Hukum Membaca Basmalah Dalam Shalat Menurut 4 Madzhab

Fikroh.com – Imam Ali Ash-Shabuni dalam Tafsir Ayatul Ahkam menerangkan ragam pendapat fuqohaa dalam hal ini :

Madzhab Maliky : Menahan dari membaca basmallah dalam sholat, baik di Al-Fatihah atau di surat surat yang lain sebab itu bukan bagian dari Al-Quran

Madzhab Abu Hanifah : dibaca sir pada Al-Fatihah di tiap tiap rokaat dan sunnah untuk membacanya pada tiap surat yang lain

Madzhab Syafi’y: membaca basmallah adalah wajib, dibaca jahr waktu sholat jahr, dan dibaca sir waktu sholat sir, dan juga pada tiap tiap surat

Madzab Hambaly : dibaca sir dan tidak sunnah men-jahr-kannya.

Agar tidak heran mengapa kok sampai ada perbedaan pendapat itu, maka perlu saya sampaikan”bahkan para ulama-pun berbeda pendapat apakah bismillahirrahmanirrahim itu bagian dari Al-Fatihah atau bukan”. Imam Ali Ash-Shabuni dalam Tafsir Ayatil Ahkam menjelaskan perbedaan pandangan ini :

Madzhab Syafi’y : bagian dari Al-Fatihah dan juga bagian dari semua surat surat yang lain

Madzhab Maliky : bukan ayat dari Al-Fatihah ataupun dari surat surat yang lain di AlQuran

Madzhab Hanafy : adalah ayat dari Al-Quran dan diturunkan terpisah dari tiap surat di Al-Quran dan juga bukan bagian dari Al-Fatihah

Untuk pembahasan ini, saya merujuk pada Kitab Subulus Salam karya Imam Shon’aany (terbitan Darul Kutub Al-Ilmiyah – Libanon, 2004) khususnya di halaman 174-175 yang dua masalah ini.

Mengenai apakah bismillahirrahmanirrahim itu dibaca jahr/sir atau tidak :

Dalam penjelasan hadits no 270/15, Imam Shon’aany menerangkan Imam Nasa’y berpendapat bahwa yang terkuat adalah membaca basmallah (jahr ataupun siir). Hukum bacaanya mengikuti hukum alfatihah. Hadits terkuat dalam permasalahan ini (jahr/sir-nya basmallah) adalah riwayat Nu’aim dari Abi Hurairah “Aku sholat di belakan Abu Hurairah RA, lalu beliau membaca bismillahirrahmanirrahiim kemudian membaca ayat Quran, kemudian ….” (Riwayat Nasa’y)

Adapun pendapat yang menyatakan bahwa rasulullah tidak membaca basmallah (atau tidak men-jahr-kannya), biasanya berargumen dengan hadits riwayat Anas RA “Bahwa Rasulullah SAW dan Abu Bakar dan Umar sesungguhnya mereka sholat dengan alhamdulillillahirrahmanirrahiim” (mutafaq alaih). Dalam riwayat muslim ditambahkan “tidak mengucapkan bismillahirrahmanirahiin”, dan dalam riwayat ahmad, nasa’y dan ibnu khuzaymah ditambahkan “tidak menjahrkannya” (Subulus Salam hadits no 269/14)

Mengenai hal ini, Imam Shon’aany mengatakan bahwa ulama berselisih dalam menggunakan hadits ini, sebab hadits ini sifatnya mudhtorib

(penjelasan dnux : hadits yang kacau <redaksionalnya, etc> yaitu diriwayatkan dari sumber yang sama namun isinya bertentangan sehingga membingunkan apa sebenarnya maksud sipenyampai, dalam hal ini pada riwayat Anas RA itu sendiri terjadi khilaf apakah Anas RA hendak menyampaikan bahwa rasulullah itu tidak membacanya dengan jelas <siir> atau tidak membacanya sama sekali).

Imam Shon’aany menyebutkan bahwa Ibnu Abdul Bar berpendapat bahwa “hadits ini idhthirob dan tidak bisa digunakan sebagai hujah oleh para ulama yang mebaca bismillahirrahmanirrahiim”. Dan demikianlah, bahwa masalah ini memang telah menjadi perselisihan dan perdebatan panjang para fuqohaa madzhab.

Mengenai apakah bismillahirrahmanirrahim itu bagian dari AlFatihah

pada penjelasan hadits no 271(16) kitab Subulus Salam tentang hadits “berkata Rasulullah SAW : bila kamu membaca alfatihah maka bacalah bismillahiraahmanirrahim, karena itu adalah bagian darinya” (HR Daruqthuny dari Abu Hurairah RA) Imam Ash-Shon’aany berkata : hadits ini tidak menjelaskan kewajiban membaca basmallah secara jahr atau siir, namun menjelaskan adanya perintah mutlak yang menegaskan bahwa bismillahiraahmanirrahim adalah bagian dari Al-Fatihah

About Admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement