Untitled Post

Kewajiban Menaati Para Pemimpin

Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنكُمْ

“Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu”.(QS. An-Nisa’: 59)

Para ulama menafsirkan ulil amri sebagai para penguasa dan ulama.

Ath-Thayyibi
berkata: Pengulangan kata kerja dalam ayat tersebut mengisyaratkan
otonomi Rasulullah dalam hal ketaatan dan beliau tidak termasuk ulil
amri. Juga sebagai petunjuk bahwa ada diantara mereka yang tidak wajib
menaatinya kemudian dijelaskan dalam firman-Nya: “jika kamu berselisih
tentang sesuatu” seakan-akan dikatakan jika mereka tidak melakukan suatu
yang benar maka janganlah menaati mereka dan kembalikan apa yang kalian
pertentangkan pada hukum Allah dan rasul-Nya[3].

Ada
banyak hadis-hadis yang memerintahkan untuk menaati para pemimpin
selama bukan dalam maksiat. Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar bahwa
Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

السمع و الطاعة على المرء المسلم فيما أحب و كره, ما لم يؤمر بمعصية, فإن أمر بمعصية فلا سمع و لا طاعة

“Mendengar
dan menaati muslim dalam setiap hal yang disukai dan dibenci selama dia
tidak memerintahkan kepada kemaksiatan,. Jika memerintahkan kepada
kemaksiatan maka janganlah didengar dan ditaati”.[1]

Ada
suatu hadis dari Ali radhiallahu ‘anhu yang berkata: Nabi mengutus
pasukan dan mengangkat seorang lelaki dari Anshar sebagai pemimpin untuk
mereka. Nabi memerintahkan mereka untuk menaatinya. Kemudian (saat) dia
marah kepada mereka dan berkata, “bukankah Nabi telah memerintahkan
untuk menaatiku?” Mereka berkata: benar. Dia berkata: “Kuputuskan kalian
harus mengumpulkan kayu bakar dan menyalakan api kemudian kalian harus
masuk ke dalamnya. Maka mereka mengumpulkan kayu bakar dan menyalakan
api, tapi mereka ragu-ragu masuk ke dalamnya dan mereka tetap berdiri
dan saling melihat satu sama lain. Sebagian berkata: kita telah membaiat
Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam demi menghindari api (neraka), apakah
kami harus memasukinya? Saat mereka seperti itu, api menjadi padam dan
tenanglah kemarahnnya. Hal itu kemudian diceritakan kepada Nabi Saw.,
beliau bersabda, “Kalau kalian masuk ke dalamnya, kalian tidak akan
keluar selamanya, karena sesungguhnnya ketaatan adalah di dalam
kebaikan.”[2]

Kesimpulan:

1. Jika
imam memberikan perintah yang berisikan kemaksiatan kepada Allah maka
tidak wajib menaatinya berdasarkan hadits, “Selama tidak memerintahkan
kepada suatu kemaksiatan”. Dan haditsnya, “Sesungguhnya ketaatan dalam
hal kebaikan”.

2. Harus memelihara kesatuan umat.
Seseorang tidak boleh memecah kebersamaan suatu jamaah walaupun berada
di dalam pemerintahan yang buruk, dan hilangnya semua hak, serta
buruknya manajemen dan perkara-perkara yang tidak berkenan lainnya.
Keadaan seperti itu tidak dapat menjadi sebab keengganan dalam menaati
para pemimpin dalam hak kebaikan dan bukan kemaksiatan. Sebagaimana
jelas di dalam hadis riwayat Abdullah bin Mas’ud yang berkata,
“Rasulullah berkata kepada kami, “Suatu saat nanti kalian akan melihat
keburukan-keburukan dan perkara-perkara yang akan kalian ingkari. Mereka
berkata, “Apa yang hendak engkau perintahkan ya Rasulullah?” Beliau
berkata, Penuhilah hak-hak mereka dan mintalah hak kalian kepada
Allah”[3]

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas Radhiallahu
‘anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Siapa yang
membenci pemimpinnya maka bersabarlah, karena orang yang menetang raja
sejengkal saja akan mati dalam keadaan jahiliah.”[4]

Ibnu
Abi Hamzah berkata, “Maksud dari al-mufaraqah, adalah suatu usaha untuk
mematahkan akad baiat yang telah dihasilkan oleh penguasa tersebut
walau dengan cara yang paling hina sekalipun. Hal itu diibaratkan
sebagai ukuran sejengkal, karena keputusan seperti itu bisa menyebabkan
pertumpahan darah tanpa alasan”.

Ibnu Bathal berkata, “Di dalam hadis ada argumentasi untuk tidak memberontak pada penguasa meskipun dia seorang yang lalim”[1].

1.
Jika seorang imam telah disahkan dalam suatu area kekuasaan, maka tidak
boleh melepaskan diri darinya kecuali dia dengan terang-terangan
melakukan kekufuran. Dalam keadaan itu wajib melepaskannnya dari
kekuasaan meskipun dengan kudeta dengan syarat adanya kemampuan
melakukannya. Dari Ubadah bin ash-Shamit berkata, “Nabi Shallallahu
‘alaihi wasallam menyeru kami kemudian kami membaitnya. Beliau berkata:
bahwa kita berbaiat pada ketaatan dan kepatuhan dalam keadaan semangat
dan kebencian, kemudahan dan kesulitan, dan berpengaruh pada kami, dan
jangan sampai rakyatnya menentang perintah kecuali jika mereka melihat
kekufuran yang jelas dari kalian, dan Allah akan menerangkan suatu
petunjuk”[2].

Dinukil dari Ibnu at-Tin dari ad-Dawudi
yang berkata: Pendapat ulama tentang pemimpin yang lalim bahwa jika
mampu melepaskan tahtanya tanpa adanya fitnah dan kezhaliman maka
hukumnya wajib. Jika tidak diharuskan untuk bersabar, dan menurut
sebagian mereka tidak boleh memulai mengangkat seorang fasik sebagai
pemimpin. Akan tetapi jika dia menjadi lalim setelah sebelumnya dia
berlaku adil maka mereka berbeda pendapat dalam hal kebolehan melepaskan
diri darinya, dan yang benar adalah dilarang kecuali jika dia kufur
maka wajib melepaskan diri darinya.[3]

Al-Hafizh
berkata, yang mana sabda Rasulullah, “Kalian memiliki petunjuk dari
Allah.” yaitu teks ayat, atau khabar yang benar dan tidak bermakna
ambigu, yang intinya adalah tidak boleh memisahkan diri dari pemimpin
selama apa yang dia lakukkan dibenarkan secara takwil[4].

2. Menasehati Para Pemimpin

Dari Tamim ad-Dari bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata:

الدين النصيحة: قلنا: لمن يا رسول الله؟ قال: لله و لرسوله و لكتابه و لأئمة المسلمين و عامتهم

“Agama
adalah nasehat”. Kami berkata, “Untuk siapa, ya Rasulullah? Beliau
berkata, “Untuk Allah dan Rasul-Nya, dan kitab-kitab-Nya, dan bagi para
pemimpin muslim serta rakyatnya”.

Al-Hafizh
rahimahullah berkata, “Nasehat untuk para pemimpin muslim” artinya,
“menolong mereka dalam melakukan tugasnya, dan memperingatkan mereka
ketika lalai, memenuhi kebutuhan mereka ketika dalam keadaan keliru,
menyatukan suara bersama mereka, mengembalikan orang-orang yang
melarikan diri kepadanya. Sebaik-baik nasehat adalah mencegah mereka
dari kezaliman dari sejumlah imam muslim adalah imam ijtihad, nasehat
untuk mereka dengan komunikasi keilmuan mereka, menyebarkan kebaikan dan
berbaik sangka pada mereka[1].

Penulis berkata:
Salah satu nasehat bagi mereka adalah jihad bersama mereka meskipun
mereka lalim. Sesungguhnya keyakinan ahlu sunnah wa jamaah, melaksanakan
shalat baik di belakang orang yang baik atau buruk, shalat baik untuk
orang yang baik dan buruk, dan jihad bersama orang yang baik dan
buruk[2].

Yang termasuk juga nasehat bagi para
pemimpin adalah tidak melanggar baiat, dari Ibnu Umar berkata, “Aku
tidak mengenal penipuan paling besar daripada membaiat orang atas baiat
Allah dan Rasul-Nya kemudian mendeklarasikan perang terhadapnya”

Di dalam hadits marfu’ darinya

من أعطى بيعته ثم نكثها لقي الله, و ليست معه يمينه

“Siapa yang memberikan baitnya kemudian melanggarnya dia menemui Allah dan sumpahnya tidak bersamanya”[3].

Tugas Imam dan Manajemen Pemerintahannya

Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

كلكم راع و كلكم مسؤل عن رعيته, فالإمام راع, وهو مسؤل عن رعيته

“Semua
dari kalian adalah pemimpin dan semua dari kalian bertanggung jawab
atas yang dipimpin. Seorang imam adalah pemimpin dan dia
bertanggungjawab atas yang dia pimpin”[4].

Tugas
seorang pemimpin adalah tugas yang paling sulit, dan tanggungjawab yang
terpenting, sebab dia memimpin semua kebutuhan negara. Dia betanggung
jawab menjaga agama, menegakkan syariat-Nya, menghukum orang-orang yang
bertentangan dengan perintah syariat, mengendalikan ahli bid’ah.
Bertanggung jawab dalam memerangi musuh, memelihara keamanan negara,
menjaga wilayah negara sehingga tidak ada musuh yang menyerbu mereka,
dan memikirkan kondisi politik dan ekonomi rakyat dan lainnya.
Menegakkan keadilan antara manusia dengan memberlakukan hudud,
memberlakukan hukum-hukum dan memberikan jabatan kepada orang-orang yang
layak seperti menteri-menteri, gubernur-gubernur, hakim, panglima,
administratur negara, petugas-petugas keamanan dan sebagainya.

Seorang
imam harus mengangkat siapa saja yang sesuai untuk jabatan ini dan
memberikan mereka perintah untuk senantiasa bertakwa kepada Allah,
bermasyarakat dan tidak menjauhkan diri dari masyarakat.

Diriwayatkan
dari Abu Burdah ia berkata, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mengutus
ayahku dan Mu’adz bin Jabal ke Yaman, dan berkata:

“Permudahlah dan jangan menyulitkan, bermasyarakatlah dan jangan menyendiri, dan berbuat baiklah”[1]

Imam Hendaknya Menghindari Asisten yang Buruk

Abu Said al-Khudry berkata, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

ما
بعث الله من نبي, و لا استخلف من خليفة إلا كانت له بطانتان: بطانة تأمره
بالمعروف و تحضه عليه, بطانة تأمره بالشر و تحضه عليه, فالمعصوم من عصم
الله

“Allah tidak mengutus seorang Nabi dan tidak
mengangkat seorang khalifah melainkan dia memiliki dua kepercayaan.
Orang kepercayaan yang diperintah dalam hal kebaikan dan
menganjurkannya, dan orang kepercayaan yang diperintah dalam hal
keburukan dan menganjurkannya, dan orang yang terjaga adalah orang yang
menjaga Allah”[2].

Seorang pemimpin semestinya
bersahabat dengan rakyatnya, tidak menyulitkannya, tidak menakut-nakuti
mereka, dan tidak menipunya. Sebagaimana dalam hadis, Nabi Shallallahu
‘alaihi wasallam bersabda:

اللهم من ولى من أمر أمتي شيئا فرفق بهم فارفق به, ومن ولى من أمر أمتي شيئا فشق عليهم فاشقق عليه

“Ya
Allah, siapa yang mengurus suatu perkara dari umatku dan berbuat baik
pada mereka maka perlakukanlah mereka dengan baik. Dan siapa yang
mengurus suatu perkara dari umatku dan menyulitkan mereka maka
persulitlah dia”[3]

Dari Ma’qal bin Yasar bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

ما من وال يلى رعية من المسلمين, فيموت و هو غاش لهم إلا حرم الله عليه الجنة

“Tidaklah
seorang pemimpin yang mengurus rakyat dari kaum muslimin, lalu
meninggal dalam keadaan menipu mereka, melainkan Allah mengharamkan
surga baginya”[1].

Tugas Rakyat Mengontrol Penguasanya

Sebagaimana
yang telah dibahas sebelumnya, suatu pemerintahan adalah keterikatan
antara penguasa dan rakyat, dan seorang penguasa harus menegakkan
keadilan dengan syariat Allah. Seorang penguasa pun harus tunduk pada
syariat Allah, dia dan seluruh asistennya berpegang teguh pada
hukum-hukum syariat. Selain itu, mereka tidak berhak membuat syariat.
Jika mereka menghadapi suatu persoalan, maka undang-undangnya kembali
pada hukum syariat publik, yakni dengan cara beijtihad dalam batasan
Al-Qur’an dan as-Sunnah.

Dan masyarakat juga harus
mengawasi penguasa yang mereka angkat, jika dia bertentangan maka mereka
berhak menurunkannya. Abu Bakar pernah mengatakan, “Taatilah aku selama
aku menaati Allah dalam perkara kalian, jika aku bermaksiat maka
tegurlah aku”.[2]

Ibnu Hazm rahimahullah berkata:
“Seorang pemimpin wajib ditaati selama dia memimpin kita dengan Kitab
Allah dan Sunnah Rasulullah. Apabila dia mengacuhkan salah satu dari
keduanya maka cegahlah. Tegakkanlah hudud dan kebenaran baginya, jika
belum aman dari ancamannya kecuali dengan melepaskkannya, maka
lepaskanlah dan angkatlah yang lain.

Penulis berkata:
Tidak bisa disangkal bahwa sebelumnya tidak boleh melepaskan mereka
kecuali jika kita melihat mereka dalam keadaan kufur yang jelas karena
melepaskan mereka disini melawanahli aqdi wal hilli dan akad baiat yang
mereka membaitnya lalu melpaskannya, atau dengan cara pemboikatan umat
padanya dengan syarat tidak mengakibatkan kerusakan dan jika kita
menemukan kekufuran yang jelas maka dia turun dan berdiri sampai
mengundurkan diri.

Persoalan apa saja jika tidak
memungkinkan untuk mengisolasinya tidak akan menyebabkan kerusakan yang
besar maka wajib bersabar sebagaimana yang telah dibahas terdahulu.
Wallahua’lam.

Dr. Abdul Karim Zaidan mengatakan,
“Rakyat memiliki hak melepaskan khalifah dengan adanya sebab syar’i yang
mengharuskan melakukan itu atau dia harus tahu dengan baik bahwa tanpa
ada sebab syar’i untuk memecatnya, tidak bisa serta merta menurunkan
khalifahnya. Hal ini dikarenakan saat pelaksanaannya harus memperhatikan
kemungkinan dan akibatnya. Apabila pelaksanaannya memungkinkan dan
dianggap tidak menyebabkan kemudharatan yang berimbas pada umat lebih
besar jika dibandingkan dengan tidak menurunkannya, mak wajib untuk
menurunkannya. Jika pelaksanaan tidak memungkinkan atau memungkinkan
dengan sendirinya akan tetapi mengakibatkan kemudharatan bagi umat lebih
besar dari mudharat-mudharat keberadaannya dan tidak menurunkkannya
maka wajib untuk tidak melaksanakannya.

Maka dari itu harus melihat hal berikut untuk melaksanakan hal ini:

1. Memastikan bahwa hakim telah melakukan hal-hal yang harus menyebabkan dia turun dari kepemimpinan

2. Adanya kemampuan menurunkannya

3. Memastikan kemaslahatan dalam penurunannya.

Berakhirnya Kepemimpinan Publik

Suatu kepemimpinan publik berakhir dengan beberapa sebab berikut:

1. Kematian, yaitu persoalan yang pasti, jadi dia tidak menjadi pemimpin setelah itu.

2.
Kafir atau murtad dengan perbuatan dan perkataan yang menjadikannya
kafir, akan tetapi dia tidak diturunkan oleh sebab kefasikan.

3. Hilangnya kemampuan seperti jika menjadi gila atau hilang salah satu indranya yang menghalangi dia dari pelaksanaan tugasnya.

4.
Berkurangnya kemungkinan berinteraksi, seperti jika yang mengangkatnya
adalah musuh-musuhnya dan mereka memonopoli segala urusan, atau menjadi
tawanan di tangan musuh yang memaksa dan tidak mungkin dapat
menyelamatakannya.

5. Keputusan rakyat untuk
menurunkannya atau dia mengundurkan diri maka umat berhak mengabulkan
permintaan jika ada selain dia yang melaksanakan urusan-urusan penting,
dan rakyat berhak menolak pengunduran dirinya jika belum menemukan orang
sepertinya.

Catatan Penting:

Sebaik-baik
khalifah adalah yang memimpin perkara umat setelah Rasulullah yaitu Abu
Bakar, Umar, Utsman, dan Ali radhiallahu ‘anhum. Dan kedudukan mulia
mereka sesuai dengan urutan mereka dalam khilafah. Semua sahabat sepakat
mengangkat mereka dengan urutan ini. Ini menurut madzhab Ahlu Sunnah
dan Jamaah, sedangkan yang bertolak belakang dengan mereka adalah syiah.
Karena mereka tidak mengakui kepemimpinan Abu Bakar, Umar dan Utsman,
dan menjadikan khilafah untuk Ali. Hal ini disebabkan ketidaktahuan
mereka, dan cukup untuk membantah pendapat mereka bahwa ini adalah Ijma’
para sahabat dan orang yang menentangnya adalah orang yang jahil dan
keras kepala. Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

وَمَن
يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ
وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ
وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

“Dan siapa
yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti
jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa
terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke
dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali”. (QS.
An-Nisa’: 115)

Adapun kepemimpinan mereka sebagaimana berikut:

1. Abu Bakar As-Shiddiq

Abu
Bakar diangkat dengan baiat, karena ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi
wasallam meninggal para kaum Anshar berkumpul di tempat pertemuan Bani
Saidah. Lalu Abu Bakar, Umar, dan Abu Ubaidah bin Haraj pergi menemui
mereka. Umar kemudian maju berkata tapi Abu Bakar mencegah. Umar
berkata: “Demi Allah aku tidak ingin begitu kecuali telah menyiapkan
pidato yang menggembirakanku tapi aku tidak ingin melampui Abu Bakar.
Kemudian berkatalah Abu Bakar dan riuhlah semua orang. Dia berkata dalam
pidatonya: “Kami adalah pemimpin dan kalian adalah wakil”. Khabab bin
Mundzir berkata: “Tidak, demi Allah kami tidak akan melakukannya. Dari
kami seorang pemimpin dan dari kalian seorang pemimpin”. Abu Bakar:
“Tidak, akan tetapi kami pemimpin dan kalian adalah wakil”. Mereka
adalah wilayah arab paling tengah, dengan nasab arab yang kental. Maka
baitlah Umar atau Abu Ubaidah. Umar berkata: “Melainkan kami akan
membaiatmu, kamu adalah pendahulu kami, terbaik diantara kami dan paling
dicintai oleh Rasulullah diantara kami. Maka Umar meraih tangannya dan
membaitnya, semua orang juga membaitnya. Baiat yang pertama di tempat
pertemuan Bani Saidah, kemudian orang-orang membaiatanya pada hari
berikutnya sebagaimana yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik bahwa dia
mendengar khutbah Umar yang terakhir ketika dia duduk diatas mimbar.
Keesokan harinya sejak meninggalnya Rasulullah dan dia bersyahadat
sedangkan Abu Bakar diam tidak bersuara. Umar berkata aku telah
berpikiran bahwa Rasulullah akan kembali memimpin kita –dia ingin beliau
yang terakhir meninggal- dan Muhammad telah meninggal. Sesungguhnya
Allah telah memberikan diantara kita cahaya yang menunjukkan sebagaimana
petunjuk Allah pada Muhammad. Dan sesungguhnya Abu Bakar adalah sahabat
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan orang yang kedua -ketika ia
dan Rasulullah bersembunyi di dalam gua. Dan sesungguhnya dia paling
utama untuk mengurusi kalian. Maka berdirilah kalian dan berikanlah
bai’at kalian kepadanya.’ Maka orang-orang segera membai’at Abu Bakar
secara umum setelah sebelumnya di bai’at di Saqifah, dan baiat publik
tersebut berada diatas mimbar.[1]

Baca Juga : Pemikiran Politik Ibnu Taimiyah

2. Umar bin Khattab

Kepemimpinan
Umar dilakukan dengan pengangkatan menjadi khalifah yang dipilih oleh
Abu Bakar setelahnya untuk kaum muslimin. Dan itu setelah bermusyawarah
dengan para sahabat. Katika dia sudah merasakan ajalnya dia meminta
semua orang untuk memilih pemimpin salah seorang dari mereka, dan mereka
mengembalikan urusan tersebut terhadapnya untuk memilih siapa yang
lebih maslahat untuk mereka. Sehinga dia bermusyawarah dengan para
pembesar sahabat satu persatu beliau memilih untuk mengangkat Umar dan
semua orang pun membaiatnya. Sedangkan Abu Bakar membaiatnya dan
berwasiat hal-hal yang baik kepadanya.

3. Utsman bin Affan

Umar
menominasikan enam sahabat Nabi untuk menjadi pemimpin. Imam Bukhari
mengatakan dalam hadis terbunuhnya Umar bahwa: Dikatakan kepada Umar,
“Berwasiatlah wahai amirul mukminin, pilihlah seorang khalifah”. Dia
berkata, “Aku tidak mendapati orang yang lebih berhak dalam urusan ini
daripada mereka yang ketika Rasulullah meninggal, beliau meridhai
mereka, lalu dia menyebutkan Ali, Utsman, Zubair, Thalhah, Sa’ad, dan
Abdurrahman bin Auf’. Dia berkata, “Jika Abdullah bin Umar menemui
kalian sesungguhnya tidak berhak atas urusan ini”. Jika kepemimpinan
jatuh pada Sa’ad, maka terimalah dia, dan jika tidak mintalah bantuannya
apapun yang diperintahkan, karena sesungguhnya aku tidak pernah
menurunkan dia sebab ketidakmampuan atau pengkhianatan”[1] Setelah
beliau selesai dimakamkan, enam orang tersebut berkumpul, Abdurrahman
bin Auf berkata, “Putuskanlah menjadi tiga orang diantara kalian”.
Zubair berkata, “Aku menunjuk Ali”. Thalhah berkata, “Aku menunjuk
Utsman”, dan Sa’ad berkata, “Aku menunjuk Abdurrahman bin Auf”[2] Lalu
Abdurrahman berkata kepada Ali dan Utsman, “Jika diantara kalian ingin
mengundurkan diri maka kami akan memilihnya, demi Allah dan Islam
pastilah melihat yang terbaik dalam dirinya” Ali dan Utsman pun terdiam.

Abdurrahman
berkata, “Apakah kalian menyerahkan perkara pemilihan ini kepadaku
untuk memilih siapa yang terbaik di antara kalian berdua?” Mereka
menjawab, “Ya!” Maka Abdurrahman memegang tangan Ali seraya berkata
kepadanya, “Engkau adalah kerabat dekat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
wasallam dan orang pertama masuk Islam dan hal itu sudah engkau ketahui.
Demi Allah jika engkau yang diangkat maka berlaku adillah dan jika
Utsman yang diangkat maka dengar dan taatilah dia”. Kemudian dia
mendekati Utsman dan mengucapkan dengan ucapan yang sama. Setelah mereka
berdua berjanji, Abdurrahman berkata, “Angkat tanganmu wahai

Utsman!” lantas dia membai’atnya kemudian disusul oleh Ali dan diikuti oleh semua penduduk.[1]

Dalam
suatu riwayat, Abdurrahman bermusyawarah dengan kaum muhajirin dan
Anshar dalam tiga hari sampai-sampai dia berkata, “Demi Allah aku tidak
melewatkan satu rumahpun dari rumah kaum muhajirin dan anshar melainkan
bertanya mereka dan yang mereka pilih adalah Utsman”[2]

4. Ali bin Abi Thalib

Didalam
Fadhail Shahabah Imam Ahmad meriwayatkan dari Muhammad bin Hanafiyah-
yakni Muhammad bin Ali bin Abi Thalib berkata: Ali mendatangi rumah
Utsman dan dia telah terbunuh. Ali pulang kerumahnya dan menutup pintu,
dan orang-orang berdatangan menggedor pintu rumahnya, mereka berkata:
Utsman telah terbunuh, dan semua orang membutuhkan khalifah, dan kami
tidak tahu ada orang yang lebih berhak memimpin kecuali anda, dan Ali
berkata kepada mereka, “Kalian tidak menghendaki diriku, menjadi wazir
(menteri) bagi kalian aku sukai daripada menjadi Amir” Mereka tetap
berkata, “Tidak, demi Allah kami tidak tahu ada orang lain yang lebih
berhak daripada dirimu”. Ali berkata, “Jika kalian tetap bersikeras,
sesungguhnya bai’atku bukanlah bai’at yang rahasia. Akan tetapi aku akan
pergi ke masjid, siapa yang ingin membai’atku maka silahkan dia
membai’atku.’ Ali pun pergi ke masjid dan kaum muslimin pun membai’at
beliau.”[3]

Kaum Muhajirin dan Anshar yang berada di
Madinah membaiatnya, dan tidak ada diantara mereka yang berselisih paham
dalam riwayat yang masyhur. Orang-orang yang berkeyakinan bahwa
sebagian sahabat seperti Sa’ad bin Abi Waqash, Abdullah bin Umar, dan
Muhammad bin Maslamah dan selain mereka yang berselisih paham tentang
baiat maka sesungguhnya itu adalah keyakinan yang bathil, yang benar
bahwa mereka membaiatnya. Adapun sesungguhnya mereka berselisih paham
tentang perang, dan menyingkirkan fitnah adalah atas dasar ijtihad
mereka semua.

About admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *