Penciptaan Adam dan kisah sujudnya para malaikat (II)

Penciptaan Adam dan kisah sujudnya para malaikat (II)

Fikroh.com – Hari apa Adam diciptakan? Hari Jumat, hari ke enam. Hari bumi? Yang satu hari 24 jam waktu bumi? Ini kejadiannya bukan di bumi yah. Waktu yang berlaku di bumi tidak linier dengan waktu di langit. Ga usah kita logikakan. Para astronot saja mengakui hal ini ketika mereka di luar angkasa. Mereka mengalami bumi berganti siang dan malam dalam waktu yang lebih singkat. Sehari dalam hitungan mereka, bisa lihat siang malam beberapa kali.

Sulit dipaksa masuk akal kita memang. Allah lebih tahu lamanya sehari di langit, sehingga Dia mengatakan, “Sesungguhnya sehari disisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu” (Al Hajj ayat 47). Sedangkan hitungan tahun orang itu macem2. Ada tahun Islam, ada tahun masehi, ada tahun cahaya, mungkin ada hitungan tahun versi sunda.

Inni jaailun fil ardhi khalifah… Ini merupakan bentuk “khabar” dari Allah, an announcement… achtung.. Dia hadir bukan dalam bentuk “amr” atau perintah. Makanya tidak serta merta para malaikat ini “sami’na wa ata’na”, kami dengan kami taat… Bahkan mereka nekat menyanggah… Simak ucapan mereka dibawah.

Ataj’alu fihaa man yufsidu fiiha…. “Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu makhluk yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?”

Lancang sekali para malaikat ini menanyakan alasan dari titah Tuhan Semesta Alam!

Memang, titah Allah disini formatnya pengumuman. Kurang lebih ada 3 macam titah Allah. Yang pertama adalah bentuk “khabar”, lalu ada lagi bentuk “aradh (tawaran)”, lalu bentuk “amr” atau perintah.

Bentuk khabar adalah seperti contoh di ayat 30 ini, Allah mengabarkan akan dimunculkannya Adam sebagai penghuni bumi.

Ada lagi bentuk amr atau perintah, yang mustahil ditolak oleh para malaikat. Karena perintah Allah akan dikerjakan para malaikat dengan penuh ketaatan. Mereka ini layaknya robot. Diciptakan untuk taat perintah!

Sedangkan bentuk aradh atau tawaran, adalah tawaran Allah yang bisa mereka ambil dan bisa juga mereka tolak. Emang ada? Ada. Contohnya: “Sesungguhnya Kami telah “menawarkan” amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh” (Al-Ahzab:72)

Tau ga apa “amanat” yang ditawarkan kepada langit, bumi, gunung, bahkan malaikat? Kenapa pula mereka menolak? Lalu kapan kita bilang “setuju” untuk memikul amanat tersebut?

Amanat itu adalah beban syariat untuk “mengerjakan yang ma’ruf dan meninggalkan yang dilarang” dalam segala keadaan, baik senang maupun susah, keliatan orang maupun sembunyi-sembunyi. Kalo lulus dapat pahala, ga lulus nyebur neraka (Lihat Tafsir As- Sa’di). Intinya… dikasih nafsu.

Baik langit dan bumi, apalagi gunung, nyadar diri. Mereka merasa kayaknya udah bener jadi diri masing-masing, ga usah lah kami di kasih “nafsu”. Ga kebayang mereka kalo kudu nyebur neraka gara-gara satu dosa.

Nanti pas hari kiamat, orang-orang pendosa pun setuju dengan pemikiran ini. Mereka mengatakan, “wa yaquulul kafiru ya laitanii kuntu turaba”.. Berkatalah hari itu orang-orang kafir, seandainya aku dulu cuma jadi tanah (ayat terakhir dari surat apa ya???)

Tawaran Allah ini ditolak makhluk-makhluk hebat itu. Dan mereka tidak dihukum karena “menolak” tawaran Allah. Kita ini hebat, tawarannya kita ambil… Selamat ya!!!

Tawaran Allah ini bisa ditolak, kalo ga sanggup. Tapi “menyanggah” adalah satu bentuk kelancangan.

Perhatikan ucapan malaikat tadi, “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu….” Ini ucapan sanggahan, terlalu berani. Maksud sanggahan mereka adalah, bukankah sebelumnya sudah ada bangsa jin, dan mereka tidak taat. Jika Engkau ingin di bumi itu ada mereka-mereka yang selalu taat kepadamu dalam ibadah, maka kenapa tidak utus kami saja? HambaMu yang selalu taat, tidak pernah melenceng sesenti pun. Bukankah kami senantiasa bertasbih (nusabbihu) kepadamu dengan memujiMu dan mensucikan (nuqaddisu) Engkau?

Apa bedanya tasbih dan taqdis? Mungkin kita bahas lain waktu insya Allah.

Malaikat disini isti’jal (terburu2). Karena bukankah Allah berbuat sekehendaknya? Kalau Allah mau, ga perlu Dia kabarkan apapun pada siapapun!

Allah membalas isti’jal malaikat. Perbuatan terburu2 itu, selalu merupakan perbuatan tercela. Tapi ini udah tabiat orang, bahkan malaikat yang mulia juga ga selamat. Perhatikan, Musa pernah ditegur karena “tergesa-gesa”, Allah mengatakan “Kenapa Engkau tergesa-gesa wahai Musa?” (Ayat dan surat apa? Sila cari). Nabi Yunus pernah tergesa-gesa meninggalkan kaumnya, jadilah dia santap malam Ikan Paus. Kedua Nabi ini dihukum karena tergesa-gesa.

“Wa khuliqal insanu min ajal”… Manusia telah dijadikan (bertabiat) tergesa-gesa (Al Anbiya: 37).

Apa hukuman Allah kepada “kelancangan” malaikat? Mereka harus membayar kafarat. “Kalian menyaksikan apa yang diperbuat bangsa jin dulu beserta keturunannya, tapi kalian tidak tahu apa yang terjadi nanti pada Adam dan keturunannya..” Inni a’lamu ma laa ta’lamun.

Kafarat untuk mereka adalah, bangun kabah di langit ke tujuh! Seluruh malaikat sejak saat itu bergantian tawaf disana, yang sehari diputari 70 ribu malaikat dan mereka tidak pernah kembali lagi ke sana. Ini terus berlangsung sampai nanti hari kiamat.

Oleh: Ust Zico Pratama Putra

About admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement