Ini,Enam Tanda Diterimanya Amal dan Taubat

Sesungguhnya tiap tiap muslim dan muslimah udah tentu senantiasa berharap sehingga amalan-amalan kebaikannya jadi legal dan diterima Allah ta’ala, dan keburukan-keburukannya dimaafkan dan dihapuskan oleh-nya. Karena dengan demikian ia akan jadi hamba Allah yang hidup selamat dan puas di global dan akhirat.

Jika amalan kebaikan seorang hamba sudah diterima Allah, maka tersebut sebagai tanda bahwa amalan yang dikerjakannya sudah sahih dan disesuaikan dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘Alaihi wasallam. Allah Ta’Ala berfirman:

{ إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنْ الْمُتَّقِينَ }

Artinya: “Sesungguhnya Allah sebatas terima (Amalan) berasal dari orang-orang yang bertakwa.” (Qs. Al-Maidah: 27).

Al-Fudhoil bin ‘Iyadh rahimahullah berkata: “Sesungguhnya amalan (Ibadah) tersebut jika dilakukan dengan ikhlas gara-gara Allah, tapi caranya tidak sahih, maka amalan ibadah itu tidak diterima Allah.

Demikian pula sebaliknya, amalan (Ibadah) jika dilaksanakan dengan cara yg sahih, tapi niatnya tidak ikhlas dikarenakan Allah, maka amalan (Ibadah) tersebut juga tidak diterima Allah, supaya amalan ibadah itu dijalankan dengan ikhlas dikarenakan mengharap paras Allah semata, dan sahih dikarenakan disesuaikan dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘Alaihi wasallam.”

Lalu, bagaimana dan apa saja tanda-tanda sebuah amal ibadah dan taubat seorang hamba udah diterima Allah ta’ala, dan jerih payahnya udah membuahkan hasil?

Berikut ini kita akan sebutkan lebih dari satu tanda dan karakteristik diterimanya amal ibadah dan taubat seorang hamba sebagaimana dijelaskan oleh para ulama sunnah.Tanda Pertama:

Tidak Mengulangi Lagi Perbuatan Dosa Dan Maksiatnya

Apabila seorang hamba merasa benci pada dosa-dosa, dan ia benci untuk mengulangi lagi perbuatan dosa dan maksiat yang dulu dilakukannya, maka ketahuilah bahwa ia terhitung orang yang diterima Allah taubat dan amal ibadahnya.

Imam Ibnul Qoyyim Al-Jauziyah rahimahullah berkata:

أما إذا تذكر الذنبَ ففرح وتلذذ فلم يقبل ولو مكث على ذلك&Nbsp;أربعين سنة

Adapun jika seorang hamba ingat akan perbuatan dosanya, lalu ia merasa suka dan menikmatinya, maka (Taubatnya) tidak akan diterima Allah walaupun ia hidup selama 40 (Empat puluh) year didalam suasana demikian.” (Memirsa Madaariju As-Saalikiin, karya Ibnul Qoyyim Al-Jauziyyah).

Yahya bin Mu’Adz rahimahullah berkata:

“مَن استغفر بلسانه وقلبُه على المعصية معقود، وعزمه أن يرجع إلى المعصية ويعود، فصومه عليه مردود، وباب القبول فى وجهه مسدود”.

“Barangsiapa meminta ampunan (Kepada Allah) dengan ucapan lisannya, kala hatinya merasa terikat dengan perbuatan maksiat, dan lebih-lebih ia berkeinginan kuat untuk mengulangi lagi perbuatan maksiatnya, maka puasanya ditolak Allah, dan pintu diterimanya (Amal dan taubat) tertutup baginya.

Tanda Kedua: Semakin Bertambah Semangat Di dalam Jalankan Amal Kebaikan Dan Ketaatan Kepada Allah

Tanda Ketiga: Sabar dan Tegar Di dalam Melaksnakan Ketataatan Kepada Allah Ta’AlaHasan Al-Bashri rahimahullah berkata:

“إن من جزاء الحسنة الحسنة بعدها، ومن عقوبة السيئة السيئةُ بعدها، فإذا قبل الله العبد فإنه يوفقه إلى الطاعة، ويصرفه عن المعصية”

“Sesungguhnya diantara balasan amalan kebaikan ialah (Dimudahkan Allah) laksanakan kebaikan setelahnya

Dan diantara sanksi atas perbuatan buruk ialah jalankan keburukan setelahnya. Maka, apabila Allah udah terima (Amalan dan taubat) seorang hamba, niscaya Allah akan memberinya taufiq untuk lakukan ketaatan (Kepada-Nya), dan memalingkannya berasal dari perbuatan maksiat (Kepada-Nya).”

Beliau (Hasan Al-Bashri rahimahullah) juga dulu berkata:

“يا ابن آدم إن لم تكن فى زيادة فأنت فى نقصان”.

“Wahai anak cucu Adam, jika engkau tidak dlm suasana bertambah (Amalan kebaikanmu), signifikan engkau sahih-sahih dlm kondisi berkurang (Ketaatanmu kepada Allah, pent).”

Tegar dan istiqomah dlm lakukan ketaatan mempunyai buah yang amat agung sbgmn dikatakan oleh Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah: “Sungguh Allah yg Maha Mulia sudah memberlakukan hukum norma dengan kemuliaan-nya bahwa barangsiapa hidupa di atas sebuah norma, niscaya ia akan mati di atas norma tsb. Dan barangsiapa yg mati dlm sebuah kondisi, maka ia akan dibangkitkan Allah pd hari Kiamat di atas situasi tsb.”

Maka, barangsiapa terbiasa melakukan ketaatan kpd Allah di di dalam hidupnya di global, niscaya Allah akan mewafatkannya dlm suasana berbuat taat.

Hal ini sebagaimana disebutkan di didalam hadits:

بينما رجلٌ يحجُّ مع النبي صلى الله عليه وسلم فوكزته الناقة فمات فقال النبيّ صلى الله عليه وسلم: ( كفنوه بثوبيه فإنه يبعث يوم القيامة ملبّياً )

Artinya: “Tatkala ada seseorang yang menunaikan haji dengan Nabi shallallahu ‘Alaihi wasallam, maka ia terjatuh berasal dari seekor onta (Yang ditungganginya), lalu ia pun mati. Maka, Nabi shallallahu ‘Alaihi wasallam bersabda (Kepada beberapa para sahabat): “Kafanilah orang ini dengan kenakan kedua bajunya (Maksudnya 2 kain ihromnya), dikarenakan sesungguhnya ia akan dibangkitkan (Oleh Allah) pada hari Kiamat di dalam suasana bertalbiyah.” (Hr. Imam Al-Bukhari dan Muslim).

Dan Nabi shallallahu ‘Alaihi wasallam juga bersabda perihal seseorang yang mencuri lebih dari satu harta rampasan perang; “Sesungguhnya benda rampasan perang yang ia curi akan ada barah yang menyala padanya (Pada hari Kiamat, pent).” (Hr. Imam Al-Bukhari)

Tanda Keempat: Bersihnya hati berasal dari noda-noda syirik, kufur, maksiat dan penyakit-penyakit hati, layaknya iri dengki, arogan, bangga diri, riya, dsb.

Tanda orang yang diterima amalnya senantiasa menekankan apa yang dicintai dan diridhoi Allah daripada kecintaan dan keridhoan manusia, mendahulukan perintah-perintah-nya daripada perintah siapapun tak hanya-nya, dan ia mencintai orang lain dikarenakan Allah.

Ia juga terlampau Jauh berasal dari cii-ciri hasad (Iri dan dengki), kebencian dan permusuhan dengan orang lain sebab urusan global. Ia selalu merasa percaya bahwa segala urusan berada di tangan Allah, agar hatinya merasa tentram dan ridho dengan ketentuan-nya. Ia jg meyakini bahwa apapun yang sudah ditakdirkan oleh Alah untuk “Meleset” berasal dari dirinya, maka hal tersebut tidak akan menimpa dirinya. Dan apa saja yang ditakdirkan Allah akan menimpa dirinya, maka hal tersebut tidak akan bisa dihindari.

Yang sadar dan tentu, sikap orang yang diterima Allah amal dan taubatnya ialah selalu merasa ridho dengan takdir dan ketentuan Allah dlm bentuk apapun, dan juga ia berbaik sangka kpda-nya.

Tanda Kelima: Selalu Mengingat Kehidupan Akhirat Yang Hakiki nan Abadi

Pada sebuah hari Al-Fudhoil bin ‘Iyadh rahimahullah (Seorang ulama salaf berasal dari generasi.

atba’ut tabi’in) bertanya kepada seorang lelaki (Tua): “Berapa tahunan umur yang sudah kau lalui?

Ia jawab: “Udah 60 (Enam puluh) year.” Maka Al-Fudhoil bin ‘Iyadh berkata kepadanya: “Subhanallah, semenjak 60 (Enam puluh) th engkau masih didalam perjalananmu menuju Allah! Sebentar lagi engkau akan hingga (Baca: akan mati).

Ketahuilah, bahwa engkau akan diminta pertanggung jawaban oleh Allah (Atas umurmu di global, pent). Oleh dikarenakan tersebut, persiapkanlah jawaban atas pertanyaan-nya.

” Maka lelaki tua tersebut bertanya kepadanya:

“Apa yang wajib aku jalankan sekarang?

Jawab Al-Fudhoil bin ‘Iyadh:

“Berbuat baiklah di residu umurmu, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu yg udah lalu.

Tetapi, jika engkau berbuat keburukan (Dosa dan maksiat) di residu umurmu, niscaya Allah akan menyiksamu atas dosa-dosamu yang udah lalu maupun yang akan mampir.”

Tanda Keenam: Selalu Mempertahankan Keikhlasan Di dalam Tiap tiap Amal Dan Kebaikan

pernah ada seseorang laki-laki menyampaikan sebuah nasehat di hadapan imam Hasan Al-Bashri (Seorang ulama tabi’in) rahimahullah. Maka imam Hasan Al-Basri berkata kepadanya: “Wahai si fulan, saya belum bisa mengambil manfaat dan pelajaran berasal dari nasehatmu. Ini bisa menjadi gara-gara hatiku yang “Berpenyakit”, atau bisa menjadi gara-gara niatmu (Di dalam menyampaikan nasehat) yang tidak cukup ikhlas.”

Demikianlah lebih dari satu tanda diterimanya amal ibadah dan taubat seorang hamba. Ini sebatas suatu tanda atau karakteristik diterimanya amal. Sedangkan kepastiannya, cuman Allah Ta’Ala saja yang mengetahuinya. Semoga berfaedah bagi kami seluruh. Dan semoga Allah terima semua amal ibadah kami dan mengampuni dosa-dosa yang dulu kami melaksanakan. Amiin.

Please rate this

About Galih semar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *