Hak Istri Atas Suami

Yang dimaksud Hak-Hak Istri Atas Suami dalam hal ini adalah hak-hak
yang bersifat materi, seperti mahar dan nafkah, maupun hak yang bersifat
non-materi. Di antara hak-hak tersebut adalah sebagai berikut.

1. Hak Mendapat Pergaulan Yang Baik Dari Suami.


Maksudnya
adalah seorang suami berkewajiban mempergauli istrinya dengan baik,
tidak menyakitinya, dan tidak menunda-nunda memberi haknya padahal
mampu, serta berkewajiban menampakkan kegembiraan, keceriaan, dan
ketertarikan di hadapannya.

Landasan utama hak ini adalah firman Allah Subhanahu wata’ala:

وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ ۚ

“Dan bergaullah dengan mereka secara patut.”[1]

Demikian pula, firman-Nya:

وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ ۚ

“Dan para istri itu mempunyai hak yang seimbang dengan kewajiban mereka menurut cara yang ma’ruf.”[2]

Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ، وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي

“Orang
terbaik dari kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya, dan aku
adalah orang terbaik di antara kalian dalam berbuat baik kepada
keluarga.”[3]

Perlakuan dan pergaulan yang baik adalah
istilah yang universal yang menjadi pangkal seluruh hak-istri yang lain.
Hak-hak istri yang akan kami sebutkan sesudahnya hanyalah bagian dari
perlakuan dan pergaulan yang baik ini. Kami menyebutkannya secara
terpisah di sini agar lebih diperhatikan. Di antara pergaulan yang baik
tersebut adalah sebagai berikut.

2. Mendapat Nafkah Dengan Cara Yang Ma’ruf.


Maksud
nafkah di sini adalah apa saja yang dinafkahkan oleh suami untuk istri
dan anak-anaknya, berupa makanan, pakaian, tempat tinggal, dan
sebagainya. Seorang suami wajib menafkahi istrinya berdasarkan
al-Qur’an, as-Sunnah, ijma’, dan logika.[4]

Dasarnya Dari Al-Qur’an, Antara Lain:

1. Firman Allah Subhanahu wata’ala:

لِيُنفِقْ
ذُو سَعَةٍ مِّن سَعَتِهِ ۖ وَمَن قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلْيُنفِقْ
مِمَّا آتَاهُ اللَّهُ ۚ لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا مَا آتَاهَا

“Hendaklah
orang yang memiliki kelapangan harta memberi nafkah menurut
kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi
nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan
beban kepada seseorang melainkan sekadar yang Allah berikan
kepadanya.”[5]

2. Firman Allah Subhanahu wata’ala:

وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ ۚ

“Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma’ruf.”[1]

Ibnu
Katsir rahimahullahu berkata, “Artinya, wajib bagi ayah si anak untuk
memberi nafkah dan pakaian kepada ibu si anak dengan cara yang ma’ruf,
sebagaimana yang biasa berlaku di kalangan mereka, tanpa bersikap
berlebih-lebihan maupun menyepelekan, sesuai dengan kemampuannya saat
memiliki harta yang banyak, sedang, atau pun sedikit.”

Dasarnya Dari as-Sunnah:

Hadits
Jabir radhiallahu ‘anhu mengenai tata cara haji Nabi Shallallahu
‘alaihi wasallam. Di dalamnya disebutkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi
wasallam bersabda,

اتَّقُوا اللهَ فِي النِّسَاءِ،
فَإِنَّهُنَّ عَوَانٌ عَنْدَكُمْ، أَخَذْتُمُوهُنَّ بِأَمَانَةِ اللهِ،
وَاسْتَحْلَلْتُمْ فُرُوجَهُنَّ بِكَلِمَةِ اللهِ، وَلَهُنَّ عَلَيْكُمْ
رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ

“Bertakwalah
kalian dalam masalah perempuan. Sebab, mereka itu ibarat tawanan di
sisi kalian. Kalian mengambil mereka dengan amanah dari Allah. Kalian
halalkan kemaluan mereka dengan kalimat Allah. Oleh karena itu, mereka
memiliki hak atas kalian untuk mendapat nafkah dan pakaian dengan cara
yang ma’ruf.”[2]

3. Hadits Mu‘awiyah al-Qusyairi
radhiallahu ‘anhu, dia berkata, “Aku berkata kepada Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wasallam, ‘Wahai Rasulullah, apa hak istri atas
suaminya?’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab,

تُطْعِمُهَا
إِذَا طَعِمْتَ، وَتَكْسُوهَا إِذَا اكْتَسَيْتَ، وَلَا تَضْرِبْ
الْوَجْهَ، وَلَا تُقَبِّحْ، وَلَا تَهْجُرْ إِلَّا فِي الْبَيْتِ

‘Kamu
memberinya makan jika kamu makan, kamu memberinya pakaian jika kamu
berpakaian, kamu jangan memukul wajahnya, jangan mencaci makinya, dan
jangan meninggalkannya kecuali di dalam rumah.”[3]

4.
Hadits Aisyah radhiallahu ‘anha bahwa Hindun binti ‘Utbah
radhiallahu ‘anha berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Abu Sufyan
laki-laki yang pelit. Dia tidak memberi nafkah kepadaku dan anakku
kecuali jika aku mengambilnya sendiri tanpa sepengetahuannya.”
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda,

خُذِي مَا يَكْفِيكِ وَوَلَدَكِ بِالْمَعْرُوفِ

“Ambillah dari hartanya sekadar apa yang mencukupi dirimu dan anakmu.”[4]

Berdasarkan
ijma’, maka banyak ulama yang menyebutkan kesepakatan mereka tentang
wajibnya suami –jika dia telah balig– memberi nafkah kepada istrinya,
kecuali istri yang melakukan nusyuz.

Berdasarkan
Logika, adalah mengingat bahwa seorang istri terikat dengan suaminya
sehingga dia tidak bisa beraktifitas dan bekerja untuk mencari harta
bagi dirinya sendiri karena harus fokus melaksanakan kewajibannya kepada
suami, maka adalah logis jika suami berkewajiban memberi nafkah kepada
istri.

Faktor Penyebab Suami Wajib Memberi Nafkah


Ulama
Hanabilah berpendapat bahwa faktor yang menyebabkan suami wajib memberi
nafkah kepada istri adalah karena istri terikat dengan suami. Sedangkan
jumhur ulama berpendapat bahwa sebabnya adalah karena statusnya sebagai
seorang istri.[1]

Syarat-Syarat Wajib Memberi Nafkah


Jumhur
ulama telah menentukan sejumlah syarat agar kewajiban memberi nafkah
berlaku pada diri suami, baik sebelum terjadinya persetubuhan dengan
istri maupun sesudahnya.[2]

Syarat-Syarat Wajib Nafkah Sebelum Terjadi Persetubuhan

1.
Hendaknya istri memberi suami kesempatan untuk bersetubuh
dengannya, yaitu setelah terjadi akad nikah, istri mengajak suami untuk
bersetubuh dengannya. Jika istri tidak melakukan hal itu atau malah
menolaknya tanpa alasan yang dibenarkan, maka suami tidak berkewajiban
memberinya nafkah.

2. Hendaknya istri mampu
berhubungan seksual, yaitu hendaknya dia bukan anak kecil, atau ada
sesuatu pada dirinya yang membuatnya tidak bisa berhubungan seksual.

3.
Hendaknya pernikahan mereka adalah pernikahan yang sah. Jika
pernikahan mereka pernikahan yang fasid (rusak), maka suami tidak
berkewajiban memberi nafkah kepada istri, dan tidak mungkin pula
menganggap istri telah terikat dengan suami karena dengan rusaknya
pernikahan tersebut tamkin istri (kesempatan yang diberikan istri kepada
suami untuk bersetubuh dengannya) menjadi tidak sah, dan suami tidak
berhak mendapatkan apa yang menjadi imbalan dari tamkin tersebut menurut
kesepakatan ulama.

Syarat-Syarat Wajib Nafkah Sesudah Terjadi Persetubuhan

1.
Hendaknya suami memiliki kelapangan harta. Jika suami tidak punya
banyak harta sehingga tidak mampu memberi nafkah, maka tidak ada
kewajiban baginya memberi nafkah selama belum punya harta. Ini
berdasarkan firman Allah Subhanahu wata’ala:

لِيُنفِقْ
ذُو سَعَةٍ مِّن سَعَتِهِ ۖ وَمَن قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلْيُنفِقْ
مِمَّا آتَاهُ اللَّهُ ۚ لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا مَا آتَاهَا
ۚ

“Hendaklah orang yang memiliki kelapangan harta
memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan
rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah
kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan
sekadar yang Allah berikan kepadanya.”[3]

2.
Hendaknya istri terikat dengan suami (bukan istri yang berbuat nusyuz).
Jika istri tidak mau menaati suami, maka tidak ada nafkah untuknya.

Catatan tambahan: Apakah Istri Yang Bekerja Atau Berkarir Berhak Mendapat Nafkah?


Jika
istri bekerja di luar rumah, dengan pekerjaan yang mubah, atas
persetujuan dan kerelaan suami, maka dia berhak mendapat nafkah karena
keterikatan istri kepada suami adalah hak suami dan suami berhak
melepaskan hak tersebut.

Sebaliknya, jika istri tetap
memilih keluar rumah untuk bekerja padahal suami tidak rela dan
melarangnya keluar rumah, maka haknya untuk mendapat nafkah gugur karena
keterikatannya (pengabdiannya) kepada suami tidak sempurna.[1]

Kadar Nafkah yang Wajib

Landasan utama dalam masalah ini adalah firman Allah Subhanahu wata’ala:

لِيُنفِقْ ذُو سَعَةٍ مِّن سَعَتِهِ ۖ

“Hendaklah orang yang memiliki kelapangan harta memberi nafkah menurut kemampuannya.”[2]

Dan firmannya:

عَلَى الْمُوسِعِ قَدَرُهُ وَعَلَى الْمُقْتِرِ قَدَرُهُ

“Orang yang mampu menurut kemampuannya dan orang yang miskin menurut kemampuannya (pula).”[3]

Serta sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Hindun:

خُذِي مَا يَكْفِيكِ وَوَلَدَكِ بِالْمَعْرُوفِ

“Ambillah dari hartanya sekadar apa yang mencukupi dirimu dan anakmu.”[4]

Dengan demikian, yang jadi ukuran adalah:


1. Pemberian yang memadai bagi istri dan anak. Ini tentunya berbeda-beda berdasarkan perbedaan kondisi, tempat, dan waktu.

2. Kemampuan dan kelapangan suami.

Para
ahli fiqih rahimahumullah telah membahas secara panjang lebar tentang
penentuan kadar yang wajib dalam nafkah, dan mereka merinci hal itu
dengan pendapat-pendapat yang menurut kami dibangun dengan mengacu pada
kebiasaan yang berlaku pada masa mereka.[5]

Demikian
pula halnya, mereka bersilang pendapat dalam masalah nafkah: apakah yang
jadi ukuran dalam masalah itu kondisi suami, kondisi istri atau kondisi
keduanya? Pendapat yang shahih yang didukung oleh dalil-dalil al-Qur’an
yang telah disebutkan di atas adalah pendapat yang menyatakan bahwa
ukuran dalam menentukan status lapang atau sempit harta adalah kondisi
suami. Dan ini adalah pendapat Malikiyah dan Syafi‘iyah.[1]

Apakah Suami Berkewajiban Menanggung Biaya Pengobatan dan Perawatan Istri?

Imam
yang Empat berpendapat bahwa suami tidak berkewajiban menanggung biaya
pengobatan dan perawatan istri![2] Hanya saja, tampaknya dasar dari
pendapat tersebut adalah karena pengobatan pada masa lalu bukan termasuk
kebutuhan primer dan tidak banyak dibutuhkan. “Adapun masa sekarang,
kebutuhan kepada pengobatan sudah seperti kebutuhan kepada makanan,
bahkan lebih penting. Sebab, orang yang sakit biasanya akan lebih
mengutamakan pengobatan penyakitnya (kesehatan) dari apapun juga.
Bagaimana mungkin orang yang sakit bisa menikmati makanannya sementara
dia terus-menerus mengeluh dan merasakan kesakitan karena penyakit yang
menderanya bahkan mengancam nyawanya?

Oleh karena itu,
kami memandang seorang suami tetap berkewajiban menanggung biaya
pengobatan istrinya sebagaimana biaya-biaya penting tak terduga lainnya
dan sebagaimana wajibnya seorang ayah menanggung biaya pengobatan
anaknya menurut kesepakatan para ulama. Bagaimana mungkin dikatakan
termasuk pergaulan yang baik jika suami menikmati istrinya saat sehat
tetapi mengembalikannya kepada keluarganya untuk diobati saat sakit!?[3]

3. Memberi Pakaian Dengan Cara Yang Ma’ruf.


Para
ulama telah berijma’ bahwa suami berkewajiban memberi pakaian kepada
istri jika istri telah mengabdikan dirinya kepada suami dengan cara yang
diwajibkan kepadanya. Hal ini berdasarkan firman Allah Subhanahu
wata’ala:

وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ ۚ

“Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf.”[4]

Dan berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadits Jabir yang lalu:

وَلَهُنَّ عَلَيْكُمْ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ

“Mereka (para istri) memiliki hak atas kalian untuk mendapat nafkah dan pakaian dengan cara yang ma’ruf.”[5]

Alasan
lainnya adalah karena pakaian terus-menerus dibutuhkan, maka suami pun
tetap harus memberikannya sebagaimana halnya nafkah.

Kemudian,
para ulama tersebut juga berijma’ bahwa pakaian yang diberikan haruslah
memenuhi kebutuhan istri di mana kebutuhan tersebut berbeda-beda
berdasarkan perbedaan panjang-pendek dan gemuk-kurusnya tubuh istri, dan
berdasarkan perbedaan iklim negara di mana istri menetap dalam hal
panas dan dinginnya.[1]

Catatan tambahan: Jika Seorang
Suami Memberi Pakaian Kepada Istrinya, Lalu Mentalaknya, Atau Dia Atau
Istri Meninggal Sebelum Pakaian Itu Rusak, Maka Bolehkah Suami
Memintanya Kembali?

Jika istri menerima nafkah yang
wajib diberikan suami kepadanya, kemudian suami mentalaknya, atau suami
meninggal, atau dia sendiri meninggal, maka suami atau ahli warisnya
tidak boleh meminta kembali nafkah tersebut menurut pendapat yang paling
shahih dari dua pendapat di kalangan ulama. Ini adalah pendapat
Hanafiyah dan Malikiyah, serta yang paling shahih di kalangan Syafi‘iyah
dan salah satu pendapat di kalangan Hanabilah.[2]

Alasannya
karena suami memberi pakaian itu untuk memenuhi kewajibannya kepada
istri, dan dia menyerahkan pakaian itu kepada istri setelah kewajiban
memberi pakaian itu berlaku pada dirinya. Karena itu, suami tidak
memiliki hak untuk memintanya kembali.

Selain itu,
pakaian adalah sarana sehingga menyerupai hibah, dan hibah tidak boleh
diminta kembali setelah kematian pemberi atau penerima hibah.

4. Memberi Tempat Tinggal Dengan Cara Yang Ma’ruf.

Ini adalah kewajiban suami kepada istri menurut kesepakatan ulama. Alasannya:

a.
Karena Allah Subhanahu wata’ala telah memberi kepada istri yang
tertalak raj‘ihak untuk mendapat tempat tinggal dari suaminya, maka
kewajiban memberi tempat tinggal kepada istri yang masih terikat
pernikahan tentulah jauh lebih utama.

Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

أَسْكِنُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ سَكَنتُم مِّن وُجْدِكُمْ

“Tempatkanlah mereka (para istri) di mana kalian bertempat tinggal menurut kemampuan kalian.”[3]

b. Karena Allah Subhanahu wata’ala telah mewajibkan suami dan istri untuk saling bergaul dengan baik lewat firman-Nya:

وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ ۚ

“Dan bergaullah dengan mereka secara patut.”[4]

Di
antara bentuk pergaulan secara patut yang diperintahkan oleh Allah
Subhanahu wata’ala adalah menempatkan istri di tempat tinggal yang aman
bagi istri dan hartanya.

c. Karena istri
membutuhkan tempat tinggal untuk menutupi dirinya dari pandangan orang
lain, dan sebagai tempat bersenang-senang dan tempat menyimpan hartanya,
maka tempat tinggal menjadi hak istri atas suaminya.[1]

Kriteria Tempat Tinggal Yang Syar‘i


Ukuran
bagi tempat tinggal yang syar‘i untuk istri adalah kondisi keuangan
suami dan kondisi istri, sebagai kias kepada nafkah dengan pertimbangan
bahwa tempat tinggal dan nafkah adalah dua hak istri yang menjadi
konsekuensi dari akad nikah.

Hal ini berdasarkan firman Allah Subhanahu wata’ala:

أَسْكِنُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ سَكَنتُم مِّن وُجْدِكُمْ

“Tempatkanlah mereka (para istri) di mana kalian bertempat tinggal menurut kemampuan kalian.”

Dan firman-Nya:

لِيُنفِقْ
ذُو سَعَةٍ مِّن سَعَتِهِ ۖ وَمَن قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلْيُنفِقْ
مِمَّا آتَاهُ اللَّهُ ۚ لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا مَا آتَاهَا

“Hendaklah
orang yang memiliki kelapangan harta memberi nafkah menurut
kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi
nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan
beban kepada seseorang melainkan sekadar yang Allah berikan
kepadanya.”[2]

Karena nafkah yang wajib adalah yang
sesuai dengan kadar kondisi keuangan pemberi nafkah dalam hal banyak,
sedang, dan sedikitnya harta yang dia miliki, maka demikian pula halnya
dengan tempat tinggal. Ini adalah pendapat jumhur ulama.

Sedangkan
Syafi‘iyah berpendapat bahwa patokan dalam hal tempat tinggal yang
syar‘i adalah kondisi istri saja, terlepas dari perbedaan pendapat di
kalangan mereka tentang nafkah.

Mereka berargumen bahwa
karena istri diharuskan untuk selalu tetap tinggal di dalam rumah, maka
tidak mungkin istri menggantinya. Jika kondisi istri tidak jadi
pertimbangan, maka itu akan membahayakan dirinya, sementara bahaya
terlarang dalam syari‘at. Adapun nafkah, maka istri masih mungkin
menggantinya.[3]

Penulis berkata: Pendapat jumhur ulama lebih utama untuk diterima berdasarkan ayat-ayat di atas. Wallahu a‘lam.

Beberapa Catatan tambahan:

1.
Menempatkan Istri Bersama Keluarga Suami Dalam Satu Tempat
Tinggal.[4]Maksud keluarga suami di sini adalah kedua orang tua suami
dan anak-anaknya dari istri yang lain.

Jumhur ulama
dari kalangan Hanafiyah, Syafi‘iyah, dan Hanabilah berpendapat tidak
boleh menempatkan kedua orang tua –atau kerabat suami yang lain– dan
istri dalam satu tempat tinggal yang sama. Istri berhak menolak untuk
tinggal di tempat tinggal yang sama dengan orang tua suami, kecuali jika
dia sendiri yang menghendakinya. Sebab, tempat tinggal termasuk di
antara hak-hak istri. Suami tidak berhak menempatkan orang lain bersama
istri di dalamnya. Di samping itu, menempatkan mereka bersama istri bisa
membuat istri merasa kesusahan.

Adapun ulama
Malikiyah, mereka membedakan antara istri yang berasal dari keluarga
terpandang (syarifah) dengan yang berasal dari keluarga biasa
(wadhi‘ah). Mereka melarang menyatukan istri dari keluarga terpandang
dengan kedua orang tua dalam satu tempat tinggal, dan membolehkannya
untuk istri dari keluarga biasa selama tidak membuat susah si istri.

Adapun
menempatkan istri dalam satu tempat tinggal bersama anak-anak tirinya,
maka jika anak-anak tersebut telah besar dan telah paham arti
persetubuhan, maka ulama sepakat tidak membolehkannya karena dapat
menyebabkan kesusahan bagi istri, kecuali jika istri membolehkannya
karena tempat tinggal adalah haknya dan dia boleh melepaskan hak
tersebut.

Sedangkan jika si anak masih kecil dan belum
paham arti persetubuhan, maka boleh menempatkannya bersama istri. Dia
tidak berhak menolak untuk tinggal bersama anak tirinya tersebut.

2. Keluarga Istri Ikut Tinggal Bersama Suami.[1]


Istri
tidak berhak mengajak seorang pun dari mahramnya untuk tinggal
bersamanya di rumah suaminya. Suami berhak melarang istri melakukan hal
itu. Lain halnya jika suami rela, maka tidak masalah.

Adapun
anak bawaan istri dari bekas suaminya, maka menurut jumhur ulama, istri
tidak boleh mengajaknya tinggal bersama tanpa kerelaan suami. Ulama
Malikiyah membatasi larangan tersebut dengan ketentuan jika saat
menikah, suami mengetahui keberadaan anak tersebut. Jika suami
mengetahuinya, sementara si anak tidak ada yang mengasuh, maka menurut
Malikiyah, suami tidak berhak melarang istri mengajaknya tinggal
bersama.

3. Bolehkah Menempatkan Istri-Istri Dalam Satu Rumah?

Para
ahli fiqih bersepakat bahwa suami tidak boleh menempatkan
istri-istrinya dalam satu rumah yang sama karena hal itu bukan termasuk
bentuk pergaulan yang baik dan bisa memicu permusuhan yang dilarang oleh
syariat. Selain itu, persetubuhan suami dengan istri yang lain bisa
saja terdengar atau terlihat oleh istri-istrinya yang lain sehingga bisa
menimbulkan rasa permusuhan dan kecemburuan di antara istri-istri
tersebut. Akan tetapi, menurut jumhur ulama, karena larangan menempatkan
dua istri (atau lebih) dalam satu rumah itu merupakan murni hak mereka,
maka bisa saja larangan itu tidak berlaku jika keduanya rela.[2]

Penulis
berkata: Pada asalnya, yang seharusnya dilakukan adalah memberikan
rumah kepada masing-masing istri sebagaimana yang dilakukan oleh
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah Subhanahu wata’ala
berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَدْخُلُوا بُيُوتَ النَّبِيِّ إِلَّا أَن يُؤْذَنَ لَكُمْ

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian memasuki rumah-rumah Nabi kecuali bila kalian diizinkan.”[1]

Dalam
ayat ini, Allah Subhanahu wata’ala menyebut buyut (rumah-rumah) dan
bukanbait (satu rumah). Akan tetapi, jika para istri tersebut rela
ditempatkan dalam satu rumah, maka suami boleh melakukannya karena itu
adalah hak para istri dan mereka boleh mengabaikannya. Wallahu a‘lam.[2]

Catatan
Penting: Insya Allah, akan datang nanti penjelasan lebih lanjut
mengenai nafkah dan tempat tinggal dalam bab-bab tentang masa ‘iddah
istri yang tertalak.

4. Bersikap Lembut Kepada Istri, Mencandainya, Dan Memaklumi Usia Mudanya.

Para
suami telah memiliki teladan dalam hal ini pada diri Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wasallam. Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, dia
berkata, “Orang-orang Habasyah pernah berlatih (dengan tombak-tombak
kecil mereka). Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menutupiku,
sementara aku menonton mereka. Aku terus menonton mereka hingga aku
sendiri yang berpaling (karena bosan). Maka, kalian harusnya bisa
memaklumi gadis kecil masih belia yang masih senang bermain.”[3]

Begitu
pula, dengan kisah beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam mengajak Aisyah
radhiallahu ‘anha berlomba lari. Beliau berkata kepadanya, “Ayo kita
berlomba.”Ternyata Aisyah bisa mengalahkan beliau. Kemudian beliau
kembali mengajak Aisyah berlomba setelah tubuhnya mulai gemuk. Beliau
pun mengalahkannya lalu tertawa seraya berkata, “Kemenanganku kali ini
untuk menebus kekalahanku dahulu.”[4]

Aisyah
radhiallahu ‘anha juga berkata, “Dahulu aku biasa bermain boneka [dari
kain katun] di dekat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Aku punya
teman-teman perempuan yang ikut main bersamaku. Jika Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wasallam masuk, mereka biasanya langsung bersembunyi
(di balik tirai) dari beliau. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
wasallam memanggil mereka untuk bergabung dan bermain bersamaku.”[5]

Kelembutan seperti apa lagi yang bisa mengalahkan kelembutan beliau kepada istrinya?

Please rate this

About admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *