Ketika Mao Zhedong Membuka Ruang Kritik untuk Publik, Ribuan Orang Dikabarkan Hilang

Ketika Mao Zhedong Mempersilahkan Sampaikan Kritik, Ribuan Orang Hilang

Fikroh.com – Pada tahun 1956 – 1957 Mao Zhedong, pemimpin China saat itu membuka pintu warganya untuk memberikan kritik kepada pemerintah yang dipimpinnya. Bukan hanya membuka, saat itu bahkan gerakan ini dikampanyekan. 

“Biarkan seratus bunga mekar; biarkan seratus aliran pemikiran bersaing.”, ujar Mao. Awalnya kebijakan ini ditanggapi secara skeptis. Hanya segelintir cendekiawan yang menyampaikan kritik, itupun dengan bahasa yang amat hati-hati dan halus. 

Mao Zhedong kemudian meyakinkan masyarakat, bahwa kritik terhadap pemerintah adalah hal yang amat disukai. Sekali lagi kampanye ini ditekankan lebih massive.

Kampanye ini kemudian disambut dengan baik. Banyak warga memberikan kritik & saran kepada rezim komunis itu secara terbuka. Pemerintah menerima ribuan surat setiap hari dari para warga yang menyampaikan kritiknya. Terutama mengenai keadilan sosial dimana terdapat jelas kesenjangan hidup para pejabat partai komunis dengan rakyat banyak.

Masyarakat berbicara dengan memasang poster di sekitar kampus, berkumpul di jalan-jalan, mengadakan pertemuan dan menerbitkan artikel majalah. Mahasiswa di Universitas Beijing misalnya, membuat “Tembok Demokratis” di mana mereka mengkritik pemerintah melalui pemasangan poster dan surat.

Namun tak lama sesudahnya, kampanye ini dihentikan. Aparat bergerak. Ratusan ribu oposisi ditangkap & disiksa di penjara. Ribuan orang hilang tak jelas rimbanya. Diyakini, 4 juta jiwa menjadi korban aparat setelahnya.

Sejarawan mempertanyakan apakah motivasi Mao untuk meluncurkan kampanye itu sebuah ketulusan atau sebaliknya. Sebagian sejarawan menyebutkan bahwa Mao awalnya mungkin memiliki niat murni, tetapi sejurus kemudian kondisinya berubah, sehingga justru memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menghancurkan para pengkritiknya.

Sejarawan Jonathan Spence menyatakan bahwa kampanye tersebut adalah puncak dari perselisihan yang kacau dan berbelit-belit di dalam internal Partai penguasa mengenai bagaimana menangani perbedaan pendapat.

Penulis Clive James dan Jung Chang mengandaikan bahwa kampanye tersebut, sejak awal, merupakan tipu muslihat yang dimaksudkan untuk mengekspos kaum kanan dan kontra-revolusioner, dan bahwa Mao Zedong menganiaya mereka yang pandangannya berbeda dari pandangan partai penguasa.

sumber : https://en.wikipedia.org/wiki/Hundred_Flowers_Campaign

About Global Muslim

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement