Benarkah Tuan A Hassan Pernah Di Tahan?

Bukan sebuah hal luar biasa jika didalam perjuangan, para ulama atau pejuang sering kali mengalami musibah dijebloskan ke penjara oleh musuhnya. Jauh sebelum Nabi Muhammad, di dalam al-qur`an dikenal kisah perihal Nabi Yusuf yang dipenjarakan oleh istri Aziz implikasi tuduhan keji. Sampai tokoh layaknya Z.A. Ahmad menyebut tradisi masuk penjara ini sebagai “Universitas Nabi Yusuf” (Riwayat Hidup dan Perjuangan H. Zainal Abidin Ahmad, 1985: 64-70).

Di tanah air pun demikian, ada contoh-contoh pejuang Islam yang dipenjara layaknya Haji Abdul Karim Amrullah (Haka), Hamka, Z.A. Ahmad, Kh. Abdul Halim, Isa Anshari, Moh. Roem, Yunan Nasution, Prawoto Mangkusasmito, Sjafruddin Prawira Negara dan lain-lain juga dulu dipenjara. Deliar Noer didalam “Partai Islam di Pentas Nasional” (1987: 414-424) menulis sebagian contoh tokoh yang dulu dipenjara. Ada juga yang didalam perjuangannya tak dipenjara dengan beragam tantangan yang dihadapi sebagaimana Haji Agus Salim.

Apakah Tuan A. Hassan selama hayatnya di Indonesia dulu dipenjara? Sewaktu penulis datang ke Bangil 26 Juli 2021, Ustadz Zul Irfan sempat menyinggung kasus ini. Sebagian keluarga A. Hassan dulu dipenjara. A. Hassan sendiri juga dulu, demikian juga Ustadz Abdul Qadir Hassan.

Jika ditelusuri berasal dari sumber pustaka, ada sebagian literatur yang bisa dirujuk untuk jelas fakta ini. Misalnya didalam buku Subhan SD yang berjudul “Ulama-Ulama Oposan” (2000: 108-109) di sini deterangkan bahwa Syekh A. Hassan, Kh. Isa Anshary dan Kh. Abdul Halim dulu dipenjara selama satu bulan tiga hari lantaran kritikan keras pada pemerintah. Mereka masuk didalam razia Kabinet Sukiman yang bukan saja menyasar orang komunis tetapi juga oposisi yang sangat tajam kritiknya. Tapi, pada akhirnya beliau dibebaskan gara-gara tidak ada bukti kuat yang memperlihatkan melaksanakan penentangan pada negara yang legal dan tak terbukti keterlibatan dengan Darul Islam.

Sumber ini dirujuk Subhan berasal dari buku Dr. Syafiq Mughni yang berjudul “Hassan Bandung Pemikir Islam Radikal” (1980: 106). Sesudah penulis cek, jika di dalam cetakan pertama terdapat pada halaman  101-103. Didalam footnote-nya, Dr. Syafiq merujuk momen ini pada pidato H. Sirajuddin Abbas pada lepas 20 Oktober 1951 yang terdapat didalam buku “Selebaran Perundingan 1951, Xiv, hal. 7142.

Berbeda dengan Subhan yang katanya mengutip Dr. Syafiq, ternyata didalam buku Hassan Bandung ini, sekedar ditangkap selama 3 hari dan dilepas sesudah tak terbukti. Satu lagi, beliau tidak menyebut sebutan Kh. Abdul Halim. Jika dibaca di dalam pengantar Dr. Syafiq, beliau pun ternyata tidak mengutip sendiri, ternyata bab spesifik didalam bab keempat  di dalam bukunya ini ternyata merupakan terjemahan bebas berasal dari bab spesifik “ Politics in the Constitutional Period” berasal dari tulisan Howard M. Federspiel yang berjudul “Persatuan Islam: Islamic Reform in the Twentieth Century Indonesia” halaman 154-185. Menjadi, yang sesungguhnya merujuk momen ditangkapnya A. Hassan dan Isa Anshari adalah Howard berasal dari buku Selebaran Perundingan Xiv. Sayangnya, penulis tidak punyai buku ini agar tidak bisa dicek segera ke dalamnya.

Menjadi, sejauh ini, informasi yang terdapat didalam literasi tentang Tuan A. Hassan yang dulu dipenjara adalah sumber primernya pidato Kh. Sirajuddin Abbas di dalam buku Selebaran Perundingan. Pengutip pertamanya adalah Howard Federspiel. Dikarenakan dipenjaranya lantaran terlampau kritis ke penguasa dan diduga terlibat dengan gerakan Darul Islam. Tetapi seluruh tersebut tak terbukti dan selanjutnya 3 hari lantas dilepas.

Adapun perihal jumlah jaman penahanan selama 1 bulan 3 hari, dan keikut sertaan Kh. Abdul Halim ketika ditangkap, jikalau merujuk ke buku Syafiq Mughni apalagi Howard Federspiel, jumlah dan sebutan itu tidak ada. Bisa menjadi ini kekhilafan Subhan atau ada data lain yang luput dicantumkan.

Kh. Abdul Halim sendiri memang dulu dipenjara. Di dalam buku “Riwayat Perjuangan K.H. Abdul Halim” (2008: 41) karya Miftahul Falah, S.S. disebutkan bahwa beliau dulu ditangkap Belanda pada th 1918 dikarenakan pada awal-awal aktivitasnya didalam Sarekat Islam memipin aksi pemogokan di tempat Jatiwangi. Sejauh yang terbaca berasal dari buku riwayat ini, tidak ada penangkapan dan penahanan bersama dengan A. Hassan dan Isa Anshari baik pra atau pasca kemerdekaan.

Please rate this

About Galih semar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *