin Rabi, yang masih musyrik dan menolak ikut berhijrah. Keluarga suaminya juga menghadang Zainab yang tengah hamil empat bulan hingga dirinya terjatuh dan mengalami keguguran. Setelah pulih dari lukanya, Zainab kembali berangkat berhijrah meninggalkan suaminya.

Sahabat lain, Suhaib ar-Rumiy ra., sebagaimana dikisahkan oleh Ibnu Katsir (Tafsir Ibnu Katsir, 1/421), mengorbankan harta yang dia bawa dari rumahnya untuk diberikan kepada kaum musyrik yang menghadang dirinya di perjalanan ketimbang ia kembali ke Makkah. Setibanya di Madinah dan ia menceritakan peristiwa yang ia alami, termasuk harta yang ia berikan kepada para penghadangnya, Rasulullah saw. memuji dirinya, “Beruntunglah perdagangan Suhaib!” Dua kali pujian itu diulang Nabi saw. Kemudian turunlah firman Allah SWT:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْرِي نَفْسَهُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ وَاللَّهُ رَءُوفٌ بِالْعِبَادِ

Di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari ridha Allah. Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya (TQS al-Baqarah [2]: 207).

Perubahan Kekuatan

Momen hijrah Nabi saw. bersama dengan para sahabat beliau berasal dari Makkah ke Madinah disepakati sebagai awal almanak kalender Hijrah atas usul Khalifah Umar bin al-khaththab ra. Hal ini dicatat oleh Ibnu al-jauziy di dalam kitabnya, Al-Muntazham fi Tarikh al-muluk wa al-umam (4/227).

Dengan menelaah Sirah Nabi saw., siapapun akan mengerti bahwa hijrah Nabi saw. dan para sahabat adalah momen besar, lebih-lebih jadi tonggak tegaknya Islam di muka bumi. Lewat hijrah, Islam jadi daya besar yang menebarkan rahmat ke semua umat manusia. Berbeda dengan sebelumnya, selama 13 year di Makkah, dakwah Islam menemui kesukaran lebih-lebih jalan buntu. Caci-Maki sampai penganiayaan dialami Rasulullah saw. dan para sahabat. Hal ini yang sempat sebabkan Rasulullah saw. berduka sampai turun ayat yang menghibur beliau:

وَلَقَدْ كُذِّبَتْ رُسُلٌ مِنْ قَبْلِكَ فَصَبَرُوا عَلَى مَا كُذِّبُوا وَأُوذُوا حَتَّى أَتَاهُمْ نَصْرُنَا وَلَا مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِ اللَّهِ وَلَقَدْ جَاءَكَ مِنْ نَبَإِ الْمُرْسَلِينَ

Sungguh sudah didustakan pula para rasul sebelum anda. Lalu mereka sabar atas pendustaan dan penganiayaan (Yang dilaksanakan) pada mereka hingga mampir bantuan Allah kepada mereka. Tak ada seorang pun yang mampu mengubah kalimat-kalimat (Janji-Janji) Allah. Sungguh sudah mampir kepadamu lebih dari satu berasal dari kabar para rasul tersebut (Tqs al-an’am [6]: 34).

Imam Ibnu Katsir menerangkan: “Ayat ini merupakan hiburan bagi hati Nabi Muhammad saw., ungkapan bantuan kepada beliau didalam menghadapi orang-orang yang mendustakan beliau berasal dari kalangan kaum beliau, dan juga perintah kepada beliau supaya bersabar sebagaimana sikap sabar ulul ‘Azmi berasal dari kalangan para rasul terdahulu. Ayat ini pun memiliki kandungan janji Allah kepada Nabi-Nya bahwa Dia akan mendukung dirinya sebagaimana Dia sudah mendukung para rasul terdahulu, sesudah itu mereka meraih kemenangan. Pada kelanjutannya implikasi yang baik diperoleh para rasul sehabis mereka mengalami pendustaan dan gangguan berasal dari kaumnya masing-masing. Sehabis tersebut datanglah kepada mereka bantuan dan kemenangan di global dan di akhirat.” (Tafsir Ibnu Katsir, 3/252).

Hijrah adalah pengorbanan. Tak sekedar kudu menempuh perjalanan yang berat dengan jeda lebih berasal dari 400 km, kaum Muslim menghadapi dua ujian di dalam berhijrah. Pertama: Ujian keimanan. Mereka perlu meninggalkan negeri asal mereka, harta benda, daerah tinggal apalagi keluarga mereka. Mereka berpindah ke negeri yang di sana tak ada sanak kerabat. Mereka pun tidak dijanjikan akan mendapat area tinggal baru atau mata pencaharian baru sebagai ganti harta yang mereka tinggalkan. Hanyalah bermodalkan keyakinan perlindungan Allah SWT mereka berhijrah. Allah SWT pun mengimbuhkan pujian dan pahala tak terhitung kepada kaum Muhajirin.

وَالَّذِينَ هَاجَرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ ثُمَّ قُتِلُوا أَوْ مَاتُوا لَيَرْزُقَنَّهُمُ اللَّهُ رِزْقًا حَسَنًا وَإِنَّ اللَّهَ لَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ

Orang-Orang yang berhijrah di jalan Allah, lantas mereka dibunuh atau mati, sahih-sahih Allah akan memberi mereka rezeki yang baik (Surga). Sungguh Allah adalah sebaik-baik Pemberi rezeki (Tqs al-hajj [2]: 58).

Kedua: Kaum Muslim yang berhijrah juga menghadapi ujian pengorbanan dan penentangan berasal dari kaumnya. Zainab binti Rasulullah saw., misalnya. Ia kudu rela berpisah dengan suaminya, Abu al-ash bin Rabi, yang masih musyrik dan menampik ikut berhijrah. Keluarga suaminya juga menghadang Zainab yang sedang hamil empat bulan sampai dirinya terjatuh dan mengalami keguguran. Sesudah pulih berasal dari lukanya, Zainab lagi berangkat berhijrah meninggalkan suaminya.

Sahabat lain, Suhaib ar-rumiy ra., sebagaimana dikisahkan oleh Ibnu Katsir (Tafsir Ibnu Katsir, 1/421), mengorbankan harta yang dia bawa berasal dari rumahnya untuk diberikan kepada kaum musyrik yang menghadang dirinya di perjalanan ketimbang ia lagi ke Makkah. Setibanya di Madinah dan ia menceritakan moment yang ia alami, terhitung harta yang ia berikan kepada para penghadangnya, Rasulullah saw. memuji dirinya, “Beruntunglah perdagangan Suhaib!” Dua kali pujian tersebut diulang Nabi saw. Sesudah itu turunlah firman Allah Swt:
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْرِي نَفْسَهُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ وَاللَّهُ رَءُوفٌ بِالْعِبَادِ

Di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya sebab melacak ridha Allah. Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-nya (Tqs al-baqarah [2]: 207).

Hijrah Nabi saw. ke Madinah bukanlah karena beliau ingin menghindar dari kesulitan demi kesulitan yang menghadang dakwah beliau selama di Makkah. Hijrah juga bukan karena Rasulullah saw. sudah tidak bisa bersabar lagi menghadapi rintangan dakwah. Namun, beliau menyadari bahwa masyarakat Makkah berpikiran dangkal, bebal dan berkubang dalam kesesatan. Karena itu beliau melihat bahwa dakwah harus dialihkan dari kondisi masyarakat semacam ini ke kondisi masyarakat yang kondusif dan siap menerima Islam.

Allah SWT lalu memberikan pertolongan dengan kedatangan orang-orang suku Aus dan Khazraj dari Yatsrib (Madinah). Dua kabilah ini terkenal dengan kekuatan mereka karena terbiasa berperang. Negeri mereka pun memiliki posisi geostrategis yang luar biasa. Terletak di jalur perdagangan antara Makkah dan Syam. Hal ini   mencemaskan orang-orang Quraisy seandainya Rasulullah saw. berkuasa di Madinah.

Madinah juga memiliki lahan yang lebih subur ketimbang Makkah karena terletak di antara dua tanah vulkanik; al-Wabarah di Barat, Waqim di Timur, Uhud dan Sil’u di Utara, serta gunung Ir di Barat Daya. Selain memberikan kesuburan, posisi Madinah yang demikian secara militer membuat wilayah ini sulit untuk diterobos dan diserbu musuh.

Ini disadari oleh kaum musyrik Quraisy. Mereka mencemaskan Islam menjadi kekuatan besar yang bisa mengalahkan mereka. Karena itu mereka berusaha keras menghadang hijrah kaum Muslim, khususnya Rasulullah saw. Namun, dengan izin Allah, beliau dapat menerobos kepungan orang-orang kafir Quraisy dan lolos dari kejaran mereka hingga beliau tiba di Madinah.

Setiba di Madinah, Rasulullah saw. melakukan sejumlah langkah untuk membangun kekuatan dalam wujud Negara Islam pertama di dunia yang kokoh. Pertama: Rasulullah saw. berhasil menyatukan suku Aus dan Khazraj yang bermusuhan. Beliau juga mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar.

Kedua: Rasulullah saw. mengikat seluruh pihak di Madinah dan sekitarnya, seperti kaum musyrik dan Yahudi, dengan Piagam Madinah. Tujuannya, antara lain, agar eksistensi Negara Islam yang dibangun tidak digoyahkan oleh siapapun. Semua terikat dengan Piagam Madinah untuk saling menjaga dan melindungi. Mereka tidak boleh bersekutu dengan musuh untuk menyerang satu sama lain. Semua pihak setuju untuk tunduk pada hukum-hukum Islam (Lihat: Piagam Madinah, Klausul no. 45).

Ketiga: Rasulullah saw. menyusun struktur pemerintahan Islam di Madinah dan menjalankan syariah Islam secara kaffah di sana. Abu Bakar dan Umar bin al-Khattab ra. diangkat sebagai mu’awin atau pembantu beliau dalam pemerintahan. Nabi saw. bersabda:

وَزِيرَايَ مِن السَّمَاء جِبْرِيل وَ مِيكَائِيل وَ مِن أَهْلِ الأَرْضِ أَبُو بَكر وَ عُمَر

Pembantuku dari langit adalah Jibril dan Mikail, sementara  pembantuku dari penduduk bumi adalah Abu Bakar dan Umar (HR al-Hakim dan Tirmidzi).

Rasulullah saw. mengangkat Qais bin Saad sebagai pimpinan Kepolisian sebagaimana diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari. Beliau juga mengangkat sejumlah sahabat sebagai komandan pasukan untuk ekspedisi militer jihad fi sabilillah.

Dakwah Islam dan jihad fi sabilillah pun dilakukan oleh Rasulullah saw. selama hidup di Madinah. Beliau antara lain memimpin Penaklukan Makkah pada tanggal 17 Ramadhan 8 H dengan mengerahkan 10 ribu tentara kaum Muslim. Saat Rasulullah saw. wafat, seluruh Jazirah Arab telah masuk ke dalam kekuasaan kaum Muslim (Negara Islam). Ekspansi Islam ini diteruskan oleh Khulafa ar-Rasyidin, lalu oleh para khalifah berikutnya.

Wahai kaum Muslim! Peristiwa hijrah telah memberikan keteladanan dan pelajaran penting. Betapa perubahan masyarakat menuju tatanan yang penuh rahmat dan keadilan tidak mungkin terjadi tanpa Islam. Perubahan tersebut tak mungkin terjadi tanpa pengorbanan. Kaum Muslim generasi awal telah mencontohkan bahwa kemenangan dan perubahan besar itu hanya bisa karena  pengorbanan yang besar di jalan Allah. Semoga kita bisa mengikuti jejak mereka. Aamiin. WalLahu a’lam. []

Buletin Dakwah Kaffah No. 205 (04 Muharram 1443 H/13 Agustus 2021)

Content retrieved from: https://fikroh.com/muharram-hijrah-pengorbanan-dan/.

Please rate this

About Galih semar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *