Untitled Post

 Jawa harus dipisahkan dari Islam.” 

Perintah yang jelas dan tegas di masa kolonial itu lalu diimplementasikan dalam karya-karya literatur yang nantinya menjadi rujukan utama penulisan sejarah Jawa.

Dimulai oleh Thomas Raffles (1781-1826) dengan bukunya History of Jawa. Lalu John Crawfurd (1783-1868) dengan bukunya History of Indian Archipelago. Dan puncaknya adalah didirikannya Institute Javanologi oleh Keraton Surakarta.

Tak main-main, framing yang dibentuk adalah Islam yang berada di Jawa adalah Islam yang sinkretisme, alias ada percampuran dengan kepercayaan lama. 

“Bungkusnya” Islam, namun dalamnya bercampur dengan Hindu-Budha-animisme dan dinamisme. Studi itu dititikberatkan menggali Jawa pra Islam untuk ditampilkan sebagai wajah Jawa yang “asli”.

Dikotomi Jawa dan Islam itu sejatinya baru dimulai tahun 1830-an pasca Perang Sabil yang dikobarkan Mujahid Jawa Pangeran Diponegoro atau yang lebih dikenal sebagai Perang Jawa.

Kolonial Belanda paham betul, jangan sampai terjadi lagi kesatuan identitas antara Jawa dan Islam. Karena kesatuan identitas itulah yang menggerakkan para bangsawan, Kyai, santri dan rakyat dalam jihad fi sabilillah. Sejak zaman Patiunus hingga Diponegoro sudah terbukti kesatuan identitas itu berbahaya.

Sejarah mencatat, ketika kerajaan Padjajaran dan Blambangan membuka pelabuhan-pelabuhannya untuk menerima kapal-kapal kolonial, kerajaan-kerajaan Islam telah bersatu untuk melawannya.

Dimulai dengan 300 armada kapal dari Demak yang dipimpin oleh Pangeran Fatih Unus atau yang dikenal dengan Patiunus menyerbu Malaka.

Perjuangan itu menyatukan kerajaan Islam lainnya, Cirebon, Tuban, Palembang, Jambi, Aceh, hingga Bugis. Sekalipun perjuangan itu belum membuahkan hasil, namun serangan itu memberikan pukulan telak bagi Portugis.

Kesadaran untuk melakukan perlawanan muncul berdasar nilai-nilai Islam, persaudaraan, persamaan, kedaulatan, marwah, dan kebebasan.

Selama berabad-abad saudagar Muslim dan bangsa-bangsa lain dari berbagai belahan bumi berdagang dengan aman dan damai di Nusantara, tanpa ingin menguasai. Tiba-tiba muncul bangsa penjajah yang memaksakan kehendak, ingin menang sendiri, membunuh dan membuat kerusakan. 

Di tanah Jawa, perjuangan dilanjutkan oleh Sultan Agung dan pasukannya yang menggempur Batavia. Periode berikutnya, ada Pangeran Mangkubumi yang membuat Gustaaf Willem Baron Van Imhoff terkepung di benteng Ungaran dan Kapten de Clerck tewas dalam pertempuran sengit di sungai Bogowonto.

Tak surut langkah. Para pangeran dan raja-raja sholeh inilah Mujahid yang sesungguhnya, yang terus mengobarkan perlawanan dan mengorbankan semua yang dimilikinya dalam perang Sabil. Tak hanya di tanah Jawa, namun di setiap jengkal bumi Nusantara. 

Setelah periode perang Jawa yang dipimpin Pangeran Diponegoro yang membangkrutkan Belanda, mereka sepenuhnya sadar tak ada pilihan, segala cara harus dilakukan untuk memisahkan identitas bangsa ini dengan Islam, supaya perlawanan serupa tak terjadi lagi di masa depan.

Siasat Belanda berhasil. Bahkan sampai mereka angkat kaki dari negeri ini, kerusakan pemikiran yang ditimbulkan tak terhenti: Islam bukan bagian dari identitas bangsa ini.

Selamat Hari Pahlawan.

Uttiek

About Global Muslim

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement