Bolehkah Shalat Jama’ah Berulangkali Dalam Satu Masjid?

Fikroh.com – Mengenai keutamaan shalat berjamaah sudah tidak diragukan lagi dalilnya. Namun bagaimana halnya jika seseorang melakukan Shalat Jama’ah Berulangkali Pada Satu Masjid[4]. Bolehkah? Dan apakah sah sholatnya? Berikut ini penjelasan para ulama mengenai hukum shalat jamaah lebih dari satu kali dalam satu masjid.

Sebelum menetapkan hukum sholat jamaah berulangkali dalam satu masjid perlu kita ketahui bahwa Masjid tidak terlepas dari dua kondisi yaitu:

1. Masjid di dalam pasar atau dekat dengan jalan umum sehingga masyarakat selalu berlalu lalang di sekitar masjid. Dalam hal ini tidak dimakruhkan berjama’ah secara berulang-ulang menurut kesepakatan para ulama.

2. Masjid di desa yang mempunyai imam tetap, dalam hal ini para ulama berselisih pendapat.[5] Shalat jama’ah yang berulang-ulang mempunyai dua sebab:

Pertama: Faktor yang datang dari luar. Sebenarnya para jama’ah -kecuali yang terkena uzur- mengerjakan shalat bersama imam tetap namun terkadang satu atau dua makmum datang terlambat dan imam salam. Karenanya disyari’atkan mendirikan jama’ah lagi dan tidaklah makruh.

Diriwayatkan dari Abu Sa’id Al Khudri radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melihat seorang laki-laki mengerjakan shalat sendirian, lalu beliau bersabda, :

أَلاَ رَجُلٌ يَتَصَدَّقُ عَلَى هَذَا فَيُصَلِّىَ مَعَهُ

“Adakah seorang diantara kalian yang mau bersedekah kepada orang ini dengan shalat bersamanya.”[1]

Hal ini juga dilakukan oleh Anas Bin Malik Radhiallahu ‘anhuma sebagaimana dalam hadits :

Diriwayatkan dari Abu Utsman radhiallahu ‘anhu ia berkata:

أتانا أنس ابن مالك فى مسجد بنى ثعلبة فقال: صليتم؟ -وذلك صلاة الغداة-فقلنا: نعم فقال لرجل: أذن فأذن وأقام ثم صلى فى جماعة.

“Anas Bin Malik mendatangi kami di masjid Bani Tsa’labah dan bertanya, “Apakah kalian sudah shalat? yakni shalat zhuhur, kemudian kami menjawab; Ya. ia menyuruh kepada seorang laki-laki dan berkata, “Adzanlah” kemudian ia adzan, iqamah dan mengerjakan shalat berjama’ah.”[2]

Diriwayatkan dari Salamah Bin Kahil ia berkata:

أن ابن مسعود دخل المسجد و قد صلوا فجمع مع علقمة و الاسود و مسروق.

“Bahwa Ibnu Mas’ud masuk masjid dan sudah shalat berjama’ah kemudian shalat berjama’ah lagi bersama ‘Al Qamah, Aswad dan Masruq.”[3]

Tidak ada sahabat yang mengingkari prilaku dua sahabat tersebut karena shalat jama’ah lebih utama daripada shalat sendirian seperti yang telah dijelaskan.

Kedua: Sesuatu yang sudah menjadi kebiasan dan diatur, seperti kesepakatan satu kelompok mazhhab untuk melaksanakan shalat di tempat tertentu dalam masjid atau pada waktu tertentu selain pada waktu kelompok lain. Hal ini sudah jelas makruh hukumnya karena tidak pernah terjadi pada masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan sahabatnya, hal ini juga akan memecah persatuan umat islam dengan adanya ajakan untuk meninggalkan shalat jama’ah yang pertama dengan alasan menunggu jama’ah yang kedua oleh karena itu akan menyebabkan menunda-nunda untuk hadir berjama’ah.

Inilah yang dimaksudkan oleh Imam Syafi’i dan Imam Malik ketika berpendapat makruh shalat berjama’ah yang diulang-ulang dalam satu masjid. Wallahu a’lam.

Siapa Yang Sudah Shalat Sendirian Kemudian Masuk Masjid Dan Menemui Jama’ah Shalat Maka Hendaklah Shalat Bersama Mereka.

Hal ini disunnahkan untuk memperoleh keutamaan shalat berjama’ah sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam kepada dua orang laki-laki yang tidak ikut berjama’ah karena sudah melaksanakan shalat di perjalanan.

فَلاَ تَفْعَلاَ إِذَا صَلَّيْتُمَا فِى رِحَالِكُمَا ثُمَّ أَتَيْتُمَا مَسْجِدَ جمَاعَةٍ فَصَلِّيَا مَعَهُمْ فَإِنَّهَا لَكُمَا نَافِلَةٌ.

“Jangan kalian lakukan, apabila sudah melaksanakan shalat di perjalanan kemudian masuk masjid yang sedang berjama’ah maka ikutlah berjama’ah bersama mereka, sesungguhnya hal tersebut sebagai nafilah bagi kalian.”[1]

Diriwayatkan dari Abu Dzar radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya:

كَيْفَ أَنْتَ إِذَا كَانَتْ عَلَيْكَ أُمَرَاءُ يُؤَخِّرُونَ الصَّلاَةَ عَنْ وَقْتِهَا أَوْ يُمِيتُونَ الصَّلاَةَ عَنْ وَقْتِهَا؟ قَالَ: قُلْتُ فَمَا تَأْمُرُنِى؟ قَالَ: صَلِّ الصَّلاَةَ لِوَقْتِهَا فَإِنْ أَدْرَكْتَهَا مَعَهُمْ فَصَلِّ فَإِنَّهَا لَكَ نَافِلَةٌ.

“Bagaimana sikapmu ketika para pemimpin memerintahkan untuk mengakhirkan shalat atau menghilangkan shalat pada waktunya?. Kemudian aku balik bertanya, “Apa yang engkau perintahkan untukku?. Rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Shalatlah pada waktunya apabila kalian bersama mereka maka ikutlah shalat karena hal itu adalah nafilah bagimu.”[2]

Para ulama sepakat tentang sunnahnya mengulangi shalat dengan berjama’ah. Hal tersebut dirincikan dalam kitab-kitab furu’, diantaranya adalah pengecualian shalat maghrib menurut Hanafiyyah, Malikiyyah dan Hanabilah[3] mereka mengatakan, “shalat maghrib tidak diulangi karena shalat maghrib adalah witir siang. Begitu juga shalat sunnah witir juga tidak diulang sebagaimana yang telah kami jelaskan.

Apabila Telah Shalat Fardhu Berjama’ah, Apakah Mengulanginya Jika Mendapati Jamaah Lainnya?[4]

Secara zahir hal itu tetap disunnahkan menurut Ulama Syafi’iyyah dan Hanabilah karena maksud ucapan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, “jika kalian telah shalat” berlaku untuk shalat sendirian dan shalat berjama’ah, hal ini juga dikarenakan keumuman ucapan Rasulullah “itu adalah nafilah bagi kalian”.

Sedangkan Malikiyyah melarang mengulangi shalat, namun mereka mengecualikan apabila shalat dilakukan di Masjid Haram, Masjid Nabawi dan Baitul Maqdis karena keutamaan tempat tersebut. Pendapat yang pertama lebih jelas. Waallahu a’lam.

Apa Yang Dilakukan Setelah Shalat

Imam dianjurkan menghadap makmum setelah salam dan berdiam sebentar sebelum meninggalkan tempat.

Diriwayatkan dari Samurah Bin Jundab, ia berkata:

كان النَّبِىّ صلى الله عليه وسلم إذا صلى أَقْبَلَ عَلَيْنَا بِوَجْهِهِ.

“Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam ketika selesai shalat menghadap kepada kami dengan wajahnya.”[1]

Ada ulama yang mengatakan bahwa hikmah prilaku imam menghadap para jama’ah adalah mengajarkan kebutuhan mereka kepada imam seperti yang tercantum dalam hadits berikut.

Diriwayatkan dari Zaid Bin Khalid Al Juhaini ia berkata:

صَلَّى لَنَا رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم صَلاَةَ الصُّبْحِ بِالْحُدَيْبِيَةِ عَلَى إِثْرِ سَمَاءٍ كَانَتْ مِنَ اللَّيْلَةِ ، فَلَمَّا انْصَرَفَ أَقْبَلَ عَلَى النَّاسِ فَقَالَ: هَلْ تَدْرُونَ مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam shalat shubuh bersama kami di Hudaibiyah pada akhir malam, ketika selesai shalat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menghadap kepada para jama’ah dan bertanya, “Apakah kalian tahu apa yang Allah Subhanahu wata’ala katakan?.”[2]

Sebagian ulama mengatakan selain sunnahnya hal itu, dalam keadaan apapun hal tersebut adalah sunnah yang berasal dari Rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam. Disunnahkan menghadap makmum dari arah kanan dan lebih mendekat dengan mereka.

Driwayatkan dari Barra’ radhiallahu ‘anhu :

كُنَّا إِذَا صَلَّيْنَا خَلْفَ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَحْبَبْنَا أَنْ نَكُونَ عَنْ يَمِينِهِ يُقْبِلُ عَلَيْنَا بِوَجْهِهِ

“Apabila kami shalat dibelakang rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam kami menyukainya berada disebelah kanannya karena beliau akan menghadap kami dengan wajahnya.”[3]

Catatan tambahan:

Disunnahkan bagi imam untuk diam sebentar menghadap kiblat sebelum menghadap kepada makmum selama membaca:

اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلاَمُ وَمِنْكَ السَّلاَمُ تَبَارَكْتَ يا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ

“Ya Allah Engkau adalah pemberi keselamatan dan dari-Mu keselamatan. Mahasuci Engkau, wahai Dzat yang mempunyai keagungan dan kemuliaan”

Seperti yang pernah dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang terdapat dalam Shahih Muslim yang diriwayatkan dari ‘Aisyah Radhiallahu ‘anha :

Diriwayatkan dari Barra’ Bin ‘Azib radhiallahu ‘anhuma ia berkata:

رَفقْتُ الصَّلاَةَ مَعَ مُحَمَّدٍ صلى الله عليه وسلم فَوَجَدْتُ قِيَامَهُ فَرَكْعَتَهُ فَاعْتِدَالَهُ بَعْدَ رُكُوعِهِ فَسَجْدَتَهُ فَجَلْسَتَهُ بَيْنَ السَّجْدَتَيْنِ فَسَجْدَتَهُ فَجَلْسَتَهُ مَا بَيْنَ التَّسْلِيمِ وَالاِنْصِرَافِ قَرِيبًا مِنَ السَّوَاءِ

“Aku shalat bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan aku mengamati berdirinya, ruku’nya, I’tidalnya setelah ruku’, sujudnya, duduk diantara dua sujud dan duduk diantara salam dan meninggalkan tempatnya, semuanya hampir sama.”[1]

Diriwayatkan dari Ummu Salamah radhiallahu ‘anha :

أَنَّ النَّبِىَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ يَمْكُثُ فِى مَكَانِهِ يَسِيرًا.

“Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berdiam sebentar ditempatnya.”[2]

Para Wanita Hendaknya Segera Pulang Setelah Selesai Shalat

Diriwayatkan dari Ummu Salamah radhiallahu ‘anha :

أَنَّ النَّبِىَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ يَمْكُثُ فِى مَكَانِهِ يَسِيرًا. قَال: ابْنُ شِهَابٍ فَنُرَى – وَاللَّهُ أَعْلَمُ – لِكَىْ يَنْفُذَ مَنْ يَنْصَرِفُ مِنَ النِّسَاءِ.

“Bahwa nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam setelah selesai shalat berdiam sebentar ditempatnya. Ibnu Syihab menyatakan bahwa hal tersebut dilakukan supaya para wanita segera beranjak (pulang).”[3]

Diriwayatkan dari Ummu Salamah radhiallahu ‘anha :

أَنَّ النِّسَاءَ فِى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم كُنَّ إِذَا سَلَّمْنَ مِنَ الْمَكْتُوبَةِ قُمْنَ ، وَثَبَتَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم وَمَنْ صَلَّى مِنَ الرِّجَالِ مَا شَاءَ اللَّهُ ، فَإِذَا قَامَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَامَ الرِّجَالُ.

“Bahwa para wanita pada masa Rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam ketika salam dari shalat fardhu mereka segera pergi sedangkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat laki-laki berdiam di tempat mereka. Apabila Rasul berdiri meninggalkan tempat maka mereka juga ikut berdiri.”[4]

Hal tersebut terjadi jika posisi wanita tepat di belakang jama’ah laki-laki jika mereka keluar dari satu pintu, apabila ada pintu khusus untuk wanita dan terdapat pemisah dengan jama’ah laki-laki maka boleh menetap di tempat shalatnya sambil berdzikir seperti; tasbih, tahmid, tahlil dan takbir setelah shalat karena sesungguhnya para Malaikat mendoa’akan mereka selama berada di tempatnya dan tidak berbicara.[5]

Penulis berkata: Disunnahkan ada pintu khusus bagi jama’ah wanita yang tidak dibolehkan laki-laki memasukinya terutama di zaman fitnah ini, berdasarkan hadits berikut:

Umar Bin Khattab radhiallahu ‘anhuma berkata:

لَوْ تَرَكْنَا هَذَا الْبَابَ لِلنِّسَاءِ. فَلَمْ يَدْخُلْ مِنْهُ ابْنُ عُمَرَ حَتَّى مَاتَ.

“Seandainya kami biarkan pintu ini khusus bagi wanita. Ibnu Umar tidak akan memasukinya sampai meninggal dunia.”[1]

About admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement