Ini Adalah Alasan Uang Kertas Wajib Zakat

Uang kertas biasa (Fiat money) adalah berbagai kertas uang yang diterbitkan negara tertentu lewat undang-undang, diedarkan jadi alat tukar, dijadikan sebagai uang yang bisa digunakan sebagai harga bermacam benda dan juga upah tenaga dan jasa. Tapi uang kertas itu tidak bisa ditukar emas dan perak, tidak pula didukung emas dan perak, dan juga tidak dijamin cadangan emas, perak atau kertas uang yang didukung komoditas berharga. Uang kertas itu bernilai sebab undang-undang semata.

Terlepas tersebut, ketika kertas uang ini disahkan jadi mata uang sekaligus alat tukar bagi benda dan juga alat pembayaran tenaga dan jasa, juga bisa digunakan membeli emas dan perak, sebagaimana bisa membeli beraneka barang dan komoditas, maka kriteria sebagai uang dan alat berharga terwujud di dalam kertas uang itu, yang juga ada didalam emas dan perak yang tercetak sebagai dinar dan dirham.

Hal tersebut dikarenakan beraneka nash seputar zakat emas dan perak bisa digolongkan jadi dua:

Pertama, dalil yang menjelaskan zakat emas dan perak sebagai kata type, artinya berlaku semata-mata pada benda emas dan perak; kedua benda itu berupa kata jamid yang tidak mempunyai kandungan ‘Illat (Latar belakang disyariatkannya hukum) dan tidak bisa dianalogikan, agar zakat tidak berlaku bagi barang tambang lain layaknya besi, tembaga dll. Abu Hurairah radhiyallahu ‘Anhu meriwayatkan, Rasulullah shallallahu ‘Alaihi wa sallam bersabda:

مَا مِنْ صَاحِبِ ذَهَبٍ وَلَا فِضَّةٍ لَا يُؤَدِّي مِنْهَا حَقَّهَا إِلَّا إِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ صُفِّحَتْ لَهُ صَفَائِحُ مِنْ نَارٍ

“Siapa yang punyai benda emas dan perak, tapi tidak menunaikan zakatnya, maka di hari kiamat akan dibuatkan untuknya seterika berasal dari api…” (Hr. Muslim)

Di didalam hadist ini, terdapat kata emas (ذَهَب) dan perak (فِضَّة), keduanya merupakan kata jamid (Bukan afiksasi berasal dari kata lain) yang tidak punya kandungan ‘Illat.

Kedua, dalil yang menjelaskan zakat emas dan perak sebagai uang yang digunakan rakyat membayar harga barang dan upah jasa. Berasal dari dalil ini digali ‘Illatnya, yakni sebagai mata uang.

Dikarenakan ada ‘Illatnya, maka uang kertas bisa dianalogikan kepada mata uang (Emas dan perak) itu, dan hukum zakat mata uang pun berlaku pada uang kertas, disesuaikan nilai emas atau perak yang sepadan di pasaran. Berasal dari ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘Anhu, berasal dari Nabi shallallahu ‘Alaihi wa sallam bersabda:

فَإِذَا كَانَتْ لَكَ مِائَتَا دِرْهَمٍ وَحَالَ عَلَيْهَا الْحَوْلُ فَفِيهَا خَمْسَةُ دَرَاهِمَ، وَلَيْسَ عَلَيْكَ شَيْءٌ يَعْنِي فِي الذَّهَبِ حَتَّى يَكُونَ لَكَ عِشْرُونَ دِينَارًا فَإِذَا&Nbsp; كَانَ لَكَ عِشْرُونَ دِينَارًا وَحَالَ عَلَيْهَا الْحَوْلُ فَفِيهَا نِصْفُ دِينَارٍ

“Apabila kamu miliki uang dua ratus dirham dan mencapai haul maka padanya terdapat zakat lima dirham, dan tidak berkewajiban apapun yaitu pada emas sampai kamu punya dua puluh dinar. Maka apabila mempunyai uang dua puluh dinar dan mencapai haul maka padanya zakat setengah dinar…” (Hr. Abu Dawud)

Demikian pula berasal dari ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘Anhu meriwayatkan:

فِي كُلِّ عِشْرِينَ دِينَارًا نِصْفُ دِينَارٍ وَفِي كُلِّ أَرْبَعِينَ دِينَارًا دِينَارٌ

“Untuk tiap-tiap dua puluh dinar zakatnya setengah dinar, dan untuk tiap-tiap empat puluh dinar zakatnya satu dinar.” (Ibnu Abi Syaibah, al-mushannaf, Iii/119; Ibnu Zanjawaih, al-amwal, 1663; Ibnu Hazm, al-muhalla, Vi/39)

Berasal dari ‘Ali radhiyallahu ‘Anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘Alaihi wa sallam bersabda:

فَهَاتُوا صَدَقَةَ الرِّقَّةِ مِنْ كُلِّ أَرْبَعِينَ دِرْهَمًا دِرْهَمًا، وَلَيْسَ فِي تِسْعِينَ وَمِائَةٍ شَيْءٌ فَإِذَا بَلَغَتْ مِائَتَيْنِ فَفِيهَا خَمْسَةُ دَرَاهِمَ

“Maka berikan zakat riqqah (Dirham tercetak) berasal dari tiap-tiap empat puluh dirham, satu dirham. Tidak ada zakat sedikitpun pada jumlah seratus sembilan puluh, sesudah itu apabila mencapai dua ratus maka padanya terdapat zakat lima dirham.” (Hr. Ahmad)

Begitupun Muhammad bin Abdurrahman al-anshari meriwayatkan di di dalam surat Rasulullah shallallahu ‘Alaihi wa sallam dan surat Umar bin al-khaththab radhiyallahu ‘Anhu terkait zakat, tertulis:

والوَرِقُ لاَ يُؤْخَذُ منهُ شَيْءٌ حَتَّى يَبْلُغَ مِائَتَيْ دِرْهَمٍ

“Al-Wariq (Perak tercetak) tidak dipungut zakatnya sedikitpun sampai mencapai nilai dua ratus dirham.” (Hr. Abu ‘Ubaid).

Seluruh hadits itu menyatakan berkaitan mata uang dan alat berharga; gara-gara kata riqqah –dibarengi indikasi “Tiap tiap empat puluh dirham”–, wariq, dinar dan dirham, adalah nama bagi emas dan perak yang dicetak dan dibentuk, artinya ia jadi uang dan alat tukar/pembayaran. Ungkapan mengenakan kata-kata tadi menyatakan maksud seluruh hadits tersebut adalah mata uang dan alat berharga. Pemanfaatan kata-kata tadi juga tentang dengan segudang hukum syara, layaknya hukum zakat, diyat, kafarah, pangkas tangan dikarenakan pencurian dan beragam hukum syara lainnya.

Dikarenakan uang kertas biasa, punyai kriteria sebagai mata uang dan alat berharga, maka uang kertas masuk cakupan hadits-hadits kewajiban zakat mata uang: emas dan perak. Menjadi uang kertas itu terkena kewajiban zakat, sebagaimana kewajiban zakat pada emas dan perak, dan juga dinilai disesuaikan baku emas dan perak.

Siapa yang nilai uang kertas miliknya setara dua puluh (20) dinar emas –yakni delapan puluh lima (85) gram emas– yang merupakan nishab emas, atau nilai uang kertas miliknya setara dua ratus (200) dirham perak –yakni lima ratus sembilan puluh lima (595) gram perak–, dan juga telah mencapai haul (Satu tahunan hijriyah), maka perlu menunaikan zakat, dan kudu dikeluarkan zakatnya 1/40 atau 2,5 Prosen. Wallahu a’lam.

Please rate this

About Galih semar

Leave a Reply

Your email address will not be published.