Hukum Hukum Mengharap Kematian

Jangan dulu meminta mati, seberat apapun cobaan hidup yang dihadapi selama kesusahan tersebut bersifat duniawi. Apapun penyebab kesengsaraan tersebut, apakah gara-gara penyakit, putus cinta, dikhianati, berlimpah persoalan, tertekan, depresi, diancam orang zalim dan semisalnya jangan sekali-kali meminta mati. Ada lebih dari satu alasan mengapa seberat apapun musibah duniawi tersebut jangan hingga mendorong seorang mukmin meminta mati:

Pertama, ada embargo berasal dari Nabi ﷺ untuk meminta mati.

Kata Nabi ﷺ, seorang hamba tersebut jika masih diberi umur, maka umur itu tentu menaikkan kebaikan. Contoh kebaikan konkret untuknya adalah kesempatan beramal saleh. Jika orang mati, maka terputuslah amalnya sebab dia tidak punyai kesempatan lagi untuk beramal saleh. Makna implisitnya, jika udah dihentikan umurnya, maka tersebut yang paling baik untuknya tanpa mesti minta mati kepada Allah. Muslim meriwayatkan,

عَنْ هَمَّامِ بْنِ مُنَبِّهٍ، قَالَ: هَذَا مَا حَدَّثَنَا أَبُو هُرَيْرَةَ، عَنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرَ أَحَادِيثَ مِنْهَا: وَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَا يَتَمَنَّى أَحَدُكُمُ الْمَوْتَ، وَلَا يَدْعُ بِهِ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَهُ، إِنَّهُ إِذَا مَاتَ أَحَدُكُمُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ، وَإِنَّهُ لَا يَزِيدُ الْمُؤْمِنَ عُمْرُهُ إِلَّا خَيْرًا» صحيح مسلم (4/ 2065(

Artinya

, “Berasal dari Hammam bin Munabbih dia berkata: ini adalah yang udah diceritakan oleh Abu Hurairah kepada kita berasal dari Rasulullah ﷺ, -Lalu dia menyebutkan lebih dari satu Hadis di antaranya: – “Rasulullah ﷺ sudah bersabda: ‘Janganlah seseorang mengharapkan kematian dan janganlah meminta mati sebelum berkunjung waktunya. Gara-gara orang yang mati tersebut amalnya akan terputus, sedangkan umur seorang mukmin tidak akan bertambah melainkan meningkatkan kebaikan.’” (H.R.Muslim)

Kedua.Kami tidak jelas kejadian sesudah mati.Belum pasti kehidupan sesudah mati untuk kami lebih membahagiakan daripada kehidupan di global. Seorang hamba tersebut kemungkinannya sekedar dua: bertemu Allah di dalam situasi diridai atau bertemu Allah di dalam kondisi dimurkai. Padahal, faktanya kami tidak mengetahui terhitung yang mana. Wahyu udah terputus dan tidak ada nabi yang bisa ditanyai. Maka sungguh tidak bijak meminta kematian pas kami sendiri belum mengerti bagaimana nasib kami di era depan.

Sungguh tidak bijak meminta kematian saat kami tidak mengerti Allah rida kepada kami ataukah tidak.
Sungguh tidak bijak mempertaruhkan nasib semata-mata dikarenakan dugaan kami bahwa kematian lebih baik daripada hidup.

Tidak ada yang menjamin bahwa kematian lebih baik daripada hidup. Bisa menjadi, kesusahan sesudah mati lebih dahsyat daripada kesusahan hidup di global. Jika tersebut yang berlangsung, maka penyesalan telah terlambat dikarenakan dia tidak bisa lagi lagi ke global. Kata Ibnu Rajab, berlimpah orang-orang saleh di era lalu yang mengharap mati, tetapi begitu merasakan sendiri beratnya mati maka mereka menjadi membenci kematian. Di antara mereka adalah Sahabat besar Abū al-dardā’ dan tabi’in Sufyān al-tsaurī.

Ketiga, kami seluruh tentu mati.

Menjadi tidak usah minta mati pun tentu kami nanti juga akan mati. Perbedaannya, jika kami minta mati, maka kami bertumpu pada evaluasi diri sendiri untuk menghukumi mana yang paling baik untuk kami. Jika tidak minta mati, penting kami memasrahkan kepada Allah dan mempercayakan kepada-nya apakah yang lebih baik untuk kami hidup ataukah mati. Sikap tawakal pasti jauh lebih baik daripada bertumpu pada diri sendiri, karena Allah tersebut Maha Menyadari hakikat segala sesuatu pas ilmu kami terlalu terbatas.

Didalam satu doa Nabi ﷺ, beliau mengajarkan sehingga mempercayakan segala sesuatu kepada Allah dan meminta Allah sehingga tidak sebabkan kami bertumpu pada diri sendiri walau sekedar sekejap mata. Doa yang dibaca Nabi ﷺ adalah “Allāhumma lā takilnī ilā nafsī ṭarfata ‘Ain” (Ya Allah janganlah kau serahkan diriku kepada diriku sendiri walau sekedar sekejap mata”.

Keempat, sikap paling baik waktu ditimpa kesusahan duniawi adalah tabah.

Sikap itulah yang diperintahkan segudang dalil dengan janji pahala yang luar biasa. Jika belum diuji kesusahan, maka segudang-banyaklah meminta afiyah sebagaimana nasihat Ibnu Umar dan juga ajaran doa Nabi ﷺ kepada pamannya untuk tak terhitung-segudang meminta afiyah di global maupun di akhirat.
Oleh dikarenakan tersebut, didalam mazhab Al-Syāfi‘ī ditegaskan, meminta mati gara-gara kesususahan duniawi tersebut hukum makruh. Al-Nawawī berkata,

يُكْرَهُ تَمَنِّي الْمَوْتِ لِضُرٍّ نَزَلَ بِهِ، (روضة الطالبين وعمدة المفتين (2/ 98)

Artinya,

“Dimakruhkan mengangankan kematian dikarenakan kesusahan (Duniawi) yang menimpanya.” (Rauḍatu al-ṭālibīn, juz 2 hlm 98)

Jika suasana sahih-sahih berat dan seakan tidak kuat hidup lagi, maka maksimal boleh berdoa yang isinya meminta sehingga Allah mencabut nyawanya jika kematian lebih baik untuknya dan membiarkan tetap hidup jika kehidupan lebih baik baginya. Doa dengan makna layaknya ini diajarkan Rasulullah ﷺ di dalam hadis berikut ini,

عَنْ أَنَسٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” لَا يَتَمَنَّيَنَّ أَحَدُكُمُ الْمَوْتَ لِضُرٍّ نَزَلَ بِهِ، فَإِنْ كَانَ لَا بُدَّ مُتَمَنِّيًا فَلْيَقُلْ: اللهُمَّ أَحْيِنِي مَا كَانَتِ الْحَيَاةُ خَيْرًا لِي، وَتَوَفَّنِي إِذَا كَانَتِ الْوَفَاةُ خَيْرًا لِي ” (صحيح مسلم (4/ 2064)

Artinya, “Berasal dari Anas dia berkata: “Rasulullah ﷺ sudah bersabda: ‘Janganlah ada seseorang di antara kalian yang mengharapkan kematian sebab tertimpa kesengsaraan. Jika terpaksa ia mesti berdoa, maka ucapkanlah: ‘Ya Allah, berilah aku kehidupan apabila kehidupan itu memang lebih baik bagiku dan matikanlah aku apabila kematian itu memang lebih baik untukku.’” (H.R. Muslim)

Adapun jika mengharap mati gara-gara kuatir din terfitnah, maka tersebut tidak makruh. Dasarnya adalah hadis berikut ini,

عَنْ مَحْمُودِ بْنِ لَبِيدٍ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” اثْنَتَانِ يَكْرَهُهُمَا ابْنُ آدَمَ: الْمَوْتُ، وَالْمَوْتُ خَيْرٌ لِلْمُؤْمِنِ مِنَ الْفِتْنَةِ، وَيَكْرَهُ قِلَّةَ الْمَالِ، وَقِلَّةُ الْمَالِ أَقَلُّ لِلْحِسَابِ “( مسند أحمد مخرجا (39/ 36)

Artinya, “Berasal dari Mahmud bin Labid bahwa Nabi ﷺ bersabda: “Dua hal yang dibenci oleh manusia: kematian padahal kematian tersebut lebih baik bagi orang mu`min berasal dari pada rekaan dan benci sedikitnya harta padahal sedikitnya harta tersebut lebih gampang untuk hisab.” (H.R.Ahmad)

Di dalam hadis di atas Rasulullah ﷺ menyebut kematian lebih baik bagi seorang mukmin daripada rekaan di dalam agamanya. Ini membuktikan mengharap mati untuk menyelamatkan din tidak tercela dan tidak dimakruhkan.

Di dalam hadis qudsi riwayat al-tirmiżī, Allah mengajari Rasulullah ﷺ untuk berdoa sehingga diwafatkan jika Allah hendak mengizinkan rekaan berjalan dimuka bumi. Ini tunjukkan mengharap kematian jika motovasinya untuk mempertahankan din sehingga tidak rusak hukumnya tidak makruh. al-tirmiżī meriwayatkan doa yang ajarkan Allah kepada Rasulullah ﷺ sebagai berikut,

وَإِذَا أَرَدْتَ بِعِبَادِكَ فِتْنَةً فَاقْبِضْنِي إِلَيْكَ غَيْرَ مَفْتُونٍ (سنن الترمذي ت شاكر (5/ 367)

Artinya, “Jika engkau inginkan rekaan pada hamba-mu, maka wafatkanlah aku di dalam suasana tidak terfitnah.” (H.R. al-tirmiżī)

Umar juga dulu berdoa sehingga diwafatkan di dalam konteks layaknya ini. Mālik meriwayatkan,

عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيِّبِ، أَنَّهُ سَمِعَهُ يَقُولُ: لَمَّا صَدَرَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ، مِنْ مِنًى أَنَاخَ بِالْأَبْطَحِ ثُمَّ كَوَّمَ كَوْمَةً بَطْحَاءَ ثُمَّ طَرَحَ عَلَيْهَا رِدَاءَهُ. وَاسْتَلْقَى. ثُمَّ مَدَّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ فَقَالَ: «اللَّهُمَّ كَبِرَتْ سِنِّي، وَضَعُفَتْ قُوَّتِي، وَانْتَشَرَتْ رَعِيَّتِي، فَاقْبِضْنِي إِلَيْكَ غَيْرَ مُضَيِّعٍ، وَلَا مُفَرِّطٍ» موطأ مالك ت عبد الباقي (2/ 824)

Artinya,

“Berasal dari Sa’Id bin Musayyab bahwa ia mendengarnya berkata: “Ketika Umar bin Khattab tiba berasal dari Mina, ia menderumkan untanya di Abtah. Umar sesudah itu mengumpulkan kerikil dan menumpuknya. Ia lalu menutupi kerikil-kerikil itu dengan jubahnya sambil berbaring, ia menjulurkan tangannya ke langit dan berkata: ‘Ya Allah, usiaku sudah lanjut, kekuatanku sudah melemah, dan rakyatku mulai bertebaran, maka jemputlah diriku ke hadirat-mu tanpa menyia-nyiakan dan berlebih-lebihan.’” (H.R.Māliki)

Diriwayatkan Abū Hurairah juga meminta style kematian layaknya ini. Di dalam kitab al-tsabāt ‘Inda al-mamāt disebutkan sebagai berikut,

قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ مَنْ رَأَى الْمَوْتَ يُبَاعُ فَلْيَشْتَرِهْ لِي (الثبات عند الممات (ص: 84)

Artinya, “Abū Hurairah berkata, ‘Barangsiapa lihat kematian dijual maka belikankah untukku.”

Al-Nawawī berkata,

فَإِنْ كَانَ تَمَنِّيهِ مَخَافَةَ فِتْنَةٍ فِي دِينِهِ فَلَا بَأْسَ (روضة الطالبين وعمدة المفتين (2/ 98)

Artinya, “Jika asa kematian tersebut gara-gara kuatir terfitnah dinnya, maka tidak mengapa.” (Rauḍatu al-ṭālibīn, juz 2 hlm 98)

Apalagi mengharap kematian layaknya ini hukumnya disunahkan sebagaimana disebutkan al-nawawī didalam fatwanya dan dinukil berasal dari Al-Syāfi‘ī dan juga Umar bin Abdul Aziz.

Ada lagi style mengharap kematian yang sunah, yakni mengharap mati untuk kebaikan akhirat layaknya mengharap mati syahid. Rasulullah ﷺ dulu mengharap mati syahid berkali-kali. Al-Bukhārī meriwayatkan,

وَلَوْلاَ أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي مَا قَعَدْتُ خَلْفَ سَرِيَّةٍ، وَلَوَدِدْتُ أَنِّي أُقْتَلُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ثُمَّ أُحْيَا، ثُمَّ أُقْتَلُ ثُمَّ أُحْيَا، ثُمَّ أُقْتَلُ» صحيح البخاري (1/ 16(

Artinya

“Jika seandainya tidak memberatkan umatku, pasti aku tidak akan duduk tinggal diam di belakang sariyyah (Pasukan spesifik) dan pasti aku ingin sekali bila aku terbunuh di jalan Allah lalu aku dihidupkan lagi lantas terbunuh lagi lalu aku dihidupkan lagi sesudah itu terbunuh lagi.”

Rasulullah ﷺ juga memuji orang yang mengharapkan mati syahid dan menjanjikan, siapapun yang ingin mati syahid maka akan meraih pahala mati syahid meski wafat di area tidurnya. Muslim meriwayatkan,

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «مَنْ سَأَلَ اللهَ الشَّهَادَةَ بِصِدْقٍ، بَلَّغَهُ اللهُ مَنَازِلَ الشُّهَدَاءِ، وَإِنْ مَاتَ عَلَى فِرَاشِهِ» صحيح مسلم (3/ 1517(

Artinya, “Bahwa Nabi ﷺ bersabda: “Barang siapa mengharapkan mati syahid dengan sungguh-sungguh, maka Allah akan mengangkatnya hingga ke derajat para syuhada’ meski ia meninggal global di atas daerah tidur.” (H.R.Muslim)

Diriwayatkan Umar bin al-khaṭṭāb juga dulu mengharap mati syahid. Mu’āż bin Jabal juga berharap mati syahid didalam endemi ‘Amawās. Seluruh dalil ini menguatkan bahwa mengharap mati syahid tersebut disunahkan dan tidak dicela.

Please rate this

About Galih semar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *