Bagaimana Sikap Ulama Aswaja Terdahulu Atas Wafatnya Tokoh Penyeru Kesesatan

Bagaimana Sikap Ulama Aswaja Terdahulu Atas Wafatnya Tokoh Penyeru Kesesatan

Fikroh.com – Tidak diragukan lagi bahwa islam adalah agama yang suci dari berbagai kesesatan dan penyimpangan dalam hal aqidah, ibadah maupun mu’amalah. Segala bentuk penyimpangan dalam agama harus dihentikan. Pelakunya memperoleh konsekuensi berat dalam timbangan syariat. Lalu bagaimana sikap para ulama terdahulu saat ada penyeru kesesatan meninggal? Berikut potret sikap ulama Ahlussunnah atas kematian penyeru kesesatan.

Pertama, Imam Abdurrazzaq Rahimahullah, penyusun kitab Al Mushannaf

Salamah bim Syabib bercerita: “Aku sedang bersama Abdurrazzaq – yaitu ash Shan’ani- lalu datang berita kematian Abdul Majid (dia pentolan Murji’ah). Lalu Abdurrazzaq berkata:

الحمدُ للهِ الذي أراحَ أُمَّةَ محمَّدٍ مِن عَبدِ المجيدِ

“Segala puji bagi Allah yang telah membebaskan Umat Muhammad dari Abdul Majid.” (Siyar A’lam an Nubala, jilid. 9, hal. 435)

Kedua, Imam Abdurrahman bin Mahdi Rahimahullah, ahli hadits semasa Imam asy Syafi’i. 

Imam Ibnu Hajar Rahimahullah bercerita: “Ketika datang kepada Abdurrahman bin Mahdi berita kematian Wahb al Qursyiy – dia tokoh kesesatan masa itu. Maka, Abdurrahman bin al Mahdi berkata:

 (الحمدُ للهِ الذي أراحَ المُسلِمينَ منه).

“Segala puji bagi Allah yang telah membebaskan/melapangkan kaum muslimin darinya.” (Lisanul Mizan, jilid. 8, hal. 402)

Ketiga, Imam Ibnu Katsir Rahimahullah 

Beliau mengomentari wafatnya tokoh ahli bid’ah (Al Husein bin Shafiy-Syiah), dengan mengatakan:

 أراحَ اللهُ المُسلِمينَ منه في هذِه السَّنةِ في ذِي الحِجَّةِ منها، ودُفِن بدارِه، ثم نُقِل إلى مَقابرِ قُرَيشٍ؛ فللهِ الحمدُ والمِنَّةِ. وحين ماتَ فرِحَ أهلُ السَّنَّة بموتِه فرحًا شديدًا، وأظْهَروا الشُّكرَ لله؛ فلا تَجِدُ أحدًا منهم إلَّا يَحمَدُ الله

“Allah Ta’ala telah membebaskan kaum muslimin darinya tahun ini, di bulan Dzul Hijjah. Dia dikubur di rumahnya, lalu dipindahkan ke kuburan Quraisy. Segali puji bagi Allah atas nikmatNya.”

“Ketika dia mati, Ahlus Sunnah bergembira atas kematiannya dengan kegembiraan yang luar biasa, mereka menampakkan rasa syukurnya kepada Allah, dan tidak seorang pun dari mereka melainkan bersyukur dengan memuji Allah.” (Al Bidayah wan Nihayah, jilid. 12, hal. 338)

Begitulah sikap tegas para ulama terhadap para penyeru kesesatan. Tidak ada basa-basi untuk sekedar berbela sungkawa.

Baca juga: Kang Jalal, Gembong Syi’ah Indonesia Meninggal

Asal-usul Syi’ah dan Bukti Kesesatannya

Syi’ah secara etimologi bahasa berarti pengikut, sekte dan golongan. Sedangkan dalam istilah Syara’, Syi’ah adalah suatu aliran yang timbul sejak pemerintahan Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu yang dikomandoi oleh Abdullah bin Saba’, seorang Yahudi dari Yaman. Setelah terbunuhnya Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu, lalu Abdullah bin Saba’ mengintrodusir ajarannya secara terang-terangan dan menggalang massa untuk memproklamirkan bahwa kepemimpinan (baca: imamah) sesudah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebenarnya ke tangan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu karena suatu nash (teks) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun, menurut Abdullah bin Saba’, Khalifah Abu Bakar, Umar, Utsman telah mengambil alih kedudukan tersebut.

Keyakinan itu berkembang sampai kepada menuhankan Ali bin Abi Thalib. Berhubung hal itu suatu kebohongan, maka diambil tindakan oleh Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, yaitu mereka dibakar, lalu sebagian mereka melarikan diri ke Madain.

Aliran Syi’ah pada abad pertama hijriyah belum merupakan aliran yang solid sebagai trend yang mempunyai berbagai macam keyakinan seperti yang berkembang pada abad ke-2 Hijriyah dan abad-abad berikutnya.

Pokok-Pokok Penyimpangan Syi’ah pada Periode Pertama:

  1. Keyakinan bahwa imam sesudah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Ali bin Abi Thalib, sesuai dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena itu para Khalifah dituduh merampok kepemimpinan dari tangan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu.
  2. Keyakinan bahwa imam mereka maksum (terjaga dari salah dan dosa).
  3. Keyakinan bahwa Ali bin Abi Thalib dan para Imam yang telah wafat akan hidup kembali sebelum hari Kiamat untuk membalas dendam kepada lawan-lawannya, yaitu Abu Bakar, Umar, Utsman, Aisyah dan lain-lain.
  4. Keyakinan bahwa Ali bin Abi Thalib dan para Imam mengetahui rahasia ghaib, baik yang lalu maupun yang akan datang. Ini berarti sama dengan menuhankan Ali dan Imam.
  5. Keyakinan tentang ketuhanan Ali bin Abi Thalib yang dideklarasikan oleh para pengikut Abdullah bin Saba’ dan akhirnya mereka dihukum bakar oleh Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu karena keyakinan tersebut.
  6. Keyakinan mengutamakan Ali bin Abi Thalib atas Abu Bakar dan Umar bin Khattab. Padahal Ali sendiri mengambil tindakan hukum cambuk 80 kali terhadap orang yang meyakini kebohongan tersebut.
  7. Keyakinan mencaci maki para Sahabat atau sebagian Sahabat seperti Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu.(lihat Dirasat fil Ahwaa’ wal Firaq wal Bida’ wa Mauqifus Salaf minhaa, Dr. Nashir bin Abdul Karim Al-Aql hal. 237).
  8. Pada abad ke-2 Hijriyah, perkembangan keyakinan Syi’ah semakin menjadi-jadi sebagai aliran yang mempunyai berbagai perangkat keyakinan baku dan terus berkembang sampai berdirinya dinasti Fathimiyyah di Mesir dan dinasti Sofawiyah di Iran. Terakhir aliran tersebut terangkat kembali dengan revolusi Khomaini dan dijadikan sebagai aliran resmi negara Iran sejak 1979.

Baca juga: Sejarah Berdarah Syi’ah Qaramithah

Pokok-Pokok Penyimpangan Syi’ah Secara Umum:

1. Pada Rukun Iman:

Syi’ah hanya memiliki 5 rukun iman, tanpa menyebut keimanan kepada para Malaikat, Kitab Allah, Rasul dan Qadha dan Qadar, yaitu:

1) Tauhid (keesaan Allah),

2) Al-’Adl (keadilan Allah)

3) Nubuwwah (kenabian),

4) Imamah (kepemimpinan Imam),

5) Ma’ad (hari kebangkitan dan pembalasan).

(Lihat ‘Aqa’idul Imamiyah oleh Muhammad Ridha Mudhoffar dll).

2. Pada Rukum Islam :

Syi’ah tidak mencantumkan Syahadatain dalam rukun Islam, yaitu:

  • Shalat
  • Zakat
  • Puasa
  • Haji
  • Wilayah (perwalian) (lihat Al-Kafie juz II hal 18)

3. Syi’ah meyakini bahwa Al-Qur’an sekarang ini telah dirubah,ditambahi atau dikurangi dari yang seharusnya, seperti:

 وَ إِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِمَّا نَزَّلْنا عَلى عَبْدِنا فِي عَلِيٍّ فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِنْ مِثْلِهِ ﴾ (الكافي ج 1 ص 417.)

“wa inkuntum fii roibim mimma nazzalna ‘ala ‘abdina FII ‘ALIYYIN fa`tu bi shuratim mim mits lih ” (Al-Kafie, Kitabul Hujjah: I/417)

Ada tambahan “fii ‘Aliyyin” dari teks asli Al-Qur’an yang berbunyi:

قال الله تعالى: ﴿ وَإِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِمَّا نَزَّلْنَا عَلَى عَبْدِنَا فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِنْ مِثْلِهِ وَادْعُوا شُهَدَاءَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ ﴾ [البقرة/23]

“wa inkuntum fii roibim mimma nazzalna ‘ala ‘abdina fa`tu bi shuratim mim mits lih” (Al-Baqarah:23)

Karena itu mereka meyakini bahwa: Abu Abdillah a.s (imam Syi’ah) berkata: “Al-Qur’an yang dibawa oleh Jibril a.s. kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah 17.000 ayat (Al-Kafi fil Ushul Juz II hal.634). Al-Qur’an mereka yang berjumlah 17.000 ayat itu disebut Mushaf Fatimah (lihat kitab Syi’ah Al-Kafi fil Ushul juz I hal 240-241 dan Fashlul Khithab karangan An-Nuri Ath-Thibrisy).

4. Syi’ah meyakini bahwa para Sahabat sepeninggal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka murtad, kecuali beberapa orang saja, seperti: Al-Miqdad bin Al-Aswad, Abu Dzar Al-Ghifary dan Salman Al-Farisy (Ar Raudhah minal Kafi juz VIII hal.245, Al-Ushul minal Kafi juz II hal 244).

5. Syi’ah menggunakan senjata “taqiyyah” yaitu berbohong, dengan cara menampakkan sesuatu yang berbeda dengan yang sebenarnya, untuk mengelabui (Al Kafi fil Ushul Juz II hal.217).

6. Syi’ah percaya kepada Ar-Raj’ah yaitu kembalinya roh-roh ke jasadnya masing-masing di dunia ini sebelum Qiamat dikala imam Ghaib mereka keluar dari persembunyiannya dan menghidupkan Ali dan anak-anaknya untuk balas dendam kepada lawan-lawannya.

7. Syi’ah percaya kepada Al-Bada’, yakni tampak bagi Allah dalam hal keimaman Ismail (yang telah dinobatkan keimamannya oleh ayahnya, Ja’far As-Shadiq, tetapi kemudian meninggal disaat ayahnya masih hidup) yang tadinya tidak tampak. Jadi bagi mereka, Allah boleh khilaf, tetapi Imam mereka tetap maksum (terjaga).

8. Syi’ah membolehkan “nikah mut’ah”, yaitu nikah kontrak dengan jangka waktu tertentu (lihat Tafsir Minhajus Shadiqin Juz II hal.493). Padahal hal itu telah diharamkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Ali bin Abi Thalib sendiri.

Demikian. Wallahu a’lam

About Global Muslim

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement