Islam : Fikrah dan Thariqah

 

Islam adalah agama sekaligus sebagai sebuah mabda’. Inilah kesempurnaan Islam yang tidak akan pernah didapati didalam sebuah agama, kecuali agama Islam, dan tidak akan pula di dapati didalam sebuah mabda’ atau ideology, kecuali ideology Islam.

firman Allah Swt:

]الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ اْلإِسْلاَمَ دِينًا[

Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu, telah Kucukupkan nikmatKu kepadamu dan telah Kuridhai Islam menjadi agamamu. (TQS al-Maidah [5]: 3)

]وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ[

Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur’an) yang berupa penjelasan terhadap segala sesuatu. (TQS an-Nahl [16]: 89)

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Barangsiapa mencari agama selain Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akherat termasuk orang-orang yang merugi.” (Ali Imron:85).

Mengapa Islam disebut juga sebagai sebuah mabda’ atau ideology? Untuk menjawab pertanyaan ini, maka kita harus kembalikan dulu apa makna ideology itu sendiri. Dalam kamus besar bahasan Indonesia misalnya atau KBBI, disebutkan bahwa ideology adalah kumpulan konsep bersistem yang dijadikan asas pendapat (kejadian) yang memberikan arah dan tujuan untuk kelangsungan hidup1. Kita juga bisa melihat definisi ideology yang terdapat dalam kamus Merriam- Webster2 misalnya yang mengatakan “ideologi” adalah :

a – sekumpulan konsep sistematis terutama mengenai kehidupan manusia atau budaya

b – cara atau muatan karakteristik berpikir dari individu, kelompok , atau budaya

c – pernyataan-pernyataan, teori-teori dan tujuan-tujuan yang terintegrasi yang merupakan suatu program sosial politik.

Dan Islam memuat ketiga hal tersebut. Islam adalah “ideologi” menurut hampir semua definisi kamus.

Sebagai seorang muslim, ketika kita berbicara tentang “ideologi,” kita sebenarnya mengacu pada terjemahan dari kata bahasa Arab yang artinya adalah : “mabda’ ” atau مبدأ, yang berarti : 1) Dasar dimana sudut pandang kehidupan anda diatur, dari mana anda mengambilnya, dan 2) seperangkat solusi untuk hidup sesuai dengannya. Dari definisi di atas, kita bisa melihat bahwa secara umum dapat disimpulkan bahwa ideology berasal dari sudut pandang sebuah pemahaman terkait kehidupan yang kemudian dengan dasar pemahaman tersebut akan menjadi suatu pijakan untuk dijadikan aturan.

Gambaran yang lebih jelas dituangkan oleh Syaikh Taqiyudin an Nabhani di dalam kitab Nizhamul Islam3, yakni “Mabda’ adalah suatu aqidah aqliyah yang melahirkan peraturan. Yang dimaksud aqidah adalah pemikiran yang menyeluruh tentang alam semesta, manusia, dan hidup, serta tentang apa yang ada sebelum dan setelah kehidupan, di samping hubungannya dengan Zat yang ada sebelum dan sesudah alam kehidupan di dunia ini. Atau Mabda’ adalah suatu ide dasar yang menyeluruh mengenai alam semesta, manusia, dan hidup. Mencakup dua bagian yaitu, fikrah dan thariqah. Dengan kata lain, ideologi Islam adalah : 1) Akidah Islam sebagai dasar pandangan hidup kita, dan 2) Al-Qur’an dan Sunnah sebagai sumber dari segala solusi bagi kehidupan. Hal itu adalah sebuah ideologi. Oleh karena itu, tanpa diragukan lagi, Islam adalah sebuah ideologi.

Jika kita menelaah hukum-hukum yang terdapat di dalam Islam, maka kita akan menemukan bahwa ada dua jenis hukum/ajaran di dalam Islam. Pertama: akidah dan hukum syariah yang terkait dengan penyelesaian persoalan yang ada dalam kehidupan. Akidah dan berbagai hukum/ajaran seperti itu dikenal dengan istilah fikrah. Fikrah lebih merupakan konsepsi atau mafahim. Misalnya: keimanan pada al-Quran dan as-Sunnah serta kemampuan Islam dalam menyelesaikan persoalan, keimanan bahwa Allah itu Maha adil dan menurunkan hukum-hukum Islam yang adil, dsb. Begitu juga hukum tentang shalat, shaum, haji, kewajiban memberi makan fakir miskin, dsb; semua itu termasuk ke dalam fikrah.

Kedua: yakni hukum/ajaran yang merupakan metode pelaksanaan dari fikrah tadi. Inilah yang dikenal dengan tharîqah. Misalnya: hukum Islam terkait pelaku murtad, yakni keluar dari agama Islam, orang tersebut akan diberi peringatan, negara memberikan kesempatan selama tiga hari bagi pelaku murtad tersebut untuk bertobat, sembari di dakwahi agar kembali kepada agama Islam. Jika tidak bertobat dalam waktu tersebut maka pengadilan akan menjatuhkan hukuman mati. Tobat orang murtad yang diterima hanya jika murtadnya itu tidak berulang-ulang, yakni tidak keluar-masuk Islam4. Hukum tersebut merupakan hukum untuk menjaga keimanan pada diri kaum Muslim hingga tetap dalam keislamannya.

Karena hukum syariah tersebut merupakan metode pelaksanaan hukum ’kewajiban beriman’ maka dikategorikan sebagai thariqah. Contoh lain: Islam mewajibkan memberi makan fakir miskin. Bagaimana metode supaya fakir miskin tersebut benar-benar terjamin makannya? Al-Quran dan as-Sunnah menetapkan adanya hukum nafkah antar ahli waris, hukum zakat yang salah satu penerimanya adalah fakir miskin, hukum pemberian negara (i’thâ’ ad-dawlah) kepada mereka, dan hukum wajibnya negara menjamin kebutuhan pokok warganya. Hukum yang merupakan metode pelaksanaan terlaksananya kewajiban memberi makan fakir miskin tersebut merupakan tharîqah.

Berdasarkan gambaran sekilas di atas, fikrah dan tharîqah sama-sama hukum Islam. Fikrah dan tharîqah harus dijalankan. Hukum/ajaran Islam baik yang terkategori fikrah maupun tharîqah ini membentuk mabda’ (ideologi) Islam. Memisahkan keduanya berarti melaksanakan sebagian hukum syariah dan meninggalkan sebagian hukum syariah lainnya. Tentu ini diharamkan. Berdasarkan hal ini, Islam yang wajib ditegakkan adalah Islam mabda’i (ideologis), dalam arti fikrah dan tharîqah-nya harus berasal dari syariah.

Penerapan ‘Uqubat Adalah Thariqah

Islam didefinisikan sebagai agama yang diturunkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW, yang mengatur hubungan manusia dengan Khaliq-nya, dirinya, dan dengan sesamanya. Hubungan manusia dengan Khaliq-nya tercakup dalam akidah dan ibadah. Hubungan manusia dengan dirinya tercakup dalam akhlak, makanan/minuman dan pakaian. Sedangkan hubungan manusia dengan sesamanya tercakup dalam mu’amalat dan uqubat.5

Artinya, semuanya diatur di dalam Islam, dan sebagai seorang Muslim maka wajib melaksanakan semua kewajiban tersebut. persoalannya kemudian adalah ternyata fakta nya sekarang kita tidak bisa melakukan semua kewajiban tersebut, kecuali sebatas menyangkut hubungan kita dengan Allah SWT, serta perkara yang menyangkut hubungan dengan diri kita sendiri. Adapun hubungan yang menyangkut dengan orang lain maka tidak semuanya yang bisa kita lakukan, karena ada peranan negara, bukan peranan kita, dalam hal ini yakni masalah ‘uqubat. Kita pun diperintahkan oleh Allah SWT agar memeluk Islam secara kâffah, tidak setengah-setengah.

Firman Allah SWT :

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagi kalian (QS al-Baqarah [2]: 208).

Oleh karena itu, diperlukan kekuasaan agar semua kewajiban tersebut dapat terlaksana, tanpa adanya kekuasaan, tidak akan pernah bisa tegak secara sempurna pelaksanaan Islam tadi, bahkan sebagian hanya akan tetap menjadi sebuah konsepsi atau pemahaman atau fikrah.

Sederhananya, sholat misalnya adalah suatu kewajiban bagi seorang Muslim. Ini adalah sebuah fikrah. Bagaimana agar sholat itu bisa tegak, maka harus ada thariqah-nya, itulah ‘uqubat atau sanksi. Dimana negara akan memberikan sanksi bagi siapa saja yang tidak mau melaksanakan ibadah sholat. Karena tugas dari Khalifah di dalam system Khilafah adalah untuk menegakan hukum-hukum Islam, tanpa adanya sanksi maka tidak akan terlaksana hukum Islam tadi. Sebagaimana definisi Khilafah :

اَلْخِلاَفَةُ هِيَ رِئَاسَةٌ عَامَّةٌ لِلْمُسْلِمِيْنَ جَمِيْعاً فِي الدُّنْيَا لإِقَامَةِ أَحْكَامِ الشَّرْعِ الإِسْلاَمِيِّ، وَحَمْلِ الدَّعْوَةِ الإِسْلاَمِيَّةِ إِلَى الْعَالَمِ

Khilafah adalah kepemimpinan umum bagi kaum muslimin seluruhnya di dunia untuk menegakkan hukum-hukum Syariah Islam dan mengemban dakwah Islam ke seluruh dunia.”6

Benar bahwa tanpa adanya Khilafah, sholat sekarang bisa terlaksana, namun, pertanyaanya adalah apakah semua umat Islam yang sudah baligh baik laki-laki dan perempuan sudah melaksanakan sholat? Jawaban nya adalah belum, tidak semua. Disinilah peranan negara untuk mewujudkan agar semua kewajiban tadi bisa terlaksana. Dan itu oleh negara Islam yang bernama Khilafah tadi, yang kemudian menerapkan sanksi atau ‘uqubat kepada siapa-siapa yang melanggar syariah, termasuk tidak sholat tadi. Benar pula bahwa sholat itu adalah harus ikhlas, bukan karena paksaan, dan tidak hanya sholat, semua ibadah juga harus ikhlas. Dan ini tidak ada kaitannya dengan sanksi yang diberikan oleh Khalifah. Ikhlas adalah perkara yang memang harus sudah ada pada diri manusia dalam beribadah, sedangkan Khilafah memiliki kewajiban untuk mewujudkan tegaknya semua hukum Islam tadi. Begitu pula dengan pelaksanaan kewajiban Zakat, Jihad, dan sebagainya.

Kesimpulan

Islam terdiri atas fikrah dan thariqah. Dua hal ini tidak dapat dipisahkah. Tanpa adanya thariqah, maka Islam hanya akan menjadi sebatas fikrah atau pemahaman atau pemikiran saja. Fikrah lebih merupakan konsepsi atau mafahim. Misalnya kewajibanhukum tentang shalat, shaum, haji, kewajiban memberi makan fakir miskin, dsb; semua itu termasuk ke dalam fikrah. Dan untuk pelaksanaan semua itu memerlukan thariqah, yakni dengan adanya penerapan sanksi terhadap mereka yang tidak melaksanakan kewajiban tersebut. yakni penarapan ‘uqubat. Dan penerapan ‘uqubat tidak akan terlaksana secara sempurna tanpa melalui negara, itulah negara Islam yang disebut dengan Khilafah. wallahu a’lam.

About Global Muslim

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement