Beruntungnya Seorang Muslim yang Sempat Berjumpa Rasulullah atau Sahabat

Fikroh.com – Imam Tirmidzi dalam “Sunannya” (no. 3858) meriwayatkan sebuah hadits yang cukup menarik dengan sanad sebagai berikut :

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ حَبِيبِ بْنِ عَرَبِيٍّ الْبَصْرِيُّ قال: حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِبْرَاهِيمَ بْنِ كَثِيرٍ الأَنْصَارِيُّ، قَالَ: سَمِعْتُ طَلْحَةَ بْنَ خِرَاشٍ، يَقُولُ: سَمِعْتُ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ، يَقُولُ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «لَا تَمَسُّ النَّارُ مُسْلِمًا رَآنِي أَوْ رَأَى مَنْ رَآنِي»

“telah menceritakan kepada kami Yahya bin Habiib bin ‘Arabiy al-Bashriy ia berkata, telah menceritakan kepada kami Musa bin Ibrahim bin Katsiir al-Anshooriy ia berkata, aku mendengar Thalhah bin Khiraasy berkata, aku mendengar Jaabir bin Abdillah Rodhiyallahu ‘anhu berkata, aku mendengar Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa Salaam bersabda : “Neraka tidak akan menyentuh seorang Muslim yang melihatku atau yang melihat orang yang melihatku”.

Imam Tirmidzi setelah meriwayatkan hadits ini memberikan penilain :

هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ لَا نَعْرِفُهُ إِلَّا مِنْ حَدِيثِ مُوسَى بْنِ إِبْرَاهِيمَ الأَنْصَارِيِّ  وَرَوَى عَلِيُّ بْنُ المَدِينِيِّ، وَغَيْرُ وَاحِدٍ مِنْ أَهْلِ الحَدِيثِ عَنْ مُوسَى، هَذَا الحَدِيثَ

“ini adalah hadits Hasan ghorib kami tidak mengetahuinya kecuali melalui haditsnya Musa bin Ibrahim al-Anshooriy. Ali Ibnul Madiiniy dan lebih dari seorang ulama hadits meriwayatkan dari Musa hadits tersebut”.

Namun penghasanan beliau dikritisi oleh dua orang ulama yang saya sering jadikan rujukan dalam melihat status hadits, yaitu Imam al-Albani dan al-‘Alamah Syu’aib Arnauth, dimana keduanya kompak memberikan penilaian dhoif untuk hadits diatas. Alasan yang dikemukan oleh asy-Syaikh Syu’aib Arnauth Rahimahullah dalam “tahqiqnya” terhadap Sunan Tirmidzi (6/380) bahwa hadits diatas memiliki dua cacat yaitu :

– Thalhah bin Khiraasy, dinilai Shoolih oleh Imam Nasa’i, ditsiqohkan oleh Imam Ibnu Hibban, dan dikatakan oleh Imam al-Azdiy, ia meriwayatkan dari Jaabir hadits-hadits mungkar.

– Musa bin Ibrahim, hanya ditsiqohkan oleh Imam Ibnu Hibban, ditambah lagi Imam Ibnu Hibban mengomentarinya sebagai orang yang membuat kesalahan.

Adapun alasan asy-Syaikh al-Albani Rahimahullah, saya belum mendapatkannya, karena beliau memasukkan hadits diatas dalam kitabnya “Dhoif Sunan Tirmidzi”, dan disana tidak ada takhrij atau keterangan tentang alasan pendhoifannya.

Akan tetapi al-‘Alamah al-Mubaarokfuriy penulis kitab “Tukhfatul Akhwadzi” (10/243), yang merupakan syarah Sunan Tirmidzi, tidak melakukan kritikan apapun terhadap penghasanan Imam Tirmidzi diatas. 

Untuk mentarjih penilaian status hadits ini, mari kita lihat dua orang perowi yang dipermasalahkan oleh Asy-Syaikh Syu’aib Arnauth yang membuat hadits ini dhoif.

Yang pertama, Musa bin Ibrahim ini tidak benar keterangan dari asy-Syaikh Syu’aib bahwa ia hanya ditsiqohkan oleh Imam Ibnu Hibban semata. Saya menemukan dalam biografi yang ditulis oleh al-Hafidz Mugholathaiy dalam kitabnya “Ikmaal Tahdziibul Kamaal” (12/7) bahwa Imam Ibnu Syahiin mentsiqohkannya juga, kemudian Imam Ibnu Hibban dan al-Hakim memasukkan dalam Shahih Ibnu Hibban dan al-Mustadrok yang menunjukkan bahwa beliau adalah perowi hadits shahih, karena kedua penulis kitab ini berkomitmen untuk memasukkan hadits-hadits yang dianggap shahih oleh mereka berdua dalam kitabnya masing-masing. Kemudian ditambah lagi penghasanan dari Abu Ali ath-Thuusiy. Kemudian masih dalam kitab yang sama (7/65), al-Hafidz Mugholathaiy ketika menyebutkan biografi Thalhah –yang nanti kita bahas juga-, beliau menukil penstiqohan terhadap Musa dan Thalhah ini, dari Imam Ibnu Abdil Barr. Anggaplah kita tidak terlalu percaya dengan pentsiqohan mereka-mereka ini, maka kita bisa menggunakan ijtihad Al Hafidz Ibnu Hajar dalam “at-Taqriib” dan Imam adz-Dzahabi dalam “Taarikh Islam” (4/1220) yang menilainya shoduq, sehingga haditsnya hasan.

Yang kedua, perowi yang bernama Thalhah bin Khiraasy, memang Imam Nasa`iy hanya menilainya shoolih yang menunjukkan bahwa haditsnya lunak atau ringan dhoifnya, sebagai perowi yang bisa dijadikan penguat. Namun disana ada juga ulama yang mentsiqohkannya yaitu Imam Ibnu Hibban dan Imam Ibnu Abdil Barr, sebagaimana dinukil oleh al-Hafidz Mugholathaiy diatas. Bahkan yang menarik Imam Yahya bin Ma’in menganggap Thalhah ini adalah seorang sahabat Nabi Sholallahu ‘alaihi wa Salaam, namun pendapat ini ditentang oleh al-Hafidz Ibnu hajar dalam kitabnya “al-Ishoobah” (no. 4279) yang menganggapnya bahwa yang masyhur beliau adalah seorang Tabi’iy. Pun al-Hafidz Mugholathaiy sependapat dengan al-Hafidz sehingga melistnya dalam kitabnya “al-Inaabah” (1/306). Alaa kulli haal, ijtihad Ibnu Hajar dalam menilai Thalhah ini sebagai perowi shoduq dalam “at-Taqriib”, bisa dijadikan pilihan yang moderat, sehingga hasan juga haditsnya.

Oleh sebab itu, kami lebih condong kepada penilaian Imam Tirmidzi yang menilai hadits ini sebagai hadits Hasan, wal ilmu ‘indallah.

Kemudian yang menarik Imam Tirmidzi membawakan komentar para perowinya setelah meriwayatkan hadits ini :

قَالَ طَلْحَةُ: فَقَدْ رَأَيْتُ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ وقَالَ مُوسَى: وَقَدْ رَأَيْتُ طَلْحَةَ قَالَ يَحْيَى: وَقَالَ لِيّ مُوسَى: وَقَدْ رَأَيْتُنِي وَنَحْنُ نَرْجُو اللَّهَ

“Thalhah berkata, sungguh aku telah melihat Jaabir bin Abdillah Rodhiyallahu ‘anhu, Musa berkata, sungguh aku telah melihat Thalhah, dan Yahya berkata, Musa berkata kepadaku, engkau telah melihatku dan kita berharap kepada Allah (termasuk dalam keutamaan hadits diatas-pent.).

Al-‘Alamah al-Mubaarokfuriy menafsirkan perkataan Musa diatas yakni :

وَالظَّاهِرُ أَنَّ مُوسَى بْنَ إِبْرَاهِيمَ لَا يُخَصِّصُ هَذِهِ الْبِشَارَةَ بِالصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ

“yang nampak Musa bin Ibrahim tidak mengkhususkan berita gembira ini khusus berlaku hanya kepada para sahabat dan Tabi’in Rodhiyallahu ‘anhum”.

Adapun syarah dari hadits diatas sungguh sangat jelas, sebagaimana yang dikatakan oleh Shohibuddin al-Khoolish sebagaimana dinukil oleh asy-Syaikh al-Mubaarokfury dikitab yang sama :

ظَاهِرُ الْحَدِيثِ تَخْصِيصُ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ بِهَذِهِ الْبِشَارَةِ وَلَيْسَ فِي لَفْظِهِ مَا يَدُلُّ عَلَى شُمُولِ سَائِرِ الْمُسْلِمِينَ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ بَلْ قَصَرَ تَبَعَ التَّابِعِينَ عَنِ الدُّخُولِ فِيهِ وَالْحَدِيثُ أَفَادَ أَنَّ الْبِشَارَةَ خَاصَّةٌ بِمَنْ رَأَى الصَّحَابِيَّ فَمَنْ لَمْ يَرَهُ وَكَانَ فِي زَمَنِهِ فَالْحَدِيثُ لَا يَشْمَلُهُ انْتَهَى

“dhohirnya hadits ini adalah pengkhususan kepada sahabat dan tabi’in yang mendapatkan berita gembira ini, tidak ada dalam lafadznya yang menunjukkan pencakupan kepada seluruh kaum Muslimin sampai hari kiamat, bahkan Tabi’ut Tabi’in juga tidak masuk dalam cakupan hadits ini. hadits ini memberikan faedah bahwa kabar gembira ini dikhususkan kepada orang-orang yang melihat para sahabat, barangsiapa yang tidak pernah melihat mereka, sekalipun sezaman dengannya, maka hadits ini tidak mencakupinya.” –selesai-.

Sebelumnya asy-Syaikh al-Mubaarokfuriy telah menukil pendapat asy-Syaikh Abdul Haq ad-Dahlawiy yang menyinggung bahwa syarat dan ketentuan yang berlaku bagi orang yang melihat Nabi dan melihat sahabat diberikan kabar gembira dengan terbebas dari api neraka adalah bagi mereka yang wafat diatas Islam. Wallahu A’lam.

Abu Sa’id Neno Triyono

About admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *