Hukum Hukum Menerima Sisa Hasil Usaha (SHU) dari Koperasi

Sisa Hasil Usaha (SHU) Koperasi merupakan pendapatan Koperasi yang diperoleh dalam 1 tahun buku dikurangi dengan biaya, penyusutan dan kewajiban lainnya termasuk pajak dalam tahun buku yang bersangkutan (Pasal 45 ayat (1) UU Perkoperasian) UU Perkoperasian tidak mengatur secara menyeluruh, setiap Koperasi diberikan wewenang untuk mengatur kebijakan SHU-nya masing-masing. Pembagian serta penentuan penggunaan SHU ditetapkan dalam Rapat Anggota Koperasi. SHU dibagikan kepada anggota setelah dikurangi dana cadangan.

Pertanyaan: Saya menabung di koperasi, tiap-tiap tahunan dibagikan dengan adanya bunga, apakah bunga itu terhitung riba. Dan jika terhitung riba, apakah boleh uang tersebut dishadaqohkan?

Jawaban : Para ulama sepakat bahwa bunga tersebut terhitung riba. Riba adalah yang benar-benar keras diharamkan oleh Allah. (Melihat Al-Baqoroh: 275-280). Sesuatu yang haram tidak jadi hilang gara-gara diniatkan untuk kebaikan, riba tetap riba meski untuk dishadaqahkan, sama layaknya orang yang mencuri dengan niat memakai uang itu untuk shadaqah atau haji.

Jika kami bergabung dengan hal-hal yang mengenai dengan riba, artinya kami menjerumuskan diri pada jurang kemaksiatan, bersama dengan-sama didalam memerangi Allah dan rasul-nya, naudzu billah. Adapun di dalam situasi darurat, misalnya seseorang yang terlilit hutang dan tidak bisa mendapat penghasilan jika berasal dari bank yang menjalankan platform riba, atau demi mempertahankan keamanan menyimpan uang ketika tidak ada yang disesuaikan syariah, pasti di dalam suasana darurat jadi dibolehkan.

Tapi untuk memahami darurat tidaknya, wajib dipahami betul realitanya, dan sesudah itu menetapkan hukum dengan fatwa yang spesifik.

Pengertian Ribaal-Jurjani berkata:

الرِّبَا هُوَ فِي اللُّغَةِ الزِّيَادَةُ وَفِي الشَّرْعِ هُوَ فَضْلٌ خَالٍ عَنْ عِوَضٍ شُرِطَ لِأَحَدِ الْعَاقِدَيْنِ

“Riba menurut bahasa artinya penambahan, dan menurut syar’i adalah tambahan tanpa adanya iwadh (Transaksi pengganti atau penyeimbang) yang disyaratkan kepada salah satu pihak yang berakad”

At-Ta’Rifat:146

Praktek riba berjalan di dalam dua transaksi, yiatu transaksi utang-piutang (Riba dain) dan transaksi jual beli (Riba bai’). Berasal dari segi cara transaksinya dibagi dua, pertama riba fadhl : ada keistimewaan harta baik didalam barang dagangan yang ditukarkan didalam 6 komoditas (Emas, perak, gandum, sya’ir, kurma dan garam) dengan tipe yg sama. Atau didalam utang piutang. Kedua, riba nasiah yaitu ada tambahan harta yang disebabkan penangguhan pembayaran, baik di dalam jual beli ataupun didalam utang-piutang.Berkaitan dengan SHU (Residu Hasil Bisnis) didalam koperasi, apakah terhitung riba atau bukan.

Pengertian Koperasi Simpan Pinjamdalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan bahwa koperasi simpan pinjam adalah koperasi yang spesifik bertujuan melayani atau mewajibkan anggotanya untuk menabung, di samping bisa memberi tambahan pinjaman kepada anggotanya.

Beberapa kalangan mendefinisikan Koperasi Simpan Pinjam (Ksp) adalah suatu koperasi yang modalnya diperoleh berasal dari simpanan pokok dan simpanan mesti para anggota koperasi. Sesudah itu modal yang udah terkumpul itu dipinjamkan kepada para anggota koperasi dan terkadang juga dipinjamkan kepada orang lain yang bukan anggota koperasi yang memerlukan pinjaman uang, baik untuk kebutuhan komsumtif maupun modal kerja.

Kepada tiap tiap peminjam, koperasi simpan pinjam menarik uang administrasi tiap tiap bulan sejumlah sekian % berasal dari uang pinjaman.

Pada akhir year, laba yang diperoleh koperasi simpan pinjam yang berasal berasal dari uang administrasi itu yang disebut Residu Hasil Bisnis (Shu) dibagikan kepada anggota koperasi.

Adapun jumlah laba yang diterima oleh masing-masing anggota koperasi diperhitungkan menurut keseringan anggota yang meminjam uang berasal dari Koperasi. Artinya, anggota yang paling kerap meminjamkan uang berasal dari Koperasi itu akan mendapat bagian paling segudang berasal dari Shu, dan tidak diperhitungkan berasal dari jumlah simpanannya, dikarenakan pada umumnya jumlah simpanan pokok dan simpanan harus berasal dari masing-masing anggota adalah sama. (Kospia.Com).

Dengan pengertian di atas jelaslah bahwa dana tambahan yang dibagikan tersebut adalah hasil berasal dari akad simpan-pinjam, ini tahu terhitung riba fadhl didalam transaksi utang-piutang (Dain).

Ibnu Qudamah rahimahullah berkata,

وَكُلُّ قَرْضٍ شَرَطَ فِيهِ أَنْ يَزِيدَهُ ، فَهُوَ حَرَامٌ ، بِغَيْرِ خِلَافٍ

“Tiap-tiap utang yang dipersyaratkan ada tambahan, maka tersebut adalah haram. Hal ini tanpa diperselisihkan oleh para ulama.” (Al Mughni, 6: 436)
Sesudah itu Ibnu Qudamah membawakan perkataan berikut ini,

“Ibnul Mundzir berkata, “Para ulama sepakat bahwa jika orang yang beri tambahan pinjaman beri tambahan syarat kepada yang meminjam sehingga mengimbuhkan tambahan atau hadiah, lalu transaksinya berlangsung demikian, maka tambahan itu adalah riba.”

Diriwayatkan berasal dari Ubay bin Ka’Ab, berasal dari Ibnu ‘Abbas dan Ibnu ‘Abbas bahwasanya mereka melarang berasal dari utang piutang yang ditarik laba dikarenakan utang piutang adalah bersifat sosial dan ingin cari pahala. Jika di dalamnya disengaja melacak laba, maka telah keluar berasal dari konteks tujuannya. Tambahan itu bisa menjadi tambahan dana atau fungsi.” Menonton Al Mughni, 6: 436.

Menjadi meskipun dinamakan residu hasil bisnis, tetapi jikalau hakikatnya adalah riba, maka hukumnya mengetahui haram.

Adapun perihal dengan apakah uang riba boleh dishadaqahkan, maka pasti sesuatu yang haram tidak berubah hukumnya dengan adanya niat yang baik, sama layaknya mencuri dengan tujuan uangnya akan dishadaqahkan atau digunakan pergi haji. Orang yang terlibat di dalam riba, untuk apapun harta tersebut sesudah itu digunakan, ia beroleh dosa riba yang benar-benar besar itu. Semoga Allah SWT senantiasa mempertahankan kami. Wallohu A’Lam.

About Galih semar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *