Dari Mana Dalil Shalat Tarawih 11 Rakaat?

Dari Mana Dalil Shalat Tarawih 11 Rakaat?

Fikroh.com – Yang muktamad (resmi) dalam mazhab Syafi’i, jumlah rekaat salat tarawih adalah dua puluh rekaat dengan salam pada setiap dua rekaatnya dan istirahat pada setiap empat rekaatnya, lalu ditutup dengan salat witir tiga rekaat. Ini selain pendapat mazhab Syafi’i, juga merupakan pendapat jumhur atau hampir bisa dikatakan empat mazhab, yaitu dari kalangan Hanafiyyah, Hanabilah, dan sebagian Malikiyyah. Adapun pendapat yang masyhur dari Malikiyyah, adalah tiga puluh enam rekaat.

Dalilnya adalah riwayat As-Saib bin Yazid radhiallahu ‘anhu beliau berkata :

كَانُوا يَقُومُونَ عَلَى عَهْدِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ بِعِشْرِينَ رَكْعَةً

“Mereka (para sahabat) salat tarawih di zaman Umar bin Khatab radhiallahu ‘anhu di bulan Ramadhan sebanyak dua puluh rekaat.” (HR. Al-Baihaqi : 4288)

Hadis di atas statusnya sahih (valid). Imam Nawawi rahimahullah berkata : “Ia (hadis di atas) diriwayatkan oleh imam Baihaqi dengan sanad yang sahih.” (Khulashah Ahkam, juz I, hlm. 576). Disebutkan dalam riwayat Yazid bin Ruman dalam Muwatha’ Imam Malik secara mursal, bahwa jumlahnya dua puluh tiga rekaat. Maksudnya, dua puluh rekaat salat tarawihnya, sedangkan tiga rekaat adalah salat witirnya. Demikian dijelaskan oleh Imam Al-Baihaqi rahimahullah sebagai bentuk kompromi di antara keduanya. 

Maka, salat tarawih dua puluh tiga rekaat, merupakan sunahnya sahabat Umar bin Khatab radhiallahu. Dan sunah ini tidak diketahui ada yang mengingkarinya di zaman itu. Kalau dalam ushul fiqh, dinamakan ijma’ sukuti. Dan ijma’ sukuti merupakan hujjah menurut jumhur ulama ahli ushul. Selain itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan umatnya untuk berpegang dengan sunah khulafa’ rasyidin. Nabi bersabda : “Wajib kalian berpegang dengan sunahku dan sunah para khulafa’ rasyidin (yang empat) setelahku.” Dan sahabat Umar termasuk salah satu dari mereka.

Imam Nawawi (w.676 H) rahimahullah berkata :

فَصَلَاةُ التَّرَاوِيحِ سُنَّةٌ بِإِجْمَاعِ الْعُلَمَاءِ وَمَذْهَبُنَا أَنَّهَا عِشْرُونَ رَكْعَةً بِعَشْرِ تَسْلِيمَاتٍ

“Maka salat tarawih hukumnya sunah dengan ijmak (konsensus) ulama, dan ini merupakan mazhab kami (Syafi’iyyah) dan sesungguhnya ia berjumlah dua puluh rekaat dengan sepuluh kali salam.”(Syarah Al-Muhadzab : 4/31).

Di halaman lain, beliau (imam An-Nawawi) berkata :

مَذْهَبُنَا أَنَّهَا عِشْرُونَ رَكْعَةً بِعَشْرِ تَسْلِيمَاتٍ غَيْرَ الْوِتْرِ وَذَلِكَ خَمْسُ تَرْوِيحَاتٍ وَالتَّرْوِيحَةُ أَرْبَعُ رَكَعَاتٍ بِتَسْلِيمَتَيْنِ هَذَا مَذْهَبُنَا وَبِهِ قَالَ أَبُو حَنِيفَةَ وَأَصْحَابُهُ وَأَحْمَدُ وَدَاوُد وَغَيْرُهُمْ وَنَقَلَهُ الْقَاضِي عِيَاضٌ عَنْ جُمْهُورِ الْعُلَمَاءِ

“Mazhab (pendapat) kami (mazhab Syafi’i) sesungguhnya ia (salat tarawih) berjumlah dua puluh rekaat dengan sepuluh kali salam selain witir. Dan yang demikian itu ada lima kali istirahat pada tiap empat rekaat dengan dua kali salam. Ini merupakan pendapat kami (mazhab Syafi’i) dan merupakan pendapat Abu Hanifah dan para sahabatnya, Ahmad bin Hanbal, Dawud dan selain mereka. Imam Al-Qadhi ‘Iyyadh menukil hal ini dari jumhur (mayoritas) ulama.” (Syarah Al-Muhadzab : 4/32).

Menurut imam An-Nawawi, penduduk Madinah salat tarawih tiga pulun enam rekaat, dikarenakan penduduk Mekah setiap istirahat dari selesai dari empat rekaat dengan salam tiap dua rekaat  (kecuali pada istirahat yang kelima), mereka thawaf di Ka’bah lalu salat dua rekaat. Maka, penduduk Madinah berusaha untuk menyamai mereka dengan cara mengganti tiap thawaf mereka dengan empat rekaat, dimana semuanya berjumlah enam belas rekaat. Akhirnya, jumlah salat Tarawih mereka menjadi tiga puluh enam rekaat (dua puluh rekaat ditambah enam belas rekaat). Akan tetapi menurut pengarang kitab Asy-Syamil dan Al-Bayan dan Imam Syafi’i, selain penduduk Madinah tidak boleh mengamalkan amaliah salat Tarawih penduduk Madinah karena adanya kemulian penduduk Madinah dimana kota Madinah dijadikan tempat hijrah dan dimakamkannya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. (simak Syarah Muhadzab : 4/33).

Adapun ucapan Aisyah radhiallahu ‘anha yang berbunyi :

مَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلاَ فِي غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً 

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah salat di bulan Ramadhan dan di luar Ramadhan lebih dari sebelas rekaat.” (HR. Bukhari : 1147 dan Muslim : 738). 

Maksudnya adalah salat witir, bukan salat tarawih. Ini merupakan salah satu hadis yang banyak disalahpahami oleh sebagian pihak. Kalau kita lihat di kitab syuruh hadis (kitab-kitab penjelasan hadis), tidak ada seorangpun ulama mutaqaddimun (klasik) sepanjang yang kami ketahui yang memahami ucapan Aisyah di atas untuk masalah salat tarawih. Kalau kita lihat para ulama ahli hadis, mereka semua juga menempatkan hadis di atas di bab salat witir. Selain itu, kalau kita menengok asbab wurud (sebab datangnya) hadis ini, maka kita akan dapatkan bahwa sayidah Aisyah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Wahai Rasulullah ! Apakah anda salat witir dulu sebelum tidur ?”.

Sehingga yang memahami ucapan Aisyah di atas dalam masalah salat Tarawih, lalu menjadikannya dalil untuk jumlah salat tarawih sebelas rekaat, adalah sebuah kekeliruan. Telah menyelisihi semua ulama atau minimal jumhur (mayoritas) ulama muslimin. Diantara ulama yang menjelaskan masalah ini, adalah Imam Zakariya Al-Anshari (w.926 H) rahimahullah beliau berkata :

(فَصْلٌ يَحْصُلُ الْوِتْرُ بِرَكْعَةٍ وَبِالْأَوْتَارِ إلَى إحْدَى عَشْرَةَ) لِلْأَخْبَارِ الصَّحِيحَةِ فِيهِ فَأَقَلُّهُ وَاحِدَةٌ وَأَدْنَى الْكَمَالِ ثَلَاثٌ وَأَكْمَلُ مِنْهُ خَمْسٌ، ثُمَّ سَبْعٌ، ثُمَّ تِسْعٌ ثُمَّ إحْدَى عَشْرَةَ، وَهِيَ أَكْثَرُهُ لِلْأَخْبَارِ الصَّحِيحَةِ كَخَبَرِ عَائِشَةَ «مَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلَا غَيْرِهِ عَلَى إحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً»

“Fasal : Salat witir terwujud dengan satu rekaat atau sebelas rekaat berdasarkan hadis-hadis sahih di dalam masalah ini. Minimal satu rekaat dan ini kesempurnaan yang paling rendah, yang lebih sempurna darinya lima rekaat, lalu tujuh rekaat, lalu sembilan rekaat, lalu sebelas rekaat. Dan ia (sebelas rekaat) adalah salat witir terbanyak (paling maksimal) berdasarkan beberapa hadis sahih, seperti hadis Aisyah radhiallahu ‘anhu beliau berkata : “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah salat di bulan Ramadhan dan selainnya lebih dari sebelas rekaat.”(Asna Al-Mathalib : 1/202).

Jadi, salat Tarawih itu jumlahnya dua puluh rekaat plus witir tiga rekaat. Ini merupakan pendapat mayoritas ulama atau bisa dikatakan hampir kesepakatan mazhab yang empat (Hanafi, Syafi’i, Hanbali dan sebagian Malikiyyah). Adapun pendapat yang masyhur dari Malikiyyah adalah tiga puluh enam rekaat. Sehingga apa yang diamalkan di Haramain (masjid Nabawi dan masjid Haram, KSA) berupa salat Tarawih dua puluh tiga rekaat adalah sudah tepat.

Tersisa satu pertanyaan, kalau salat tarawih sebelas rekaat itu mazhab siapa, ya?

Wallahu ‘alam bi shawab.

Oleh : Ust. Abdullah Al-Jirani

About Global Muslim

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement