Hikmah Di Balik Ujian Sakit

Hikmah Di Balik Ujian Sakit

Fikroh.com – Sakit hendaknya menyadarkan kita bahwa tidak lama lagi kematian akan menjemput kita, terlebih bagi mereka yang telah berusia di atas 50 tahun. Maka sakit dapat kita ibaratkan sebagai peringatan atau ”peluit” kematian.

Untuk saudaraku yang sedang sakit di pembaringan, saya berdo’a semoga Allah SWT segera memberi kesembuhan dan menganugerahkan hidayah kepada Anda semua.  

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَاب الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُون  فِي خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلًا سُبْحَانَك فَقِنَا عَذَابَ النَّار

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda orang yang berakalberakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata) : ” Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia Maha suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. (QS Al Imran:3:190)

Semoga Anda termasuk dalam golongan orang yang berakal sebagaimana firman Allah di atas.

Mungkin Anda sedang mengalami sakit pada persendian, betapa saya ikut merasakan pedihnya derita Anda, hendak jongkok susah, dudukpun tidak bisa bertahan lama bahkan tersentuh airpun terasa ngilu dan nafas  menjadi pendek. Ketika matahari terbit agak terasa nyaman serasa ingin segera berjemur menikmati hangatnya matahari pagi, setelah semalaman tidak bisa tidur.

Meskipun fisik yang menjadi sasaran tembak ujian tetapi sebenarnya jiwa yang terkena, karena jiwa inilah yang mampu mengkomunikasikan rasa sakit kepada isteri/suami kita, anak tetangga dan handai taulan  kerabat kita. Bila waktu sholat tiba dengan berat rasanya badan memenuhi panggilan tersebut, mungkin bagi mereka yang tidak pernah berbakti kepada-Nya  hari-hari dilalui dengan penuh  sumpah serapah yang intinya tidak rela badan ini sakit. Pendek kata lebih baik kehilangan semua harta benda untuk ditukar dengan sehat bila ada tawaran demikian. 

Pertanyaan besar akan menyelimuti kita,bahwa mengapa Tuhan menurunkan penyakit pada diri kita? Oleh karena itu mari kita merenung sejenak memikirkan hikmah apa yang tekandung di balik ujian ini.

1. Sakit menyadarkan  betapa nikmatnya sehat.

Tahukah Anda bahwa Allah menciptakan fenomena di jagat raya ini selalu berpasang-pasangan,sebagaimana Ia berfirman;

سُبْحَانَ الَّذِي خَلَقَ الْأَزْوَاجَ كُلَّهَا مِمَّا تُنْبِتُ الْأَرْضُ وَمِنْ أَنْفُسِهِمْ وَمِمَّا لَا يَعْلَمُونَ

 “Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui” (QS Yasiin [36]:36).

Di antara pasangan itu adalah sehat berpasangan dengan sakit. Kita tidak akan pernah merasakan nikmatnya sehat bila belum merasakan sakit. 

Setelah kita diberi ujian yang berupa sakit, kita sadar bahwa ternyata nikmat sehat itu benar-benar nikmat yang luar biasa.  Dengan sehat kita dapat beraktivitas  mencari nafkah  kebutuhan hidup maupun beribadah dengan sempurna dan yang lebih penting lagi dapat kita pergunakan untuk meningkatkan ketaqwaan kita.

Rasul bersabda:

إغتنمْ صِحَتَكَ قَبْلَ سَقمِكَ

”Manfaatkanlah sehatmu sebelum sakitmu”.(HR Al Hakim dan Baihaki)

2. Sakit merupakan ”peluit” kematian

Hampir semua kematian diawali dengan sakit. Yakni sebagai terjadinya penurunan fungsi organ tubuh. Bermacam bentuk penurunan itu, ada yang diawali dari turunnya fungsi ginjal, paru-paru, meningkatnya kadar kolesterol atau kadar gula dalam darah, kelainan jantung, infeksi pencernaan, pendek kata beribu jalan Allah SWT menentukan dari mana proses kematian itu berawal. Dia berfirman ;

أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكُكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ

”Dimana saja kamu berada kematian akan mendapatkanmu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi dan kokoh.” (QS An Nisaa’[4] :78) 

Jadi kematian manusia itu suatu yang pasti dan mutlak merupakan hak Allah SWT yang menentukannya.   

Sakit hendaknya menyadarkan kita bahwa tidak lama lagi kematian akan menjemput kita, terlebih bagi mereka yang telah berusia di atas 50 tahun.  Maka sakit dapat kita ibaratkan sebagai peringatan atau ”peluit” kematian.

Rasa sakit ketika menghadapi sekaratul maut sangat luar biasa, ada yang melukiskan bagaikan onta masuk ke dalam lubang jarum, ada lagi yang melukiskan bagaikan dicabutnya pohon berduri yang dimasukkan ke dalam perut manusia, lantas setiap duri itu mengait urat kemudian ditarik oleh seorang yang sangat kuat kemudian terputuslah urat yang bisa putus dan tersisalah apa yang tidak bisa putus.

Maka dari itu ketika Nabi Isa AS diuji oleh kaumnya agar menghidupkan orang yang sudah mati, di bangkitkanlah orang yang sudah mati dalam kubur setelah 4000 tahun. Dan ditanya ”Bagaimana rasanya menghadapi kematian?” orang itu menjawab, ”Sakitnya masih terasa sampai sekarang.” Dalam kisah lain disebutkan bahwa kebanyakan dari mereka yang telah berada dalam kubur ketika ditanya agar hidup lagi di dunia mereka menolak karena tidak mau menghadapi sakitnya sekaratul maut. Kecuali para mujahid, mereka tidak pernah merasakan sakit bahkan mereka ingin mengulang lagi perjuangannya di dunia ini.

Namun betapapun sakitnya, seharusnya kematian tidak perlu kita takutkan jika kita telah waspada dan siap menyambutnya.   Allah berfirman,

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ تَزَكَّى وَذَكَرَ اسْمَ رَبِّهِ فَصَلَّى

”Sungguh benar-benar beruntung bagi orang yang telah menyucikan diri (dengan beriman), dan mengingat nama Tuhannya, lalu dia sholat.” (QS Al ’Alaa [87]:14-15).

Maka saat menghadapi sekaratul maut orang demikian akan mendapat hiburan dari ”malaikat” dengan kalimat yang menghibur, yakni

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُون نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةَِ

”Sesungguhnya orang yang mengatakan:”Tuhan kami ialah Allah”, kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka Malaikat akan turun kepada mereka seraya berseru:”Janganlah kamu merasa takut dan kamu bersedih, sebaliknya bergiranglah dengan sorga yang telah dijanjikan untukmu. Kamilah pelindungmu dalam kehidupanmu di dunia dan di akhirat”. (Al Fushilat [41]:30-31 ).

Semoga sakit yang kita derita hanyalah sebagai peluit kematian sehingga ketika Allah SWT mengembalikan kesehatan kita, kita segera bergegas untuk mebersihkan diri dari kotoran jiwa kita.  Pendek kata senyampang kematian belum menjemput kita mari kita sucikan dhohir maupun bathin kita.  

Orang yang menyadari bahwa sakit itu merupakan warning atau “peluit” kematian, tentu dia tidak akan main-main memainkan hidup ini.   Nabi bersabda bahwa  orang yang selalu mengingat kematian dan sekuat tenaga mepersiapkan kondisi yang sudah pasti tersebut dia termasuk orang yang cerdik. 

الكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفسَهُ وَعَمِلَ لمَا بَعْدَ المَوْت

“Orang yang cerdik adalah orang yang mengihitung-hitung (kekurangan ) dirinya dan beramal untuk bekal nanti sesudah mati ( HR Ahmad , Tarmizi, Ibn Majah dan Al Hakim)

Di hadis lain rasul menyampaikan bahwa tentang hal kematian sebenarnya merupakan pokok daripada ilmu.

3. Sakit merupakan rahmat Allah SWT.

Sakit merupakan bentuk kasih sayang Allah kepada hambanya,

مَنْ يُردِ اللهُ بِهِ خَيْراً يُصبْ منْهُ

“Barang siapa dikehendaki Allah kebaikan maka Dia akan menimpakan  ujian  padanya. (HR Bukhori dari Abu harairah).

Anda sangat beruntung karena Allah telah memberikan sakit, sehingga Anda dapat merasakan nikmatnya sehat. Dan hampir tidak ada orang yang tidak diuji dengan sakit. Sakit bukanlah kehendak manusia, tidak ada orang yang berniat  sakit. Bahkan Allah melarang hambanya untuk menganiaya diri. Maka dari itu ketika Allah SWT menimpakan sakit pada hambanya bersamaan itu Dia menaburkan kasih sayangnya kepada manusia. Nabi bersabda bahwa orang yang mendapat musibah sakit itu dosanya dihapuskan laksana gugurnya daun dari sebuah pohon. Sebagaimana Nabi bersabda ;

ماَ مِنْ مُسْلِمِ يُصيْبُهُ أذًى إلاَّ حَاتَّ اللهُ عَنْهُ خَطَاياهُ كَمَا تَحاتُّ وَرَقُ الشَّجَرِ

“Tidaklah seorang muslim ditimpa penyakit keuali Allah menggugurkan dosa-dosanya seperti gugurnya daun pada pohon (HR Buchori)

Maka tugas selanjutnya hamba pasca sakit seharusnya menjaga kesucian tersebut.  Inilah momentum yang baik untuk melakukan muhasabah.   Apakah kita sebelumnya banyak melakukan maksiat, baik melalui lesan maupun tindakan, mengumbar hawa nafsu, menjadi budhak dunia, sering melakukan kepalsuan, menjadi budhak nafsu, melalaikan kewajiban, masih menguasai hak orang lain atau menyakiti sesama hamba Allah atau makhluk Allah yang lain sebelum Allah menurunkan sakit kepada kita ?   Maka mulai saat Allah SWT mengembalikan kesehatan kita, mari kita tinggalkan berbagai bentuk maksiat tersebut,  manfaatkan sebaik-baiknya hidup ini agar tidak menyimpang dari jalan kebenaran.

Jika kita tidak mampu mengambil kesempatan tersebut berarti kita termasuk orang yang rugi, termasuk orang yang tidak cerdik dan termasuk orang yang tidak mendapat hiburan para malaikat ketika menghadapi sekaratul maut.  Na’udzubillahi min dzalika.

Demikian semoga bermanfaat bagi pembaca sekalian dan khususnya diri penulis sendiri.  Amiin.

وصلّ الله على سيّدنامحمّدٍ وعلى آله و صحبه وسلّم

About Global Muslim

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement