Contoh Sikap Sikap Berbaik Sangka Kepada Allah Saat Ditimpa Musibah

Di dalam keadaan sehat wal afiat, seorang muslim diperintahkan miliki rajā’ (Asa/Optimisme) sekaligus khauf (Rasa takut kekhawatiran). Akan namun, hendaknya aspek khauf lebih didominankan. Alasannya, pas sehat adalah waktu beramal sebanyak-banyaknya. Menjadi, lebih tepat jika memperbanyak amal seraya diliputi kekhawatiran jikalau-terkecuali Allah tidak terima amalnya dan atau menghukumnya sebab dosa-dosanya.

Risi amal tidak diterima adalah perasaan yang pantas, karena untuk diterima amal tersebut memang tidak gampang.

Pertama-Tama cara melaksanakan amal saleh tersebut mesti mengikuti tuntunan Rasulullah ﷺ. Jika mengkonstruksi amal saleh sendiri, padahal tidak diajarkan Rasulullah ﷺ baik secara eksplisit maupun tersirat, maka seluruh amal saleh tersebut akan ditolak.

Jika telah jelas bagaimana beramal mengikuti tuntunan Rasulullah ﷺ, maka sebelum melaksanakan amal wajib ditata niatnya terlebih dahulu. Percuma laksanakan amal saleh jika niatnya untuk beroleh hal duniawi, karena yang layaknya ini tentu ditolak Allah. Percuma juga jika amal salehnya diniatkan untuk memperoleh pujian dan penghargaan manusia, karena ini maknanya menyembah manusia. Percuma juga jika amal salehnya diniatkan untuk melacak pujian Allah sekaligus pujian manusia, karena yang layaknya ini adalah syirik kecil yang disebut dengan istilah riyā’. Bahkan jika dia jalankan kesyirikan besar layaknya mengagungkan matahari, menyembah keris, sujud kepada patung dan semisalnya. Udah mengerti seluruh amal salehnya akan hancur jadi debu.

Kalaupun berhasil ikhlas sementara beramal saleh, maka tersebut belum selesai. Ujian berikutnya adalah sum’ah. Makna sum’ah adalah menceritakan amal saleh kami dengan maksud agar dikagumi orang atau dipuji orang atau jadi terkenal atau sasaran-sasaran global yang lain. Yang layaknya ini juga menghancurkan pahala amal saleh.

Kalaupun berhasil mempertahankan diri berasal dari sum’ah, bukan penting udah selesai. Ujian berikutnya adalah ujub, yakni mengagumi diri sendiri. Seseorang yang berhasil ikhlas kala beramal saleh, lalu berhasil mencegah godaan untuk menceritakan amal salehnya, namun selagi sendiri di kamar tiba-tiba merasa kagum dengan dirinya sendiri, kagum dengan kehebatannya di dalam jalankan amal tersebut, lalu dia tidak melawannya, maka yang layaknya ini juga menghancurkan amal.

Kalaupun berhasil ikhlas, bebas riya. Bebas sum’ah, bebas ujub, maka tersebut tidak bermakna udah selesai. Ujian berikutnya adalah mannun (Menyebut-Nyebut kebaikan) dan aẓā (Menyakiti). Orang yang membaiki orang lain, lalu menyakiti yang dibaikinya dengan “Mengundat-Undat” kebaikannya maka hancurlah amalnya sebagaimana ditegaskan didalam Al-Qur’An.

Jika orang selamat berasal dari mannun dan aẓā, maka belum pasti orang selamat berasal dari kedengkian/hasad. Makna dengki adalah tidak puas dengan nikmat yang diberikan Allah kepada beberapa hambanya. Ini juga memakan kebaikan sebagaimana barah memakan kayu bakar.

Kalaupun selamat berasal dari hasad, maka ujian berikutnya adalah kezaliman dengan sesama. Alangkah banyaknya orang yang bangkrut di akhirat gara-gara zalim di global dan tidak minta maaf kepada orang yang dizaliminya.

Sekarang Kamu udah bisa membayangkan betapa terjalnya jalan untuk mencapai sasaran amal diterima tersebut!

Jika layaknya ini kondisinya, bagaimana barangkali seorang hamba tidak selalu merasa takut Allah marah kepada-nya? Bagaimana bisa saja bisa merasa sebagai pakar surga? Bagaimana bisa saja bisa merasa sebagai kekasih Allah? Bagaimana bisa saja merasa amalnya diterima padahal tidak ada wahyu apapun berasal dari langit yang perlihatkan amalnya diterima?

Inilah perasaan paling baik yang wajib senantiasa dihadirkan seorang hamba selama masih hidup dan diberi energi untuk beramal. Selalu takut kepada Allah, risi amalnya tidak dterima, risi Allah murka, risi Allah menghukum, lalu kelanjutannya selalu memperbaiki mutu amalnya, selalu waspada dengan penghancur-penghancur amal dan berlimpah-segudang meminta ampun atas keteledoran amal selama ini. Layaknya yang diajarkan Rasulullah ﷺ. Minimal 100 kali istigfar tiap-tiap hari.

Beginilah idealnya perasaan mukmin didalam perjalannya menuju Allah.
Adapun jika dia telah sakit berat atau udah mendekati wafat, maka dia perlu memenangkan rajā’/optimismenya sehingga di keadaan rawan tersebut jangan hingga terjatuh pada dosa putus harapan berasal dari rahmat Allah. Dia dituntut untuk berbaik sangka kepada Allah dan mesti selalu ingat ajaran Nabi ﷺ bahwa Allah tersebut mengikuti persangkaan hamba-nya. Rasulullah ﷺ memerintahkan kami supaya husnuzan jika udah berada di waktu-sementara paling akhir. Muslim meriwayatkan,

عَنْ جَابِرٍ، قَالَ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَبْلَ وَفَاتِهِ بِثَلَاثٍ، يَقُولُ: «لَا يَمُوتَنَّ أَحَدُكُمْ إِلَّا وَهُوَ يُحْسِنُ بِاللهِ الظَّنَّ» صحيح مسلم» (4/ 2205)

Artinya, “Berasal dari Jabir berkata: Aku mendengar Nabi ﷺ bersabda tiga hari sebelum beliau wafat: “Janganlah salah seorang berasal dari kalian meninggal global terkecuali ia berbaik sangka kepada Allah.” (H.R.Muslim)

Cara berbaik sangka kepada Allah di pas-kala paling akhir misalnya bermunajat lirih (Atau semata-mata membatin) kepada Allah begini,

“Ya Allah, sesungguhnya aku memperoleh berita berasal dari Rasul-Mu, bahwa ada hamba-mu di era lalu yang dulu membunuh 100 nyawa. Dia baru saja mau menapaki jalan taubat, baru laksanakan perjalanan menunju lingkungan yang baik dan belum sahih-sahih tak terhitung mengisi hidup beramal saleh. Namun itupun udah Engkau rahmati dan Engkau ampuni. Sesungguhnya aku tidak dulu membunuh 100 nyawa ya Allah, apalagi satu nyawa pun tidak. Aku juga kerap memperbarui taubatku. Maka aku percaya rahmat-mu akan meliputiku ya Allah, agar Engkau tidak menghukumku gara-gara kesalahan-kesalahanku.”

Contoh lain,

“Allahumma ya Rabbi, sesungguhnya ayahku Adam engkau muliakan dengan segudang kemuliaan. Engkau izinkan ia lihat malaikat. Engkau memberinya pengetahuan yang lebih-lebih seluruh malaikat tidak paham. Engkau izinkan ia bercakap-cakap dengan-mu. Engkau izinkan ia memirsa apalagi merasakan segala kenikmatan surga yang dahsyat. Engkau izinkan ia menyaksikan segala kemegahan alam malakut. Meskipun begitu, ayahku tersebut masih tertipu juga oleh Iblis, padahal ilmunya luar biasa. Ayahku kalah oleh syahwatnya. Aku juga demikian ya Rabbi. Aku udah berusaha menaatimu. Tetapi aku masih kerap kalah oleh syahwatku. Namun aku tidak layaknya ayahku. Aku tidak lebih hebat berasal dari Adam. Aku tidak dulu lihat malaikat, tidak dulu menonton surga, tidak dulu merasakan surga, dan tidak dulu bercakap-cakap dengan-mu. Tetapi aku meyakini sepenuh hati Engkau ada dan Engkau adalah Rabbku meski aku tidak memirsa-mu. Sebab tersebut aku percaya rahmat-mu tentu lebih besar kepadaku untuk memaafkan kelemahanku tersebut. Sesungguhnya engkau maha pengampun, pengasih lagi Maha Penyayang.”

Contoh lain,

“Ya Allah, aku mengakui berlimpah berbuat dosa, sengaja maupun tidak. Terutama pas aku sendiri. Namun aku sama sekali tidak dulu menyekutukan-mu. Padahal engkau sudah berjanji mengampuni dosa apapun tidak cuman syirik. Menjadi, aku percaya engkau akan memaafkan seluruh kesalahan-kesalahanku.”
Contoh yang paling akhir ini dikerjakan oleh seorang ulama yang bernama Ibnu Suraij sebagaimana dikisahkan al-gazzālī di dalam kitab Iḥyā’ ‘Ulūmiddīn sebagai berikut,

«وحكى أن أبا العباس بن سريج رحمه الله تعالى رأى في مرض موته في منامه كأن القيامة قد قامت وإذا الجبار سبحانه يقول ‌أين ‌العلماء قال فجاءوا ثم قال ماذا عملتم فيما علمتم قال فقلنا يا رب قصرنا وأسأنا قال فأعاد السؤال كأنه لم يرض بالجواب وأراد جوابا غيره فقلت أما أنا فليس في صحيفتي الشرك وقد وعدت أن تغفر ما دونه فقال اذهبوا به فقد غفرت لكم ومات بعد ذلك بثلاث ليال»«إحياء علوم الدين» (4/ 154):

Artinya, “Dikisahkan bahwasanya Abu al-‘abbās bin Suraij rahimahullahu ta’ala pada kala beliau sakit menjelang wafatnya beliau bermimpi seakan-akan kiamat udah singgah. Lantas Allah al-jabbār subhanahu wa ta’ala berfirman, ‘Mana para ulama?’ Sesudah itu mereka pun singgah . Lalu Allah bertanya, ‘Apa yang kalian amalkan tentang dengan pengetahuan yang Kuajarkan kepada kalian?’ Kita (Para ulama) menjawab, ‘Ya Rabbana kita melalaikan dan tidak becus menunaikan amanah pengetahuan tersebut”. Allah mengulang lagi pertanyaan tersebut seakan-akan Dia belum rida dengan jawabannya dan inginkan jawaban lainya

. Lalu aku menjawab, ‘Terkecuali saya (Ya Allah), maka tidak ada di dalam catatan amalku kesyirikan selagi Engkau udah berjanji untuk mengampuni seluruh dosa di bawah tersebut. Allah pun berfirman, ‘Pergilah dengan membawa amal itu. Sungguh aku sudah mengampuni kalian”. Ibnu Suraij wafat 3 malam sesudah mimpi itu” (Iḥyā’ ‘Ulūmiddīn, juz 4 hlm 154)
اللهم ارزقنا حسن الخاتمة
اللهم اجعل موتنا علامة بأنك راض عنا

About Galih semar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *