Cara Taubat Dari Modal Usaha Yang Haram

Tidak bisa dipungkiri bahwa hampir tiap-tiap bisnis yang dilaksanakan oleh para pengusaha atau bisnisman selalu membutuhkan adanya modal, sedikit maupun segudang. Akan namun sebagai seorang muslim yang sudah memperlihatkan dirinya beriman kepada Allah dan hari akhir, udah seharusnya kenakan modal yang halal di dalam menjalankan usahanya, sehingga senantiasa mendatangkan faedah dan berkah berasal dari Allah.

Allah sudah memerintahkan kepada kami seluruh supaya selalu melacak rezeki berasal dari sumber yang halal. Dan perintah ini segudang ‎terkandung didalam ayat Al-Quran, diantaranya adalah firman-nya: “Maka makanlah yang baik berasal dari rezki yang udah diberikan oleh Allah kepadamu, dan syukuriklah ni’mat ‎allah jika anda sahih-sahih menyembah-nya.”‎  (Qs. An-Nahl: 114)

Demikian pula di didalam tak terhitung hadits, Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam menganjurkan kepada kami sehingga bekerja dan berusaha melacak rezeki dengan cara yang halal. Diantaranya adalah hadits-hadits berikut:

عَنْ جَدِّهِ رَافِعِ بْنِ خَدِيجٍ ، قَالَ : قِيلَ : يَا رَسُولَ اللهِ ، أَيُّ الْكَسْبِ أَطْيَبُ ؟ قَالَ : عَمَلُ الرَّجُلِ بِيَدِهِ وَكُلُّ بَيْعٍ مَبْرُورٍ.

Berasal dari Rafi’ bin Khadij radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata: Ada seseorang bertanya, “Penghasilan apakah yang paling baik, Wahai Rasulullah?” Beliau jawab: “Penghasilan seseorang berasal dari jerih payah tangannya sendiri dan tiap tiap jual beli yang mabrur.” [Hr. Ahmad di di dalam Al-Musnad no.16628] yang dimaksud dengan jual beli yang mabrur ialah jual beli yang sahih menurut syariat, diterima dan diberi pahala oleh Allah, dan tidak punya kandungan unsur memanipulasi atau khianat. (Memirsa Faidhul Qadir Syarhu Al-Jami’I Ash-Shaghir, karya Abdur Rauf Al-Munawi Ii/47).

لأَنْ يَحْتَطِبَ أَحَدُكُمْ حُزْمَةً عَلَى ظَهْرِهِ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَسْأَلَ أَحَدًا فَيُعْطِيَهُ أَوْ يَمْنَعَهُ

Berasal dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘Anhu, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: “Sungguh salah seorang berasal dari kalian melacak kayu bakar lalu memikulnya di atas punggungnya tersebut lebih baik daripada meminta-minta kepada orang lain, lalu ia memberinya atau menolaknya.” (Hr. Bukhari no.1470)

إِنَّ رِجَالاً يَتَخَوَّضُونَ فِى مَالِ اللَّهِ بِغَيْرِ حَقٍّ ، فَلَهُمُ النَّارُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Berasal dari Khaulah Al-Anshariyah radhiyallahu anha, bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: “Sesungguhnya ada orang-orang yang mengelola dan mengambil harta kaum muslimin tanpa hak, maka bagi mereka azab neraka pada hari kiamat.” (Hr. Bukhari no. 3118)

Demikianlah perintah Allah dan rasul-nya kepada kami seluruh supaya bekerja dan berusaha melacak rezeki dengan cara yang halal lagi baik. Dikarenakan yang namanya modal tidak mesti berupa uang, tetapi bisa juga berbentuk ketrampilan, pikiran positif, tenaga dan lain sebagainya yang dimiliki seseorang dan dimungkinkan sanggup menghasilkan uang yang halal, layaknya menulis atau menterjemah buku-bukuh Islam yang berguna, mengajarkan ketrampilan dan keahlian kepada orang lain, sebagai pengelola bisnis tertentu dengan modal berasal dari investor yang yakin pada kami, atau sebagai kuli (Jasa tenaga) dan lain sebagainya. Seluruh tersebut sanggup mendatangkan penghasilan halal yang sanggup kami jadikan modal bisnis di sesudah itu hari sesudah kami mengumpulkannya dengan giat dan sabar.

Akan tapi kecuali kami menyimak di zaman sekarang, tidak sedikit pengusaha yang menjalankan usahanya dengan mengenakan modal yang haram, atau melacak rezeki dengan cara dan profesi yang haram.

Mereka tidak cukup atau lebih-lebih tidak sabar menghadapi kondisi sulit yang menghimpit mereka.

Mereka lebih puas mengambil jalan pintas dan cepat di dalam mengais rezeki untuk memperkaya diri.

Supaya demi terwujudnya impian dan cita-cita jadi orang yang kaya raya, diantara mereka ada yang memakai cara-cara yang diharamkan oleh syariat Islam layaknya, korupsi, mengelabui, kurangi persentase dan timbangan di dalam jual beli, menjual barang-barang haram, bekerja di area-area maksiat dan berprofesi dengan profesi-profesi haram layaknya jadi penari latar dengan cara vulgar di depan generik, berjoget dan bernyanyi, sebagai style perempuan yang berlenggang lenggok di catwalk dan disaksikan kaum lelaki, sebagai aktor/seniman film-film yang mengumbar syahwat, demikian pula para perempuan pendamping tamu di bar, kafe, atau area biliar dan sejenisnya. Seluruh tersebut adalah contoh perbuatan-perbuatan yang hasil upahnya diharamkan, gara-gara tindakan atau transaksi yang dilakukannya tidak dibenarkan secara syar’i.

Kami dapatkan pula beberapa pengusaha yang lebih memilih mengambil pinjaman uang berasal dari bank-bank, koperasi-koperasi atau forum-forum keuangan yang konvensional maupun yang berbasis syariah walaupun di dalamnya diberlakukan platform bunga riba. Dan menjalankan bisnis dengan modal berasal dari hasil transaksi riba ini punyai segudang bahaya dan bencana bagi pelakunya. Lebih-lebih standing keharamannya udah mengetahui dan tidak mesti diperdebatkan lagi. Allah berfirman: “Allah udah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba” (Qs. Al Baqarah: 275).

Kami dapatkan pula beberapa pengusaha yang lebih memilih mengambil pinjaman uang berasal dari bank-bank, koperasi-koperasi atau forum-forum keuangan yang konvensional maupun yang berbasis syariah walaupun di dalamnya diberlakukan platform bunga riba. Dan menjalankan bisnis dengan modal berasal dari hasil transaksi riba ini miliki berlimpah bahaya dan bala bagi pelakunya. Bahkan standing keharamannya sudah mengetahui dan tidak mesti diperdebatkan lagi. Allah berfirman: “Allah sudah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba” (Qs. Al Baqarah: 275).

Transaksi riba tersebut lebih berasal dari tujuh puluh macam jenisnya (Disesuaikan klarifikasi hadis Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam). Salah satunya adalah riba ‘Bunga bank’.

Allah berfirman

pula: “Janganlah lebih dari satu kalian memakan harta beberapa yang lain di antara kalian dengan jalan yang batil” (Qs. Al Baqarah: 188).

Maksudnya, janganlah kami mengelola dan beroleh harta kekayaan lewat jalan yang batil, yaitu jalan yang tidak disesuaikan dengan syariat Islam.

Kiranya sahih sinyalemen Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Baththah dengan sanadnya kepada al-auza’i: “Akan berkunjung sebuah zaman di sedang -Sedang manusia di mana mereka menghalalkan transaksi riba dengan sebutan jual beli (Perdagangan)” (Hadits ini Mursal.

Disebutkan oleh Ibnul Qayyim di di dalam I’Lamul Muwaqqi’In Iii/166)

Kondisi Kedua: Tidak sangat mungkin baginya untuk mengembalikan harta benda atau modal haram itu kepada pemiliknya dikarenakan udah meninggal global atau tidak paham keberadaannya dan keberadaan pakar warisnya padahal udah berusaha keras mencarinya. Maka di dalam suasana ini hendaknya ia menginfakkan harta benda atau modal haram itu dengan mengatas-namakan pemiliknya kepada fakir miskin atau disalurkan ke jalur-jalur yang mendatangkan kemaslahatan bagi kaum muslimin secara generik. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’Ala: “Bertakwalah anda kepada Allah semampu anda.” (Qs. At-Taghabun: 16)

Dan berdasarkan riwayat berasal dari Abdullah bin Mas’Ud radhiyallahu anhu, bahwasanya ia dulu membeli seorang budak wanita berasal dari seseorang, lalu ia masuk untuk mempertimbangkan harganya. Tiba-Tiba tuan budak tersebut pergi, maka ia (Abdullah bin Mas’Ud) menunggunya sampai lama sekali dan ia tak kunjung lagi. Maka ia bershodaqoh seharga budak tersebut seraya berkata, “Ya Allah, pahala shodaqoh ini untuk tuan budak wanita ini, jika ia ridho maka pahalanya untuknya, namun jika ia singgah (Dan meminta harganya, pen) maka pahalanya untukku dan ia meraih berasal dari kebaikan-kebaikanku disesuaikan dengan kadarnya.” (Madariju As-Salikin, karya Ibnul Qoyyim Al-Jauziyah I/421)

Permasalahan Kedua: Bertaubat berasal dari harta benda atau modal haram yang diperoleh secara senang rela, yakni ia mengambilnya dengan izin dan kerelaan berasal dari pemiliknya, layaknya harta atau modal haram hasil transaksi riba, perjudian, usaha barang-barang haram layaknya khamr, narkoba dan semisalnya,upah pelacuran, hasil praktek perdukunan, hasil suap, dan semisalnya.

Untuk bertaubat didalam kasus ini ada dua situasi pula:

Kondisi pertama: ketika mendapatkan harta benda atau modal haram itu ia didalam suasana tidak jelas keharamannya, gara-gara ia adalah seorang mualaf (Baru masuk Islam), atau tinggal di wilayah yang belum terdengar dakwah Islam atau klarifikasi terkait embargo-embargo itu.

Maka didalam kondisi demikian, ia kudu bertaubat kepada Allah dengan taubat nashuha sebagaimana udah disebutkan di atas, sedangkan harta atau modal haram yang sudah ada di tangannya itu jadi halal baginya, dan ia tidak berdosa. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’Ala:

“Orang-Orang yang makan (Mengambil) riba tidak mampu berdiri melainkan layaknya berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (Tekanan) penyakit gila. suasana mereka yang demikian tersebut, adalah disebabkan mereka Berkata (Berpendapat), Sesungguhnya jual beli tersebut sama dengan riba, padahal Allah Sudah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. orang-orang yang Udah hingga kepadanya embargo berasal dari Tuhannya, lalu konsisten berhenti (Berasal dari mengambil riba),

Maka baginya apa yang Sudah diambilnya dahulu (Sebelum singgah embargo); dan urusannya (Terserah) kepada Allah. orang yang lagi (Mengambil riba), Maka orang tersebut adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. dan Allah tidak menyukai tiap tiap orang yang tetap di dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa.” (Qs. Al-Baqarah: 275-276)

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’Di rahimahullah berkata: “Allah Ta’Ala tidak memerintahkan untuk mengembalikan harta benda yang sudah diambil lewat transaksi riba sehabis bertaubat. Akan tapi Dia memerintahkan sehingga mengembalikan harta hasil riba yang belum diambilnya.” (Al-Fatawa As-Sa’Diyah hlm. 303)

Dan Syaikh Asy-Syinqithi rahimahullah berkata ketika menjelaskan ayat ini: “Berasal dari ayat yang mulia ini mampu diambil pelajaran bahwa Allah tidak menyiksa seorang manusia disebabkan melaksanakan sebuah perkara terkecuali sehabis Dia mengharamkannya. Dia sudah menerangkan makna ini di dalam tak terhitung ayat Al-Qur’An. Allah berfirman terkait orang-orang (Para sahabat, pen) yang dulu minum khamr dan memakan harta hasil perjudian sebelum turunnya ayat yang mengharamkannya:

“Tidak berdosa bagi orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan perihal apa yang mereka makan (Dahulu), apabila mereka bertakwa dan beriman, lantas mereka tetap bertakwa dan beriman.” (Qs. Al-Ma-Idah: 93)

Demikian pula Allah berfirman mengenai orang-orang yang menikahi mantan istri ayah mereka sebelum turunnya ayat yang mengharamkannya, mereka tidak berdosa.

“Dan janganlah anda kawini wanita-wanita yang Udah dikawini oleh ayahmu, jika pada era yang Udah lampau. Sesungguhnya perbuatan tersebut sangat keji dan dibenci Allah dan seburuk-buruk jalan (Yang ditempuh).

Diharamkan atas anda (Mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan; saudara-saudaramu yang perempuan, Saudara-Saudara bapakmu yang perempuan; Saudara-Saudara ibumu yang perempuan;

anak-anak perempuan berasal dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan berasal dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui anda; saudara perempuan sepersusuan;

ibu-ibu isterimu (Mertua); anak-anak isterimu yang di dalam pemeliharaanmu berasal dari isteri yang Sudah anda campuri, tapi jika anda belum campur dengan isterimu tersebut (Dan udah anda ceraikan)

, Maka tidak berdosa anda mengawininya; (Dan diharamkan bagimu) isteri-isteri anak kandungmu (Menantu);

dan menghimpunkan (Didalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, jika yang Sudah berlangsung pada era lampau; Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. An-Nisaa’: 22-23).

Dan Allah berfirman perihal orang-orang yang membunuh fauna buruan ketika tengah ihram (Haji atau umroh), mereka tidak berdosa tatkala melakukannya sebelum menyadari keharamannya. (Baca Qs. Al-Ma-Idah: 95)

Dan dalil yang paling sadar adalah firman Allah:

“Dan Allah sekali-kali tidak akan menyesatkan[663] sebuah kaum, setelah Allah memberi petunjuk kepada mereka agar dijelaskan-nya kepada mereka apa yang perlu mereka jauhi. Sesungguhnya Allah Maha menyadari segala sesuatu.” (Qs. At-Taubah:115)

Maksud ayat ini, seorang hamba tidak akan diazab oleh Allah semata-mata gara-gara kesesatannya, jikalau jika hamba tersebut melanggar perintah-perintah yang udah dijelaskan. (Saksikan Adhwa-Ul Bayan I/188)
Situasi Kedua:&Nbsp;Ketika ia meraih harta benda atau modal haram itu didalam suasana sudah tahu keharamannya dan memahami bahwa muamalah dan perbuatan-perbuatan itu tidak diperbolehkan didalam agama Islam.

Maka di dalam suasana layaknya ini, di samping berkewajiban bertaubat kepada Allah dengan taubat nashuha, ia juga berkewajiban untuk menyalurkan seluruh harta atau modal haram yang ada didalam kepemilikannya itu kepada fakir miskin atau untuk kepentingan-kepentingan generik bagi kaum muslimin. Dan hal tersebut bukan terhitung shodaqoh tathawwu’ (Sunnah), namun terhitung berasal dari upaya menyelamatkan apa yang diharamkan Allah, sebagai wahana menyucikan dirinya dan hartanya berasal dari penghasilan yang tidak disesuaikan dengan syari’at Allah.

Al-Imam Al-Qurthubi rahimahullahu berkata: “Para ulama kami berkata: Sesungguhnya cara bertaubat bagi orang yang di tangannya terdapat harta yang haram, jika berasal dari hasil riba, maka hendaklah dia kembalikan kepada yang sudah dia ambil ribanya. Ia kudu melacak orang itu jika dia tidak sadar keberadaannya. Jika ia udah putus harapan (Sesudah berusaha keras) untuk menemukannya, maka hendaklah ia sedekahkan harta itu atas julukan orang tersebut.

Jika ia mengambilnya dengan cara dzalim, maka hendaklah ia lakukan hal yang sama pada orang yang dulu didzaliminya. Jika tersamarkan olehnya, supaya dia tidak jelas berapa jumlah harta yang haram dibanding yang halal yang ada di tangannya, maka hendaklah ia berusaha tahu persentase apa yang ada di tangannya berasal dari harta yang mesti dikembalikannya, hingga dia tidak ragu lagi bahwa apa yang tersisa di tangannya sudah higienis. Lalu dia kembalikan harta yang sudah dia pisahkan berasal dari miliknya itu kepada orang yang dulu dia dzalimi (Hartanya) atau yang dia ambil riba darinya. Jika sudah putus harapan di dalam melacak orang itu, maka dia bersedekah dengan harta itu atas julukan orang tersebut.

Jika sudah menumpuk kedzaliman yang ada didalam tanggungannya dan dia menyadari bahwa dia mesti mengembalikan sesuatu yang dia tidak dapat membayar selamanya gara-gara demikian tak terhitung jumlahnya, maka cara bertaubatnya adalah dia melepaskan (Menginfakkan) seluruh harta yang ada di tangannya, baik kepada orang-orang miskin atau kepada sesuatu yang mendatangkan kemaslahatan bagi kaum muslimin. Hingga tidak ada lagi yang tertinggal di tangannya terkecuali yang paling minimal berupa sandang yang mampu menutupinya di dalam shalat. Yaitu yang menutup auratnya, antara pusar hingga lututnya. Juga yang memenuhi keperluan makanannya di dalam sehari, dikarenakan itulah yang boleh baginya untuk dia mengambil berasal dari harta orang lain di dalam keadaan darurat, meskipun orang yang diambil barangnya itu merasa benci.” (Menyaksikan Tafsir Al-Qurthubi di dalam menjelaskan ayat ini di dalam permasalahan yang ke-36)

Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah dulu ditanya mengenai seseorang yang meninggal yang di era hidupnya dia bermuamalah dengan cara riba. Apakah ada cara yang syar’i bagi kerabatnya yang hidup dan ingin menebus dosanya yang meninggal?

Beliau menjawab: “Disyariatkan bagi pakar warisnya supaya menentukan secara teliti takaran yang masuk ke di dalam hartanya berasal dari hasil riba lalu dia sedekahkan atas sebutan yang meninggal dan mendoakannya dengan memohon ampunan baginya.” (Menyaksikan Al-Fatawa Al-Islamiyyah, Ii/387, yang disusun oleh Muhammad bin Abdul Aziz Al-Musnad)

Dan sebelum kita akhiri tulisan ini, kita sampaikan suatu hadits yang sanggup menghibur dan memotivasi kami untuk langsung bertaubat berasal dari modal bisnis yang haram. Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

من ترك شيئاً للّه عوضه اللّه خيراً منه

“Barangsiapa yang meninggalkan sesuatu sebab (Takut azab) Allah, maka Allah akan memberinya ganti yang lebih baik.” (Hr. Ahmad no. 20739)

Dan imam Malik meriwayatkan berasal dari beberapa istri salafus shalih yang selalu mengingatkan suami mereka tiap-tiap akan keluar tempat tinggal untuk melacak nafkah dengan bisikan, “Kita dapat bertahan menghindar kelaparan, akan tapi kita tidak dapat bertahan memakan neraka Allah”. (Saksikan Subulussalam, Ash-Shan’Ani ). Wallahu a’lam bish-showab.

Bagaimana Cara Bertaubat Berasal dari Modal Bisnis Yang Haram?

Lalu bagaimana bila seseorang terlanjur berusaha dan berbisnis dengan modal yang haram sedangkan ia ingin langsung bertaubat kepada Allah dan membersihkan dirinya dan harta bendanya berasal dari hal-hal yang haram?

Maka kita katakan, bahwa hal pertama yang perlu baginya sebelum melaksanakan hal-hal lain adalah bersegera bertaubat kepada Allah dengan taubat nashuha, yaitu dengan memohon ampunan kepada-nya atas segala dosa yang udah diperbuatnya, menyesalinya dengan sebesar-besar penyesalan dan bertekad bulat untuk tidak mengulanginya lagi di lantas hari. Hal ini sebagaimana

firman Allah:

“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, ringan-mudahan Rabb kalian akan menghapus kesalahan-kesalahan kalian dan memasukkan kalian ke di dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.” (Qs. At-Tahrim: 8)
Allah Ta’Ala berfirman pula:

“Dan bertaubatlah kalian seluruh kepada Allah, hai orang-orang yang beriman agar kalian beruntung.” (Qs. An-Nur: 31)

Kelanjutannya, supaya taubatnya paripurna dan diterima Allah maka hendaknya ia membersihkan kekayaannya berasal dari segala modal dan harta yang diperolehnya dengan cara yang haram. Dan di dalam hal ini ada dua permasalahan:

Permasalahan pertama: Bertaubat berasal dari harta benda atau modal haram yang diperoleh secara zhalim, yakni tanpa seizin atau kerelaan berasal dari pemiliknya layaknya pencurian, perampokan, penipuan/penggelapan, korupsi, dan semisalnya.

Untuk bertaubat didalam persoalan ini ada dua keaadaan:

Suasana Pertama:Terlalu mungkin baginya untuk mengembalikan harta benda atau modal haram itu kepada pemiliknya. Maka di dalam kondisi layaknya ini harus baginya untuk mengembalikannya kepada pemiliknya atau kepada pakar warisnya jika harta benda itu milik individu, dan mengembalikannya kepada pemerintah jika harta benda itu milik negara. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam:

لاَ يَأْخُذَنَّ أَحَدُكُمْ عَصَا أَخِيهِ لاَعِبًا أَوْ جَادًّا فَمَنْ أَخَذَ عَصَا أَخِيهِ فَلْيَرُدَّهَا إِلَيْهِ

“Janganlah salah seorang berasal dari anda mengambil harta benda saudaranya baik dengan bercanda maupun serius. Apabila salah seorang berasal dari anda mengambil tongkat saudaranya maka hendaknya ia mengembalikannya kepadanya.” (Hr. Ahmad (No.(17262, Abu Daud (No.4350) dan At-Tirmidzi (No.2086)).

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ – رضى الله عنه – قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – « مَنْ كَانَتْ لَهُ مَظْلَمَةٌ لأَحَدٍ مِنْ عِرْضِهِ أَوْ شَىْءٍ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ الْيَوْمَ ، قَبْلَ أَنْ لاَ يَكُونَ دِينَارٌ وَلاَ دِرْهَمٌ ، إِنْ كَانَ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ مِنْهُ بِقَدْرِ مَظْلَمَتِهِ ، وَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ صَاحِبِهِ فَحُمِلَ عَلَيْهِ (رواه البخاري)

Please rate this

About Galih semar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *