Berdosakah Jika Seorang Suami Menolak Ajakan Istri Untuk Bersetubuh

Jika seorang suami mengajak istri untuk jimak sesudah itu istri menampik tanpa ada uzur syar’i, maka hadis Nabi ﷺ mengajarkan bahwa perbuatan istri semacam tersebut terhitung dosa berat yang membuatnya dilaknat malaikat hingga dia taat dan mencukupi ajakan suami. Akan namun, jika istri meminta suami untuk berjimak lalu suami menampik tanpa ada uzur syar’i, maka tidak ada hadis benar yang menyatakan suami dilaknat sebagaimana istri. Hal ini memperlihatkan ketetapan di dalam hal ini memang berbeda.

Semata-mata saja, hal ini tidak bermakna suami bebas menampik istri sesukanya dan tidak peduli sama sekali keperluan syahwat istri. Tidak boleh dimaknai demikian, dikarenakan Allah memerintahkan suami untuk mempergauli istri dengan baik. Mencukupi hasrat istri di dalam urusan syahwat terhitung pergaulan baik, lebih-lebih di antara tipe pergaulan terpenting sebab dengan tersebut hasrat istri bisa reda yang berfaedah menjaganya untuk terjerumus didalam dosa dan perselingkuhan.

Hadis-Hadis Nabi ﷺ juga menegaskan bahwa istri mempunyai hak disetubuhi, misalnya nasihat Rasulullah ﷺ kepada ‘Utsmān bin Maẓ’ūn berikut ini,

فَاتَّقِ اللَّهَ يَا عُثْمَانُ، ‌فَإِنَّ ‌لِأَهْلِكَ ‌عَلَيْكَ ‌حَقًّا» سنن أبي داود ت محيي الدين عبد الحميد» (2/ 48
Artinya, “Bertakwalah kepada Allah wahai Utsmān sebab istrimu tersebut mempunyai hak terhadapmu.” (H.R.Abū Dāwūd)

Terhitung nasihat Rasulullah ﷺ kepada ‘Abdullāh bin ‘Amr bin al-‘aṣ berikut ini,

وَإِنَّ ‌لِزَوْجِكَ ‌عَلَيْكَ ‌حَقًّا» صحيح البخاري» (3/ 39:

Artinya, “Dan sesungguhnya istrimu tersebut mempunyai hak terhadapmu.” (H.R.Al-Bukhārī)
Terhitung semisal dengan ini adalah nasihat Salmān al-fārisī pada Abū al-dardā’ yang diketahuinya terkesan tidak dulu menggauli istrinya demi ibadah.

Ketetapan didalam fikih bahwa wanita berhak minta cerai jika suami impoten, atau mamsūh atau majbūb perlihatkan hak disetubuhi adalah hak istri yang kudu dipenuhi suami, bukan sekedar sebatas anjuran.
Mencukupi keperluan “Nafkah batin”istri tipe ini, yakni menjimakinya terhitung kewajiban suami dan apalagi bisa tergolong dosa besar jika sengaja tidak memenuhinya didalam jangka sementara tertentu sebagaimana dibahas di dalam hukum-hukum īlā’ (الأيلاء). Al-Qalyūbī berkata,

حَلِفُ زَوْجٍ عَلَى الِامْتِنَاعِ مِنْ وَطْءِ زَوْجَتِهِ مُدَّةً عَلَى مَا يَأْتِي ‌وَهُوَ ‌كَبِيرَةٌ ‌كَالظِّهَارِ» حاشيتا قليوبي وعميرة» (4/ 9

Artinya, “(īlā’ adalah) sumpah seorang suami untuk tidak menyetubuhi istrinya didalam sementara yang lama sebagaimana yang akan dijelaskan dan perbuatan ini adalah dosa besar.” (ḥāsyiyah al-qalyūbī wa ‘Amīrah, juz 4 hlm 9)

Yang jadi pertanyaan sekarang adalah, “Berapa segudang intensitas ideal seorang suami menyetubuhi istrinya dan kapan seorang suami udah dikatakan berdosa dan melalalaikan hak istri jika tidak melakukannya?”

Batas maksimal suami tidak menyetubuhi istri adalah 4 bulan hijriah. Jika hingga lebih berasal dari tersebut, maka suami dikatakan telah zalim pada istrinya, udah berdosa supaya istri berhak mengajukan pemisahan paksa jika suami masih tetap bersikukuh tidak mau menggauli istrinya. Aturan ukuran 4 bulan ini digali berasal dari hukum īlā’. Seorang suami yang bersumpah atas sebutan Allah tidak mau menyetubuhi istrinya diberi kesempatan melakukan sumpahnya maksimal semata-mata 4 bulan. Jika telah mencapai sementara itu dia diberi pilihan antara dua hal yakni mencukupi hak setubuh istrinya atau mentalaknya. Jika dia tidak mau menyetubuhi istrinya, maka hakim akan memaksanya untuk mentalak. Di dalam kitab al-mausū‘ah al-fiqhiyyah al-kuwaitiyyah disebutkan,

وَأَمَّا دِيَانَةً فَلَهَا الْحَقُّ فِي كُل أَرْبَعَةِ أَشْهُرٍ مَرَّةً، لأَِنَّ اللَّهَ تَعَالَى جَعَلَهَا أَجَلاً لِمَنْ آلَى مِنِ امْرَأَتِهِ» الموسوعة الفقهية الكويتية» (5/ 241

Artinya, “Berasal dari sisi diyānah (Tanggung jawab pada Allah), seorang istri miliki hak untuk disetubuhi 1 kali tiap-tiap 4 bulan dikarenakan Allah menetapkan 4 bulan tersebut sebagai kala maksimal bagi suami yang bersumpah tidak menyetubuhi istrinya.”

Momen di era ‘Umar bin al-khaṭṭāb menguatkan aturan 4 bulan ini.

Sebuah sementara Umar meronda sesudah itu mendengar seorang wanita bersyair yang menggambarkan lintasan pikirannya untuk berzina. Cuman saja wanita ini tidak mau melakukannya gara-gara takut kepada Allah. Umar melacak berita dan baru memahami bahwa wanita ini suaminya tengah berjihad supaya lama tidak pulang. Selanjutnya Umar bertanya kepada putrinya: Hafṣah, berapa lama seorang wanita bisa menghindar diri tidak disetubuhi suaminya. Hafṣah menjawab 4 bulan, atau 5 bulan dan maksimal 6 bulan. Selanjutnya Umar sebabkan kebijakan bahwa seluruh tentara yang udah bertugas 4 bulan harus pulang untuk mencukupi hak istrinya baru lantas bisa ulang lagi bertugas. Sa‘īd bin Manṣūr meriwayatkan kisah ini sebagai berikut,

أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ خَرَجَ لَيْلَةً يَحْرُسُ النَّاسَ، فَمَرَّ بِامْرَأَةٍ وَهِيَ فِي بَيْتِهَا وَهِيَ تَقُولُ:
تَطَاوَلَ هَذَا اللَّيْلُ وَاسْوَدَّ جَانِبُهْ … وَطَالَ عَلَيَّ أَنْ لَا خَلِيلَ أُلَاعِبُهْ
فَوَاللَّهِ لَوْلَا خَشْيَةُ اللَّهِ وَحْدَهْ … لَحُرِّكَ مِنْ هَذَا ‌السَّرِيرِ ‌جَوَانِبُهْ
فَلَمَّا أَصْبَحَ عُمَرُ أَرْسَلَ إِلَى الْمَرْأَةِ، فَسَأَلَ عَنْهَا، فَقِيلَ: هَذِهِ فُلَانَةُ بِنْتُ فُلَانٍ، وَزَوْجُهَا غَازٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، فَأَرْسَلَ إِلَيْهَا امْرَأَةً، فَقَالَ: كُونِي مَعَهَا حَتَّى يَأْتِيَ زَوْجُهَا، وَكَتَبَ إِلَى زَوْجِهَا، فَأَقْفَلَهُ، ثُمَّ ذَهَبَ إِلَى حَفْصَةَ بِنْتِهِ، فَقَالَ لَهَا: «يَا بُنَيَّةُ، كَمْ تَصْبِرُ الْمَرْأَةُ عَنْ زَوْجِهَا؟» فَقَالَتْ لَهُ: يَا أَبَهْ، يَغْفِرُ اللَّهُ لَكَ أَمِثْلُكَ يَسْأَلُ مِثْلِي عَنْ هَذَا؟ فَقَالَ لَهَا: «إِنَّهُ
لَوْلَا أَنَّهُ شَيْءٌ أُرِيدُ أَنْ أَنْظُرَ فِيهِ لِلرَّعِيَّةِ، مَا سَأَلْتُكِ عَنْ هَذَا» ، قَالَتْ: أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ، أَوْ خَمْسَةَ أَشْهُرٍ، أَوْ سِتَّةَ أَشْهُرٍ، فَقَالَ عُمَرُ: «يَغْزُو النَّاسُ يَسِيرُونَ شَهْرًا ذَاهِبِينَ وَيَكُونُونَ فِي غَزْوِهِمْ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ، وَيَقْفُلُونَ شَهْرًا» ، فَوَقَّتَ ذَلِكَ لِلنَّاسِ مِنْ سَنَتِهِمْ فِي غَزْوِهِمْ ” سنن سعيد بن منصور – الفرائض إلى الجهاد – ت الأعظمي» (2/ 210

Artinya, “Bahwasanya Umar bin al Khattab radhiallahu anhu sebuah malam keluar untuk meronda rakyatnya. Sesudah itu beliau melewati seorang wanita yang berada di didalam rumahnya waktu wanita itu tengah berdendang dengan syair berikut ini,

“Malam ini begitu panjang dan sisi-sisinya seluruh gelap.

Udah lama bagiku tidak ada kekasih yang bisa diajak bercanda.

Demi Allah, seandainya bukan sebab rasa takut kepada Allah semata, niscaya ranjang ini sisi-sisinya telah bergoyang.”

Ketika di pagi hari, Umar memanggil wanita itu sesudah itu menanyainya lalu beliau diberi sadar bahwasanya ini adalah Fulanah binti Fulan. Suaminya berperang di jalan Allah. Lalu Umar mengirim seorang wanita agar jadi teman wanita itu dan Umar berpesan kepadanya,

“Anda tinggallah bersama dengan dia hingga suaminya berkunjung.”

Sesudah itu Umar menulis surat kepada suaminya yang isinya adalah memintanya sehingga pulang. Sesudah itu Umar pergi kepada Hafsah; putrinya lalu bertanya kepadanya,

“Wahai putriku sayang, berapa lama seorang istri bisa menghambat diri tidak digauli suaminya?”
Putrinya menjawab,

“Wahai ayah, semoga Allah mengampunimu. Apakah orang layaknya engkau bertanya orang layaknya aku didalam perkara ini?”

Umar menjawab,
“Sesungguhnya, seandainya bukan dikarenakan kebijakan yang hendak aku tetapkan kepada penduduk, aku tidak akan menanyaimu berkaitan hal ini”
Maka putrinya menjawab,

“4 bulan atau 5 bulan atau 6 bulan.”

Umar pun mengakibatkan instruksi, ‘Orang-Orang yang berperang mereka berangkat didalam pas 1 bulan lantas berperang di dalam pas 4 bulan dan mereka kudu pulang didalam saat 1 bulan.

Umar menetapkan hal itu untuk rakyatnya di year tersebut di dalam peperangan mereka.” (H.R.Sa’īd bin Manṣūr)
Berasal dari sini bisa disimpulkan, kewajiban istri mencukupi ajakan suami tersebut sifatnya ‘Alal faur (على الفور), yakni seketika dan tidak boleh ditunda-tunda. Sebaliknya, kewajiban suami didalam mencukupi ajakan istrinya tersebut sifatnya alat tarākhī (على التراخي) yakni bisa ditunda dengan suasana ideal minimal sekali didalam 4 malam dan bisa ditunda dengan ukuran maksimal 4 bulan hijriah.

Jawaban pertanyaan ini adalah sebagai berikut.pergaulan paling baik seorang suami pada istrinya berkaitan jimak adalah mencukupi syahwat istrinya disesuaikan keperluan. Di dalam hal ini keperluan wanita bisa berbeda-beda. Jika butuhnya satu kali didalam sehari, maka suami yang baik mengimbanginya juga sekali didalam sehari. Jika butuhnya hingga 3 kali di dalam sehari, maka suami yang baik juga mengimbanginya 3 kali di dalam sehari sekali.

Jika butuhnya sekali didalam 2 hari, maka suami juga mengimbangi sekali di dalam 2 hari dan seterusnya. Perbuatan suami layaknya ini, selama niatnya sahih layaknya niat mempergauli istri dengan baik atau niat meraih anak saleh atau niat mempertahankan kehormatan istri, atau niat mempertahankan istri sehingga bisa mempertahankan mata, atau niat mempertahankan istri supaya tidak berfantasi yang aneh-aneh dan semisalnya semuanya dihitung ibadah dan amal saleh. Al-Nawawī berkata,

فَالْجِمَاعُ ‌يَكُونُ ‌عِبَادَةً إِذَا نَوَى بِهِ قَضَاءَ حَقِّ الزَّوْجَةِ وَمُعَاشَرَتَهَا بِالْمَعْرُوفِ الَّذِي أَمَرَ اللَّهُ تَعَالَى بِهِ أَوْ طَلَبَ وَلَدٍ صَالِحٍ أَوْ إِعْفَافَ نَفْسِهِ أَوْ إِعْفَافَ الزَّوْجَةِ وَمَنْعَهُمَا جَمِيعًا مِنَ النَّظَرِ إِلَى حَرَامٍ أَوَ الْفِكْرِ فِيهِ أَوِ الْهَمِّ بِهِ أَوْ غَيْرِ ذَلِكَ مِنَ الْمَقَاصِدِ الصَّالِحَةِ» شرح النووي على مسلم» (7/ 92

Artinya, “Jimak bisa jadi ibadah jika suami meniatkan untuk mencukupi hak istrinya, atau meniatkan mempergaulinya dengan baik sebagaimana diperintahkan oleh Allah ta’ala, atau meniatkan untuk meraih anak saleh, atau meniatkan mempertahankan kehormatan dirinya, atau mempertahankan kehormatan istrinya, atau mempertahankan masing-masing untuk menonton yang haram atau berfantasi atau berkeinginan untuk berzina dan maksud maksud baik lainnya.” (Syarḥu Al-Nawawī ‘Alā Muslim juz 7 hlm 92)

Jika suami sibuk sebab pekerjaan atau melaksanakan kewajiban yang lain, maka suami yang saleh akan menyempatkan untuk menyetubuhi istrinya minimal sekali di dalam 4 hari. Angka 4 hari diperoleh berdasarkan qiyās pada masalah lelaki beristri empat. Dengan anggapan tiap istri meraih giliran bermalam masing-masing satu hari, signifikan tiap orang akan disetubuhi suaminya sekali didalam empat hari. Al-Nawawī berkata,
وَأَدْنَى الدَّرَجَاتِ أَنْ لَا يُخَلِّيَ أَرْبَعَ لَيَالٍ عَنْ لَيْلَةٍ» روضة الطالبين وعمدة المفتين» (7/ 344-345):

Artinya, “Level paling rendah adalah tidak membiarkan 4 malam kosong tanpa menggauli istrinya didalam satu malam.” (Rauḍatu al-ṭālibīn, juz 7 hlm 344-345)

Semata-mata saja, menyetubuhi istri minimal satu kali didalam empat malam tersebut statusnya sunah, bukan harus. Jika suami tidak melakukannya, maka suami tidak berdosa.

About Galih semar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *