Hukum HukumTidur Sekamar Dengan Istri

Seorang suami tidak perlu tidur menginap didalam satu tempat tinggal dengan istrinya, tanpa membedakan apakah istrinya satu ataukah lebih berasal dari satu. Menjadi, jika seorang suami telah mengimbuhkan nafkah mesti kepada istrinya yakni makanan, sandang dan daerah tinggal, lalu memutuskan tinggal di tempat tinggal pribadinya misalnya atau di masjid, atau di perpustakaan, atau di kantor, atau di area penelitian, atau di ruang belajar spesifik atau di barak, atau area ber-khalwat dan semisalnya dan sekedar mendatangi istrinya sesekali, maka yang demikian tidak berdosa.

Adapun alasan mengapa menginap (Al-Mabīt) di tempat tinggal bersama dengan istri bukan kewajiban, maka hal tersebut sebab menginap adalah hak suami, bukan beban kewajibn yang jadi tuntutan akad nikah. Hal ini layaknya seorang lelaki yang mengontrak tempat tinggal. Jika dia memutuskan untuk menempati tempat tinggal di dalam selagi lama tersebut, maka tersebut haknya. Namun jika dia memutuskan untuk menempatinya sesekali saja, maka tersebut juga haknya. Lagipula, mewajibkan suami untuk menginap di tempat tinggal dengan istri bertentangan dengan kehidupan tempat tinggal tangga di zaman Nabi ﷺ, khulafaurrasyidin, dan generasi Sahabat. Dikarenakan mayoritas lelaki laksanakan kewajiban jihad, kala jihad tersebut umumnya berjalan di dalam selagi lama dan perlu meninggalkan tempat tinggal. Bisa 6 bulan, 1 th, 2 tahunan apalagi lebih. Perintah Umar kepada para mujahid yang udah berjihad selama 4 atau 6 bulan sehingga pulang pernah mencukupi hak nafkah batin istri perlihatkan bahwa di zaman pernah memang terlampau biasa suami tidak menginap di tempat tinggal istri didalam sementara yang lama. Jika menginap jadi kewajiban, maka justru tersebut akan menahan jihad dan tak terhitung fardu kifayah lain dan tersebut tidak boleh.

Akan namun jika seorang lelaki berpoligami, lalu dia menginap di tempat tinggal dengan salah satu istrinya, maka seketika tersebut juga kudu baginya menginap di tempat tinggal dengan istri-istrinya yang lain sebagai realisasi perintah berbuat adil pada istri-istri. Jika sehabis menggilir inap para istri-istrinya secara adil selama lebih dari satu pas (Misalnya 3 bulan), lalu suami memutuskan tidak menginap lagi dengan seluruh istri-istrinya, maka ini dibolehkan sebagaimana hukum sementara belum memutuskan menginap pada salah satu istri.

Jika hukum menginap saja tidak kudu, maka udah pasti tidur satu kamar juga tidak kudu. Jika tidur satu kamar saja tidak mesti, maka tidur satu ranjang/kasur juga tidak kudu. Dalil yang tunjukkan bahwa tidur satu ranjang/kasur tidak mesti adalah hadis berikut ini,

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَهُ: «‌فِرَاشٌ ‌لِلرَّجُلِ، وَفِرَاشٌ لِامْرَأَتِهِ، وَالثَّالِثُ لِلضَّيْفِ، وَالرَّابِعُ لِلشَّيْطَانِ» صحيح مسلم» (3/ 1651

Artinya, “Berasal dari Jabir bin ‘Abdullah: Rasulullah ﷺ berkata kepadanya: “Satu kasur untuk suami, satu kasur untuk istrinya, kasur ketiga untuk tamu, dan kasur keempat untuk syetan.” (H.R.Muslim)

Di dalam hadis di atas Rasulullah ﷺ menyebut didalam tempat tinggal tangga tersebut boleh ada kasur untuk suami dan ada satu kasur untuk istri. Ini perlihatkan tidur satu kasur tidak kudu. Gara-gara tidak ada maknanya menyebut dua kasur untuk suami dan istri jika keduanya mesti tidur satu kasur dikarenakan kasur yang lainnya menjadi tersia-siakan. Penyebutan dua kasur di sini tunjukkan hukum tidur satu kasur dengan istri memang tidak kudu. Al-Nawawī berkata,

«كَانَ النَّوْمُ مَعَ الزَّوْجَةِ لَيْسَ وَاجِبًا»«شرح النووي على مسلم» (14/ 60)

Artinya, “Tidur dengan istri bukan kewajiban.” (Syarḥu Al-Nawawī ‘Alā Muslim, juz 14 hlm 60)

Menjadi, tidak kasus suami tidur di kasur yang berbeda dengan istri ketika ada uzur, misalnya sakit, ada bayi dan semisalnya. Al-Nawawī berkata,

وَأَمَّا تَعْدِيدُ الْفِرَاشِ لِلزَّوْجِ وَالزَّوْجَةِ فَلَا بَأْسَ بِهِ لِأَنَّهُ قَدْ يَحْتَاجُ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا إِلَى فِرَاشٍ عِنْدَ الْمَرَضِ وَنَحْوِهِ وَغَيْرِ ذلك» شرح النووي على مسلم» (14/ 59-60

Artinya, “Adapun sediakan kasur lebih berasal dari satu untuk suami dan istri maka tersebut tidak mengapa gara-gara terkadang masing-masing berasal dari mereka butuh satu kasur kala sakit atau semisalnya dan lain-lain.” (Syarḥu Al-Nawawī ‘Alā Muslim, juz 14 hlm 59-60)

Sekedar saja, suami disunahkan selalu tidur bersama dengan istri di dalam satu kasur/ranjang selama tidak ada uzur, karena ini adalah bentuk pergaulan paling baik, mengimbuhkan rasa nyaman untuk keduanya dan menguatkan rasa cinta di antara mereka. Layaknya itulah Rasulullah ﷺ didalam mempergauli istrinya dan beliau tidak pergi berasal dari kasur dengan istrinya jika untuk lakukan ibadah layaknya salat, terima wahyu atau ada kepentingan-kepentingan lainnya. Al-Nawawī berkata,

«وَالصَّوَابُ فِي النَّوْمِ مَعَ الزَّوْجَةِ أَنَّهُ إِذَا لَمْ يَكُنْ لِوَاحِدٍ مِنْهُمَا عُذْرٌ فِي الِانْفِرَادِ فَاجْتِمَاعُهُمَا فِي فِرَاشٍ وَاحِدٍ أَفْضَلُ وَهُوَ ظَاهِرُ فِعْلِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الَّذِي وَاظَبَ عَلَيْهِ مَعَ مُوَاظَبَتِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى قِيَامِ اللَّيْلِ فَيَنَامُ مَعَهَا فَإِذَا أَرَادَ الْقِيَامَ لوظيفته قام وتركها فيجمع بين وظيفته وقضاءحقها المندوب وعشرتها بالمعروف لاسيما إِنْ عَرَفَ مِنْ حَالِهَا حِرْصَهَا عَلَى هَذَا ثُمَّ إِنَّهُ لَا يَلْزَمُ مِنَ النَّوْمِ مَعَهَا الْجِمَاعُ»«شرح النووي على مسلم» (14/ 60):

Artinya, “Yang sahih tentang tidur bersama dengan istri adalah, jika salah satu di antara mereka tidak mempunyai uzur untuk tidur sendirian maka tidur dengan didalam satu kasur lebih afdal dan itulah lahir perbuatan Rasulullah ﷺ yang tetap-menerus ditunaikan padahal Rasulullah ﷺ selalu melaksanakan salat malam. Rasulullah ﷺ tidur bersama dengan istrinya dan jika beliau ingin laksanakan salat malam, maka beliau akan bangkit dan meninggalkan istrinya di kasurnya. Menjadi, beliau menggabungkan antara kebiasaannya salat malam dan menunaikan hak istrinya yang bersifat sunah didalam rangka mempergauli istri secara ma’ruf, lebih-lebih waktu paham suasana istrinya yang terlalu ingin tidur bersama dengan suaminya. Patut di catat, sesungguhnya tidak jadi kewajiban untuk menyetubuhi istri kala tidur bersamanya.” (Syarḥu Al-Nawawī ‘Alā Muslim, juz 14 hlm 60)

Please rate this

About Galih semar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *