Kecenderungan Manusia Untuk Beragama

Kecenderungan Manusia Untuk Beragama

Fikroh.com – Mahmud Hamdi Zaqzouq yang merupakan profesor Filsafat di universitas al-Azhar juga menjelaskan bahwa kecenderungan untuk beragama merupakan kecenderungan alamiah yang berada dalam jiwa manusia. Bahwa iman kepada Allah merupakan perkara yang fitri dalam diri manusia dan tidak ada seorangpun yang menafikan hal ini kecuali karena kesombongan dan kecongkakan. Beliau mendasarkannya pada ayat tentang perjanjian (mitsaq/covenant) antara ruh manusia dengan Allah di alam arwah (alastu bi rabbikum? Qalu bala syahidna). 

Kecenderungan untuk mengimani sang Pencipta berasal dari akal budi manusia yang tidak lain adalah jiwa, sehingga manusia mencoba memahami semesta hingga pada segenap ufuknya. Akal manusia mencoba memahami tentang semesta yang wujud ini memiliki asal kewujudannya dari pencipta, bahwa adanya langit, bumi, dan lautan menunjukkan adanya pencipta, sebagaimana jejak langkah kaki di padang pasir menunjukkan adanya pejalan kaki. Sebuah syair Arab populer terdahulu yang berbunyi: “Pada segala sesuatu ada tanda, yang menunjukkan bahwa hanya Dia sang Pencipta.”

Selanjutnya beliau menyatakan bahwa para pakar sejarah agama meskipun berbeda latar belakang masing-masing, bersepakat bahwa tidak ada sekelompok manusia atau suatu komunitas masyarakat yang ada kemudian hilang kecuali pernah memikirkan tentang asal muasal manusia dan semesta. Dalam hal ini Dr. Abdullah Darraz dalam bukunya al-Din menjelaskan bahwa manusia meskipun pada masyarakat yang sangat primitif memiliki kecenderungan untuk memahami tentang adanya Tuhan dan apa yang ada di balik alam semesta. Pembahasan tentang kehidupan, kematian, dan apa yang ada setelah kematian wujud pada setiap bangsa-bangsa. 

Mengutip pendapat Bergson (Henri Bergson?) bahwa ia bisa mendapati suatu bangsa yang tidak memiliki khazanah keilmuan, kesenian, dan filsafat, namun ia tidak dapat menemukan sekelompok manusia tanpa sesuatu yang disebut dengan agama. Berdasarkan hal ini maka kecenderungan untuk beragama bukan perkara yang sifatnya eksternal atau kultural akibat konstruk sosial, namun ia bersifat internal dan natural yang sudah terpatri sejak pada alam spiritual. 

Apabila iman merupakan perkara fitri yang terpatri pada lubuk hati, maka keimanan merupakan keharusan dalam kehidupan ini. Dengan kata lain bahwa suatu kehidupan tidak akan lurus tanpa keimanan. Beliau mencontohkan kondisi modern saat ini, dimana kebanyakan masyarakat dunia kering secara spiritual (al-firagh al-ruhi), hal ini disebut dengan spiritual malaise. Sebab tidak terpenuhi kebutuhan spiritual manusia, maka manusia tidak mendapati ketenangan jiwa (sakinah wa thuma’ninah).

Beliau menambahkan bahwa fenomena ini jamak terjadi pada bangsa Barat, salah satu contoh pemikiran menyimpang yang lahir dari Barat adalah Eksistensialisme yang kering secara spiritual. Beliau bahkan menceritakan bahwa salah satu pemuka pemikiran Eksistensialis yaitu Jean Paul Sartre ketika menghadapi kematian, ia memanggil pendeta untuk mengiringi kepergiannya. Padahal Sartre dikenal sebagai pengembara pemikiran, menolak keimanan dan menafikan Tuhan, namun pada akhirnya seseorang itu membutuhkan keimanan. 

Jika lebih didalami lagi bahwa manusia itu membutuhkan kepercayaan kepada Tuhan atau sosok yang disembah. Para ateis (mulhid) misalnya yang tidak beriman kepada Allah malah mendapati diri mereka justru mengimani atau menyembah sesuatu juga, namun sesuatu yang bukan keimanan kepada Allah. Mereka malah menyembah ilmu pengetahuan, manusia, materi, dan lain sebagainya. Namun keimanan seperti ini sejatinya terputus, keimanan hanya pada cabang tanpa akar, pada aksiden tanpa jauhar. Wallahu a’lam. 

Oleh: Shadiq Sandimula

About admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement