Dalam Bajuri Ada Pendapat Yang Menyatakan Bahwa Boleh Nya Memandang Rambut Perempuan Non-mahram

Ada yang mencoba menyebabkan syubhat, bahwa ada ulama yang membolehkan perempuan menampakkan rambut di hadapan non-mahram. Dia menyebutnya ulama Hanafiyyah, namun kutipan teks yang ditampilkannya berasal dari kitab Hasyiyah Al-Bajuri, yang menyadari-paham kitab fiqih Syafi’Iyyah. Berasal dari sini saja telah ada keanehan.

Lantas, ia dengan yakinnya menunjukkan, “Walaupun ini bukan pendapat yang mu’tamad”. Padahal, yang sahih-sahih tidak mu’tamad, adalah pemahaman dia pada teks kitab itu.

Kesalahan fatalnya, berjalan pas paham teks:

ولا بأس بتقليد الثاني، لا سيما في هذا الزمان الذي كثر فيه خروج النساء في الطرق والأسواق. وشمل ذلك أيضا شعرها وظفرها

Artinya: “Tidak kasus mengikuti pendapat yang kedua, terutama di era sekarang, pas berlimpah perempuan berada di jalan-jalan dan pasar-pasar. Hal tersebut juga mencakup rambut dan kukunya…”

Nah, masalahnya adalah, si fulanah ini mengira, “Hal tersebut juga mencakup rambut dan kuku…”

nyambungnya ke pendapat kedua yang tidak mengharamkan menyaksikan ini dan tersebut. Padahal tidak ada indikasi kuat ke arah itu. Seandainya huruf waw pada ungkapan “وشمل…” diakui waw ‘Athaf (Kata sambung) pun, dia di-‘athaf-kan ke mana?

Dan tampaknya, huruf waw itu adalah waw isti’naf, yang menyatakan bahwa tersebut adalah kalimat baru, yang terpisah berasal dari kalimat sebelumnya. Agar tidak bisa main disambungkan saja dengan kata-kata sebelumnya.

Dan yang lebih menyadari menyatakan kesalahannya mengerti isi teks itu adalah, konteks pembicaraan isi kitab itu secara total.

Bahasannya (Di cetakan Darul Minhaj, ada di Jilid 3, Halaman 332 dan seterusnya) adalah perihal hukum memandang perempuan non-mahram tanpa ada hajat.

Di kalangan Syafi’Iyyah ada dua pendapat:

Pendapat pertama, tidak boleh lihat anggota tubuh perempuan non-mahram, terhitung paras dan kedua telapak tangannya. Dan ini adalah pendapat yang mu’tamad, kata Al-Bajuri.

Teksnya:

قوله إلى أجنبية أي إلى شيء من امرأة أجنبية، أي غير محرم ولو أمة، وشمل ذلك وجهها وكفيها، فيحرم النظر إليهما…

Artinya: “Perkataannya (“Nya” tersebut ulang ke penulis Fathul Qarib, dan pada konteks ini, bisa juga ke penulis Matn At-Taqrib), ‘Kepada ajnabiyyah’, yaitu pada anggota tubuh apapun berasal dari perempuan ajnabiyyah, yaitu non-mahram, walaupun ia seorang budak, dan hal tersebut juga mencakup paras dan kedua telapak tangannya. Haram memandang keduanya…”

Pendapat kedua, tidak haram menyaksikan paras dan kedua telapak tangan perempuan non-mahram, berdasarkan firman Allah ta’ala: ولا يبدين زينتهن إلا ما ظهر منها (Tidak boleh bagi mereka menampakkan perhiasan mereka, kalau yang biasa tampak berasal dari mereka), dan “Maa zhahara minha” tersebut ditafsirkan dengan paras dan kedua telapak tangan. Artinya, boleh menampakkan keduanya.

Sehabis menyampaikan bahwa pendapat pertama adalah pendapat yang mu’tamad, beliau memperlihatkan boleh taqlid pada pendapat kedua, yang penting boleh memandang paras dan telapak tangan perempuan non-mahram, terutama di zaman beliau, pas perempuan telah biasa keluar tempat tinggal, berada di jalan dan pasar, dan barangkali sulit bagi laki-laki untuk tidak memandang paras dan telapak tangan mereka. Dan bagi perempuan pun barangkali sulit untuk selalu menutupi paras dan kedua telapak tangannya.

(Catatan: pandangan yang boleh ini, adalah pandangan biasa tanpa syahwat. Jika dengan syahwat, tetap tidak boleh. Wallahu a’lam).

Sesudah itu beliau melanjutkan: وشمل ذلك أيضا شعرها وظفرها. Ini lebih tepat, maknanya melanjutkan ungkapan: وشمل ذلك وجهها وكفيها. Artinya, “Keharaman tersebut juga mencakup rambut dan kukunya”.

Hal tersebut lebih mengetahui lagi, waktu beliau menjelaskan bahwa rambut dan kuku perempuan yang udah terlepas berasal dari tubuhnya, tetap haram dilihat oleh laki-laki non-mahram, gara-gara kaidahnya:

“Seluruh yang haram dilihat sementara kontiniu dengan tubuh, haram juga terlihat sesudah ia terpisah berasal dari tubuh”.

Terkecuali yang terlepas saja haram dilihat (Menurut pendapat yang mu’tamad), maka lebih lagi selagi ia masih di tubuh perempuan non-mahram itu.

Lagi lagi, tidak ada bukti pendukung, yang perlihatkan bahwa di dalam Hasyiyah Al-Bajuri ini, ada disebutkan pendapat yang membolehkan saksikan rambut perempuan non-mahram. Tersebut sekedar kesalahan si fulanah mengerti isi kitab. Wallahu a’lam.

Please rate this

About Galih semar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *