Berpikir Tajam Di Tengah Teangah Situasi Pandemi

 

Sejak diumumkannya awal persoalan Covid-19 pada bulan Maret 2020 sampai bulan Juli 2021, tercatat di Indonesia tidak cukup lebih ada 2.670.000 persoalan konfirmasi positif dan ada kira-kira 69.200 meninggal global. Sedangkan secara dunia, pandemi ini menembus 103 negara, dengan jumlah tidak cukup lebih 89.529.000 persoalan dan ada lebih kurang 2.228.000 yang meninggal global. (Menonton, covid19 .Go .Id, 14/7/2021).

Berasal dari hati yang terdalam, kami ikut berempati kepada lebih dari satu pembaca, yang kemungkinan kini tengah diberikan cobaan berupa sakit Covid-19, semoga Allah menambahkan kesembuhan dan kesegaran. Kami pun ikut berduka bagi para pembaca yang sanak saudara, anggota keluarga, tetangga atau sahabatnya ada yang meninggal di sedang endemi. Tak lupa penulis mengucapkan menerima kasih kepada para tenaga kesegaran yang gigih berjuang tanpa henti, tanpa pamrih, mengobati dan merawat para pasien Covid-19.

Memang sebelumnya tidak terbayangkan, global akan mengalami pandemi yang begitu dahsyat selama dua th ini. Sebagai seorang muslim pasti semuanya kami akui udah jadi ketetapan dan berjalan atas izin-nya. Tapi yang amat vital, bagi kami yang diberikan kebugaran fisik dan psikis di sedang pandemi, perlu tetap dapat berpikir tajam, agar bisa menilai secara objektif, berdasarkan baku dan kerangka berpikir yang sahih di dalam menyaksikan empiris endemi yang berlangsung di negeri muslim terbesar ini. Maka berasal dari tersebut, saat selama dua year ini, rasanya memenuhi bagi mereka yang punya kepekaan dan kejujuran, untuk dengan ringan mengakui bahwa pandemi tersebut konkret adanya.

Urgensi Kabar dan Pengetahuan

untuk mempertahankan berasal dari kesalahan menilai atau berpikir, yang memicu ketidak-sesuaian dengan fakta. Maka kami kudu punya metode berpikir yang sahih, dimana salah satu faktor yang menentukan adalah keberadaan kabar terdahulu. Karena istilah virus dan endemi pun, beberapa besar kami tentu sadar info itu bukan berasal dari didalam diri kami, tapi lewat info dan ilmu sebelumnya. Sebab itulah, di dalam berpikir benar-benar diperlukan info dan ilmu terdahulu, bukan hanya pendapat atau sentimen terdahulu. Kabar dan ilmu, biasanya berasal berasal dari suatu proses, apakah tersebut berupa eksperimen, penelitian atau kesimpulan ilmiah/rasional. Pasalnya pakar bahasa menyebut info atau ilmu sebagai info atau verifikasi atau segala hal yang dapat menyingkap empiris, memperjelas perkara dan menghasilkan aturan (Ahmad Mukhtar Umar, Mu’Jam al-lughah al-‘arabiyyah al-mu’âshirah, Ii/1544). Sedangkan pendapat dan sentimen, biasanya muncul impulsif, tanpa lewat proses tertentu, agar peluang kesalahanya pun besar.

Urgensi info dan ilmu didalam konteks Covid-19 pun jadi terlalu harus diperhatikan, terlebih julukan atau varian virus ini jadi istilah baru sejak 2019 yang disepakati para pakar; didalam konteks pembentukan istilah, Covid-19 ini masuk di dalam kategori istilah disiplin pengetahuan spesialis (Haqîqah ‘Urfiyyah khâshshah). Maka ilmu detil berkaitan istilah ini benar-benar diperlukan bagi mereka yang ingin tahu fakta Covid-19 itu. Menjadi empiris Covid-19 terhitung kebenaran yang diambil berdasarkan kesesuaian istilah dengan fakta, bukan berdasarkan opini atau pendapat generik.

Supaya bagi siapapun yang mengeluarkan statemen perihal Covid-19, misal membuktikan bahwa virus ini merupakan hasil persekongkolan alias protesis, bukan sebab transmisi alami fauna ke manusia, maka kudu mencukupi sebagian syarat: Pertama, pemberi statemen adalah bagian berasal dari spesialis di bidang itu; Kedua, meski pemberi statemen bagian spesialis di bidang virus, tetapi dia perlu menyampaikan info atau ilmu berdasarkan hasil riset ilmiah, bukan spekulasi opini atau sentimen; Ketiga, kebenaran dikembalikan kepada dua metode berpikir, baik metode berpikir ilmiah maupun rasional, bukan kenakan teknik logika, bahkan hanya silogisme atau generalisir.

Kabar atau ilmu yang didapat berasal dari para pakar virus, menyebutkan tiap tiap virus punya bukti diri. Artinya tiap-tiap virus bisa diidentifikasi dengan metode tertentu, agar berasal dari bukti diri itu bisa diketahui apakah virus tersebut alami ataukah hasil rekayasa. Hasil penelitian para pakar virus, membuktikan tidak ditemukan indikasi rekayasa, walaupun ini adalah kebenaran yang bersifat ilmiah (Bukan mutlak), tapi bagi kami yang bukan ahlinya dan tidak bisa menganalisis fakta virus itu, maka kami anggap pendapat ini pendapat yang kuat, sebab disesuaikan dengan metode berpikir ilmiah. Lebih-lebih berdasarkan metode berpikir rasional pun, kami bisa menemukan keganjilan ketika virus itu diakui hasil rekayasa, karena kabar dan ilmu terdahulu, perlihatkan bahwa Covid-19 adalah salah satu berasal dari keluarga besar coronavirus, yang eksistensinya sebetulnya telah ditemukan sejak lama.

Polemik Kebenaran

untuk bisa berpikir tajam, hal pertama yang mesti dipahami adalah menyadari prinsip kebenaran. Jika ditelaah, kebenaran tersebut sendiri adalah kesesuaian evaluasi atau pemikiran dengan fakta dan perkara tentu yang tidak boleh diingkari (Menyaksikan, al-jurjani, at-ta’rifât, h. 161; an-nabhani, at-tafkîr, h. 67; Qal’Ahji, Mu’Jam al-lugah al-fuqahâ’, h. 161, 249). Menjadi kebenaran sejatinya tidak tentang dengan pengalaman subjektif pribadi, tetapi mengenai dengan evaluasi, pemikiran dan kepastian.

Untuk mengakui kebenaran barah tersebut panas dan bisa membakar, pasti tidak harus membakar diri sendiri untuk jelas kebenarannya, sebagaimana tidak kudu kami terpapar pernah virus untuk merasakan eksistensi endemi virus itu. Tapi lumayan mencermati apakah suatu evaluasi atau pemikiran telah disesuaikan dengan fakta, atau kepastiannya tidak bisa diingkari? Kecuali jawabannya iya, maka itulah kebenaran yang akan jadi empiris. Karena, barah tersebut dapat membakar memang udah terbukti sejak dahulu, antara evaluasi dan pemikiran disesuaikan dengan faktanya. Sebagaimana virus endemi pun sejak dahulu memang udah ada faktanya, meski dengan beraneka julukan. Hal ini tidak bisa diingkari, jikalau bagi mereka yang menutup mata pada kebenaran.

Sekali lagi ditegaskan, siapapun yang ingin mengajukan pendapat bahwa Covid-19 adalah hasil persekongkolan dan rekayasa negara tertentu, maka mesti mencukupi tiga syarat sebelumnya. Jika tidak mencukupi salah satu syaratnya saja, maka pendapatnya sekedar semata-mata opini atau spekulasi biasa. Terlebih telah 103 negara di global yang diterjang pandemi, terhitung di dalamnya As, Eropa dan China.

Kerangka berpikir Tasyri’ dan Siyasi

kini global tengah berjuang menghadapi pandemi Covid-19, terhitung Indonesia dan semua negeri muslim lainnya. Sebagai salah satu wujud berpikir tajam, kami tidak boleh tetap-terusan terjebak perdebatan ilmiah yang kelanjutannya malah menghalangi atau melupakan kami menjalankan hukum syariah didalam mengatasi pandemi ini. Terutama bagi para ulama yang mempunyai kapabilitas di dalam menggali hukum syara’ berasal dari dalilnya, diharapkan menginggalkan debat kusir yang tidak produktif. Pasalnya seorang muslim di beraneka tingkatan dan posisi manapun, tetap diperintahkan menjalankan syariah didalam semua aspek kehidupan (Saksikan, al-baqarah [2]: 208). Didalam konteks endemi menular, ada lebih dari satu hukum syara’ yang bisa dilakukan umat Islam:

Pertama, sebagai individu bisa lakukan beragam cara meminimalisir penyebaran virus: baik dengan mempertahankan jeda, kenakan masker jika keluar tempat tinggal, berkonsultasi dengan petugas medis, isolasi berdikari jika sakit dan juga konsisten mempertahankan imunitas tubuh, baik dengan nutrisi maupun dengan berolah raga. Seluruh ini telah pasti tercakup dalil-dalil generik perihal anjuran mempertahankan kesegaran;

Kedua, sebagai penduduk tetap menguatkan ukhuwah Islamiyah, saling peduli pada lingkungannya, dan saling menolong meringankan beban sesama yang membutuhkan. Dan juga laksanakan amar makruf dan nahi munkar, di dalam kaitannya mengingatkan antar sesama, tentang aplikasi hukum syara’ menghadapi pandemi, sebagaimana point pertama sebelumnya. Terhitung semaksimal barangkali ikut mengingatkan para pejabat dan penguasa, sehingga mereka fokus didalam mengatasi pandemi, fokus didalam mempertahankan kebugaran dan keselamatan rakyat, supaya tidak boleh membawa dampak kebijakan salah sedikitpun, dikarenakan tiap tiap pemimpin akan dimintai tanggung jawab di akhirat. Didalam konteks amar makruf nahi munkar ini, imam an-nawawi rahimahullah menunjukkan:

Udah disepakati berdasarkan al-kitab, as-sunnah dan ijma’ umat, kewajiban amar makruf nahi munkar… Para ulama tidak membatasi amar makruf nahi munkar sebatas dijalankan pemilik kekuasaan, tetapi juga bisa dijalankan tiap-tiap muslim. Imam al-haramain rahimahullah berkata: Dalilnya adalah ijma’ kaum muslimin, agar tak sekedar para penguasa, baik pada era awal dan jaman akhirnya, mereka melaksanakan amar makruf nahi munkar kepada para penguasa; kaum muslimin membiarkan dan tidak mencela aktivitas mereka di dalam amar makruf nahi munkar itu. (Syarh Shahih Muslim, Ii/22-23).

Ketiga, pejabat dan penguasa muslim, didalam hukum syara’, perlu memprioritaskan semua kebijakannya umtuk mengatasi pandemi, misal: 1) jalankan tes massal dan memberi vaksin perdeo yang berkualitas, berasal dari tempat tinggal ke tempat tinggal, tanpa subordinat; 2) berdasarkan hasil tes massal itu memisahkan yang sakit berasal dari yang sehat, supaya penyebaran virus bisa terkendali, bagi yang sakit bisa isolasi berdikari di tempat tinggal atau tempat tinggal sakit spesifik, sedangkan bagi yang sehat tetap beraktivitas layaknya biasa layaknya bekerja dan beribadah (Hr. al-bukhari, 5774); 3) menerapkan karantina wilayah, semata-mata bagi wilayah titik sentral endemi saja, terhitung menutup akses bandara dan perbatasan, sedangkan wilayah lainnya dibuka layaknya biasa menjalankan aktivitas normal (Hr. Muslim, 2218), di dalam hal ini penguasa kudu menjamin keperluan medis dan pokok rakyat yang terdampak karantina wilayah; dan 4) penguasa mesti sedia kan anggaran yang cukup mengatasi pandemi ini. (Hr. al-bukhari, 893).

Tidak cuman kerangka berpikir tasyri itu, negara pun perlu mempunyai kerangka berpikir siyasi: mengatur urusan umat baik di dalam dan luar negeri disesuaikan syariah Islam (Mu’Jam al-lugah al-fuqahâ’, h. 226). Misal dengan lakukan lebih dari satu kebijakan: 1) mengumpulkan para pakar kebugaran, virus dan endemi, lalu secara berdikari merancang dan memproduksi alat tes dan vaksin sendiri yang lebih efektif; 2) segala keperluan alat medis, kebugaran dan obat-obatan mulai produksi sendiri tanpa bergantung impor; 3) pengambil alihan pengelolaan harta milik generik, layaknya hutan, tambang emas, migas, dan lain sebagainya, sebagai salah satu sumber anggaran pandemi, dan juga menghilangkan pajak bagi masyarakat (Hr. Abu Dawud, 3477); 4) sedia kan falilitas kebugaran super lengkap di tiap tiap lokasi berarti dan daerah ibadah; 5) menjamin prosedur distribusi kekayaan lewat klasifikasi kepemilikan dan juga menghentikan utang luar negeri (Memirsa, Hr. al-bukhari, 893) dll.

Tapi wajib kami pahami, kerangka berpikir tasyri’ dan siyasi itu, pelaksanaannya terlampau bergantung pada pencerahan dan keinginan individu, penduduk dan penguasa. Ketika ketiganya punyai pencerahan dan keingian menerapkan dua kerangka berpikir tadi, maka semua solusi penanganan pandemi yang udah disebutkan akan terjadi optimal. Tapi ketika pencerahan dan keinginan belum muncul, maka bisa dipastikan solusi penanganan pandemi akan jalan di area, gara-gara pada selagi yang sama artinya umat hilang keseriusan dan tujuan di dalam menghadapi beraneka problem, terhitung kasus pandemi. Sebab tersebut harus dihindarkan, opini individualisme yang akan menjauhkan umat berasal dari ukhuwah Islamiyah dan menjauhkan umat berasal dari kedua kerangka berpikir tadi; misal menganggap bahwa sekarang urusannya lagi kepada masing-masing saja, siapa yang kuat dia bertahan dan siapa yang lemah dia terbuang. Ini salah, dikarenakan kami seluruh mesti tetap berpikir dengan merampungkan kasus, mempersatukan umat, baik pemikiran dan perasaan. Dikarenakan ketika umat Islam meninggalkan kegiatan berpikir yang tajam, maka mereka akan tetap ditimpa bermacam benang kusut kasus dan kehilangan arah. Benarlah ungkapan:

;الفكرة سراج القلب فإذا ذهبت فلا إضاءة له

Berpikir laksana lentera hati, jika lenyap maka hati pun gelap. (Ibnu ‘Atha’Illah rahimahullah)

Demikianlah ketajaman berpikir mesti tetap dijaga, didalam suasana apapun. Ketajaman berpikir ini berupa berpikir berkaitan kebenaran, pemakaian metode berpikir ilmiah dan rasional secara proporsional, dan juga kerangka berpikir tasyri dan siyasi di dalam merampungkan kasus kehidupan, individu, masyakarat dan negara. Ketajaman berpikir ini, akan menghantarkan bangkitnya umat Islam jadi umat ter-baik yang menerangi global. Wallahu a’lam.

Please rate this

About Galih semar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *