Cara Untuk membersihkan Najis Mutawashitah

 

Pengertian Najis menurut bahasa artinya seluruh yang kotor. Najis menurut istilah artinya seluruh yang haram untuk dimakan secara mutlak atau barangkali, tidak dikarenakan haramnya atau kotor- nya atau madlaratnya pada badan atau akal.

Perlunya paham perkara berkaitan najis adalah dikarenakan najis merupakan hal yang mengakibatkan shalat kami atau ibadah lainnya tidak legal dan tidak diterima oleh Allah Swt. Maka berasal dari tersebut, pengertian perihal najis harus kami pelajari supaya kami di dalam beribadah senantiasa beroleh ridho berasal dari Allah Swt.

Untuk pertama, kami pelajari terlebih dahulu macam-macam Najis atau penggolongan najis.

Macam-Macam najis, Cara mensucikan dan Dalilnya

1. Najis mukhofafah

Najis mukhaffafah (Najis enteng) yaitu najis yang berasal berasal dari air kencing bayi laki-laki yang usianya tidak cukup berasal dari 2 year dan belum dulu makan apapun tidak cuman air susu ibunya.

Cara Mensucikan Najis Mukhaffafah

Cara mensucikan najis mukhofafah yaitu dengan memercikan air ke bagian yang terkena najis.

Tentunya jika air kencing bayi yang menempel ke anggota tubuh kami berlimpah, ya dikeringkan pernah atau di lap, baru lantas dipercikkan air kepadanya.

2. Najis Mutawasithoh

Najis mutawassitah/najis tengah, yaitu najis yang berasal berasal dari segala sesuatu yang keluar berasal dari kubul dan dubur manusia dan binatang, contohnya air madzi (Mani yang cair), barang cair yang memabukkan, susu fauna yang tidak halal dimakan, bangkai juga tulang dan bulunya, jikalau bangkai manusia, ikan dan belalang.

Najis mutawasitah dibagi jadi 2 bagian yakni :

a. Najis ‘Ainiyah : Najis yang berwujud (Nampak dan mampu dilihat)

b. Najis hukmiyah : Najis yang tidak kelihatan bendanya, contohnya layaknya bekas kencing, atau arak yang telah mengering dan sebagainya.

Cara Mensucikan Najis Mutawasitah

Cara Mensucikan Najis Mutawasitah yaitu dengan cara dibasuh 1 kali sampai hilang cii-ciri-cii-ciri najisnya yakni bau, rasa dan warnanya.

Akan lebih baik lagi jika dibasuh dengan 3 kali siraman. Apabila terkena najis hukmiyah, lumayan dengan mengalirkan air saja pada najis itu.

3. Najis Mugholadhoh

Najis mughallazah yaitu najis yang berat, contohnya layaknya najisnya anjing, babi dan keturunannya.
Cara Mensucikan Najis Mughallazah

Cara Mensucikan Najis Mughallazah, Barang siapa terkena najis mughallazah, misalnya dijilat anjing atau babi, kudu dibasuh 7 kali dengan air dan salah satu diantaranya dengan air yang bercampur dengan tanah.

Di bawah ini adalah perkara-perkara yang terhitung najis. Sebagian yang terhitung najis ialah.

1. Seluruh yang keluar berasal dari qubul dan dubur  layaknya air kencing, madzi, tahi, darah.

Nabi bersabda kepada Amar:

اِنَّمَ تَغْسِلُ ثَوْبَكَ مِنَ اْلبَوْلِ وَاْلغَائِطِ وَاْلمَذْيِ وَاْلقَىْئِ

“Sesungguhnya engkau membasuh kain berasal dari (Dikarenakan) air kencing, tahi, madzi dan muntah”.  (Hr. Ahmad).

Terkait air kencing, sewaktu nabi melewati kuburan, beliau bersabda :

اِنَّهُمَا يُعَذِّبَانِ فَكَانَ اَحَدُهُمَا يَمْشِيْ بِالنَّمِيْمَةِ وَاَمَّا اْلاَخَرُ فَكَانَ يَسْتَتِرُ مِنَ اْلبَوْلِ

“Keduanya tengah disiksa, yang satu dikarenakan terjadi dengan mengumpat, tengah yang lain tidak mau menutup selagi kencing”.  (Hr, Bukhari dan yanglain).

يَغْسِلُ ذَكَرَهُ وَيَتَوَضَّأْ

“Ia (Lumayan, .Wajib) membasuh zakarnya dan berwudlu”.  (Hr. Muslim).

Mani (Sperma) tidak najis. Aisyah berkata :

لَقَدْ رَاَيْتُنِيْ اَفْرُكُ مِنْ ثَوْبِ رَسُولِ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اَلْمَنِيُّ فَرْكًا فَيُصَلِّى فِيْهِ

“Saya.Udah mengerik (Menggosok) mani pada kain Rasulullah saw. lalu beliau shalat dengannya”.

Adapun air kencing anak yang belum makan makanan, jika air susu ibu, maka kain yang terkena memadai dengan diperciki air  padanya. Hal ini berdasar pada riwayat, bahwa didatangkan pada Nabi, seorang anak yang masih menyusu ibunya, sesudah itu kencing di pangkuan Nabi, minta tanpa mencucinya.  maka nabi menyiramnya
Tengah seluruh yang terkena kencing, wajib dicuci  (Tidak cuman kencing anak yang  belum makan makanan)

2. Muntah-Muntahan (Layaknya hadis itu).

3. Darah Darah dan muntah-muntahan yang cuman sedikit, terkait kain,Dimaafkan. Juga binatang yang tidak mengalir darah di tubuh-  Minuman dan mati, tidak najis. Nabi bersabda:

اِذَا وَقَعَ الذُّبَابُ فِيْ شَرَابِ اَحَدِكُمْ فَلْيَغْمِسْهُ كُلُّهُ ثُمَّ لِيَنْزَعْهُ فَاِنَّ فِيْ اَحَدِ جَنَاحَيْهِ دَاءٌ وَفِي اْلاَخَرِ شِفَاءٌ

“Apabila lalat masuk di minumanmu maka tenggelam- kan semuanya lantas membuangnya; sesungguhnya salah satu sayapnya mempunyai kandungan penyakit dan yang lain membawa obat”.

(Hr Bukhari,Abu Dawud, Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban).

4. Babi, anjing.

Seluruh binatang  tersebut kudus, terkecuali anjing, babi, dan yang lahir  berasal dari keduanya. Ini berdasar hadis nabi :

طَهُوْرُ اِنَاءِ اَحَدِكُمْ اِذَا وَلَغَ فِيْهِ اْلكَلْبُ اَنْ يُغْسَلَ سَبْعَ مَرَّاتٍ اُوْلاَهُنَّ بِالتُّرَابِ

‘;Sucinya bejanamu_apabila dijilat anjing, maka hen- daknya dibasuh 7 kali, dan awalnya dengan debu”.  (Hr. Muslim).

5. Bangkai.

Seluruh bangkai najis, terkecuali bangkai ikan, bangkai belalang, dan mayat manusia. Allah berfirman :

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ … (٣)

“Diharamkan kepadamu bangkai”.  (Al Maidah : 3).

Haramnya sesuatu yang tidak gara-gara terhormat atau bahaya, memperlihatkan najisnya barang tersebut. Gara-gara sesuatu yang diharamkan tersebut ada kalanya sebab kehormatan, bahaya, atau najis. Bangkai ialah seluruh binatang yang mati dan kematiannya tersebut tidak mencukupi rukun-rukun penyembelihan.
Adapun ikan dan belalang yang jadi bangkai tidak najis, ber- dasar sabda nabi :

هُوَ الطَّهُوْرُ مَاؤُهُ اْلحِلُّ مَيْتَتُهُ

“Bahari tersebut kudus airnya dan halal bangkainya”.  (Hr. Abu Dawud, An Nasa’I, At Tirmidzi,& Ibnu Majah dan Ahmad).

اُحِلَّتْ لَنَا اْلمَيْتَتَانِ السَّمَكُ وَاْلجَرَدُ

“Dihalalkan kepada kami dua macam bangkab yaitu bangkai ikan dan bangkai belalang”. (Hr. Ibnu Majah).

Dan kesucian mayat, berdasar firman Allah :

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِىْ اَدَمَ

Artinya : “Dan sesungguhnya sudah Kita muliakan anak-anak Adam”.&Nbsp; (Al Isra’  70).
6. Khamer (Weski, ciu, minuman keras).

Apabila hilang zat alkohol berasal dari minuman keras tersebut dengan sendirinya, maka minuman tersebut jadi kudus, tapi apabila hilang- Nya tersebut sebab diusahakan, tetap najis. Yang demikian dikarenakan Sucinya sesuatu tersebut bisa karena dicuci, dan ada kalanya sebab  &Nbsp;Perubahan zat yang ada pada benda tersebut.

Hal ini berdasar riwayat:

سُئِلَ النَّبِيْ عَنْ اْلخَمْرِ يُتَّخَذُ خَلاًّ فَقَالَ لاَ

“Nabi ditanya berkenaan khamer yang diusahakan dihi- langkan zat alkoholnya, Nabi bersabda : tidak kudus”.  (Hr Muslim).

Tak sekedar berasal dari keterangan di atas, ada satu lagi type najis, yaitu najis ma’fu.

Pengertian Najis Ma’Fu (Najis yang dimaafkan)

Najis yang dimaafkan artinya tak kudu dibasuh/dicuci, misalnya najis bangkai yang tidak mengalir darahnya, darah atau nanah yang cuma sedikit, debu dan air lorong-lorong yang memercik sedikit dan sukar menghindarkannya.

Adapun tikus atau cicak yang jatuh kedalam minyak atau makanan yang beku lantas ia mati di dalamnya, maka yang dibuang tersebut memadai makanan atau minyak yang dikenainya saja. Sedangkan yang lain boleh dipakai ulang.

Namun bila makanan atau minyak yang terkena tersebut cair, maka hukumnya najis. Sebab tidak mampu dibedakan sebutan yang kena najis dan mana yang tidak kena najis.

Please rate this

About Galih semar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *