Kesabaran Ketabahan Khalid bin Walid

Malam pengantin dengan wanita yang aku cintai tidak lebih aku sukai daripada malam yang dingin bersama dengan sekelompok muhajirin menanti pagi, berjihad melawan musuh.”

Khalid bin Al Walid “Sang Pedang Allah” radhiyallahu ‘Anhu mengucapkan kalimat ini menjelang wafat beliau. Beliau adalah seorang sosok pejuang sejati pilih tanding, panglima perang yang andal gagah berani melawan angkara murka, pedang terhunus yang menghancurkan kesombongan orang-orang yang enggan sujud kepada Rabbnya.

Beliau terhitung salah seorang pemuka Quraisy. Pada jaman jahiliah beliau dipercaya sebagai pembawa genderang didalam persiapan peperangan dan orang terdepan di dalam pasukan berkuda. Sebutan lengkap beliau adalah Khalid bin Al-Walid bin Al-Mughirah bin Abdullah Al Quraisyi Al-Makhzumi, berkuniah Abu Sulaiman. Ibu beliau adalah Lubabah binti Al Harits Al Hilaliah saudari berasal dari istri Nabi shallallahu ‘Alaihi wa sallam Maimunah ummul mukminin radhiyallahu ‘Anha.

Khalid bin Al Walid radhiyallahu ‘Anhu masuk Islam pada year 7 H sebelum perang Khaibar. Amr bin Al-’Ash radhiyallahu ‘Anhu mengisahkan, “Didalam perjalananku menuju Rasulullah shallallahu ‘Alaihi wa sallam, aku bertemu dengan Khalid bin Al-Walid yang mampir berasal dari Makkah. Kejadian tersebut sebelum perjanjian Hudaibiyyah. Aku bertanya, ‘Mau kemana engkau wahai Abu Sulaiman?’ Ia menjawab, ‘Demi Allah aku mampir untuk masuk Islam.’ Aku menimpali, ‘Aku pun singgah untuk masuk Islam.’ Kita bersama dengan-sama menghadap Rasulullah shallallahu ‘Alaihi wa sallam. Khalid maju menunjukkan masuk Islam dan berbaiat kepada Rasulullah shallallahu ‘Alaihi wa sallam, lantas aku mendekat untuk membaiat beliau shallallahu ‘Alaihi wa sallam.”

Kisah-Kisah heroik beliau segudang menghiasi lembaran buku sejarah perjuangan Islam. Pada perang Mu’Tah tahunan 8 H, Rasulullah shallallahu ‘Alaihi wa sallam mengutus Zaid bin Haritsah sebagai pemimpin pasukan. Apabila Zaid syahid maka digantikan oleh Ja’Far bin Abi Thalib, sesudah itu Abdullah bin Rawahah. Ketika kaum muslimin kehilangan ketiga pemimpin yang ditunjuk ini, langsung Khalid mengendalikan keadaan, beliau langsung mengambil panji perang dan memimpin kaum muslimin menerjang musuh-musuh Allah. Imam Al-Bukhari meriwayatkan berasal dari shahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘Anhu, bahwa pada sementara yang sejalan, di Madinah Rasulullah shallallahu ‘Alaihi wa sallam menggambarkan dahsyatnya pertempuran itu, beliau bersabda yang artinya, “Zaid membawa bendera perang sehabis ia terbunuh diambil oleh Ja’Far, ketika Ja’Far terbunuh dipeganglah bendera itu oleh Abdullah dan ia pun terbunuh.” Rasulullah shallallahu ‘Alaihi wa sallam bercerita sambil kedua mata beliau yang mulia berlinang air mata. Lantas beliau bersabda yang artinya, “Maka diambillah bendera itu oleh suatu pedang berasal dari pedang-pedang Allah, agar Allah berikan kemenangan atas orang kafir.”
Beliau radhiyallahu ‘Anhu adalah orang yang diutus oleh Rasulullah shallallahu ‘Alaihi wa sallam untuk menghancurkan berhala ‘Uzza. Sehabis penaklukan kota Makkah, Rasulullah shallallahu ‘Alaihi wa sallam mengutus Khalid ke tempat Nakhlah, area berhala ‘Uzza. Khalid menghancurkan bangunan berhala itu sesudah itu melaporkannya kepada Rasulullah shallallahu ‘Alaihi wa sallam. Beliau shallallahu ‘Alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Engkau belum berbuat apa-apa.” Beliau menyuruh Khalid untuk ulang.

Sesampai di area berhala ‘Uzza, Khalid dihadang oleh para juru kunci berhala itu sambil berteriak-teriak memanggil ‘Uzza. Maka keluarlah seorang wanita telanjang dengan rambut rambang-acakan, kumal berdebu. Langsung Khalid menebasnya dengan pedang sampai membunuhnya. Khalid ulang dan menceritakan kepada Rasulullah shallallahu ‘Alaihi wa sallam kejadian itu, beliau shallallahu ‘Alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Itulah ‘Uzza.”

Pada era kekhalifahan Abu Bakr Ash Shiddiq radhiyallahu ‘Anhu Khalid dipercaya untuk memimpin pasukan di dalam misi-misi besar. Beliaulah komandan pasukan didalam memerangi orang-orang yang murtad, nabi palsu Musailamah Al-Kadzdzab, dan menyerang Persia dan Romawi. Sampai, ketangguhan pasukan kaum muslimin di dalam pertempuran itu menggentarkan para musuh Allah. Lewat tangan Khalid radhiyallahu ‘Anhu pula, Allah menganugerahkan kepada kaum muslimin ditundukkannya kota Damaskus. Inilah mukjizat Rasulullah shallallahu ‘Alaihi wa sallam, beliau bersabda yang artinya, “Sebaik-Baik hamba Allah dan sebaik-baik saudara adalah Khalid bin Al Walid suatu pedang berasal dari pedang-pedang Allah yang Allah hunus atas orang-orang kafir.”

Khalid bin Al Walid radhiyallahu ‘Anhu ulang ke haribaan Rabbnya pada era kekhalifahan Umar bin Al Khaththab radhiyallahu ‘Anhu di tempat Himsh pada tahunan 21 atau 22 H. Beliau wafat di atas ranjang beliau sesudah berperang sampai seratus kali menyabung nyawa mengharap kesyahidan di ujung pedang musuh-musuh Allah. Beliau radhiyallahu ‘Anhu berkata menjelang wafatnya, “Tidak ada sejengkal pada badanku terkecuali tentu terdapat bekas luka sabetan pedang, tikaman tombak, atau tancapan anak panah.

Tetapi, inilah aku sekarang mati di atas ranjangku sebagaimana matinya seorang yang tidak dulu meninggalkan tempat tinggal. Maka semoga mata orang-orang pengecut tersebut memperhatikannya (Bisa mengambil pelajaran -Pen).” Dengan penuh kerendahan hati, beliau radhiyallahu ‘Anhu juga mengatakan, “Aku sudah berusaha melacak mati syahid di dalam medan pertempuran, tapi tidak ditakdirkan untukku jikalau mati di atas daerah tidurku. Tidak ada sedikit pun berasal dari amalanku yang aku harapkan sehabis Laa ilaaha illallaah, tak sekedar sebuah malam yang langit turunkan hujannya hingga subuh, aku menggunakan tameng untuk menyerang orang-orang kafir. Apabila aku mati, maka jadikan pedang dan kudaku sebagai bekal perang di jalan Allah.” Semoga Allah meridhainya.

Demikian sekelumit kesabaran perjuangan seorang shahabat didalam meninggikan kalimat Allah di muka bumi. Rela bermandi darah didalam menyambut seruan Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘Alaihi wa sallam. Dia mengorbankan segenap jiwa dan raga didalam mendapatkan janji surga. Semoga kami bisa mengambil pelajaran dan keteladanan berasal dari beliau radhiyallahu ‘Anhu. Allahu a’lam

About Galih semar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *