Budaya Setan Dan Politisi Kesetanan

Dalam sebuah buku karya Dr. Umar Sulaiman Al-Asyqar yang diterjemahkan oleh H.T. Fuad Wahab dengan judul “Menembus Dunia Jin dan Setan” disebutkan bahwa terdapat beberapa nama jin. Dalam bukunya tersebut, beliau mengutip pendapat dari Ibnu Abdil Bar yang mengatakan bahwa jin menurut ahli bahasa terdiri dari beberapa tingkatan (Al-Asyqar, 2006):

1. Kalau yang mereka maksudkan jin secara mutlak, maka mereka sebut jinniyyȗn,

2. Jika yang mereka maksudkan adalah jin yang tinggal bersama manusia, maka mereka sebut ‘âmir bentuk jamaknya ‘ummâr,

3. Jika yang mereka maksudkan jin yang biasa mendatangi anak-anak, maka mereka sebut arwâh,

4. Jika yang mereka maksudkan adalah jin yang jahat dan merintangi kebaikan, maka mereka sebut setan,

5. Jika yang mereka maksudkan adalah jin yang lebih jahat dan lebih mempunyai kemampuan, maka mereka sebut ‘ifrît.

Selain penjelasan di atas, istilah “setan” digunakan sebagai julukan untuk jin yang putus asa dari rahmat Allâh. Sedangkan “iblis” digunakan sebagai julukan untuk jin yang penuh dengan tipu muslihat.

Menurut KBBI online, sétan artinya roh jahat yang selalu menggoda manusia supaya berlaku jahat. Dan orang yang sangat buruk perangainya, suka mengadu domba. Sedangkan bertindak seperti setan maksudnya, tidak mau tahu, masa bodoh, tidak peduli aturan atau apapun juga.

Dalam sebuah ceramah, seorang ustadz bilang, setan terdiri dari dua bangsa: 

Pertama setan dari bangsa jin yang takut ayat kursi.  Kedua setan dari bangsa manusia yang takut kehilangan kursi.

Di dunia politik, jenis bangsa setan manusia yang ogah kehilangan kursi kekuasaannya, sudah banyak makan korban. Ketika manusia jauh dari agama, dan menjauhkan agama dari manusia, setan manusia banyak yang gentayangan. Akibatnya banyak orang kesetanan, tabrak aturan negara langgar ayat konstitusi karena takut kehilangan kursi. 

Langkah-langkah setan dalam pengertian merintangi kebaikan dan mengadu domba masyarakat contohnya: melarang busana muslimah bagi siswi sekolah, mereka ijinkan mabuk miras, mereka hilangkan frasa agama dari peta jalan pendidikan nasional, dan guru agama tidak direkrut jadi ASN. Selain itu, dia bunuh aktivis muslim, dan ulama dikriminalisasi tanpa merasa berdosa. “Jika ini kesalahan, saya siap tanggung jawab dihadapan Tuhan,” katanya jumawa.

Yang tragis, ada penguasa yang tak puas menjabat dua periode sesuai UU negara, dan tak ingin turun dari kursi kekuasaan, sehingga ingin lanjut tiga periode. Padahal selama berkuasa dia zalim pada rakyat, dan ingkar atas janji-janji yang pernah diucapkan.

Tapi yang lebih parah, ada setan manusia, yang tak mau usaha dan malas kerja keras tapi ingin berkuasa, maka dia rampok partai orang lain melalui tipu daya kongres luar biasa.

Adapun budaya setan dan ucapan politisi kesetanan dapat disebutkan misalnya: “jika ingin bangsa kita maju, hapus pelajaran agama dari kurikulum pendidikan”. “Korupsi tidak haram, hanya perbedaan cara mencari rezki. Begitupun minuman keras, cuma beda fiqih saja”. Ada lagi ucapan orang yang kesetanan, “orang yang menuntut syariat Islam jadi hukum positif adalah orang yang mabuk agama”. 

Balum lama ini viral ucapan kyai yang kesetanan. “Martabat bangsa tergantung budayanya. Loh, kok gak bilang tergantung agamanya? Karena nomor satu budaya,” ujarnya saat tausiyah di acara pembukaan Rakernas LP Ma’arif NU di Jalan Pusdiklat Depnaker, Kecamatan Makasar, Jakarta Timur, Rabu (11/3/2021).

Sang Kyai mencontohkan Jepang dan Swiss. Menurutnya, kedua negara tersebut tidak memiliki agama dan teologi yang jelas, tapi budaya dan peradabannya sangat maju. Sementara, Arab yang memiliki teologi dan syariat agama yang jelas budayanya justru saat ini bobrok.

“Swiss agamanya nggak jelas, tapi budayanya maju. Sedangkan Arab teologinya orisinal, syariatnya bagus sempurna, budayanya bobrok,” ucapnya.

Dengan memuji budaya Jepang dan Swiss, lalu mendiskreditkan budaya Arab. Apakah si kyai yang bicara bagai politisi kesetanan ini sedang promosi budaya bunuh diri dan prostitusi alias seks bebas tanpa sadar? Di Jepang, bunuh diri yang disebut seppuku atau harakiri, jadi budaya yang menyebabkan populasi penduduk muda jepang kian berkurang. Sedangkan Swiss yang dipuji berbudaya unggul, prostitusi atau seks bebas merupakan budaya legal dan dilindungi pemerintah. Bunuh diri dan zina dianggap budaya maju? Sebagai pimpinan ormas agama, ucapan ini memalukan sekaligus memilukan.

Kejahatan setan ini disebutkan dalam Qur’an, agar mereka dijauhi.

يٰبَنِيْٓ اٰدَمَ لَا يَفْتِنَنَّكُمُ الشَّيْطٰنُ كَمَآ اَخْرَجَ اَبَوَيْكُمْ مِّنَ الْجَنَّةِ يَنْزِعُ عَنْهُمَا لِبَاسَهُمَا لِيُرِيَهُمَا سَوْاٰتِهِمَا ۗاِنَّهٗ يَرٰىكُمْ هُوَ وَقَبِيْلُهٗ مِنْ حَيْثُ لَا تَرَوْنَهُمْۗ اِنَّا جَعَلْنَا الشَّيٰطِيْنَ اَوْلِيَاۤءَ لِلَّذِيْنَ لَا يُؤْمِنُوْنَ

*_”Wahai anak keturunan Adam, janganlah kalian tergoda oleh setan sebagaimana setan dahulu dapat mengusir ibu bapak kalian dari surga. Setan telah memperdaya ibu bapak kalian, sehingga setan dapat menampakkan aurat mereka berdua. Setan dan kelompoknya melihat kalian dari tempat yang tidak dapat kalian lihat. Kami telah menjadikan setan-setan itu tokoh panutan bagi orang-orang yang tidak beriman._* (QS Al-A’raf (7) : 27)

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّ وَعْدَ اللّٰهِ حَقٌّ فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيٰوةُ الدُّنْيَاۗ وَلَا يَغُرَّنَّكُمْ بِاللّٰهِ الْغَرُوْرُ

_*”Wahai manusia, sesungguhnya janji Allah itu pasti benar. Karena itu, kalian jangan terpedaya oleh kesenangan hidup di dunia. Kalian juga jangan terpedaya oleh tipuan apa pun sehingga melupakan kalian untuk taat kepada Allah.”*_ (QS Fathir (35) : 5)

اِنَّ الشَّيْطٰنَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوْهُ عَدُوًّاۗ اِنَّمَا يَدْعُوْا حِزْبَهٗ لِيَكُوْنُوْا مِنْ اَصْحٰبِ السَّعِيْرِۗ

“Sungguh setan adalah musuh bagi kalian. Wahai manusia, karena itu hendaklah kalian tetap jadikan setan sebagai musuh. Setan hanya mengajak pengikut-pengikutnya agar menjadi penghuni neraka Sa’ir.” (QS Fathir (35) : 6)

IRFAN S. AWWAS

About admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement