Untitled Post

 RIWAYAT MAULID NABI DI RIBATH ALMURTADLA DAN PIQ SERTA ARAK-ARAKAN RATUSAN HABAIB, JAMAAH & SANTRI

Luthfi Bashori

Sejak pertama kali pulang dari Makkah tahun 1991, saya diminta aktif mengajar di Langgar Ledok Embong Arab  Malang. Saat itu penanggung jawab majelisnya adalah Alhabib Muhammad Bin Ali Bin Agil, kakak dari Alhabib Agil Bin Ali Bin Agil, penanggung jawab Maulid Nabi di Ribath & PIQ.

Setelah berjalan beberapa tahun kegiatan pengajian di Embong Arab itu, lantas saya mengutarakan ingin membuat acara Maulid di Singosari, yang kebetulan saya sendiri sedang mendirikan pesantren Ribath Almurtadla.

Maka Alhabib Muhammad Bin Agil sangat mendukung, dan beliau mengajak sekitar 20 habaib ikut baca Maulid di Ribath Almurtadla, acara dimulai bakdal Maghirb hingga selesai.

Tahun berikutnya, Alhamdulillah saya adakan lagi dengan mengundang para habaib yang sama, dan saya merasa semakin menyatu dengan kehidupan para habaib Embong Arab kota Malang ini. Istilahnya saya ikut aktif bersama Basykah Jamaah Embong Arab yang sejak itu banyak cerita dan hikayat kehidupan saya bersama mereka.

Acara ini terus berlanjut tiap tanggal 12 Rabiul Awwal, dan pada suatu waktu, salah satu pengurus PIQ mengusulkan agar di PIQ juga diadakan Maulid Nabi bersama para habaib.

Hingga akhirnya pada tahun berikutnya, saya gabung acara Maulid ini  setelah baca Maulid di PIQ bakdal Maghrib, lantas ramah tamah makan malam di Ribath.

Karena saya pilih waktu pelaksanaannya itu bakdal Maghrib, jadi Abah Yai Bashori tidak bisa ikut acara Maulid Nabi & hormat ramah tamah bersama para habaib, karena beliau rutin setiap bakdal Maghrib mengajar di masjid-masjid di Kodya Malang, yang berangkat dari rumah itu sejak bakda Ashar.

Karena itu pula, acara ramah tamah makan malam bersama para habaib itupun saya letakkan di Ribath.

Waktu terus berjalan hingga akhirnya Hb. Muhammad Bin Agil dipanggil oleh Allah, lantas saya meminta kepada Hb. Agil Bin Agil untuk melanjutkan memimpin acara Maulid & Arak-arakan ini.

Kemudian dengan berbagai pertimbangan, maka waktu acaranya saya pindah pada pagi hari, yaitu dimulai pembacaan Tahlil di Ribath, lantas Arak-arakan Habaib ke PIQ dilanjut dg acara Maulid Nabi yang saat ini jumlah hadirin cukup ramai.

Pada mulanya, saya minta kepada Hb. Hadi Alkaaf kalau bisa beliau sebagai pembicara tetap saja, karena beliau termasuk yang aktif hadir di acara Maulid yang saya rintis ini, walaupun akhirnya karena situasi dan kondisinya terus berkembang, maka secara bergantian saya mengundang para penceramah khusus kalangan habaib dari berbagai kota.

Alhamdulillah, setelah acara saya pindah waktunya pagi hari, Abah Bashori mulai bisa ikut hadir acara Maulid Nabi ini serta ikut hormat saat ramah tamah bersama habaib di PIQ, tapi dengan catatan selagi beliau tidak ada undangan acara lain yang lebih dahulu memintanya.

Jadi saat itu, acara Maulid Nabi inipun untuk pelaksanaannya saya patenkan setiap tanggal merah 12 Rabiul Awwal secara rutin, dimulai pukul 08.00 yang saya kemas acaranya baca Tahlil di Ribath, lantas Arak-arakan menuju ke PIQ, walaupun terkadang Abah Bashori udzur tidak bisa hadir, karena ada acara lain, dan Alhamdulillah semua tetap berjalan lancar secara alami.

Saya bersyukur, Maulid Nabi di Ribath & PIQ bersama para habaib ini belum pernah libur sama sekali, termasuk saat musim pandemi seperti sekarang ini.

Alhamdulillah, sejak Abah Bashori sudah mulai sepuh dan jarang pergi jauh, beliau bisa ikut aktif menghadiri acara Maulid Nabi di Ribath dan PIQ ini sekaligus ikut hormat ramah tamah bersama tamu undangan khususnya para Habaib, walaupun Abah Bashori hanya mampu hadir di PIQ saja, dan belum pernah ikut Arak-arakan bersama Habaib, karena usia beliau yang sudah udzur.

Para habaib juga sangat memaklumi kondisi Abah Bashori hingga mereka tidak pernah mempermasalahkan sekalipun  Abah Bashori memilih tidak ikut Arak-arakan tersebut.

Khusus acara Maulid Nabi tahun ini, bagi saya sangat spesial, dan jauh-jauh hari sebelumnya, saya pernah mengutarakan kepada Abah Bashori, “Jika putri saya merasa siap untuk menikah, maka akan saya aqad sendiri di acara Maulid Nabi di PIQ tahun ini.”

Abah Bashori pun merestui dan mendukung niat baik saya. Putri saya juga menyatakan siap diaqadkan di acara Maulid Nabi tahun ini.

Namun Allah mencatat suatu hal yang lain, harapan saya mengaqad putri dan dapat disaksikan langsung oleh Abah Bashori, ternyata beliau dipanggil oleh Allah terlebih dahulu, hingga kami sekeluarga hanya bisa pamitan menjelang pelaksanaan Aqad nikah dengan berziarah ke makam Abah Bashori & Ibunda Qomariyah Abdul Hamid. Semoga beliau berdua senantiasa dirohmati oleh Allah.

Alhamdulillah, acara Maulid Nabi yang saya rangkai dengan Aqad Nikah inipun, akhirnya bisa terlaksana dengan baik dan lancar, tidak ada kendala suatu apapun yang berarti. 

Terima kasih kepada seluruh pihak yang ikut mendukung terlaksananya acara ini.

About Admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement