Hukum Ucapan Innalillahi Atau Berdoa Via Media Sosial

 

Sesudah itu melanjutkan artikel kita sebelumnya berkenaan mengucapkan istirja’ ketika beroleh berita kematian lewat medsos, maka asal hal ini ada didalam Firman Allah Ta’âlâ :

وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

“Dan berikanlah info gembira kepada orang-orang yang sabar. (Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”.

“Yakni orang-orang yang apabila ditimpa musibah, apa pun bentuknya, besar maupun kecil, mereka berkata, inna’ lilla’hi wa inna’ ilaihi ra’ji’un (Sesungguhnya kita milik Allah dan kepada-nyalah kita ulang). Mereka berkata demikian untuk membuktikan kepasrahan keseluruhan kepada Allah, bahwa apa saja yang ada di global ini adalah milik Allah; pun membuktikan keimanan mereka akan adanya hari akhir.” (Tafsir ringkas Kemenag Ri, via tafsirweb).

Usâmah bin Zaid radhiyallahu anhu berkata :

كُنَّا عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ جَاءَهُ رَسُولُ إِحْدَى بَنَاتِهِ يَدْعُوهُ إِلَى ابْنِهَا فِي الْمَوْتِ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ارْجِعْ إِلَيْهَا فَأَخْبِرْهَا أَنَّ لِلَّهِ مَا أَخَذَ وَلَهُ مَا أَعْطَى وَكُلُّ شَيْءٍ عِنْدَهُ بِأَجَلٍ مُسَمًّى فَمُرْهَا فَلْتَصْبِرْ وَلْتَحْتَسِبْ

“Kita saat tersebut tengah berada disamping Nabi shallallahu ‘Alaihi wasallam, sesudah itu singgah utusan salah seorang di antara kedua puteri beliau MEMANGGILNYA dikarenakan anak laki-lakinya diambang kematian. Sesudah itu Nabi bersabda kepada sang utusan: “Pulanglah engkau ke tempat tinggal anak puteriku, dan beritahukanlah kepadanya bahwa “Apa yang diambil oleh Allah adalah miliknya dan baginya apa yang diberikan-nya, dan juga segala sesuatu di sisi-nya sudah ada keputusan yang telah ditetapkan.” Suruhlah dia untuk bersabar dan mengharapkan pahala….” (Muttafaqun alaih).

Di dalam hadits Ummu Salamah ketika Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melayat ke Abu Salamah, maka Beliau bersabda :

لَا تَدْعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ إِلَّا بِخَيْرٍ، فَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ يُؤَمِّنُونَ عَلَى مَا تَقُولُونَ “. ثُمَّ قَالَ : ” اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِأَبِي سَلَمَةَ

“Janganlah kalian berdoa atas diri kalian sendiri, terkecuali didalam perkara kebaikan, gara-gara Malaikat mengamini atas apa yang kalian ucapkan, lantas Beliau berdoa : “Yaa Allah ampunilah Abu Salamah….”. (Hr. Muslim).

Al-Imam Nawawi rahimahullah didalam Syarah Muslimnya mengatakan :

فيه استحباب الدعاء للميت عند موته ، ولأهله وذريته بأمور الآخرة والدنيا

“Didalam hadits ini ada anjuran berdoa untuk mayit ketika wafatnya, dan juga untuk istri dan anaknya mengenai kebaikan akhirat dan dunianya.” -Selesai-.

Oleh karena tersebut, ucapan bahwa berdoa lewat tulisan di medsos adalah sesuatu yang bid’ah adalah lahir juga berasal dari kekurangannya di dalam mempelajari dasar-dasar fiqih layaknya pengetahuan berkenaan kaedah fiqhiyyah. Ada suatu kaedah fiqihiyyah yang masyhur yang berbunyi :

الكتابُ كالخطاب
“Tulisan tersebut layaknya pembicaraan.”

Didalam lafazh lain, kaedahnya berbunyi :

البيان بالكتاب كالبيان باللسان

“Klarifikasi dengan tulisan, layaknya klarifikasi dengan lisan.”

Asy-Syaikh Muhammad Musthofa az-zuhailiy didalam kitabnya “Al-Qawâ’Id al-fiqhiyyah wa Tathbîqâtuhâ fî al-mazhâhib al-arba’ah” menjelaskan :

“Sesungguhnya tulisan diantara dua pihak yang sama-sama tidak didalam satu majelis, yakni sama-sama ghoib (Tidak hadir), tersebut sama dengan pembicaraan diantara dua pihak yang hadir, gara-gara pena tersebut adalah terhitung salah satu lisan juga.”

Asy-Syaikh menyebutkan dalil untuk kaedah ini, dengan suatu fakta bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam diperintahkan untuk menyampaikan selebaran kepada manusia semuanya, maka tekhnis penyampaiannya ada yang lewat tulisan dan ada yang dengan segera berceramah. Al-Qur`An saja yang jadi panduan kami, bukankah hingga juga kepada kami lewat tulisan?

Apalagi penulis (Abu Sa’Id) udah menanyakan segera kepada guru kita, asy-syaikh Sulthan bin Abdillah hafizhahullah dengan memanfaatkan medsos, yaitu whatsapp, pertanyaannya adalah :

“Syaikhunâ, apakah terhitung perbuatan Bid’Ah, mengucapkan istirja’ dan mendoakan ampunan kepada orang yang wafat lewat medsos, ketika mendengar khabar kematiannya?.

Fadhilatus Syaikh menjawab :

لابأس بذلك

“Tidak mengapa hal itu.”

Sebagai kegunaan tambahan, begitu juga mengucapkan amin ketika membalas doa berasal dari saudara kami sesama Muslim untuk kami, lewat medsos, maka ini terhitung sesuatu yang sifatnya diakui segera, agar disyariatkan. Dr. Muhammad bin Musa ad-dâliy didalam artikelnya berkaitan hal ini sebabkan resume pada akhir tulisannya :

فإن الأصل في التأمين أن يكون مع الدعاء، وفي وقته، ولا مانع من التأمين على دعاءِ خيرٍ كتبه أحدُهم، لكن لا يُلزِم به العبادَ، بأن يقول: “اقرؤوا هذا الدعاء، وأمِّنوا عليه” ونحوه، فهذا لا ينبغي، أما إن وقع اتفاقا، بأن وجد الشخص دعاء مكتوبا فأمَّن عليه، فأرجو ألا بأس.

“Asalnya Aamiin tersebut bergandengan dengan doa pada saat itu, agar tidak terlarang mengucapkan “Āmîn” pada doa yang baik yang DITULIS oleh seseorang, tetapi jangan hingga ia memaksa orang lain untuk mengucapkannya, layaknya ia berkata, “Baca doa ini, lalu aminkan!”, Dan ucapan yang semisalnya, sebab ini tidak selayaknya demikian.

Adapun jika kebetulan seiring, yakni mendapati seorang berdoa didalam tulisan, lalu ia meng-amin-kannya, maka aku harap ini tidak mengapa.” -Selesai-.

Please rate this

About Galih semar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *