Cara Bijak dan Tepat Menyikapi Perayaan Hari Valentine

Perayaan Hari Valentine, Boleh Atau Terlarang?

Fikroh.com – Perayaan atau peringatan berbagai hari tertentu, jika ia tak ada kaitan dengan aspek peribadatan agama tertentu, maka ia hukum asalnya boleh, karena hukum asal perkara ‘adat (tradisi non-ibadah) itu boleh, juga tidak terkategori tasyabbuh bil kuffar (menyerupai orang kafir) yang diharamkan, karena tasyabbuh yang diharamkan itu pada perkara yang menjadi ciri khas agama dan peribadatan mereka.

Inilah di antara landasan lahirnya fatwa dari Dar Al-Ifta Al-Mishriyyah yang menyatakan peringatan Hari Kasih Sayang (عيد الحب) atau Hari Valentine itu tidak terlarang. Namun pada fatwa tersebut, mereka memberikan batasan (qayd) “selama tidak menyelisihi Syariat”.

Kalau kita melihat lebih lanjut fakta umumnya perayaan Hari Valentine, dengan pertimbangan bahwa hukum itu ditetapkan pada fakta yang umum (ghalib) terjadi, bukan pada yang jarang (nadir). Maka kita temukan banyaknya penyelisihan terhadap Syariat di dalamnya, seperti khalwat (berduaan), sentuh-sentuhan, pandangan dengan syahwat, dan mungkin hal-hal yang lebih bahaya, dan hal ini umum berlaku pada orang yang pacaran. Fakta, Hari Valentine kebanyakan diperingati oleh pasangan laki-laki dan perempuan yang pacaran.

Jika mengacu pada fakta ini, meski hukum asal perayaan pada perkara ‘adat tidak terlarang, tapi ia menjadi terlarang jika mengandung banyak hal yang menyelisihi Syariat di dalamnya, apalagi penyelisihan ini ghalib (umum) terjadi dan sulit dibayangkan ada perayaan valentine tanpa hal-hal yang munkar tersebut.

Mengacu pada fatwa Dar Ifta Jordania, yang menyatakan rasa cinta itu tidak terlarang, namun hal-hal yang dilakukan sebagai bentuk pelampiasan rasa cinta itu yang sangat mungkin terlarang. Cinta tidak terlarang, tapi berkhalwat, bersentuhan, peluk-pelukan, ciuman, pandangan dengan syahwat, dan lain-lain terhadap lawan jenis non-mahram itu yang haram.

Jadi dengan mengacu pada fakta umumnya perayaan Hari Valentine, dan fatwa dari banyak ulama dan lembaga fatwa, maka meninggalkan perayaan ini dan mengikuti fatwa keharamannya, jauh lebih selamat bagi diri, kehormatan, dan agama kita, yang itu merupakan tujuan dari Syariat yang dharuri. Wallahu a’lam bish shawab.

Fakta Kerusakan Peringatan Valentine

Perayaan Valentine’s Day di masa sekarang ini mengalami pergeseran. Kalau di masa Romawi, sangat terkait erat dengan dunia para dewa dan mitologi sesat, kemudian di masa Kristen dijadikan bagian dari simbol perayaan hari agama, maka di masa sekarang ini identik dengan pergaulan bebas muda-mudi. Mulai dari yang paling sederhana seperti pesta, kencan, bertukar hadiah hingga penghalalan praktek zina secara legal. Semua dengan mengatasnamakan semangat cinta kasih.

Dalam semangat hari Valentine itu, ada semacam kepercayaan bahwa melakukan maksiat dan larangan-larangan agama seperti berpacaran, bergandeng tangan, berpelukan, berciuman, bahkan hubungan seksual di luar nikah di kalangan sesama remaja itu menjadi boleh. Alasannya, semua itu adalah ungkapan rasa kasih sayang. Na’udzu billah min dzalik.

Padahal mendekati zina saja haram, apalagi melakukannya. Allah Ta’ala berfirman,

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al Isro’ [17]: 32)

Dalam Tafsir Jalalain dikatakan bahwa larangan dalam ayat ini lebih keras daripada perkataan ‘Janganlah melakukannya’. Artinya bahwa jika kita mendekati zina saja tidak boleh, apalagi sampai melakukan zina, jelas-jelas lebih terlarang.

Meniru Perbuatan Setan

Menjelang hari Valentine-lah berbagai ragam coklat, bunga, hadiah, kado dan souvenir laku keras. Berapa banyak duit yang dihambur-hamburkan ketika itu. Padahal sebenarnya harta tersebut masih bisa dibelanjakan untuk keperluan lain yang lebih bermanfaat atau malah bisa disedekahkan pada orang yang membutuhkan agar berbuah pahala. Namun, hawa nafsu berkehendak lain. Perbuatan setan lebih senang untuk diikuti daripada hal lainnya. Itulah pemborosan yang dilakukan ketika itu mungkin bisa bermilyar-milyar rupiah dihabiskan ketika itu oleh seluruh penduduk Indonesia, hanya demi merayakan hari Valentine. Tidakkah mereka memperhatikan firman Allah,

وَلا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ

“Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan.” (QS. Al Isro’ [17]: 26-27). Maksudnya adalah mereka menyerupai setan dalam hal ini. Ibnu Mas’ud dan Ibnu ‘Abbas mengatakan, “Tabdzir (pemborosan) adalah menginfakkan sesuatu pada jalan yang keliru.” (Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim)

Oleh: Muhammad Abduh Negara

About admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement