Inikah Tembok Dzulqarnaen yang Disebut Dalam Surat Al-Kahfi?

Mendekat ke Timur

Di bagian Yunani kuno

Lahirlah seorang anak

putra Philip dari Macedonia

Sang Legenda,

namanya Alexander

Sejak usia 19

Bertahta sebagai Raja

Macedonia Bersumpah 

untuk membebaskan seluruh Asia Kecil

Melayari Laut Aegea

tahun 334 SM

Dia taklukkan para tentara Persia

Pembaca mungkin mengira ini potongan puisi sejarah yang keren. Jika melihat buku sejarah klasik, banyak sejarawan memasukkan puisi dalam bukunya yang tujuannya kadang supaya mudah dihafal. Isinya berupa kilas ringkasan sejarah seperti contoh diatas. Contohlah bidayah ibnu katsir, tarikh khulafa suyuthi, tarikh mulk tabari, dll, atau tulisan sejarah Hamka sering juga beliau sisipkan puisi. 

Tapi syair diatas, berupa kilas sejarah Alexander Agung (The Great), justru dinyanyikan oleh satu grup rock beraliran Progressive, Iron Maiden (IM). Apa itu progressive rock, panjang ceritanya. Ini aliran yang hampir punah, karena semua persyaratan paling high-end dalam musik harus ada, lirik harus jelimet dan puitis serta musikalitas kudu tinggi. Pengusungnya macam Yes, Pink Flyod, Rush, atau generasi paling akhirnya Dream Theater. Lagu cinta cukup jarang masuk list mereka, karena mereka lebih memilih cari topik dari buku-buku sejarah, legenda, fairy tale, dsb untuk menampilkan nuansa klasik. Bruce Dickinson, vokalis IM, sebetulnya orang pinter. Dia juga pilot pesawat komersil. Mengkuliahi sejarah dalam bentuk musik tentu perlu putar otak. Maka gaya menyanyinya dicitrakan seperti narator cerita-cerita legenda di film-film yang kayak suara orang tua. “Pada dahulu kala, hiduplah seorang anak…..” Gitulah, kayak narator Brama Kumbara.

Tapi tema bahasan kita ini soal Iskandar Dzulqarnain. Apakah dia adalah Alexander Agung, atau mereka dua tokoh berbeda? Kisah Dzulqarnain disebut dalam surat Al Kahfi ayat 83-94. Sebab turunnya kisah ini berdasarkan teka-teki yang dilontarkan pendeta Yahudi untuk menguji kenabian Nabi Muhammad SAW. Mereka berkata “Tanyalah kepada Muhammad akan tiga perkara. Jika dia dapat menjawabnya, maka dia adalah seorang Nabi yang diutuskan. Akan tetapi jika dia tidak dapat menjawabnya, maka dia hanyalah orang yang mengaku menjadi Nabi. Tanyalah kepadanya tentang para pemuda pada zaman dahulu yang bermusafir dan apa yang terjadi kepada mereka karena cerita tentang pemuda itu sangat menarik. Tanyakan kepadanya tentang seorang pengembara yang sampai ke Timur dan Barat dan apa pula yang terjadi padanya dan tanyakan kepadanya tentang roh, apakah roh itu.”

Pengembara yang sampai ke timur dan barat, merupakan potongan teka-teki, karena banyak orang mengembara timur dan barat. Tapi siapa yang mereka maksud? Tentunya jawaban yang hanya diketahui pendeta Yahudi saat itu. Allah turunkan kisahnya sebagai bukti kenabian, dalam surat Al Kahfi. Yang jelas, Iskandar yang dimaksud oleh para pendeta Yahudi dan Nasrani adalah mesti orang yang sama dengan yang disebut dalam Quran, karena teka-teki ini muncul dalam rangka menguji, mampukah quran dengan jitu mengungkap jati diri tokoh yang disebut dalam Injil dan Taurat.

Ayat dalam surat al Kahfi menceritakan bahwa Dzulqarnain mengembara dari ujung barat dunia dimana dia melihat matahari terbenam dalam “laut yang berlumpur hitam” (86). Versi kristen menyebut, bahwa laut ini adalah laut beracun dimana Dzulqarnain memerintahkan tawanannya untuk menguji bahaya air laut tersebut. Tetapi dalam Quran, narasinya lebih indah menunjukkan keadilan Dzulqarnain. Beliau berkata bahwa orang yang zalim tidak beriman akan beliau siksa, dan orang yang beriman dan beramal saleh akan diberikan ganjaran terbaik. 

Lalu beliau mengembara ke Timur (tempat terbit matahari) “yang menyinari segolongan umat yang tidak terlindung cahaya matahari” (90). Bagian ini serupa dengan kisah legenda Kristen. Dan terakhir beliau menuju utara dimana terdapat pegunungan yang didalamnya ada penduduk yang sering dianiaya kaum Yajuj & Majuj, yang bahasanya sulit dipahami Dzulqarnain. Baik Quran maupun yahudi & kristen tidak menyebut bahwa Dzulqarnain ke pergi ke arah Selatan. 

Bumi Datar dan Bumi Bulat (Flat Earth vs Round Earth)

——————————————————–

Legenda kristen Syria menggambarkan bumi berbentuk datar, sehingga mereka meyakini bahwa Alexander berangkat ke ujung bumi datar paling barat, lalu pergi menuju ujung bumi paling timur, yaitu India. Ibnu Katsir menyanggah pemikiran tersebut ketika menafsiri ayat 89: “(Sampai, ketika dia mencapai tempat matahari terbenam), berarti, dia mengikuti rute sampai dia mencapai titik terjauh yang bisa dicapai manusia ke tempat matahari terbenam, yaitu di sebelah barat bumi. Adapun pemahaman tentang mencapai tempat di langit di mana matahari terbenam, ini adalah sesuatu yang mustahil, dan kisah-kisah yang diceritakan oleh pendongeng bahwa ia melakukan perjalanan jauh ke barat sehingga matahari terbenam di belakangnya tidak benar sama sekali. Sebagian besar kisah-kisah ini berasal dari mitos Ahli Kitab [Yahudi dan Kristen] dan rekayasa dan kebohongan orang2 zindiq mereka.”

Lokasi Tembok Dzulqarnain

————————–

Ayat 93 menyebutkan bahwa Dzulqarnain sampai diantara dua buah gunung ketika beliau berjalan ke utara. Maka penduduk sekitarnya mengadukan tentang perbuatan kaum Yajuj & Majuj yang zalim dan kejam. Yajuj & majuj ini digolongkan oleh sejarawan sebagai bangsa Turki, tapi bukan turkinya konstantinopel eropa. Mereka adalah turkinya Asia A.K.A China. Bangsa ini juga keturunan Adam AS, dari jalur anak Nuh, Yafits. Dan memang tembok yang dibangun Dzulqarnain ini berada dekat laut Kaspia dan Laut Hitam, wilayah pegunungan Kaukasus. Tembok tersebut bukanlah tembok China sebagaimana diyakini sebagian orang. Dan tembok tersebut merupakan pembatas menuju jalur wilayah China sekarang seperti ke Xinjiang. Lokasinya berada di wilayah batas Kirgistan dan Uzbekistan. Sedangkan Uzbekistan merupakan wilayah kekuasaan Dzulqarnain. Maka jelas bahwa Kirgistan bagian tersebut didiami Yajuj & Majuj. Kalo kita ketemu mereka di musim haji, wajah mereka memang khas kayak orang-orang China kebanyakan. Kalo saya melihat tembok tersebut, yang luar biasa besarnya sama tinggi dengan kedua gunung yang mengapitnya, maka betapa luar biasa besarnya tembok sebesar gunung dibangun dengan tangan manusia. Butuh puluhan ribu kubik besi dikumpulkan untuk membangun tembok yang dari besi. Dzulqarnain memerintahkan tentara dan penduduk untuk mengumpulkan semua besi yang ada dan butuh tanur atau oven segede gaban buat bikin besi-besi tersebut membara. Belum cukup, ketika besi-besi membara, Dzulqarnain tuangkan tembaga cair panas ke atas besi-besi membara tersebut. Paduan besi dan tembaga tersebut menciptakan logam yang sangat kuat seperti paduan komposit raksasa, tidak bisa didaki dan tidak pula dilobangi. Dan yang mungkin adalah dibangun dari bawah ke atas secara bertahap sehingga bertingkat-tingkat. Dzulqarnain menisbatkan karya seni ilmu metalurgi ini sebagai rahmat Allah sebagaimana dalam ayat 98, dan dinding ini akan hancur pada waktunya pada akhir zaman. Alih-alih menyombongkan diri mengatakan kehebatan dirinya.  

Ekspedisi yang direkam video menggambarkan tembok tersebut dari atas helikopter, terlihat tembok tersebut kini ditutup salju tebal. Tim ekspedisi memotong bongkahan besar diatas puncak tembok tersebut dengan gergaji mesin. Lalu dengan metal detektor mereka temukan bahwa dinding yang telah menjadi bukit itu merupakan logam solid padat.

Siapa Dzulqarnain?

——————-

Ada dua hal yang jadi pertanyaan penting, yaitu apakah beliau Nabi? Para ilmuwan berselisih apakah beliau hanya seorang raja atau beliau nabi sekaligus raja seperti Nabi Daud AS dan Nabi Sulaiman AS. Umumnya sejarawan memilih opsi pertama. Tetapi Imam An Nasafi dalam tafsirnya condong pada pandangan bahwa Dzulqarnain termasuk nabi, demikian Imam Ar Razi dan syekh bin Baz. Argumennya adalah bahwa pertanyaan yang diajukan kepada Dzulqarnain merupakan wahyu, demikian juga ilmu tentang tembok logam merupakan mukjizat, dan demikian juga ramalan kehancuran dinding tersebut tentu dari wahyu juga.

Sebagian sejarawan menetapkan bahwa Alexander dari Macedonia atau Yunani lah yang merupakan Dzulqarnain. Karena banyaknya kesamaan antara mereka, yaitu kerajaannya yang membentang dari timur ke barat, dan ini yang tersebar dikalangan ahli kitab zaman dulu. Pandangan ini dipegang juga oleh ulama ahli tafsir semisal imam Ar Razi, Abu hayyan, Abu Saud, dan juga Imam Al Alusi, kalo mo ditambah, juga pandangan Al Jahiz, Hamka serta Ibnu Sina. Tapi Imam Ibnu Taymiyah menyanggah pandangan Ibnu Sina, karena Iskandar dari Macedonia ini orang musyrik penyembah berhala dan planet-planet, dan dia berkawan dengan Aristoteles. Karakter ini tentu tidak sesuai dengan karakter Dzulqarnain dalam quran yang merupakan seorang beriman kepada Allah semata. Ini juga pandangan Imam Syahrastani, Imam Ar Razi dalam tafsirnya ditempat lain. 

Lebih jauh, ada teori yang mengajukan bahwa Dzulqarnain ini adalah Cyrus The Great (Cyrus Agung) yang hidup 6 abad SM, 300 tahun sebelum Alexander. Pandangan ini dipegang para ulama india modern seperti Abul Ala Al Maududi, Abul Kalam Azad, Jika itu benar, maka bagian paling barat bumi yang didatangi Dulqarnain adalah Laut Aegea. Dan wilayah timurnya adalah timur dari Babilonia. Dan bagian utara antara dua gunung adalah wilayah Derbent, Armenia. Umar bin Khattab ra pernah mengirim ekspedisi ke wilayah tersebut untuk mengecek keberadaan tembok Dzulqarnain. 200 tahun kemudian, ekspedisi dilanjutkan Khalifah Al Watsiq dan berhasil menemukan tembok tersebut. Ini pandangan cukup beralasan, karena Cyrus tidak dikenal sejarawan sebagai penyembah berhala, tetapi seorang yang bertauhid. Beliau juga memang punya kekuasaan dari timur ke barat dan beliau memang dikenal membangun tembok di Derwent. Terlebih lagi, Alexander Macedonia ini umurnya pendek, wafat pada usia 30 tahun. Sedangkan Dzulqarnain asli berumur panjang. Kekuasaan Alexander sangat pendek dan kerajaan pecah setelah dia mati. Alexander merupakan pengagum Cyrus. Dia pernah memerintahkan untuk memperbaiki makam Cyrus dan dijadikan tempat pemujaan. 

Dzulqarnain dalam quran melakukan ekspedisi ke tiga arah, yaitu barat, timur, dan berakhir ke utara, sebagaimana Cyrus. Gambar Cyrus dalam kuburannya juga memiliki dua tanduk. Sangat mungkin Alexander meniru yang dilakukan Cyrus dan mengembalikan kebesaran kekuasaannya, dan legenda setelahnya melekatkan tokoh dzulqarnain pada alexander macedonia ketimbang cyrus. Wallahu a’lam    

Bibliografi:

1. Wikipedia

2. Sukdaven, M. 2017. “Is Dhul Qarnayn, Alexander the Great? Reflecting on Muhammad Rāghib al-Ṭabbākh’s contribution on a translated manuscript discovered in Timbuktu on Dul Qarnayn”, Verbum et Ecclesia 38(1)

Ini adalah resensi dari manuskrip tentang Dzulqarnain karya ahli hadist Suriah, guru dari Al Albani, Muhammad Rāghib al-Ṭabbākh

About Global Muslim

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement