Mengenal Imam Utsman Ad-Darimiy, Benarkah Ia Mujasim?

Mengenal Imam Utsman Ad-Darimiy, Benarkah Ia Mujasim?

Fikroh.comBelakangan muncul beberapa tulisan yang memuat aqidah Imam Ad-Darimiy dari beberapa dai di Indonesia. Lantas siapa sebenarnya Imam Ad-Darimiy? Benarkah akidahnya mujasim?

Imam Utsman bin Sa’id Ad-Darimiy الإمام أبو سعيد عثمان بن سعيد الدارمي  mari kita sedikit mengenal tentang beliau.

Imam Tajud-Din Abdul-Wahhab As-Subkiy Asy-Syafi’iy Al-Asy’ariy dalam “Thabaqatusy-Syafi’iyyah Al-Kubra: juz 2/ hal. 304-306“, menyebutkan tentang biografi Imam Utsman bin Sa’id Ad-Darimiy, beliau berkata :

محدث هراة وأحد الأعلام الثقات… قال العبادي : الإمام في الحديث والفقه، أخذ الأدب عن ابن الأعرابي، والفقه عن البويطي، والحديث عن يحيى بن معين. قلت (السبكي) : كان الدارمي واسع الرحلة طوف الأقاليم ولقي الكبار، سمع أبا اليمان الحمصي ويحيى الوحاظي وحيوة بن شريح بحمص، وسعيد بن أبي مريم وعبد الغفار بن داود الحراني، ونعيم بن حماد بمصر، وهشام بن عمار بدمشق.

Ahli Hadits dari kota Harah dan salah seorang ulama yang tsiqah. Al-Abbadiy berkata : Beliau adalah imam dalam Hadits dan Fiqh, belajar Adab Arab dari Ibnul-A’rabiy, belajar Fiqh dari Al-Buwaithiy (murid Imam Asy-Syafi’iy) dan belajar Hadits dari Yahya bin Ma’in.

Aku (As-Subkiy) berkata : Ad-Darimiy luas rihlah nya dan mengelilingi negeri-negeri dan bertemu para ulama besar, ia mendengar dan belajar dari Abul-Yaman Al-Hismshiy, Yahya Al-Wuhazhiy dan Haywah bin Syuraih di kota Himsh. Belajar dari Sa’id bin Abi Maryam, Abdul-Ghaffar bin Dawud Al-Harraniy dan Nu’aim bin Hammad di Mesir. Belajar dari Hisyam bin ‘Ammar di Damaskus.

ومن مشايخه في الحديث أحمد بن حنبل وعلي بن المديني وإسحاق بن راهويه ويحيى بن معين وشيخه في الفقه البويطي.

Di antara Masyaikh nya dalam Ilmu Hadits adalah Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Ali Ibnul-Madiniy, Imam Ishaq bin Rahawih dan Imam Yahya bin Ma’in. Dan Syaikh nya dalam Fiqh adalah Imam Al-Buwaithiy.

للدارمي كتاب في الرد على الجهمية وكتاب في الرد على بشر المريسي ومسند كبير. وهو الذي قام على محمد بن كرّام الذي تنسب إليه الكرامية وطردوه عن هراة. وكان من خبر ابن كرّام هذا، وهو شيخ سجستاني مجسّم أنه سمع يسيرا من الحديث ونشأ بسجستان ثم دخل خراسان وأكثر الاختلاف إلى أحمد بن حرب الزاهد ثم جاور مكة خمس سنين ثم ورد نيسابور وانصرف منها إلى سجستان وباع ما كان يملكه وعاد إلى نيسابور وباح بالتجسيم.

As-Subkiy melanjutkan : “Ad-Daarimiy memiliki kitab” Ar-Radd alal Jahmiyyah “, kitab “Ar-Radd ala Bisyr Al-Marisiy” dan “Musnad Kabir. Dan dia lah yang melawan Muhammad bin Karram yang firqah dinisbatkan kepadanya lalu manusia mengusirnya dari kota Harah.

Di antara kisah Muhammad bin Karram ini, ia adalah syaikh dari Sijistan MUJASSIM, ia mendengar sedikit hadits dan tumbuh di Sijistan, kemudian masuk ke daerah Khurasan dan sering mendatangi majlis Ahmad bin Harb Az-Zahid. Kemudian ia tinggal di Mekkah selama 5 tahun, lalu memasuki kota Naisabur, lalu pergi dari Naisabur ke Sijistan dan menjual semua harta yang ia miliki disana dan kembali ke Naisabur dan menyebarkan pemahaman TAJSIM… (Thabaqatusy-Syafi’iyyah Al-Kubra : 2/304 – 306)

Lalu Imam As-Subkiy lanjut mengkisahkan tentang Muhammad bin Karram ini, baik dari kalam beliau dan nukilan dari Imam Al-Hakim dll. Kalaulah ingin menyematkan tuduhan tajsim maka ini adalah waktu dan posisi yang tepat bagi As-Subkiy, namun bolak-balik alfaqir baca sematan tajsim hanya ada pada Muhammad bin Karram, tidak pada Imam Utsman bin Sa’id Ad-Darimiy. Tidak pula ada komentar pedas dari As-Subkiy terhadap kitab-kitab Imam Ad-Darimiy. 

Mari kita singgung sedikit tentang kitab beliau, sebenarnya beliau memiliki banyak karya, namun karyanya yang bikin sebagian manusia ‘kepanasan’ adalah kitab “Naqdh Utsman bin Sa’id Ad-Darimiy ala Bisyr Al-Marisiy Al-‘Aniid fima iftara’ alallahi fit-Tauhid”. 

Imam Utsman bin Sa’id Ad-Darimiy berkata di muqaddimah kitab tersebut:

“Ada seseorang di antara kalian (orang di zaman beliau) yang membantah mazhab kami (Ulama Ahlul-Hadits) dalam mengingkari firqah Jahmiyyah, bahkan ada yang maju di antara mereka (pembela Jahmiyyah) yang membatalkan apa yang kami riwayatkan dari Rasulullah صلى الله عليه وسلم dan dari para Sahabatnya hanya dengan penafsiran-penafsiran orang sesat Al-Marisiy, Bisyr bin Ghiyats Al-Jahmiy.

…Orang ini (di zaman beliau) berpegang dengan kalam Bisyr, orang yang dikenal dengan sebutan yang buruk di tengah kaum muslimin, tersingkap kesesatannya di setiap kota. (Oleh karena itu beliau mengarang kitabnya berdasarkan kalam Bisyr) agar lebih memudahkan bagi kami terhadap orang yang membantah ini dan lebih mengena di hati mereka untuk menerima kebenaran.

Orang yang membantah ini dalam kitabnya menyembunyikan nama Bisyr dan memang patut ia seperti itu dan ia menyebarkannya kepada manusia secara sembunyi (mazhab Bisyr tsb) sehingga tidak ada yang menyadarinya kecuali orang-orang yang memiliki keilmuan, walaupun kadang orang ini kadang menyebut nama “Al-Marisiy” secara jelas… Dan cukuplah kerugian bagi seseorang jika imam nya dalam mentauhidkan Allah adalah Bisyr Al-Marisiy, orang yang menyimpang dalam Bab Asma Allah, pendusta lagi penafi Sifat-sifat Allah dan seorang jahmiy.”

(Muqaddimah Naqdh Utsman bin Sa’id Ad-Darimiy alal-Marisiy Al-‘Aniid fima iftara alallahi minat-Tauhid: hal. 41)

Demikian kutipan kalam beliau dalam muqaddimah kitabnya tersebut.

Pada hakikatnya, sebenarnya Imam Ad-Darimiy tidak punya masalah dengan Asya’irah, Maturidiyyah ataupun firqah-firqah yang baru lahir setelah tahun 300 H, bagaimana mungkin beliau punya masalah dengan mereka sedangkan beliau wafat tahun 280 H sedangkan Imam Abul-Hasan Al-Asy’ariy tahun segitu masih bergumul dengan aqidah Mu’tazilah dan belum mematenkan aqidah Asya’irah versi “Al-Luma’ yang lebih diagungkan oleh Asya’irah atau versi kitab “Al-Ibanah” yang lebih dihormati oleh Atsariyyah dan beliau wafat tahun 324 H, dan belumlah pula menyebar mazhab beliau. 

Lantas mengapa Imam Ad-Darimiy selalu jadi tujuan cacian, tuduhan tajsim dan semacamnya? Barangkali alasannya adalah sebagaimana yang diungkapkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam “Al-Hamawiyyah” :

“Takwil-takwil yang ada pada hari ini, seperti kebanyakan takwil yang disebutkan oleh Ibnu Furak dalam kitabnya “At-Ta’wilaat” dan (takwil-takwil) yang disebutkan oleh Abu Abdillah Muhammad bin Umar Ar-Raziy dalam kitabnya “Ta’siisut-Taqdiis” dan takwil-takwil yang banyak tersebut yang juga ada pada Abu ‘Ali Al-Jubba’iy, Abdul-Jabbar Al-Hamdaniy, Abul-Hasan Al-Bashriy, Abul-Wafa Ibnu Aqil (Al-Hanbaliy), Abu Hamid Al-Ghazaliy dan yang selain mereka PADA HAKIKATNYA ITU ADALAH TAKWIL-TAKWIL BISYR AL-MARISIY yang ia sebutkan dalam kitabnya. Walaupun nyatanya ada pada sebagian kalam ulama yang telah disebutkan tadi bantahan kepada takwil-takwil dan mereka (para ulama) masih memiliki kalam yang bagus pada ilmu-ilmu yang lain”. (Ar-Risalah Al-Hamawiyyah Al-Kubra: hal. 35, cet Darul-Atsar) 

Jadi alasannya adalah : Bantahan Imam Ad-Darimiy dalam “Naqdh” nya yang sebenarnya tertuju kepada takwilan-takwilan Bisyr Al-Marisiy Al-Jahmiy dan pengikutnya di zaman beliau (sekitar tahun 260-280 H) ternyata mengena juga kepada generasi setelah Imam Ad-Darimiy yang juga mengadopsi takwilan yang sama terhadap dalil-dalil Sifat Allah, seperti sebagian nama yang disebutkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, Wallahu a’lam. 

Sebenarnya alfaqir agak males ya bahas beginian dan sebetulnya lebih bermanfaat bagi yang Atsariyyah silakan pelajari kitab-kitab Aqidah Atsariyyah terutama yang genre “As-Sunnah” dan “Ar-Radd alal Jahmiyyah” namun hindari ucapan-ucapan mubalaghah yang itu tidak terkandung dalam atsar, seperti sebagian ungkapan Imam Ad-Darimiy atau ungkapan Imam Ibnu Khuzaimah ketika masuk tafshil Shawt (Suara) Allah bahkan tafsir Hadits penciptaan Nabi Adam عليه السلام. 

Bagi yang Asya’irah hendaknya anda tidak perlu sensi ke Imam Ad-Darimiy, toh sebenarnya beliau sedang tidak bantah Asya’irah, namun ada baiknya coba silakan gali lagi kutub Asya’irah, kitab Imam Abul Hasan Al-Asy’ariy “Al-Ibanah” dan lainnya serta kitab “Al-Inshaf” Al-Baqillaniy apakah betul sama dengan versi “Ta’wil-Mukhtaliful-Hadits” nya Ibnu Furak lalu baca “Ar-Radd alal Jahmiyyah” Imam Ad-Darimiy dan “Naqdh” nya, apakah mengena ke Asya’irah era awal atau era mutaakhirin? Jika mengena kiranya mengapa demikian? Apakah karena Imam Ad-Darimiy yang sesat atau karena sebagian aqidah Asya’irah memang adopsi dari pemikiran Bisyr Al-Marisiy?

Kalaulah Ad-Darimiy sesat, semestinya ada nukilan dari para Imam Salaf era tahun 260-280 H, mustahil ada orang sesat keliling ke majlis Imam Ahmad bin Hanbal, Yahya bin Ma’in bahkan jadi rawi aqwalnya, Ishaq bin Rahawih dan para Imam Hadits besar lainnya, tapi tidak ada yang komen sesat satu pun dari Imam terdahulu, jika seperti ini maka ini adalah kelalaian yang parah dalam Ilmu Jarh wa Ta’dil yang dilakukan oleh para Imam Salaf terdahulu.

Please rate this

About admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *