Kafir

 Al Hafizh Ibnu Katsir berkata dalam tafsirnya: 

“Dan dikarenakan jihad itu mengandung penghilangan nyawa dan pembunuhan manusia maka Allah ta’ala menginggatkan bahwa apa yang mereka lakukan berupa kufur kepada Allah, syirik terhadap-Nya dan penghalanghalangan dari jalan-Nya, itu semua adalah lebih dahsyat, lebih besar dan lebih parah kerusakannya dari pembunuhan, oleh sebab itu Dia Ta’ala berfirman: “Dan fitnah itu labih dahsyat dari pembunuhan.” Abul Aliyah, Mujahid, Said Ibnu Jubair, Ikrimah, Hasan, Qotadah, Adh Dhahhak dan Ar Rabiy Ibnu Annas berkata mengenai firman-Nya ta’ala: “Dan fitnah itu lebih dahsyat dari pembunuhan” dengan ucapan: “Syirik itu lebih dahsyat dari pembunuhan.” 

Syaikh Sulaiman Ibnu Sahman rahimahullah salah seorang ulama dakwah tauhid najdiyyah berkata: 

“Seandainya penduduk desa dan penduduk kota perang saudara hingga semua jiwa musnah, tentu itu lebih ringan daripada mereka mengangkat thaghut di bumi ini yang memutuskan (persengketaan mereka itu) dengan selain syari’at Allah” (Ad Durar As Saniyyah: 10 Bahasan Thaghut) 

Dijelaskan dalam Al-Qur’an:

{جَاهِدِ الْكُفَّارَ وَالْمُنَافِقِينَ}

berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik. (At-Taubah: 73)

Ibnu Mas’ud telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu. (At-Taubah: 73) Yakni dengan kekuatan; dan jika tidak mampu, maka hadapilah pelakunya dengan wajah yang masam.

Ibnu Abbas mengatakan bahwa Allah سبحانه و تعالى memerintahkan Rasulullah صلى الله عليه وسلم untuk berjihad melawan orang-orang kafir dengan senjata dan orang-orang munafik dengan lisan, serta meniadakan sikap lemah lembut terhadap mereka.

Ad-Dahhak mengatakan, “Berjihadlah melawan orang-orang kafir dengan senjata, dan bersikap kasarlah terhadap orang-orang munafik dalam bertutur kata. Itulah cara mujahadah melawan mereka.” Hal yang semisal telah diriwayatkan pula dari Muqatil serta Ar-Rabi’. (oleh Imam Ibnu Katsir Asy-Syafi’i dalam Kitab tafsirnya]

Allah Ta’ala berfiman mengenai sifat orang munafik

الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ بَعْضُهُم مِّن بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمُنكَرِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمَعْرُوفِ وَيَقْبِضُونَ أَيْدِيَهُمْ

Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan. Sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka saling menyuruh membuat yang munkar dan saling melarang berbuat yang ma’ruf dan mereka menggenggamkan tangannya (sangat pelit). (QS. At-Taubah: 67).

Dan dibawah ini adalah contoh nifaq akbar, dimana kaum munafik menampakkan keislaman dihadapan kaum muslimin, namun dibelakang ternyata ia berseskongkol dengan musuh untuk menghantam islam.

Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hendak mengusir orang yahudi Bani Nadzir yang berkhianat, orang munafik justru memberikan semangat kepada mereka untuk tidak meninggalkan kampungnya dan melawan kaum muslimin. Bahkan mereka berjanji akan membantu yahudi,

أَلَمْ تَر إِلَى الَّذِينَ نَافَقُوا يَقُولُونَ لِإِخْوَانِهِمُ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَئِنْ أُخْرِجْتُمْ لَنَخْرُجَنَّ مَعَكُمْ وَلَا نُطِيعُ فِيكُمْ أَحَدًا أَبَدًا وَإِن قُوتِلْتُمْ لَنَنصُرَنَّكُمْ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ

Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang munafik yang berkata kepada saudara-saudara mereka yang kafir di antara ahli kitab: “Sesungguhnya jika kamu diusir niscaya Kamipun akan keluar bersamamu; dan Kami selama-lamanya tidak akan patuh kepada siapapun untuk (menyusahkan) kamu, dan jika kamu diperangi pasti Kami akan membantu kamu.” dan Allah menyaksikan bahwa Sesungguhnya mereka benar-benar pendusta. (QS. Al-Hasyr: 11)

Imam Ibnu Katsir Asy-Syafi’i berkata:

Bahwa kaum mukmin diperintahkan untuk berjihad melawan orang-orang munafik (nifaq akbar) bila mereka muncul [ kelihatan atau terbukti perbuatannya seperti bersekongkol atau bersatunya mereka dengan orang kafir melawan kaum muslimin], yaitu dengan perlawanan bersenjata. Pendapat inilah yang dipilih oleh Ibnu Jarir. [Tafsir Ibnu Katsir QS At-Taubah, ayat 73-74]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rohimahulloh berkata :

” Bila saja para salaf telah menamakan orang-orang yang menolak dari membayar zakat sebagai kaum MURTAD padahal mereka itu melaksanakan shaum dan shalat, mereka itu tidak memerangi jama’ah kaum musliminMaka apa gerangan dengan orang yang bergabung dengan musuh-musuh Alloh dan Rasul-Nya lagi memerangi kaum muslimin ? [Majmu Al Fatawa: 28/530]

Allah Azza wa Jalla berfirman,

وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّىٰ لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ لِلَّهِ ۖ فَإِنِ انْتَهَوْا فَلَا عُدْوَانَ إِلَّا عَلَى الظَّالِمِينَ

“Dan perangilah mereka itu sampai tidak ada lagi fitnah, dan agama hanya bagi Allah semata. Jika mereka berhenti, maka tidak ada (lagi) permusuhan, kecuali terhadap orang-orang zhalim.” [Al-Baqarah: 193]

Imam Ibnu Jarir ath-Thabari rahimahullah (wafat th. 310 H) berkata, “Perangilah mereka sehingga tidak terjadi lagi kesyirikan kepada Allah, tidak ada penyembahan kepada berhala, kemusyrikan dan ilah-ilah lain. Sehingga, ibadah dan ketaatan hanya ditujukan kepada Allah saja, tidak kepada yang lain.”[Tafsiir ath-Thabari (II/200).]

Ayat diatas berlaku umum kepada mereka yang kafir baik ia kafir harby maupun kafir murtad dan  tidak hanya  berlaku bagi perstiwa yang menjadi sebab diturunkannya ayat ini. jadi kalau ada ayat umum yang turun dengan sebab khusus, maka ayat itu berlaku umum untuk sababun nuzulnya maupun selain sababun nuzulny.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ عَصَمُوا مِنِّي دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ إِلَّا بِحَقِّ الْإِسْلَامِ وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللَّهِ

“Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga bersaksi bahwa tidak ada yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah dan Muhammad adalah Rasulullah, menegakkan shalat dan menunaikan zakat. Apabila mereka telah melakukannya, berarti mereka telah menjaga jiwa dan harta mereka dariku (Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam) kecuali dengan (alasan-red) hak Islam serta hisab mereka diserahkan kepada Allah” [HR al-Bukhâri, Imam Bukhari memasukkan hadits ini pada Kitab Jihad Dan Penjelajahan,dan memasukkannya dalam Bab Dakwah Nabi Shallallahu alaihi wasallam kepada manusia untuk islam. Dan juga pada Bab; Jika mereka Bertaubat, menegakkan Shalat, dan membayar zakat, maka berilah kebebasan mereka untuk berjalan.dan juga memasukkannya pada Kitab Berpegang teguh pada kitab dan Sunnah Bab mengikuti sunnah-sunnah Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam.dan juga memasukkannya pada Kitab Meminta Taubat orang-orang murtad dan para pembangkang serta memerangi mereka, dan juga memasukkannya pada bab membunuh orang-orang yang enggan menerima kewajiban dan mereka dinisbatkan kemurtadan]

artinya hadits ini selain dijadikan dasar untuk memerangi kafir harbi ia juga digunakan sebagai dasar memerangi kafir murtad yang memiliki kekuatan dan kekuasaan dan yang semisalnya sehingga tidak bisa dijangkau oleh kekuasaan dan kekuatan kaum muslimin untuk diringkus kemudian diberi kesempatan untuk bertaubat dan kembali kepada islam, jika menolak maka di jatuhi hukuman mati, dan ini berlaku hanya untuk kafir murtad, ia atau mereka hanya diberikan dua pilihan kembali masuk islam atau dibunuh baik dengan jalan peperangan atau lewat pengadilan syar’iyah,dan tidak berlaku jizyah bagi mereka seperti kafir dzimmi. Dan ini juga merupakan sunnah Khulafaur Rasyidin Abu Bakar dan Umar bin Khattab radhiyallahu anhuma sewaktu mereka memerangi kafir harbi dan kafir murtad dan merontokkan  kekuatan dan kekuasaan mereka dan perkara ini ini adalah ijma’ sahabat

Dari Abdullah bin Umar rahimahumullah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

بُعِثْتُ بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ بِالسَّيْفِ حَتىَّ يُعْبَدَ اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيْكَ لَهُ وَجُعِلَ رِزْقِيْ تَحْتَ ظِلِّ رُمْحِيْ وَجُعِلَ الذُّلُّ وَالصِّغَارُ عَلَى مَنْ خَالَفَ أَمْرِيْ وَمَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Aku diutus menjelang hari kebangkitan dengan pedang supaya hanya Allah semata yang di ibadahi, tiada sekutu bagi-Nya. Rezekiku diletakkan di bawah naungan pedangku. Kerendahan dan kehinaan ditetapkan bagi siapa saja yang menyelisihi perintahku. Barang siapa menyerupai suatu kaum, ia termasuk bagian dari mereka.”

Hadits tersebut dikeluarkan oleh al-Imam Ahmad (no. 5114, 5115, 5667), al-Khatib dalam al-Faqih wal Mutafaqqih (2/73), dan Ibnu Asakir (1/19/96) dari jalan Abdurrahman bin Tsabit bin Tsauban dari Hassan bin ‘Athiyyah dari Abu Munib al-Jarasyi.

Asy-Syaikh al-Albani menjelaskan dalam Jilbab Mar’ah Muslimah (203— 204), “Hadits ini sanadnya hasan. Mengenai Ibnu Tsauban, memang ada pembicaraan, namun tidak memudaratkan. Al-Imam al-Bukhari rahimahumullahtelah menyebutkan sebagian dari hadits di atas secara mu’allaq di dalam Shahihnya (6/75).”

Al-Hafizh rahimahumullah menjelaskan dalam syarahnya, “Hadits ini adalah bagian dari hadits yang dikeluarkan oleh al- Imam Ahmad dari jalan Abu Munib… dan hadits ini mempunyai penguat yang mursal dengan sanad yang hasan, dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah dari jalan al-‘Auza’i dari Sa’id bin Jabalah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam secara keseluruhan.”

Allah mengutus rasul-Nya dengan kitab dan Allah menurunkan besi untuk menjaganya.

لَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَأَنْزَلْنَا مَعَهُمُ الْكِتَابَ وَالْمِيزَانَ لِيَقُومَ النَّاسُ بِالْقِسْطِ وَأَنْزَلْنَا الْحَدِيدَ فِيهِ بَأْسٌ شَدِيدٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ وَرُسُلَهُ بِالْغَيْبِ إِنَّ اللَّهَ قَوِيٌّ عَزِيزٌ

“Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia, (supaya mereka mempergunakan besi itu) dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama) Nya dan rasul-rasul-Nya padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” (QS. Al Hadiid: 25)

Menafsiri ayat tersebut Al Hafiz ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Dan Kami jadikan besi untuk memaksa bagi yang enggan terhadap kebenaran dan menentangnya setelah tegaknya hujjah atasnya. Oleh karenanya Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam menetap di Makkah 13 tahun setelah nubuwah. Diwahyukan kepada beliau surat-surat Makiyah. Semuanya berisi untuk mendebat kaum musyrikin dan penjelasan tauhid, dan dalil-dalilnya. Maka ketika hujjah telah tegak atas mereka maka Allah menyariatkan hijrah dan memerintahkan jihad dengan pedang untuk memenggal leher-leher mereka yang menentang al-Qur’an, mendustakannya serta memeranginya.

——————————————————————–

Pemahaman atas hal ini juga telah dipraktekkan oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam sendiri terhadap individu diwilayah kekuasaan beliau berdasarkan hadits shahih dibawah ini:

Sunan Ibnu Majah 3919: Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Bakr As Sahmi telah menceritakan kepada kami Hatim bin Abu Shaghirah dari An Nu’man bin Salim dari ‘Amru bin Aus telah mengabarkan kepadanya ayahnya Aus, bahwa dia mengabarkan kepadanya, dia berkata:

إنا لقعود عند النبي صلى الله عليه وسلم وهو يقص علينا ويذكرنا إذ أتاه رجل فساره فقال النبي صلى الله عليه وسلم اذهبوا به فاقتلوه فلما ولى الرجل دعاه رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال هل تشهد أن لا إله إلا الله قال نعم قال اذهبوا فخلوا سبيله فإنما أمرت أن أقاتل الناس حتى يقولوا لا إله إلا الله فإذا فعلوا ذلك حرم علي دماؤهم وأموالهم

“Kami pernah duduk-duduk di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bercerita kepada kami dan memberikan pelajaran kepada kami. Tiba-tiba datanglah seorang laki-laki yang mengintainya, lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tangkaplah ia dan bunuhlah.” Ketika orang tersebut hendak melarikan diri, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggilnya dan bertanya: “Apakah kamu telah bersaksi tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah?” dia menjawab, “Ya.” Beliau bersabda: “Pergilah kalian dan lepaskanlah ia, sebab aku telah diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka mengucapkan ‘LAA ILAAHA ILLALLAH’. Jika mereka telah mengucapkannya, maka telah di haramkan bagiku darah dan hartanya mereka.” Hadits Shahih Riwayat Ibnu Majah , Kitab Fitnah Bab menahan diri dari orang yang mengucapkan لا إله إلا الله

Dan setelah Rasulullah wafat dan disempurnakannya agama ini, hal ini juga telah dipraktekkan oleh khulafaur rasyidin saat mereka memerangi kafir murtad dan kafir harbi dan manhaj ini merupakan ijma’ sahabat

Dan jalan ini juga dibenarkan dan ditempuh oleh Nabi Isa عليه السلام berdasarkan apa yang diberitakan oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam dalam hadits shahih dibawah ini.

Sunan Abu Daud 3766: Telah menceritakan kepada kami Hudbah bin Khalid berkata: telah menceritakan kepada kami Hammam bin Yahya dari Qatadah dari ‘Abdurrahman bin Adam dari Abu Hurairah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 ليس بيني وبينه نبي يعني عيسى وإنه نازل فإذا رأيتموه فاعرفوه رجل مربوع إلى الحمرة والبياض بين ممصرتين كأن رأسه يقطر وإن لم يصبه بلل فيقاتل الناس على الإسلام فيدق الصليب ويقتل الخنزير ويضع الجزية ويهلك الله في زمانه الملل كلها إلا الإسلام ويهلك المسيح الدجال فيمكث في الأرض أربعين سنة ثم يتوفى فيصلي عليه المسلمون

“Tidak ada Nabi antara aku dan dia -maksudnya Isa-. Sungguh, kelak ia akan turun, jika kalian melihatnya maka kenalilah. Ia adalah seorang laki-laki yang sedang (tidak tinggi ataupun pendek), berkulit merah keputih-putihan, mengenakan kain berwarna kekuningan. Seakan rambut kepala menetes meski tidak basah. Ia akan MEMERANGI MANUSIA atas nama Islam, mematahkan salib, membunuh babi dan membebaskan jizyah (pajak). Pada masanya Allah akan membinasakan semua agama selain Islam, Isa akan membunuh Dajjal, dan akan tinggal di dunia selama empat puluh tahun. Setelah itu ia meninggal dan kaum muslimin menshalatinya.”  [Hadits Shahih  Riwayat Abu Daud, Kitab peperangan besar]

Dari Imran bin Hushain, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لا تزال طائفة من أمتي يقاتلون على الحق ظاهرين على من ناوأهم حتى يقاتل آخرهم المسيح الدجال

“Akan senantiasa ada sekelompok dari umatku yang berperang di atas kebenaran dalam keadaan unggul atas orang-orang yang memusuhi mereka hingga orang terakhir diantara mereka memerangi Al Masih Dajjal.” [Hadits Shahih Sunan Abu Daud. Kitab Jihad. Bab Keberlangsungan Jihad]

صحيح مسلم ٢٢٥: حدثنا الوليد بن شجاع وهارون بن عبد الله وحجاج بن الشاعر قالوا حدثنا حجاج وهو ابن محمد عن ابن جريج قال أخبرني أبو الزبير أنه سمع جابر بن عبد الله يقولا

سمعت النبي صلى الله عليه وسلم يقول لا تزال طائفة من أمتي يقاتلون على الحق ظاهرين إلى يوم القيامة قال فينزل عيسى ابن مريم صلى الله عليه وسلم فيقول أميرهم تعال صل لنا فيقول لا إن بعضكم على بعض أمراء تكرمة الله هذه الأمة

Shahih Muslim 225: Telah menceritakan kepada kami Al-Walid bin Syuja’ dan Harun bin Abdullah serta Hajjaj bin Asy-Sya’ir mereka berkata: telah menceritakan kepada kami Hajjaj -yaitu Ibnu Muhammad- dari Ibnu Juraij dia berkata: Abu az-Zubair telah mengabarkan kepadaku, bahwa ia mendengar Jabir bin Abdullah berkata:

Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Akan senantiasa ada dari umatku sekelompok orang yang berperang di atas kebenaran, mereka akan selalu menang hingga hari kiamat.” Beliau bersabda lagi: “Turunlah Isa putra Maryam, lalu pemimpin mereka berkata: ‘Kemarilah, pimpinlah kami shalat.” Isa berkata: ‘Tidak, sesungguhnya sebagian kalian atas sebagian yang lain adalah pemimpin, sebagai bentuk pemuliaan Allah terhadap umat ini’.” [HR. Muslim Kitab Iman, Bab Turunnya Isa putra Maryam sebagai hakim dengan syari’at Nabi kita Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam]

Dari Uqbah bin Amir berkata; sesungguhnya saya juga pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لا تزال عصابة من أمتي يقاتلون على أمر الله قاهرين لعدوهم لا يضرهم من خالفهم حتى تأتيهم الساعة وهم على ذلك فقال عبد الله أجل ثم يبعث الله ريحا كريح المسك مسها مس الحرير فلا تترك نفسا في قلبه مثقال حبة من الإيمان إلا قبضته ثم يبقى شرار الناس عليهم تقوم الساعة

‘Akan senantiasa ada dari umatku satu kelompok yang berperang di atas urusan [agama] Allah, mereka mengalahkan musuh-musuh mereka, dan orang-orang yang menyelisihi mereka tidak akan dapat membahayakan mereka sedikitpun hingga datang hari kiamat sedangkan mereka masih dalam keadaan seperti itu.” Abdullah pun menimpali, “Benar.” Kemudian Allah mengirim sebuah angin yang baunya seperti bau misk dan lembutnya seperti lembut sutera, tidaklah ia melewati seseorang yang di dalam hatinya terdapat keimanan meskipun hanya seberat biji benih, kecuali ia pasti akan diwafatkannya. Maka tinggallah orang-orang jahat saja, lalu terjadilah hari kiamat.”[HR. Shahih Muslim. Kitab Kepemimpinan No 3550]

Berikut ini adalah dalil Syar’i lainnya mengenai memerangi kafir murtad dan kafir harbi 

Allah Ta’ala berfirman;

قُلْ لِلَّذِينَ كَفَرُوا إِنْ يَنْتَهُوا يُغْفَرْ لَهُمْ مَا قَدْ سَلَفَ وَإِنْ يَعُودُوا فَقَدْ مَضَتْ سُنَّةُ الأوَّلِينَ وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ كُلُّهُ لِلَّهِ فَإِنِ انْتَهَوْا فَإِنَّ اللَّهَ بِمَا يَعْمَلُونَ بَصِيرٌ  وَإِنْ تَوَلَّوْا فَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَوْلاكُمْ نِعْمَ الْمَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيرُ

Katakanlah kepada orang-orang yang kafir itu, “Jika mereka berhenti (dari kekafirannya), niscaya Allah akan mengampuni mereka tentang dosa-dosa mereka yang sudah lalu; dan jika mereka kembali lagi, sesungguhnya akan berlaku (kepada mereka) sunnah (Allah terhadap) orang-orang dahulu.” Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata bagi Allah. Jika mereka berhenti (dari kekafirannya), maka sesungguh­nya Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan. Dan jika mereka berpaling, maka ketahuilah bahwa Allah Pelindung kalian. Dia adalah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong. [Lihat Al-Qur’an surat. Al-Anfal, ayat 38-40]

Ayat diatas berlaku umum kepada mereka yang kafir baik ia kafir harby maupun kafir murtad dan  tidak hanya  berlaku bagi perstiwa yang menjadi sebab diturunkannya ayat ini. jadi kalau ada ayat umum yang turun dengan sebab khusus, maka ayat itu berlaku umum untuk sababun nuzulnya maupun selain sababun nuzulny

Abu ‘Abdillah al-Qurthubi rahimahullah (wafat th. 671 H) mengatakan, “Ayat dan hadits di atas menunjukkan bahwa sebab qital (perang) adalah kekufuran.”[Lihat Tafsiir al-Qurthubi (II/236), cet. Darul Kutub al-‘Ilmiyyah

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah (wafat th. 728 H) mengatakan, “Tujuan jihad adalah agar kalimat Allah tinggi, dan agar agama semuanya milik Allah, yaitu maksud tujuannya agar agama Allah tegak (di muka bumi).”[Majmuu’ Fataawaa (XV/170, XXVIII/23, 354).]

Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah mengatakan, 

“Maksud dan tujuan dari perang di jalan Allah bukanlah sekedar menumpahkan darah orang kafir dan mengambil harta mereka, akan tetapi tujuannya agar agama Islam ini tegak karena Allah di atas seluruh agama dan menghilangkan (mengenyahkan) semua bentuk kemusyrikan yang menghalangi tegaknya agama ini, dan itu yang dimaksud dengan fitnah (syirik). Apabila fitnah (kesyirikan) itu sudah hilang, tercapailah maksud tersebut, maka tidak ada lagi pembunuhan dan perang.”[Taisiirul Kariimir Rahmaan fii Tafsiiri Kalaamil Mannaan (hlm. 76), Maktabah al-Ma’arif, cet. I, th. 1420 H]

Pembahasan lengkap dan lebih memuaskan mengenai hal ini ada di kolom komentar dan inilah manhaj para sahabat dan para ulama Ahlussunnah yang mengikuti jejak mereka dengan baik diantaranya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, Al-Hafizh Ibnu Katsir Asy-Syafi’i dll.

Syaikh Abdullah bin Abdul Hamid Al Atsary :

Artinya,“Adapun jika (para penguasa) menonaktifkan syariat Allah, tidak berhukum dengannya dan berhukum dengan yang lain maka mereka telah keluar dari ketaatan kaum muslim dan manusia tidak wajib menaatinya. Karena mereka telah menyia-nyiakan tujuan imamah (kepemimpinan) yang menjadi alas an pengangkatannya, sehingga dia berhak didengar, ditaati dan tidak boleh keluar darinya (tidak boleh memberontaknya).

Ulil Amri berhak mendapatkan itu semua (ketaatan) dikarenakan mereka melaksanakan kepentingan (urusan) kaum muslim, menjaga dan menyebarkan agama, melaksanakan hukum-hukum, menjaga perbatasan, memerangi orang-orang yang menolak Islam setelah mendakwahinya, mencintai kaum muslimin dan memusuhi orang-orang kafir.

Jika dia tidak menjaga agama atau tidak melaksanakan urusan kaum muslim maka telah hilang darinya hak kepemimpinan. Dan wajib bagi umat ) untuk mencopotnya dan menggantinya dengan yang lain yang punya kapabilitas untuk merealisasikan tujuan kepemimpinan.

Ketika Ahli Sunnah tidak memperbolehkan keluar dari para pemimpin yang dzalim dan fasik -karena kejahatan dan kedzaliman tidak berarti menyia-nyiakan agama- maka yang dimaksud mereka adalah pemimpin yang berhukum dengan syariat Allah. Kalangan As Salaf As Shalih tidak mengenal istilah pemimpin (ulil amri pent-) yang tidak menjaga agama. Menurut mereka pemimpin seperti ini bukanlah ulil amri. Yang dimaksud kepemimpinan (ulil amri) adalah menegakan agama. Setelah itu baru ada yang namanya kepemimpinan yang baik dan kepemimpinan yang buruk.” (Al Wajiz fi Aqidati Salafis Sholih Ahlussunnah wal Jamaah, hal 103. Buku ini dimuraja’ah oleh Syaikh Sholih Fauzan, Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al Jibrin, Syaikh Sholih bin Abdul Azis Alu Syaikh, Syaikh Su’ud Syuraim dll)

Maka, dapat dipahami bahwa ulil amri yang sah secara syar’i adalah bilamana kekuasaannya bersandarkan kepada syariat Allah. Dan menjadi tidak sah bila disandarkan kepada selain hukum Allah.

Kesimpulan

Ulil amri adalah pelanjut estafet tugas nabi Muhmmad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Tujuan (maqashid) utamanya adalah menjaga agama dan mengatur segala urusan dunia berdasarkan agama. Posisi seorang ulil amri menjadi sah terhadap umat Islam, bilamana dia menegakkan hukum Allah. Bukan ulil amri yang memimpin secara thoghut (meninggalkan hukum Allah).

Syeikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz Berkata

…. ﻷﻧﻪ ﻟﻴﺲ ﻛﻞ ﺣﺎﻛﻢ ﻳﻜﻮﻥ ﻋﺎﻟﻤﺎ ﻳﺼﺢ ﻣﻨﻪ ﺍﻹﺟﺘﻬﺎﺩ، ﻛﻤﺎ ﺃﻧﻪ ﻟﻴﺲ

ﻛﻞ ﺣﺎﻛﻢ ﺳﻮﺍﺀ ﻛﺎﻥ ﻣﻠﻜﺎً ﺃﻭ ﺭﺀﻳﺲ ﺟﻤﻬﻮﺭﻳﺔ ﻳﺴﻤﻲ ﺃﻣﻴﺮ ﺍﻟﻤﺆﻣﻨﻴﻦ،

ﻭﺇﻧﻤﺎ ﺃﻣﻴﺮ ﺍﻟﻤﺆﻣﻨﻴﻦ ﻣﻦ ﻳﺤﻜﻢ ﺑﻴﻨﻬﻢ ﺑﺸﺮﻉ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﻳﻠﺰﻣﻬﻢ ﺑﻪ، ﻭﻳﻤﻨﻌﻬﻢ

ﻣﻦ ﻣﺨﺎﻟﻔﺘﻪ، ﻫﺬﺍ ﻫﻮ ﺍﻟﻤﻌﻠﻮﻡ ﺑﻴﻦ ﻋﻠﻤﺎﺀ ﺍﻹﺳﻼﻡ ﻭﺍﻟﻤﻌﺮﻭﻑ ﺑﻴﻨﻬﻢ .

“…Karena tidaklah setiap pemimpin di namakan seorang

alim yang sehinngga di benarkan ia berijtihad, sebagaimana

tidaklah setiap pemimpin, baik itu kedudukannya sebagai

raja atau presiden di namakan “AMIRUL MUKMININ” (Ulil

Amri), karena yang di namakan “AMIRUL MUKMININ (Ulil

Amri) adalah hanyalah seseorang yang BERHUKUM DI

ANTARA RAKYATNYA DENGAN SYARI’AT ALLAH dan

mengharuskan mereka atas itu, dan melarang mereka untuk

menyelisihinya. Inilah yang telah di ketahui di antara Ulama

Islam dan di kenal di kalangan mereka para ulama”. 

[Majmu’ Fatawa wa Maqolatun Mutanawwi’atun 1/ 117

cet. Daarul Qasim lin Nasyr-Riyadh]

Untuk mendapatkan pemahaman yang utuh dan memuaskan silahkan lihat dan baca kelanjutannya di kolom komentar status ini

link status: 

 

https://www.facebook.com/photo.php?fbid=546394869174688&set=a.258073514673493&type=3

Dan Anda akan mengetahui bahwa inilah manhaj salaf dari kalangan  as-Sabiqun al-Awwalun yaitu orang-orang terdahulu yang pertama kali masuk/memeluk Islam pada generasi pertama, diantara mereka adalah Khulafaur Rasyidin yaitu Abu bakar, Umar, Utsman dan Ali bin Abi Thalib.  

Mengenai para sahabat radhiyallahu ‘anhum khususnya as-Sabiqun al-Awwalun yaitu orang-orang terdahulu yang pertama kali masuk/memeluk Islam pada generasi pertama mereka itu merupakan orang-orang yang meraih keridhaan Allah dan mereka pun ridha kepada Allah. 

Allah berfirman:

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Mereka kekal di dalamnya, itulah kemenangan yang besar.” (Q.S. At-Taubah: 100).

Bahwasanya Allah Ta’ala memberikan pujian kepada orang yang mengikuti para sahabat, Apabila para Sahabat menyatakan sebuah pendapat kemudian diikuti oleh pengikutnya sebelum ia tahu kebenarannya, maka ia (dianggap) sebagai pengikut mereka, sehingga wajib mendapatkan pujian atas sikapnya dan berhak mendapatkan keridhaan Allah.(I’lamul Muwqqi’iin, IV/94-95 oleh Imam Ibnul Qayyim rahimahullah).

Dan mengenai Khulafaur Rasyidin yaitu Abu bakar, Umar, Utsman dan Ali bin Abi Thalib. 

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang berumur panjang di antara kalian, kelak dia akan melihat perselisihan yang banyak. Maka hendaknya kalian tetap berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah Khulafa–ur Rasyidin yang mendapat petunjuk. Berpegang teguhlah dengannya. Gigitlah dengan gigi geraham kalian. Berhati-hatilah kalian dengan perkara-perkara yang baru dalam agama, karena setiap ajaran yang baru dalam agama Islam adalah termasuk perbuatan bid’ah, dan setiap bid’ah adalah kesesatan, dan setiap kesesatan tempatnya di neraka” (HR. An Nasa’i, derajat : hasan shahih, Shahih Sunan Ibnu Majah )

Imam Ibnu Rajab Al Hambali rahimahullah berkata, “Di dalam hadits ini terdapat perintah ketika terjadi perselisihan untuk berpegang teguh dengan sunnah Nabi dan khulfaur rasyidin. Yang dimaksud sunnah adalah jalan yang ditempuh, mencakup di dalamnya berpegang teguh dengan keyakinan, perkataan, dan perbuatan Nabi dan khulfaur rasyidin. Inilah sunnah yang sempurna. Oleh karena itu para ulama salaf di masa silam tidak menamakan sunnah kecuali mencakup seluruh perkara tadi” (lihat Jami’ul ‘Ulum wal Hikam)

Imam Asy-Syathiby rahimahullah berkata: “Rasulullah menggandengkan -sebagaimana engkau lihat– sunnah Khulafaur Rasyidin dengan sunnah beliau, dan bahwa termasuk mengikuti sunnah beliau adalah dengan mengikuti sunnah mereka. Sedangkan segala perkara yang baru menyelisihi sunnah tersebut, tidak termasuk sunnah sama sekali. Karena sesungguhnya sunnah yang dilakukan oleh para sahabat tidak lepas dari dua alternatif, bisa jadi mereka hanya semata-mata mengikuti sunnah Rasulullah, atau mengikuti apa yang mereka pahami dari sunnah beliau, baik secara global maupun terperinci, menurut satu sisi yang tidak dipahami semisalnya oleh selain mereka, tidak lebih dari itu.”[Al-I’tisham (1/104)]

Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu  mengatakan:

.

“Barangsiapa di antara kalian yang ingin meneladani, hendaklah meneladani para Shahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena sesungguhnya mereka adalah ummat yang paling baik hatinya, paling dalam ilmunya, paling sedikit bebannya, dan paling lurus petunjuknya, serta paling baik keadaannya. Suatu kaum yang Allah telah memilih mereka untuk menemani Nabi-Nya, untuk menegakkan agama-Nya, maka kenalilah keutamaan mereka serta ikutilah atsar-atsarnya, karena mereka berada di jalan yang lurus.” [Dikeluarkan oleh Ibnu Abdil Baar dalam kitabnya Jami Bayanil Ilmi wa Fadhlih II/947 no. 1810, tahqiq Abul Asybal Samir az-Zuhairy.]

Imam al-Auza’i rahimahullah (wafat th. 157 H) mengatakan:

“Bersabarlah dirimu di atas Sunnah, tetaplah tegak sebagaimana para Shahabat tegak di atasnya. Katakanlah sebagaimana yang mereka katakan, tahanlah dirimu dari apa-apa yang mereka menahan diri darinya. Dan ikutilah jalan Salafush Shalih, karena akan mencukupi kamu apa saja yang mencukupi mereka.” [Syarh Ushul Itiqaad Ahlis Sunnah wal Jamaah 1/174 no. 315]

Beliau rahimahullah juga berkata:

“Hendaklah kamu berpegang kepada atsar Salafush Shalih meskipun orang-orang menolaknya dan jauhkanlah diri kamu dari pendapat orang meskipun ia hiasi pendapatnya dengan perkataannya yang indah.” [Imam al-Aajury dalam as-Syariah I/445 no. 127, dishahihkan oleh al-Albany dalam Mukhtashar al-Uluw lil Imam adz-Dzahaby hal. 138, Siyar Alaam an-Nubalaa VII/120.]

Muhammad bin Sirin rahimahullah (wafat th. 110 H) berkata:

.

“Mereka mengatakan: ‘Jika ada seseorang berada di atas atsar (sunnah), maka sesungguhnya ia berada di atas jalan yang lurus.” [HR. Ad-Darimy I/54, Ibnu Baththah dalam al-Ibanah an Syariatil Firqatin Najiyah I/356 no. 242. Syarah Ushul Itiqaad Ahlis Sunnah wal Jamaah oleh al-Laalikaa-iy I/98 no. 109.]

Imam Ahmad rahimahullah (wafat th. 241 H) berkata:

“Prinsip Ahlus Sunnah adalah berpegang dengan apa yang dilaksanakan oleh para Shahabat ridhwanullahi ‘alaihim ajma’in dan mengikuti jejak mereka, meninggalkan bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.” [Syarah Ushul Itiqaad Ahlis Sunnah wal Jamaah oleh al-Laalikaaiy I/175-185 no. 317]

Fudhail bin ‘Iyad rahimahullah berkata:

“Ikutilah jalan-jalan petunjuk (Sunnah), tidak membahayakanmu sedikitnya orang yang menempuh jalan tersebut. Jauhkan dirimu dari jalan-jalan kesesatan dan janganlah engkau tertipu dengan banyaknya orang yang menempuh jalan kebinasaan.” [Lihat al-Itisham I/112]

About admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement