Contoh Perbedaan Pendapat Sesama Ulama Salafi Kontemporer

Contoh Perbedaan Pendapat Sesama Ulama Salafi Kontemporer

Fikroh.com – Para ulama zaman sekarang pun berijtihad dalam masalah-masalah tertentu yang tidak ada nash menjelaskan tentang itu. Atau ada nash, tapi mereka ikhtilaf dalam memahaminya. Ketika mereka berijtihad, maka tentu saja mereka pun ikhtilaf seperti orang-orang sebelum mereka. Berikut ini beberapa contoh ikhtilaf diantara ulama kontemporer dari kalangan salafiyin.

Contoh Kasus Pertama : Cara Turun Ketika Sujud

Syekh Bin Baz : Lutut Lebih dahulu

Masalah ini menjadi polemik di kalangan banyak ulama, sebagian mereka mengatakan: meletakkan kedua tangan sebelum lutut, sebagian yang lain mengatakan: meletakkan dua lutut sebelum kedua tangan, inilah yang berbeda dengan turunnya unta, karena ketika unta turun ia memulai dengan kedua tangannya (kaki depannya), jika seorang mu’min memulai turun dengan kedua lututnya, maka ia telah berbeda dengan unta, ini yang sesuai dengan hadits Wa’il bin Hujr (mendahulukan lutut daripada tangan), inilah yang benar; sujud dengan cara mendahulukan kedua lutut terlebih dahulu, kemudian meletakkan kedua tangan di atas lantai, kemudian menempelkan kening, inilah yang disyariatkan. Ketika bangun dari sujud, mengangkat kepala terlebih dahulu, kemudian kedua tangan, kemudian bangun, inilah yang disyariatkan menurut Sunnah dari Rasulullah Saw, kombinasi antara dua hadits. Adapun ucapan Abu Hurairah: “Hendaklah meletakkan kedua tangan sebelum lutut, zahirnya –wallahu a’lam– terjadi pembalikan kalimat, sebagaimana yang disebutkan Ibnu al-Qayyim – rahimahullah-. Yang benar: meletakkan kedua lutut sebelum kedua tangan, agar akhir hadits sesuai dengan awalnya, agar sesuai dengan hadits riwayat Wa’il bin Hujr, atau semakna dengannya.

Syekh Al-Albani : Tangan Lebih Dahulu

Ketahuilah bahwa bentuk membedakan diri dari unta adalah dengan meletakkan tangan terlebih dahulu sebelum kedua lutut (ketika turun sujud)

Dalam hal ini Syekh Ibnu ‘Utsaimin sepakat dengan Syekh Ibnu Baz, lebih mendahulukan lutut daripada tangan,

Ketika itu maka yang benar jika kita ingin sesuai antara akhir dan awal hadits: “ Hendaklah meletakkan kedua lutut sebelum kedua tangan”, karena jika seseorang meletakkan kedua tangan sebelum kedua lutut, sebagaimana yang saya nyatakan, pastilah ia turun seperti turunnya unta, maka berarti ada kontradiktif antara awal dan akhir hadits. Ada salah seorang ikhwah telah menulis satu risalah berjudul Fath al-Ma’bud fi Wadh’i ar- Rukbataini Qabl al-Yadaini fi as-Sujud, ia bahas dengan pembahasan yang baik dan bermanfaat. Dengan demikian maka menurut Sunnah yang diperintahkan Rasulullah Saw ketika sujud adalah: meletakkan kedua lutut sebelum kedua tangan.

Jika berbeda pendapat itu membuat orang saling membid’ahkan, pastilah orang yang sujud dengan mendahulukan lutut akan membid’ahkan Syekh al-Albani dan para pengikutnya karena lebih mendahulukan tangan. Begitu juga sebaliknya, mereka yang lebih mendahulukan tangan, pasti akan membid’ahkan Syekh Ibnu Baz dan Syekh Ibnu Utsaimin yang lebih mendahulukan lutut daripada tangan. Maka ikhtilaf dalam furu’ itu suatu yang biasa, selama berdasar kepada dalil dan masalah yang diperselisihkan itu bersifat zhanni. Tidak membuat orang saling memusuhi dan membid’ahkan.

Contoh Kasus Kedua: Takbir pada Sujud Tilawah Dalam Sholat

Syekh ibnu Baz: Bertakbir

Disyariatkan bagi orang yang melaksanakan shalat, jika ia sebagai imam atau shalat sendirian, ketika melewati ayat Sajadah, agar ia bertakbir dan sujud Tilawah. Kemudian bertakbir ketika bangun dari sujud. Karena takbir itu pada setiap turun dan bangun.

Syekh Al-Bani: Tanpa takbir

Sekelompok shahabat telah meriwayatkan tentang sujud tilawahnya Rasulullah Saw dalam banyak ayat dan di banyak kesempatan yang berbeda-beda, tidak seorang pun dari mereka menyebutkan bahwa Rasulullah Saw bertakbir ketika akan sujud. Oleh sebab itu kami condong kepada pendapat: tidak disyariatkannya takbir ketika sujud tilawah.

Dalam hal ini Syekh Ibnu ‘Utsaimin sependapat dengan Syekh Ibnu Baz,

Sujud Tilawah tanpa takbir ketika turun sujud dan tanpa takbir ketika bangun dari sujud, karena tidak ada riwayat dari Rasulullah Saw. Kecuali jika seseorang dalam shalat, maka ia wajib bertakbir ketika akan sujud dan bertakbir ketika akan bangun tegak berdiri.

Contoh Kasus Ketiga : Shalat Sunnat Tahyatul-masjid di Tempat Shalat ‘Ied.

Syekh Ibnu Baz: Tidak Ada Shalat Sunnat Tahyatul- masjid

Sunnah bagi orang yang datang ke tempat shalat ‘Ied atau Istisqa’ agar duduk, tidak shalat Tahyatul-masjid, karena yang demikian itu tidak ada riwayat dari Rasulullah Saw dan para shahabat menurut pengetahuan kami, kecuali jika shalat ‘Ied dilaksanakan di masjid, maka melaksanakan shalat Tahyatul-masjid berdasarkan umumnya sabda Rasulullah Saw, “Apabila salah seorang kamu masuk masjid, maka janganlah duduk hingga ia shalat dua rakaat”, disepakati keshahihannya. Disyariatkan bagi orang yang duduk menunggu shalat ‘Ied agar memperbanyak Tahlil dan Takbir, karena itu adalah syi’ar pada hari itu, itu adalah Sunnah bagi semua di masjid dan di luar masjid hingga berakhir khutbah ‘Ied. Orang yang sibuk dengan membaca al- Qur’an, boleh. Wallahu Waliyyu at-Taufiq.

Syekh Ibnu ‘Utsaimin : Ada Shalat Sunnat Tahyatul-masjid

Tempat shalat ‘Ied, disyariatkan melaksanakan shalat Tahyatul-masjid di tempat tersebut, seperti masjid-masjid lain. Apabila seseorang masuk ke tempat itu, jangan duduk hingga shalat dua rakaat. Penanya: Meskipun di luar kampung? Jawaban: Meskipun di luar kampung, karena tempat shalat ‘Ied itu adalah masjid, apakah diberi pagar ataupun tanpa pagar. Dalilnya, Rasulullah Saw melarang perempuan yang sedang haidh masuk ke tempat shalat tersebut. Ini menunjukkan bahwa hukum tempat shalat itu sama seperti masjid.

Contoh Kasus Keempat: Hukum Poto

Syekh Ibnu Baz : Poto Sama Dengan Patung/Lukisan.

Rasulullah Saw melaknat al-Mushawwir (orang yang menggambar), beliau memberitahukan bahwa mereka adalah orang-orang yang paling keras azabnya pada hari kiamat. Ini bersifat umum, mencakup poto dan gambar yang tidak memiliki bayang-bayang. Siapa yang membedakan antara poto dan gambar/patung, maka ia tidak memiliki dalil untuk membedakannya.

Syekh Ibnu ‘Utsaimin : Poto Tidak Sama Dengan Patung/Lukisan.

Adapun gambar moderen zaman sekarang seseorang menggunakan alat untuk mengambil gambar objek tertentu, lalu kemudian gambar tersebut terbentuk di kertas, maka itu sebenarnya bukanlah makna tashwir, karena kata tashwir adalah bentuk mashdar dari kata shawwara, artinya: menjadikan sesuatu dalam bentuk tertentu. Sedangkan gambar yang diambil dengan alat tidak menjadikannya dalam bentuk sesuatu. Gambar berbentuk adalah gambar yang dibentuk, bentuk kedua mata, hidung, dua bibir dan sejenisnya.

Contoh Kasus Kelima : Umrah Berkali-kali Dalam Satu Perjalanan.

Syekh Ibnu Baz: Boleh.

Berulang-ulang melaksanakan Umrah di bulan Ramadhan.

Pertanyaan: apakah boleh berulang kali melaksanakan Umrah di bulan Ramadhan untuk mencari pahala yang disebabkan ibadah Umrah tersebut?

Jawaban: Tidak mengapa (boleh). Rasulullah Saw bersabda, “Satu Umrah ke Umrah berikutnya menjadi penutup dosa antara keduanya dan haji yang mabrur itu tidak ada balasannya kecuali surga”. (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Maka jika Anda melaksanakan Umrah tiga atau empat kali, tidak mengapa (boleh) melakukan itu. Aisyah telah melaksanakan Umrah dua kali pada masa Rasulullah Saw pada waktu haji Wada’, padahal kurangdari dua puluh hari.

Syekh Ibnu Utsaimin Bid’ah

Berulang-ulang Umrah Dalam Satu Safar Adalah Bid’ah.

Pertanyaan: Syekh yang mulia, ada sebagian orang datang dari tempat yang jauh untuk tujuan Umrah ke Mekah, kemudian melaksanakan Umrah dan Tahallul. Kemudian mereka pergi ke Tan’im, kemudian melaksanakan Umrah lagi. Maksudnya, dalam satu perjalanan, ia melaksanakan Umrah beberapa kali. Bagaimanakah ini?

Jawaban: semoga Allah memberikan berkah-Nya kepada Anda. Ini termasuk perbuatan bid’ah dalam agama Allah. Karena tidak ada yang lebih bersemangat melaksanakan ibadah melebihi Rasulullah Saw dan para shahabat. Sedangkan Rasulullah Saw sebagaimana yang kita ketahui semua bahwa beliau masuk ke kota Mekah pada pembebasan kota Mekah pada akhir Ramadhan. Menetap sembilan belas hari di Mekah, Rasulullah Saw tidak pergi ke Tan’im untuk ihram melaksanakan Umrah. Demikian juga para shahabat. Maka berulang-ulang melaksanakan umrah dalam satu safar adalah bid’ah.

Contoh kasus keenam : Tarawih 23 Rakaat

Syekh Ibnu Baz : Boleh

Afdhal bagi ma’mum mengikuti imam hingga shalat selesai, apaka shalat (Tarawih) itu 11 rakaat, atau 13 rakaat, atau 23 rakaat, atau selain itu. Inilah yang afdhal, ma’mum mengikuti imamnya hingga imam selesai. 23 rakaat adalah perbuatan Umar ra dan para shahabat, tidak ada kekurangan dan kekacauan di dalamnya, akan tetapi bagian dari Sunnah al-Khulafa’ ar-Rasyidin.

Syekh Al-Albani : Tidak boleh lebih dari 11 rokaat

Rasulullah Saw hanya melaksanakan shalat 11 rakaat, ini dalil tidak boleh menambah lebih daripada itu. Selanjutnya Syekh al-Albani berkata, Shalat Tarawih, tidak boleh ada tambahan (rakaat) melebihi jumlah yang disunnatkan, karena shalat Tarawih sama dengan shalat shalat yang dilaksanakan Rasulullah Saw secara konsisten dengan jumlah rakaat tertentu, tidak boleh ditambah. Siapa yang menyatakan ada beda antara Tarawih dengan shalat lain, maka ia mesti menunjukkan dalil.

Pendapat syekh Ibnu Utsaimin Boleh

Hadits riwayat Ibnu Abbas ra, sesungguhnya Rasulullah Saw melaksanakan shalat malam 13 rakaat. Akan tetapi jika seseorang melaksanakan shalat 23 rakaat, maka ia tidak diingkari. Karena Rasulullah Saw tidak membatasi shalat malam dengan jumlah bilangan tertentu. Bahkan ketika Rasulullah Saw ditanya -sebagaimana disebutkan dalam Shahih al-Bukhari dari Ibnu Umar- tentang shalat malam, “Apa pendapatmu?”. Rasulullah Saw menjawab, “ Shalat malam itu dua rakaat, dua rakaat (satu salam). Jika salah seorang kamu khawatir (masuk waktu) shalat Shubuh, maka shalatlah satu rakaat, maka engkau telah menutup dengan Witir”. Rasulullah Saw menjelaskan bahwa shalat malam itu dua rakaat, dua rakaat. Rasulullah Saw tidak membatasi jumlah bilangan rakaat. Jika jumlah rakaat itu wajib dengan jumlah tertentu, pastilah Rasulullah Saw menjelaskannya. Dengan demikian maka tidak diingkari siapa yang melaksanakan shalat 23 rakaat.

Contoh kasus ketujuh : Membaca Doa Khatam al-Qur’an Dalam Shalat Tarawih.

Syekh Ibnu Baz : Boleh

Hukum Doa Khatam al-Qur’an Dalam Shalat.  

Pertanyaan: Sebagian orang mengingkari para imam masjid yang membaca doa khatam Qur’an di akhir bulan Ramadhan, mereka mengatakan bahwa tidak shahih ada kalangan Salaf melakukannya. Apakah itu benar? 

Jawaban: Tidak mengapa melakukan itu (boleh). Karena perbuatan itu benar dari sebagian kalangan Salaf melakukan itu. Karena doa itu adalah doa yang ada sebabnya di dalam shalat, maka tercakup dalil-dalil yang bersifat umum tentang doa dalam shalat, seperti doa Qunut dalam shalat Witir dan bencana-bencana. Wallahu Waliyyu at-Taufiq.

Waktu Doa Khatam al-Qur’an Dalam Shalat Tarawih:

Pertanyaan: Bilakah doa khatam al-Qur’an dibaca? Apakah sebelum ruku’ atau setelah ruku’? Jawaban: afdhal dibaca setelah membaca surat al-Falaq dan an-Nas. Jika telah selesai membaca al-Quran secara sempurna, kemudian berdoa, apakah pada rakaat pertama atau pada rakaat kedua atau di akhir shalat. Maksudnya, setelah sempurna membaca al-Qur’an, mulai membaca doa khatam al-Qur’an di semua waktu dalam shalat, apakah di awal, di tengah atau di akhir rakaat. Semua itu boleh. Yang penting, membaca doa khatam al-Qur’an ketika membaca akhir al-Qur’an.

Syekh Al-Albani : Bid’ah

Ketika Syekh al-Albani ditanya tentang doa khatam al-Qur’an dalam shalat Tarawih, beliau menjawab Tidak ada dasarnya, jika seorang muslim khatam al-Qur’an, maka ia berhak, atau dianjurkan berdoa. Adapun khatam al- Qur’an seperti ini dalam shalat, saat shalat Qiyamullail, dengan doa yang panjang, ini tidak ada dasarnya sama sekali.

Syekh al-Albani berkata di tempat lain, Sesungguhnya konsisten dengan doa tertentu setelah khatam al-Qur’an adalah bagian dari perbuatan bid’ah yang tidak dibolehkan berdasarkan dalil umum seperti sabda Rasulullah Saw, “Setiap bid’ah itu dhalalah (sesat) dan setiap yang sesat itu dalam neraka”

Pendapat Syekh Ibnu ‘Utsaimin: Tidak Ada Dasarnya, Tapi Hormati Perbedaan.

Adapun doa khatam al-Qur’an dalam shalat, saya tidak mengetahui ada dasarnya dari Sunnah Rasulullah Saw, tidak pula dari Sunnah para shahabat. Dalil paling kuat dalam masalah ini bahwa ketika Anas bin Malik ingin khatam al-Qur’an, ia mengumpulkan keluarganya, kemudian ia berdoa. Tapi ini di luar shalat. Adapun membaca doa khatam al-Qur’an di dalam shalat, maka tidak ada dasarnya. Meskipun demikian, ini termasuk perkara ikhtilaf di antara para ulama, ulama Sunnah, bukan ulama bid’ah. Perkara ini luas, maksudnya, tidak selayaknya seseorang bersikap keras hingga keluar dari masjid dan memisahkan diri dari jamaah kaum muslimin disebabkan doa khatam al-Qur’an.

Contoh kasus kedelapan : Zikir Menggunakan Tasbih

Syekh Ibnu Utsaimin : Boleh

Sesungguhnya bertasbih menggunakan Tasbih tidak dianggap berbuat bid’ah dalam agama, karena maksud bid’ah yang dilarang adalah bid’ah dalam agama. Sedangkan bertasbih menggunakan Tasbih adalah cara untuk menghitung jumlah bilangan (zikir). Tasbih adalah sarana yang marjuhah (lawan rajih/kuat) dan mafdhulah (lawan afdhal). Afdhalnya menghitung tasbih itu dengan jari jemari.

Syekh Al-Albani : Bid’ah

Sesungguhnya Tasbih itu bid’ah, tidak ada pada zaman Rasulullah Saw, dibuat-buat setelah masa Rasulullah Saw.

Beberapa pelajaran dari uraian di atas:

Pertama, bahwa ikhtilaf dalam memahami nash (teks) bukan perkara baru, sudah terjadi ketika Rasulullah Saw masih hidup, kemudian berlanjut hingga zaman shahabat setelah ditinggalkan Rasulullah Saw, hingga sampai sekarang ini. Maka yang perlu dilakukan bukan menghilangkan ikhtilaf , seperti rendah hatinya Imam Malik yang tidak mau memaksakan Mazhab Maliki, tapi memahami ikhtilaf sebagai dinamika dan kekayaan khazanah keilmuan Islam, selama ikhtilaf itu dalam masalah furu’, bukan masalah ushul, sebagaimana yang dicontohkan para Shalafusshaleh diatas.

Kedua, berbeda dalam masalah furu’ tidak menyebabkan ummat Islam saling membid’ahkan. Karena Imam Ahmad bin Hanbal tidak membid’ahkan Imam Syafi’i dan para pengikutnya hanya karena mereka membaca doa Qunut pada shalat Shubuh. Kecenderungan membid’ah orang lain ketika berbeda pendapat, ini berbahaya, contoh: orang yang berpegang pada pendapat Syekh al- Albani, ketika akan turun sujud, ia akan mendahulukan tangan. Jika ia tidak dapat menerima pendapat yang mengatakan mendahulukan lutut, berarti ia membid’ahkan Syekh Ibnu Utsaimin dan Syekh Ibnu Baz.

Contoh lain, orang yang datang ke tanah lapang untuk melaksanakan shalat Idul Fitri, jika ia berpegang pada pendapat Syekh Ibnu Utsaimin, maka ia akan melaksanakan shalat Tahyatul- masjid. Orang yang berpegang pada pendapat Syekh Ibnu Baz yang mengatakan tidak ada shalat Tahyatal-masjid di tanah lapang tempat shalat Ied. Ia mesti dapat menerima perbedaan, jika tidak dapat menerima perbedaan pendapat, maka ia pasti akan membid’ahkan orang-orang yang berpegang pada pendapat Syekh Ibnu Utsaimin.

Ketiga, seperti yang diwasiatkan al-Imam asy-Syahid Hasan al-Banna,

“Mari beramal pada perkara yang kita sepakati, dan mari berlapang dada menyikapi perkara yang kita ikhtilaf di dalamnya”. Selesai. Wallohu a’lam Bish-showab.

Opeh: Ustadz Abdul Somad, Buku 37 Masalah Populer

About Global Muslim

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement